Dirimu Laksana Surgaku

Dirimu Laksana Surgaku
Telat Terenyuh.


__ADS_3

Geisha memang bukan wanita berhijab yang sangat menjaga jarak dengan lelaki. Tapi, kedua orang tuanya selalu berucap, seburuk apapun kita. Shalat adalah hal utama. Jika kamu seorang penjahat, maling atau wanita malam sekalipun, tetaplah shalat. Hanya shalat yang bisa merubah kita. Hidayah memang harus di jemput.


Sejak mengusir halus Genta dari bibir Masjid. Geisha memutuskan untuk mengurasi rasa suka kepada lelaki itu, walau ia tidak yakin bisa atau tidak. Bunda berkata, tidak perlu mencari lelaki yang kaya dan tampan. Namun, cari lah lelaki yang bisa membawa kita untuk sukses di Akhirat nanti.


Ia meninggalkan Genta tanpa kata, dan masuk begitu saja ke dalam Masjid beberapa menit lalu.


Dan saat ini. Geisha sudah selesai menunaikan shalat Ashar berjamaah. Geisha melipat mukena dengan rapih dan mengembalikannya lagi ke lemari penyimpanan. Ia melangkah keluar menuju pintu Masjid dengan hati sedih. Bukan sedih karena sehabis ini akan pulang memakai grab, tapi ia sedih karena sudah mencintai lelaki yang salah di matanya.


Dan.


Berapa jarak menuju bibir Masjid. Langkah Geisha terhenti. Manik matanya menatap tidak percaya ke undakan tangga Masjid. Ada Genta yang tengah duduk memunggungi. Lelaki itu menilik langit sore dengan hembusan vape dari mulutnya.


"Si gondrong sayang enggak pulang ternyata? Nungguin aku?" di balik wajah kecewa karena Genta menolak ajakan shalat berjamaah. Ada salur-salur raut ceria dari wajahnya. Baru saja ia ingin mengurasi rasa suka. Tapi, seakan hatinya tidak menyetujui. Rasa suka itu malah semakin melebar.


Dan Geisha jadi salah tingkah sesaat Genta menoleh ke belakang dan mendapati dirinya tengah balik menatap. Genta tersenyum dan memasukan vape ke dalam kantung celana. Lelaki itu bangkit berdiri.


"Sudah selesai?" tanya Genta dengan seringai yang begitu manis bagai madu. Dari jauh saja sudah terlihat karimastik sekali. Pantas saja banyak wanita yang silih berganti hadir di hidupnya.


Geisha membalas senyum. Ia mengangguk. Lantas melanjutkan langkah untuk mendekat. Keduanya kikuk ketika sudah berhadapan. Ada rasa malu karena sempat berdebat, padahal bukan sepasang kekasih.


"Kita makan, ya." ajak Genta dengan nada halus.


Ingin Geisha menggeleng. Namun melihat Genta yang seperti ini. Jiwa nya tidak tega untuk menyergah.


"Baik, Dok."


Mereka pun berjalan bersisihan menuju mobil. Dan Geisha kembali melongo, ketika Genta membukakan pintu untuknya.


Tetap di tunggui sampai selesai shalat, di ajak makan dan terakhir di bukakan pintu. Tentu saja membuat jiwa kebucinan Geisha semakin meronta-ronta.


Genta pun bingung pada dirinya. Mengapa juga ia bisa bersikap manis kepada koas bodoh ini, pikirnya. Tapi, melihat Geisha yang kukuh dalam berpegangan dalam tiang agama serta hanya dia wanita satu-satunya yang berani mengusir Genta. Membuat sikap Geisha begitu mencuri perhatian Genta.


Genta penasaran dengan gadis ini.


"Mau saya pakaikan seat belt nya?"


Geisha yang sedang melamun menatap kosong ke depan, lantas menoleh ke sebelah. "Oh, iya, lupa, Dok." dalih Geisha dengan kekehan dan bergegas memakai seat belt.


Di sepanjang perjalanan. Geisha kembali hening. Genta masih merasa tidak enak hati. Baru kali ini ia memikirkan perasaan orang yang tidak mempunyai hubungan apapun di dalam hidupnya. Kebaikan-kebaikan Geisha seakan muncul. Dan Genta malu. Dan semakin malu karena ia di cap sebagai muslim yang durhaka.


Mengapa juga rasa itu bisa muncul? Aneh, pikirnya.


"Kamu mau makan apa?" Genta mencairkan suasana yang sedari tadi hening seperti lorong yang gelap.


"Apa aja, Dok."


"Kalau bebek?"


Geisha tersenyum suka. "Bebek salah satu makanan kesukaan saya, Dok."


"Wah, masa? Kita sama dong." Genta terkekeh.


Geisha membolakan mata tidak percaya. "Dokter suka juga sama bebek?"

__ADS_1


Genta mengangguk sambil terus memutar-mutar stir kemudi mengikuti alur jalan.


"Saya akan bawa kamu ke restoran yang terkenal dengan bebek bakarnya. Di jamin rasanya enak."


"Tapi maaf, Dok. Saya enggak suka bebek bakar."


"Oh, enggak apa-apa. Di sana juga ada bebek goreng, bebek penyet, masih banyak aneka bebek lainnya."


Geisha mengulas senyum gurih. "Makasih banyak, Dok. Maaf tadi saya sudah mengusir Dokter untuk pulang."


Genta membalas senyuman Geisha. "Tidak masalah." bukan Geisha yang tenang. Tetapi, Genta. Ia lega karena senyum Geisha kembali hadir.


"Kamu memang baik. Hanya saja imanmu sepertinya tipis. Mungkin, bisa aku bantu untuk sedikit memolesnya lagi." gumam Geisha.


...🌾🌾🌾...


"Saya es teh manis saja." pinta Genta. Ia menyebutkan minuman yang ia inginkan sekarang kepada pelayan.


"Saya ulang ya, Pak. Bebek bakar satu, bebek goreng satu, air putih satu, es teh manis satu."


Genta dan Geisha mengangguk. Dan ketika pelayan ingin berlalu. Geisha menyergah nya. "Boleh minta air putihnya dua? Sama potongan lemon dan ketimun? Lemon sama ketimunnya di letakan di piring kecil saja." pinta Geisha.


"Oh, baik, Mbak." pelayan berlalu setelah Geisha mengucap kata terima kasih.


"Kamu enggak mau pesan yang lain?" tanya Genta. Ia kembali menyalakan vape nya lagi, menunggu sambil makanannya tersaji. Saat ini mereka sudah berada di dalam restoran, duduk saling berhadapan.


Geisha menggeleng, ia meraih vape dari tangan Genta. "Nanti aja merokoknya kalau sudah di rumah, Dok." vape itu ia letakan di samping kunci mobil yang Genta taruh di atas meja. Dan lelaki gondrong itu mengangguk.


"Maaf kalau sudah buat kamu tidak nyaman dengan sikap saya." tukas Genta.


Genta tertawa pelan. Ia mengangguk-anggukan kepala. "Tugas saya memang untuk terus memarahi kamu. Karena kamu masih saja----"


"Masih saja bodoh, ya, Dok? Saya paham." Geisha menyelak dan masih dalam tawa.


"Bukan bodoh. Tapi, kamu memang harus banyak belajar. Saya tegas. Karena ingin kamu dan para koas lainnya bisa mengerti dengan jelas. Membimbing kalian adalah amanah untuk saya."


"Iya, Dok saya mengerti. Dokter di bayar memang untuk membimbing kami, agar kami pulang dari sini dengan bekal ilmu yang banyak. Maaf kalau saya agak lelet dibanding yang lain, Dok."


Genta mengangguk lagi. "Maaf juga, ya, saya enggak tahu kalau kamu cucunya, Ibu Alika."


"Malahan saya penginnya enggak usah ada yang tau, Dok. Saya malu. Malu karena saya cucu yang begitu bodoh."


"Tapi kamu tidak bo----"


Obrolan mereka terhenti. Manakala pelayan datang membawakan pesanan mereka. Meletakan makanan dan minuman di meja. Geisha bergegas memasukan potongan lemon dan ketimun ke dalam air putih dingin di salah satu gelas.


Dan Genta menautkan alisnya yang tebal saat Geisha menyodorkan kepadanya. "Ayo, Dok. Minum."


Genta menggeleng. "Saya 'kan sudah bilang, saya enggak suka air putih."


"Ini sudah bukan air putih lagi, Dok. Sudah terinfuse dengan lemon dan ketimun. Rasanya juga tidak hambar seperti air. Pokoknya enak. Infuse water ini lebih bagus dari minuman ini!" Geisha meraih es teh manis milik Genta untuk di letakan di samping piringnya. Dan meletakan dua gelas air putih yang tadinya ia pesan untuk dirinya, di letakan di samping piring Genta.


"Sudah merokok, tidak mau minum air putih dan suka makan-makanan yang di bakar. Semua itu tidak baik, Dok. Bisa memicu

__ADS_1


karsinogen."


Genta menatap air putih yang air nya tidak jernih lagi. Karena sari-sari dari lemon dan ketimun sudah bercampur. Ia diam saja ketika Geisha terus berbicara.


"Cobain dulu sedikit. Rasanya enak, seger. Ayah saya suka banget minum minuman ini."


Genta menghela napas berat. Inginnya ia menggeleng ketika Geisha sudah mengarahkan gelas tepat ke bibirnya.


"Ayo, cicipi." Geisha tersenyum menatap Genta. Dan seakan seringai itu menular, Genta ikut tersenyum menatap Geisha.


Srrt


Srrt


Srrt


Genta meminum air yang di racik Geisha dengan sedotan. Ia terus meminum sampai tinggal setengah, dan bola matanya terus menilik netra pekat milik Geisha.


"Enak 'kan?" tanya Geisha.


Genta mengangguk-angguk sambil terus meminumnya.


"Kok jantung saya jadi berdebar seperti ini?" batin Genta. Dan ia senang, akhirnya selama berpuluh-puluh tahun, bisa juga mencicipi air putih dalam rasa yang berbeda.


Suasana mendadak sejuk dan nyaman. Mereka berdua makan sore dengan lahap, sambil tertawa dan bertukar cerita. Genta yang lebih banyak menanyakan bagaimana latar belakang kehidupan Geisha.


"Jadi kamu anak kembar?"


Dalam mulut yang penuh sedang mengunyah. Geisha mengangguk. Dan menjawab saat makanan sudah tertelan. "Kembar tiga, Dok. Saya perempuan satu-satunya dari saudara kembar saya. Tapi, saya juga masih punya adik kembar lagi, perempuan."


Genta takjub, ia ber oh panjang. "Keluarga besar, ya?"


"Iya, Dok." Geisha terkekeh. Dirinya menunduk lagi ke piring, mengaduk-aduk nasi dengan bebek goreng dan sambalnya, tentu dengan tangan.


Dan


Geisha melongo, sesaat helaian rambutnya mengenai mulut, Genta sampir kan ke belakang daun telinga.


Genta sekilas tersenyum memandang Geisha yang masih memandangnya tidak percaya dan kembali melanjutkan makan. Jantung keduanya berdetak kencang, seperti genderang mau perang.


Genta, si dingin? Mengapa bisa melakukan hal romantis seperti itu.


"Dok ...."


Genta mendongak, ia kembali menatap Geisha. Dan yang di tatap tengah menyodorkan kumpulan daging di ujung jarinya untuk di masukan ke dalam mulut Genta.


Dan lelaki itu tidak menolak. Ia mau saja, seperti nya Dewi Fortuna sudah membuka hatinya yang beku untuk menerima sentuhan dari seorang wanita kembali. Geisha kembali menarik tangannya dari mulut Genta dan kembali melanjutkan makan.


"Sungguh pribadi yang sederhana. Di saat wanita lain tidak mau kukunya kotor karena makan pakai tangan, ia melakukannya.


Ia juga menggunakan tangannya sendiri untuk menyuapi saya. Tidak jijik sama sekali. Suatu hal yang belum pernah saya rasakan selama menikah. Bahkan Kahla yang menurut saya sangat perhatian, tidak seperti Geisha."


Genta terbayang saat Geisha mengelap keringatnya di kamar operasi, mengobatinya saat mimisan, menggenggam tangannya saat tidur, dan masih banyak lagi perhatian yang Geisha berikan, dan mengapa dirinya telat terenyuh.

__ADS_1


...🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾...


Like dan Komennya jangan lupa ya guyss.


__ADS_2