Dokter ASHA And KOMPOL BIMASENA

Dokter ASHA And KOMPOL BIMASENA
Lari Dari Kenyataan


__ADS_3

Cinta Dalam Diam Bagian 10


Oleh Sept


Setelah kekacauan yang terjadi, keluarga Pak Han pun memutuskan untuk meninggalkan kediaman keluarga Riyadi. Mungkin Andri masih belum puas, meski sudah membuat Haris berdarah-darah. Karena sepanjang perjalanan pulang, hati pria itu begitu sakit menyaksikan adik satu-satunya terisak karena ulah Haris.


Asha masih menangis dalam pelukan Pak Han di jok belakang. Bagi Andri, Haris benar-benar sudah keterlaluan. Dan sepertinya pukulan yang ia beri tidak memberikan kelegaan. Rasa sakit hatinya masih sama, malah semakin dalam.


Sambil mencengkram kemudi, dalam pelupuk mata ia masih terbayang-bayang wajah Haris. Belum puas, padahal Haris sudah babak belur. Andri ini tipe pendendam. Apalagi kalau sampai menyangkut adik perempuan satu-satunya. Bisa-bisa Haris akan jadi musuh abadinya.


***


Tiba di rumah, Asha langsung masuk ke kamar. Semua keluarga berkumpul di ruang tengah. Wajah-wajah kesedihan, marah dan kecewa tergambar jelas di dalam sana.


Di malam itu, di hari yang paling buruk dalam hidupnya. Asha menyiapkan surat pengunduran diri. Padahal tempatnya bekerja sekarang adalah rumah sakit bergengsi. Banyak pasien Artis yang sempat ia rawat di sana.


Salah satunya pencipta bunga terakhir, Asha sempat perang dingin dengan pasiennya. Lagi-lagi karena hal yang sama. Asha gaptek nama-nama Artis. Dia lebih hafal resep obat dari pada nama Artis.


Ada juga beberapa penyanyi ibu kota lain yang sempat ia tangani. Hanya saja ia tidak tahu kalau mereka semua Artis. Maklum, TV di rumah Asha hanya untuk nonton Mbak Najwa.


Begitulah Asha, karena batal bertunangan ia ingin mengasingkan diri. Menghilang dari semua orang yang ia kenal. Meninggalkan pekerjaan sebagai dokter di RSCW yang cukup ternama tersebut. Patah hati, Asha langsung memutuskan resign.


Demi bisa bertahan dan ingin tetap dalam tahap waras, Asha memutuskan kabur dari Jakarta. Mencari ketenangan di kala hatinya yang sekarang sedang carut-marut ini.


Malam itu juga, Asha meninggalkan rumah masa kecilnya. Meninggalkan semua kenangan yang menyakitkan. Berharap, waktu dan tempat baru bisa mengobati luka hatinya.


Ketika Asha dalam kondisi terpuruk, mendadak sosok selama ini yang hanya menyimpan Asha dalam hati, kemudian berani muncul ke permukaan. Sosok pria yang selama ini sering main ke rumah, yang diam-diam perhatian pada Asha. Dia adalah Dika, teman satu perjuangan Andri sesama polisi. Usianya sama seperti Haris. Hanya selisih 3 tahun dengan Bimasena.


Dia adalah sosok polisi berwajah dingin, tegas dan galak. Orang yang tidak mengenal, pasti ketar-ketir saat mendapat tatapan tajam darinya. Selama ini Dika kalau sedang tidak tugas, kadang menginap di rumah Pak Han.


Jangan tanya prestasinya apa, Dika adalah salah satu sniper terbaik di negeri ini. Banyak sekali penjahat yang sudah ia lumpuhkan. Karirnya sangat cemerlang, tapi tidak dengan asmara. Persis seperti Bimasena. Ia hanya bisa memendam rasa. Mencintai dalam diam. Salah satu jomblo premium. Bukan karena tidak laku, karena dia tipe pemilih. Hatinya sudah terlanjur memilih Asha, tapi belum ia sampaikan. Mungkin tidak enak dengan kakak Asha. Yang merupakan teman seperjuangan Dika.


Dan saat moment Asha putus dengan Haris, Dika seolah mendapat angin segar. Tidak mau membuang kesempatan, ia pun mulai mendekati Asha. Meski samar-samar, berlagak peduli sebagai abang laki-laki selama ini. Dasar abang nemu gede, modus!


***


Beberapa hari kemudian, kediaman Pak Han.


"Assalamu'alaikum!"

__ADS_1


Bimasena terlihat gelisah, menanti pintu yang tidak kunjung dibuka.


"Assalamu'alaikum!"


KLEK


"Waalaikumsalam."


Wajah Bimasena terlihat menegang, mungkin juga deg-degan. Setelah menghela napas panjang, ia pun masuk saat dipersilahkan masuk oleh Pak Han.


"Maafkan ... kalau kehadiran saya menganggu waktu Bapak."


Pak Han ini orangnya sangat sabar, sebenarnya ia juga marah pada semua keluarga Haris. Tapi dasar orang baik, bukannya marah, Pak Han malah mempersilahkan Bimasena masuk. Menjamu dengan baik tamunya itu.


Apalagi semasa remaja, Pak Han ini tahu si Bimasena anak baik-baik. Karena memang dulu sering main ke rumah juga. Ia juga tidak menyangka, ketika tahu Haris itu adalah adik Bima. Mungkin dunia segede daun talas. Pepatah ini akhirnya benar adanya.


"Katanya, apa yang mau dibicarakan? Karena Bapak sudah menganggap semua selesai, Bim."


Bimasena terlihat menahan sesuatu, kemudian menatap Pak Han dengan wajah memelas.


"Ijinkan saya menikahi Asha, Pak."


Lagi-lagi Pak Han diberi kejutan. Entah Allah mau menulis kisah apalagi pada anak gadisnya. Mengapa jadi rumit begini.


Pak Han yang kaget hanya menggeleng. Pernikahan bukan untuk main-main. Masa habis dilamar adiknya, lalu menikah sama abangnya? Lelucon yang sangat tidak lucu.


Lagian, Asha juga sedang tidak di rumah. Pak Han pun langsung menolak keinginan Bimasena.


"Maaf Bima. Bagi Bapak semuanya sudah selesai. Dan sepertinya Asha juga tidak akan mau menerima pernikahan ini!"


"Tolong, Pak. Ijinkan saya bicara dengan Asha dulu. Ijinkan saya melihat Asha. Sebentar saja."


Pak Han menggeleng pelan.


"Asha sudah tidak tinggal di sini."


"Maksud Pak Han? Lalu Asha di mana sekarang, Pak?"


Pak Han terus saja menolak memberikan jawaban. Hingga akhirnya Bimasena pulang dengan tangan kosong.

__ADS_1


***


Tidak putus asa, Bimasena mencari tahu ke rumah temannya. Ia pergi ke rumah Nia. Sekali lagi ia dapat Zonk.


"Maaf, Bim. Aku gak bisa kasih tahu."


"Nia ... kamu tahu kan. Aku gak akan nyakitin Asha. Kamu lebih tahu dari siapapun kan bagaimana selama ini perasaanku?" Bima mencoba memelas. Siapa tahu Nia mau menjawab di mana adiknya sekarang.


Tapi Nia malah menggeleng, meski matanya ikut perih melihat Bimasena temannya itu nampak menyedihkan. Nia sangat marah pada Haris, karena Haris adik Bima. Maka ia benci keduanya.


Ia memilih masuk, membiarkan Firman yang bicara pada Bimasena. Sebagai teman baik, ia juga kasihan. Tapi jika ingat bagaimana Asha terluka, ia lebih kasihan pada adik kandungnya itu.


"Maaf, Bim. Kami tidak bisa membantu!" Firman menepuk pundak Bima. Mencoba memberikan kekuatan pada temannya itu.


Karena tidak mendapat informasi di mana-mana, akhirnya Bima benar-benar pulang tanpa hasil apapun.


Berhari-hari ia mencari Asha. Sebagai seorang polisi, sudah pasti itu tidaklah sulit. Tapi Asha benar-benar seperti lenyap ditelan bumi. Pria itu tidak mendapat informasi apapun.


***


Semarang


Asha termenung, matanya masih sama, masih terlihat sembab. Entah sampai kapan ia bisa melupakan patah hatinya.


"Makan dulu, Sha!" seru seorang pria yang langsung duduk di sebelahnya.


"Asha nggak lapar."


"Makanlah, sedikit saja."


"Nggak, Mas. Asha nggak lapar!"


Gadis itu kemudian beranjak, meninggalkan pria yang jauh-jauh menempuh perjalanan darat 6 jam hanya untuk menemuinya.


Pria itu kemudian menghela napas dalam-dalam, menatap makanan yang masih tertata belum terjamah.


"Kamu bisa sakit kalau terus seperti ini, Asha."


Asha bergeming, ia diam saja. Selalu murung, tidak semangat sama sekali. Membuat pria itu ikut merasakan sakit yang sama. BERSAMBUNG

__ADS_1


Saingan Mas Bima muncul satu lagi. Hehehe .. jempolnya jangan lupa tekan like. Biar aku semangat up lagi kisah dokter Asha. Xixixiixix


__ADS_2