
Dokter Asha and KOMPOL Bimasena Bagian 30
Oleh Sept
Sebagai seorang wanita, jelas Asha merasa sebagai seorang istri yang paling beruntung di dunia ini. Dunia akherat tepatnya. Ya, karena ia jatuh dalam pelukan laki-laki yang tepat. Dalam dekapan pria paling bucin yang pernah ia kenal sepanjang hidupnya. Pria yang memperlakukan dirinya seperti ratu, sosok pria yang begitu membuat hatinya menjadi hangat dan makin membuatnya jatuh cinta lagi dan lagi setiap harinya.
"Tadi katanya tugas?" bisik Asha yang malu dalam pelukan suaminya. Sebab semua mata penumpang pesawat sedang fokus pada mereka.
"Surprise! Selamat ulang tahun, ya. I love you."
CUP
Sebuah kecupann hangat mendarat di dahi Asha, membuat pipi wanita tersebut merona meski hanya memakai blush on yang tipis.
"Makasih, Mas."
Asha tersenyum bahagia, karena ini adalah ulang tahunya paling manis. Ada suami tercinta, anak-anak tersayang, dan semua keluarga besar yang ada dalam rombongan. Satu persatu mengucap selamat sebelum pesawat mulai lepas landas. Mereka memberikan banyak doa tulus pada Asha.
***
Kalimantan
Begitu tiba di salah satu Bandara di sana, mereka semua langsung dijemput oleh sultana batu bara, yang juga merupakan kerabat dari Dika.
Keluarga sultana itu menyambut rombongan dengan hangat. Karena sudah mengenal lama, sudah seperti saudara sendiri mereka pun sudah tidak ada perasaan canggung atau sungkan. Bahkan, baru ketemu saja mbak latifah sudah memonopoli Asha.
Ya, Asha dalam kuasa mbak latifah sekarang. Sang komandan harus mengalah pada mantan calon kakak ipar Asha yang gagal itu. Karena sebelum ia melamar untuk adiknya, eh keduluan Bimasena. Lagi-lagi sikap gercep Bimasena membuatnya jadi pemenang.
Tapi silaturahmi tetap terjaga dengan baik, keluarga sultana itu begitu tulus menyayangi Asha bagai adik kandung sendiri.
"Jangan tidur hotel! Kalian harus nginep di rumah Mbak!" seru sultini yang low profile tersebut. Biarpun salah satu orang terkaya di tanah Kalimantan, beliau tidak seperti crazy rich yang sedang viral.
Sosoknya biasa saja, karena ia merasa semua yang ia miliki hanya titipan. Yang setiap saat bisa Allah ambil kapan saja. Sikapnya hampir mirip dengan pemilik jalan tol yang dermawan, yang terkenal dengan sedekah nasi uduknya itu. Meski pendapatan sehari bisa 1 M, tapi sikapnya tidak pernah arrogant ataupun menyombongkan apa-apa yang dimiliki. Mereka yang kaya hati, merasa kekayaan materi tidak begitu wadidaw yang membuat mata hati jadi silau.
***
Kediaman sultini batu bara.
Iringan mobil rombongan yang sudah seperti konvoi kampanye pilpres itu akhirnya berhenti di sebuah hunian yang Masyallah.
Sebuah rumah terbentang begitu besar, sudah mirip rumah sultan. Padahal memang sultan betulan. Sudah mirip rumah mbak Musdalifah. Ya, satu rumah di lengkapi dengan banyak pavilion. Ada 6 pavilion lebih, belum lagi fasilitas yang sudah mirip rumah sultan di Dubai sana.
__ADS_1
Ada puluhan asisten di rumah itu, Asha sampai terkesima. Ini rumah apa istana? Ternyata rumah mbak latifah sangat besar, mirip rumah sultan Brunei.
"Kalian tidur di sini, banyak kamar. Kalau ada apa-apa atau butuh bilang ke Mbak."
"Maaf Mbak, jadi ngerepotin!"
"Mbak seneng kalian mau main ke sini. Nanti kita explore wisata di sini. Pokoknya Kita happy-happy!"
Asha dan suaminya sebenarnya tidak enak, tapi karena mbak Latifah memang tulus orangnya, ia pun mengucap banyak terima kasih. Sebab jumlah rombongan mereka itu banyak sekali. Takut merepotkan, karena sungkan.
Esok harinya
Sesuai agenda yang sudah mereka rencanakan, hari kedua mereka tiba. Mereka akan berlibur ke villa dekat danau. Keluarga sultana tersebut punya villa di sana. Dan cukup besar untuk ditempati rombongan yang banyak tersebut.
Saat semua sudah siap, tiba-tiba ponsel Bimasena kembali berdering. Kali ini bukan prank. Tapi memang benar-benar telpon asli.
"Baik, iya. Nanti saya ke sana!"
Tut Tut Tut
Firasat Asah sudah tidak enak.
Wajah Bimasena mulai tidak enak. Sepertinya ia merasa sungkan pada keluarga sultana dan juga istrinya.
"Mas gak bisa ikut, ada atasan Mas yang mau ketemu."
"Loh ... Mas kan lagi cuti." Asha protes.
"Ya sudah, kami berangkat dulu. Nanti kalian menyusul!" saran Pak Han yang kala itu juga ikut dalam rombongan.
Asha kelihatan kecewa. Mau senneg-seneng selalu ada-ada saja. Alhasil, ketika semua pergi ke villa, Asha dan Bimasena tertinggal. Mana mau Bimasena sendirian, ia akan menemui sang atasan bersama istrinya.
***
Dengan kendaraan milik sultana, akhirnya rombongan yang satu berangkat ke villa terlebih dahulu. Sedangkan Asha dan Bimasena mereka menuju kantor atasan Bimasena yang kala itu ada di Kalimantan.
Ternyata, di sana cukup membosankan. Asha yang pikirannya sudah traveling bisa main-main bersama keluarga di Vila. Kini malah terjebak di depan barisan pria-pria berseragam. Asha pun mulai tidak nyaman di ruangan itu, pasalnya tatapan mata para pria berseragam itu terlihat aneh.
Kalau bukan karena menemani suaminya, Asha rasanya ingin naik ojek online dan menyusul rombongan yang pasti sudah happy-happy sekarang.
Hari makin siang, jamuan tak kunjung selesai. Tubuh Asha mungkin di sana, tapi pikirannya ada di tempat lain. Hingga sore menjelang, akhirnya mereka bisa pulang.
__ADS_1
Niatnya mau menyusul ke Vila langsung, tapi karena harus mengendara berjam-jam, Bimasena alasan capek.
"Sayang, kita susul mereka besok saja. Mas capek!"
"Loh ... Asha yang nyetir aja deh."
Bimasena menggeleng keras. Dia bukan capek, tapi modus. Mau dua-duaan di pavilion. Gak ada Zidan, gak ada Aila, gak ada orang. Mereka bebas berkreasi.
"Nanti Zidan nangis!" protes Asha.
Seketika, Bimasena melakukan panggilan telpon. Ia melakukan panggilan video. Dasar mereka pada kompak, begitu tersambung, Zidan malah terlihat ceria.
"Ibu ke sini besok aja, sudah mau malam. Nanti ayah capek," celoteh anak itu. Sepertinya ada yang mengajari Zidan di belakang.
"Zidan nanti bobo sama siapa?" tanya Asha cemas.
"Ada kak Aila, ada banyak temannya."
"Tuh!" celetuk Bimasena dengan senyum yang merekah.
"Hem ... iya, hati-hati ya sayang. Ibu susul besok ya?"
"Iya, Bu da da ... Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumsalam."
Tut Tut Tut
"Udah, Zidan aman bersama mereka."
'Tapi aku yang gak aman sama Mas!' batin Asha menimpali.
Benar saja felling Asha. Begitu mereka balik ke rumah sultana yang seperti istana tersebut, tanpa basa-basi, Bimasena langsung membopong tubuhnya menuju pavilion saat mereka baru turun dari mobil. Bersambung.
Aduh ... rencana berapa ronde, Pak Pol? Gassss. Wkwkwwkk (Ditulis berdasar kisah asli) hahhaha kaboooorrrr.
Oh ya. Untuk doa-doanya, dapat ucapan terima kasih dari keluarga bu dokter. Terima kasih banyak doa-doa tulusnya. Semoga doa yang baik kembali pada diri kita juga. Aamiin.
Dapat salam istimewa dari duda yang masih gress... baru dapat piala duda 2 bulan. Heheheh ... tuh. bales salamnya mas Haris. Duda impian. Salam sayang katanya ... Wadidawww ... Wkwkkwkw
__ADS_1