
Cinta Dalam Diam Bagian 27
Oleh Sept
Setelah tahu Rara telah berbohong, yang ternyata sudah sembuh selama ini. Keluarga Asha sangat marah dan tidak terima. Terutama Asha dan juga Bimasena. Karena anak mereka yang menajdi korban. Semua semakin geram tatkala Haris membawa Clara ke rumah Bimasena untuk bersaksi atas kejahatan mereka.
Hari itu, Clara menangis ketakutan. Apalagi kepalanya hampir saja didor oleh ayah Zidan. Wanita itu berusaha memelas agar selamat.
"Maafin Clara Mas ... ini karena Rara dan sepupunya yang minta aku bantu mereka." Clara mencoba mencari jalan aman. Ia menyalahkan orang lain.
Rasanya, Bimasena ingin membuat adiknya segera jadi duda. Ingin langsung dor. Mungkin saking geramnya, hingga membuat polisi tersebut tidak bisa menahan kesabaran lagi.
Terutama dokter Asha, wanita yang terkenal pemaaf dan sabar itu, mungkin saking jengkelnya. Empat tahun diperlakukan seperti ini, reflect ia angkat sebuah vas mahal koleksi terbatas, ia lempar tepat ke samping Clara.
PYARRR ....
Vas itu hancur berkeping-keping. Tubuh Clara gemetar ketakutan. Ternyata Asha bisa marah juga.
"Tega sekali kalian berbuat ini pada Zidan kami? Apa salah Asha? Bukankah kamu sudah ambil Mas Haris dan aku diam? Lalu apa lagi masalah kalian?" sentak Asha marah.
Kesal, jengkel, marah, Asha langsung menyambar sebuah kunci motor. Karena di atas meja hanya ada kunci itu. Pikirannya yang sedang kalut karena dipenuhi rasa kecewa pada keluarga suaminya itu, membuat Asha ingin kabur.
"Ashaaaa!" semua teriak memanggil namanya.
Ya, dokter itu naik motor sports kabur meninggalkan rumah. Mungkin sudah jenggah dengan persoalan yang menyangkut keluarga suaminya. Mungkin Asha ingin marah, meledak-ledak tapi tidak bisa. Alhasil, ia memilih pergi lari untuk menghindar. Ia benar-benar ingin sendiri, untuk menenangkan diri.
"Kamu keterlaluan!" Bima menunjuk wajah Clara dengan tangannya. Jika bukan wanita, mungkin langsung ia beri bogem mentah. Habis marah dengan Clara, Bimasena pun mengejar istrinya, tapi tidak keburu. Karena harus mengeluarkan mobil terlebih dahulu.
Dengan wajah panik ia mencari Asha ke sana ke mari. Pria itu takut, ia takut jika Asha kembali menghilang seperti lima tahun silam. Pusing mencari ke sana ke mari, sampai ia mengerahkan anak buahnya ikut mencari.
"Di mana kamu, sayang?" gumam Bimasena resah.
Waktu terus berjalan, Asha belum juga ditemukan. Hingga akhirnya ia temukan wanita yang paling dicari-cari tersebut. Lama berputar-putar akhirnya Asha ketemu di sebuah stadium.
__ADS_1
"Ish ... Asha!"
Asha malah terlihat duduk dengan seorang TNI AU. Dengan seorang pria tampan dan seragam yang pas di tubuhnya. Cukup keren dan sedap dipandang mata. Lumayan untuk refreshing, pemandangan yang memanjakan mata.
"Kuliah di mana, Dik?" tanya pria ganteng tersebut.
Asha tersenyum getir, hatinya sedang suntuk. Kebetulan ada hiburan. Ia pun sekalian bersandiwara. Hal itu juga cukup membuat suami Asha dibakar api cemburu.
Dari jauh Asha melihat suaminya mendekat. Dengan sengaja pula Asha malah tersenyum manis pada prajurit AU tersebut. Sengaja mau menyiram bensin. Biar suaminya semakin terbakar, habis ia jengkel sekali. Jengkel pada Rara and the geng. Tapi yang kena getahnya malah Bimasena. Ya, pria itu jadi pelampisaan Asha.
'Itu Mas Bima!' batin Asha melirik suaminya yang semakin dekat.
Tanpa banyak kata, Bimasena langsung merangkul pinggang Asha. Ia menatap tajam pada prajurit AU tersebut. Sekali tatapan, prajurit tersebut langsung paham.
Gadis cantik yang ia sangka single itu, rupanya sudah punya tambatan hati. Dan sepertinya bukan pria biasa. Tidak mau duel, pemuda itu mundur teratur.
'Mana ada cewe cantik single!' batinnya lirih sembari pergi.
Sementara itu, Bimasena langsung membawa Asha masuk ke dalam mobil, sedangkan motor yang tadi Asha bawa untuk kabur, akan dibawa oleh anak buah Bimasena.
***
"Jangan kabur lagi!" ucap Bimasena dengan wajah serius dan tatapan sendu.
Asha membuang muka. Masih jengkel. Ia menjadikan suaminya itu sebagai ajang pelampisaan.
"Jangan tinggalkan kami berdua, maafkan aku Asha ... maafkan keluargaku. Bagaimana kalau kamu pergi? Bagaimana aku dan Zidan?" tanya Bimasena sekali lagi.
Asha masih kecewa, ia tidak mau menatap suaminya.
"Marahlah ... Marahlah aku terima. Tapi jangan pernah berpikir untuk pergi, Asha."
Kata-kata Bimasena masih belum menyentuh hati Asha yang sedang marah-marahnya tersebut.
__ADS_1
"Baiklah ... akan aku masukkan mereka semua ke penjara!" ujar Bimasena frustasi.
Seketika Asha langsung menatap suaminya itu. Asha menggeleng, mana mau dia memasukkan trio wek-wek ke dalam penjara. Dasar orang baik, sudah didzolimi masih saja mau memaafkan.
Bimasena sekarang bisa bernapas lega, istrinya memang begitu. Dia tidak bisa menyimpan benci di dalam hatinya terlalu lama.
"Jangan kabur-kabur lagi ... Asha!" ucap Bimasena sambil meraih tubuh Asha. Sambil duduk di kursi depan, keduanya berpelukan. Lebih tepatnya, Bimasena mendekap Asha dengan erat. Takut kehilangan sosok wanita yang paling berarti dalam hidupnya tersebut.
"Hemm!"
"Jangan tinggalin Mas," suara Bimasena terdengar sendu.
Singkat cerita, mereka langsung pulang.
***
Esok harinya, keluarga besarnya mulai mengurus trio wek-wek. Bukan dikasusin ke meja hijau, hanya disuruh tanda tangan, bahwa mereka semua tidak boleh lagi mengusik hidup Asha dan keluarga.
Asha yang memang pemaaf, memilih menutup kasus tersebut. Dan untuk Hani, akhirnya terbukti hamil dengan pria lain. Semua dibukak begitu cepat. Mungkin karena orang baik, Allah kasihan kalau dikasih ujian berlarut-larut.
Rara sendiri harus menelan pil pahit, akibat aksinya bertahun-tahun itu, ia harus kehilangan suami. Rumah tangannya hancur berkeping-keping. Mereka bercerai, karena adik Bimasena terpukul. Tega sekali ia ditipu mentah-mentah oleh wanita yang ia cintai. Kini matanya sudah terbuka, bahwa selama ini ia hidup dengan wanita yang penuh tipu daya.
Lalu bagaimana dengan Clara? Clara menikmati hidupnya seperti biasa. Setelah minta maaf, ia pikir semua sudah beres. Menjalani hidup seperti biasanya, toh dia merasa tidak sepenuhnya salah. Sampai pada suatu hari, Haris tidak sanggup lagi menghadapi Clara. Bagaimana bisa, seorang ibu memaksa anak 5 tahun makan mie pedas gila. Membuat anak kecil itu harus dilarikan ke rumah sakit.
"Gilaa kamu, Clara!"
Clara hanya memutar bola matanya, merasa tidak bersalah. Dan bukannya datang ke rumah sakit menemani buah hatinya yang harus dirawat, Clara justru asik dengan dirinya sendiri. BERSAMBUNG.
Dunia sudah terbalik, ada yang susah payah ingin anak. Ada yang punya anak tapi disia-siakan. Ini sinetron ikan terbang, bukan sih?
***
Tengokin juga ya, karya author shanty. Masih anget. cusss
__ADS_1