Dokter ASHA And KOMPOL BIMASENA

Dokter ASHA And KOMPOL BIMASENA
SAH


__ADS_3

Cinta Dalam Diam Bagian 17


Oleh Sept


Wangi bunga menyeruak memenuhi seluruh ruangan. Semua dihias dengan indah dan detail yang cantik. Ya, hari ini adalah pernikahan Ajun Komisaris Polisi Bimasena dengan sokter Asha.


Semua sudah diatur sedemikian rupa oleh Bimasena. Langsung dihandle oleh EO khusus yang sudah ia tunjuk untuk memperlancar acara sakralnya tersebut.


Pernikahan yang terbilang dadakan ini, sepintas terlihat sangat sempurna. Semua tamu hadir, keluarga, rekan kerja dan para kenalan pun diundang. Tidak lupa juga, Haris juga ada di dalam sana. Suka atau tidak, ia juga hadir di sana.


Wajahnya terlihat pucat menyaksikan pujaan hati harus menikah di depan mata. Apalagi dengan abang sendiri. Apa takdir begitu kejam? Atau inilah hidup yang harus ia jalani? Pernikahan Bima dan Asha, berhasil membuatnya hancur dan menangis dalam hati.


Pun sama halnya dengan Haris, ada sekeping hati yang sama merananya dengan pernikahan ini. Dia adalah Dika, teman Andri yang selama ini memendam rasa pada Asha. Sia-sia ia menjaga setengah tahun Asha dalam pelarian, tapi akhirnya Asha jatuh ke tangan Bimasena.


Hatinya sakit, tidak berdarah. Tidak sanggup menyaksikan janji suci keduanya. Dika memilih menjauh. Matanya perih melihat pemandangan yang mengusik hati tersebut.


Ketika semua hati telah terluka, ada hati yang masih tidak percaya. Gadis cantik di depannya kini akan menjadi miliknya.


Meski jantungnya berdegup kencang, Bimasena masih bisa menata hati. Ia mencoba tetap tenang. Karena ini adalah moment paling penting yang selama ini ia tunggu. Moment atas jawaban atas doa-doa Bima di sepertiga malam. (Jujurly, ini benar banget. Beliau yang cerita. Selalu meminta pada Rabb-nya. Meminta satu gadis agar bisa menemaninya. Satu gadis yang akan ia jaga. Satu gadis yang ingin ia jadikan ibu dari anak-anaknya. Beliau istiqomah, tidak pernah lelah merayu Rabb-nya. Benar-benar kekuatan menikung yang sangat mujarab).


***


"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau ananda Bimasena bin Ahmad Riyadi dengan anak saya yang bernama Asha Farhana Permadi dengan mas kawin berupa cincin emas, seperangkat alat sholat dan sebuah rumah cluster dibayar tunai," ucap Pak Han sambil menjabat tangan Bimasena.

__ADS_1


"Saya terima nikahnya dan kawinnya Asha Farhana Permadi binti Handoko dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai!" jawab Bimasena dengan sekali tarikan napas.


"Bagaimana saksi?"


"Sah!"


"Sah!"


"SAHHH!"


Kata sah bergemuru di seluruh ruangan. Ketika Bimasena mengusap wajahnya penuh syukur, lain halnya dengan Asha. Wajahnya yang cantik dengan balutan gaun pengantin, menyamarkan kegelisahan hati gadis tersebut.


Setelah ijab kabul selesai, acara pun dilanjutkan kembali ke acara selanjutnya. Yaitu upacara pedang pora. Pedang pora sendiri merupakan tradisi militer turun-temurun yang ada di Indonesia. Waktu untuk menyelenggarakan tradisi ini adalah saat perayaan pernikahan prajurit militer. Istilah pedang pora sendiri berasal dari kata ‘pedang pura’ atau gapura pedang. Prajurit militer yang melepas masa lajangnya dengan menikah akan beriringan dengan hunusann pedaang yang membentuk sebuah gapura oleh rekan-rekan atau adik angkatan. Dan sepasang pengantin akan melewatu gapura tersebut untuk berjalan bersama menuju pelaminan.


Pelaksanaan upacara pedang pora ini adalah sebagai simbol solidaritas dan persaudaraan antar prajurit militer. Upacara ini juga menandai penerimaan pasangan sang prajurit dalam keluarga besar militer. Upacara pedang pora sendiri hanya dapat berlangsung sekali dari seluruh rangkaian prosesi pernikahan.



Pelan-pelan keduanya melangkah, dan bisa-bisanya Bimasena langsung memberikan lampu kuning agar Asha waspada.


"Aku tidak mau seperti di film-film, menunggu jatuh cinta baru malam pertama!" bisik Bimasena tenang.


Rasanya, jantung Asha saat itu hampir berhenti berdetak. Kakinya yang sejak tadi berat melangkah malah semakin lemas. Sampai di titik ini, ia masih belum percaya kalau sekarang ia sudah menjadi nyonya Bimasena.

__ADS_1


"Kau dengar Asha?" bisik Bimasena lagi.


Ia mendekatkan wajahnya agar orang lain tidak mendengar. Tapi bagi yang lain, melihatnya sangat berbeda. Seolah keduanya sedang bisik-bisik mesra. Padahal, hati Asha sudah jedag-jedug tidak karuan. Memikirkan bagaimana nanti malam.


Mungkin Bimasena bisa melihat ketegangan pada diri Asha. Polisi itu pun merapatkan lengannya agar mereka semakin dekat. Menggandeng lengan Asha, berjalan bersama-sama di bawah hunusann pedang para perwira.


Mata Haris menangis menyaksikan ini, apalagi Dika. Dunia dua pria itu pun hari ini hancur luluh lantah remuk redam menjadi kepingan tak bersisa. Ditambah lagi dokter Febrian, pria itu harus menelan pil pahit, padahal sudah menyiapkan lamaran juga buat Asha. Dia hanya telat hitungan hari. Mungkin inilah yang dinamakan hari patah hati yang sebenarnya. (Berdasar kisah asli).


Begitulah takdir manusia, susah untuk ditebak. Siapa yang melamar belum tentu yang duduk di pelaminan. Seperti cinta Asha, Haris yang melamar, tapi Bimasena yang berhasil mengikat janji suci yang disaksikan ribuan Malaikat yang sengaja turun ke bumi untuk menyaksikan keduanya.


***


Di sebuah rumah cluster, rumah pengantin baru yang baru beberapa bulan ini ditempati Bimasena seorang diri. Pria itu membawa pengantinnya masuk ke dalam rumah yang sekaligus menjadi mas kawin itu, setelah dari acara pesta pernikahan.


Hanya berdua, tidak ada orang lain. Mereka akan hidup berdua di rumah itu. Menikmati indahnya pengantin baru tanpa ada yang menganggu.


"Mau mandi duluan?" tanya Bimasena memecah sepi diantar mereka berdua.


Asha yang kala itu duduk, hanya menundukkan pandangan. Malu, takut, gelisah, cemas. Semua menyatu menjadi satu. Matanya yang tertunduk kemudian tertuju pada benda mengkilap yang melingkar di jari manisnya. Sebuah cincin indah yang sudah dipasang Bimasena tadi pagi depan bapak, pak penghulu dan juga para undangan.


"Aku tidak mengira, itu akan pas di jarimu ... Asha." Bimasena tersenyum tipis. Ia berhenti sejenak.


"Aku beli 7 tahun lalu, dari gaji pertamaku sebagai polisi," sambungnya menggenang masa lalu, di mana ia yakin, suatu saat akan melamar Asha. BERSAMBUNG.

__ADS_1


Mas kawin dan sejarahnya pun ditulis berdasar kisah asli. Ada yang tanya di komentar, usia mereka berapa sekarang? dokter asha menikah usia 22 tahun. Beberapa bulan lalu baru ulang tahun ke 28. Jadi kira-kira pernikahan mereka jalan 6 tahun ya. Beda usia mereka terpaut 8 tahun. Jika dulu saat menikah pangkat Bimasena adalah AKP (Ajun Komisaris Polisi), sekarang sudah naik. Alhamdulillah ya ... Kompol (Komisaris Polisi).


Sebagai penulis, Sept sangat senang bisa bertemu orang-orang seperti mereka. Apalagi mereka tidak keberatan membagi kisah perjuangan yang menurutku sangat inspiratif. Semoga yang baik bisa ditiru, yang buruk dibuang jauh. Mau lanjut baca kisah mereka? Jangan lupa jempolnya. Tekan like biar semakin banyak like semakin banyak yang membaca kisah inspiratif mereka semua. Terima kasih.


__ADS_2