
Cinta Dalam Diam Bagian 8
Oleh Sept
"Mas Haris lagi becanda? Gak lucu!"
Asha langsung turun dari mobil, tapi Haris juga ikut turun.
"Asha!" panggil Haris.
"Jangan bercanda seperti itu, Mas. Sumpah ... ini nggak lucu."
Asha cemberut, ia pikir Haris main-main dengan ucapannya.
"Aku serius!" ujar Haris. Kali ini sambil memegang tangan Asha.
Asha seketika menepis tangan kekasihnya itu.
"Udah deh, Mas pasti capek banyak kerjaan. Sudah pulang aja. Jangan becandain hal-hal penting seperti ini!"
"Tunggu ya, Syah. Nanti aku bicara sama bapak dan ibu."
"Hah?"
"Mas bener-bener serius menjalin hubungan ini. Kamu satu-satunya, Sah."
Asha menelan ludah, sepertinya Haris tidak bercanda.
"Kasih Asha waktu, Mas."
Haris tersenyum tipis, kemudian mengangguk.
***
Beberapa minggu kemudian.
Bimasena tiba-tiba harus pulang ketika mendapat kabar adiknya akan melamar seorang gadis. Hancur hati pria tersebut ketika akhirnya Haris sudah semakin dekat dengan gadis impiannya selama ini.
Sepanjang perjalanan menuju rumah, bibirnya terus bergetar. Merapal banyak doa, meminta pada sang Pencipta. Seolah masih belum bisa melepaskan Asha dari hatinya.
"Ya Allah ... Asha ...!"
Sambil mengemudi, ia mengusap sudut matanya. Dadaanyaa terasa sesak, seperti sesuatu menancap di dalam sana. Sakit, tapi tidak ada yang terluka.
Sekuat ia menahan, akhirnya ia berhenti di tengah jalan. Pria seperti Rambo itu akhirnya tidak bisa menahan diri. Bimasena sudah tidak mampu lagi membendung rasa sesak yang tidak tertahan.
__ADS_1
Di tepi jalan, tanpa orang ketahui. Polisi yang gagah perkasa itu mendadak menjadi lembek seperti jelly. Ya, Bimasena akhirnya harus merelakan Asha untuk adiknya. Tangisnya pecah, tanpa ada yang tahu betapa hancurnya hati seorang Bimasena kala itu.
Ini lebih sakit daripada luka tembakk. Lebih perih dari pada bekas operasi terkena air lemon. Bima benar-benar sudah kalah. Padahal, sebelum janur kuning melengkung, Asha masih milik bapaknya. Dasar Bimasena, terlalu fokus pada karir, Asha pun melayang.
***
Kediaman keluarga besar Riyadi
"Nah itu mas Bima sudah tiba, Bu!" seru Haris yang sudah sumringah. Sebentar lagi otw melamar Asha.
Haris sudah rapi, baju batik premium yang ia kenakan membuat pria itu makin tampan. Posturenya yang tegap atletis membuatnya semakin kelihatan mempesona bagi kaum Hawa.
Begitu juga dengan Ardi, anak terakhir dari bapak Riyadi. Pria itu juga sudah tampil rapi dan kece badai.
Tinggal Bimasena, saat pria tersebut keluar dari mobil. Wajahnya begitu muram dan suram. Bahkan matanya sembab.
"Habis kena pukul, Mas?" tanya Haris dengan muka serius. Ia mengamati wajah abangnya yang sembab.
Bimasena menggeleng, kemudian langsung masuk ke dalam.
"Cepet ganti baju, Mas! Sudah ibu siapkan. Sebentar lagi kita ke rumah Asha. Ini dari kemarin cuma nunggu Mas Haris!" teriak Haris ketika melihat abangnya langsung masuk ke dalam.
Hati Bimasena sudah tidak bisa digambarkan dengat kata-kata. Hancur, luluh lantah, remuk redam. Tidak berbentuk lagi. Sambil menahan sakit yang tak kunjung pergi.
"Wah, ganteng sekali anak ibu!" goda ibu Riyadi.
Yang digoda sudah tidak bisa tersenyum lagi. Mungkin ampas-ampas senyum pun sudah habis tidak bersisa. Sepanjang perjalanan menuju rumah Asha pun, Bimasena sama sekali tidak berkomentar. Mulutnya terkunci rapat.
Ibu pikir mungkin Bima capek, karena harus mengendara lama sebelumnya. Sedangkan menurut yang lain, mungkin Bima merasa tidak nyaman karena harus Haris dulu yang lamaran. Andai mereka tahu apa yang ada dalam hati Bimasena, mungkin sekarang tidak ada gelak tawa dalam kendaraan tersebut.
***
Kediaman Pak Han
Tidak ada tenda, karena ini lamaran yang sederhana. Meski sederhana, karpet dari Timur Tengah sudah digelar dengan lebar. Ditambah makanan yang tersaji, hotel bintang lima pun sama.
Nia dengan semangat menata semuanya, dibantu yang lain. Sedangkan Asha, mereka meminta Asha duduk saja di samping bapak.
"Mbak Nia juga istirahat dulu, jangan capek-capek!" seru Asha sambil memperhatikan sang kakak pertamanya itu.
"Gak apa-apa, Mbak seneng kok. Akhir adik mbak menyusul!"
"Udah, Sayang. Duduk aja. Bener kata Asha. Kasian baby-nya!" celetuk Firman sambil mengusap lembut perut Nia.
Asha tersenyum bahagia, melihat pasangan suami istri yang begitu sweet tersebut. Ia sampai membayangkan, apakah nanti juga RT-nya akan seperti itu?
__ADS_1
***
Tidak terasa, yang ditunggu sejak tadi akhirnya datang juga. Rombongan keluarga besar Haris datang bersama banyak seserahan.
Wajah-wajah yang baru turun itu terlihat melempar senyum ramah. Kecuali Bimasena, entah seperti apa perasaan pria yang malang tersebut. Harus mengantar lamaran sang adik ke pada gadis pujaannya.
Cinta dalam diamnya pada Asha selama ini benar-benar terkubur sampai akhir, karena tidak pernah ia ungkapkan.
***
Acara berjalan lancar, keduanya bahkan sudah bertukar cincin. Rona cinta tergambar jelas pada dua sejoli tersebut.
"Selamat Asha! Semoga lancar sampai hari H."
"Selamat, Sayang!"
Begitu banyak ucapan selamat dari orang terkasih. Dan ketika Nia mau mengucapkan selamat, tiba-tiba ia urungkan. Tidak enak melihat gurat kesedihan di wajah Bimasena.
'Kok jadi begini? Sabar ya, Bim. Mungkin nggak jodoh!' batin Nia sambil mengusap perut.
Karena acaranya sederhana, begitu acara inti selesai. Dilanjut makan-makan. Itu pun tidak lama. setelah semuanya sudah tuntas, lamaran pun berjalan sangat lancar, keluarga Riyadi pun pamit.
Haris senyum-senyum sumringah, padahal sang kakak menangis darah. Bima terus saja diam, tanpa komentar apapun.
"Terima kasih atas sambutan keluarga Pak Han yang luar biasa. Maaf jika kurang berkenan dan merepotkan," ucap Pak Riyadi basa-basi.
Pak Han hanya tersenyum, ia malah merasa terima kasih atas lamaran ini. Itu artinya Haris benar-benar serius dengan putri kesayangannya itu.
Akhirnya semua anggota keluarga Riyadi masuk mobil satu persatu. Mereka melambai-lambai ketika akan meninggalkan kediaman keluarga Pak Han.
Asha, pak Han, bu Weni, Nia, Firman, Andri semuanya keluar mengantar tamu mereka. Setelah itu, masuk juga satu persatu ke dalam. Tinggal Asha, bapak dan bu Weni.
"Habis lamaran, Mbak Asha?"
Asha menoleh, tetangga sebelah rumah tiba-tiba muncul. Rupanya, sejak tadi waktu semua tamu diantar masuk ke kendaraan masing-masing. Si tetangga tersebut mengamati.
"Ganteng ... gagah calon suaminya. Polisi, ya?"
Asha seketika mendongak. Belum menjawab, si tetangga kembali berbicara.
"Itu yang satunya lagi saya kenal, yang kerja di Bank. Kebetulan pacarnya temen adik saya. Haris ya namanya?"
BERSAMBUNG
Jangan lupa, jempolnya digoyang. Tekan like ya. Biar sept tambah semangat bagi-bagi kisah cinta dokter cantik tersebut. Semoga terhibur dengan kisah dokter Asha ini. Terima kasih bu dokter, sudah mengijinkan untuk membagi kisah cintanya yang luar biasa. Ini adalah kisah nyata dokter Asha.
__ADS_1