Dokter ASHA And KOMPOL BIMASENA

Dokter ASHA And KOMPOL BIMASENA
DROP


__ADS_3

Dokter Asha and KOMPOL Bimasena Bagian 37


Oleh Sept


Singapore


Asha bukannya terlihat seperti pasien di salah satu ruangan di rumah sakit tersebut, ia malah mirip dokter di sana. Selain wajahnya yang berseri-seri layaknya orang sehat, auranya sebagai dokter pun keluar tatkala berkomunikasi dengan banyak pasien di sana. Pembawaan yang ramah dan bersahaja, membuat pasien di sana tidak tahu kalau Asha adalah pasien juga, pasien yang beberapa hari lalu bangkit dari koma.


Sadar dari koma, aura Asha semakin terpancar. Kalau menurut suaminya, Asha seperti lahir kembali, sangat mempesona. Makanya ia buru-buru menyusul Asha ke Singapore setelah kewajibannya pada negara sudah tuntas.


Dan saat ini kebetulan di sana sedang ada kunjungan ustad dari Malaysia, seorang ustad kondang, masih muda tapi sudah menikah. Sejak tadi, sebelum Bimasena datang, ustad tersebut selalu memperhatikan Asha.


Sebagai seorang pria, jelas Bimasena yang baru di sana sudah paham betul. Bahwa istrinya sedang diperhatikan. Namanya manusia, kadang selalu merasa kurang. Menurut informasi, istri ustad tersebut juga cantik. Tapi tetep saja TP TP di depan Asha. Ternyata, ustad juga manusia.


Tidak bisa dipungkiri, siapa juga yang tidak silau dengan Asha, parasnya cantik seperti artis ibu kota. 11 12 dengan mbk Bella mantan Emran. Bahkan sempat jadi ambassador sebuah busana muslimah yang terkenal. Yang sering wara-wiri di layar kaca.


Mungkin salah satu pernah melihatnya, atau bahkan pernah jadi pasien beliau saat bertugas di salah satu rumah sakit terbaik di ibu kota. Itulah Asha, wanita baik hati, cantik luar dalam.


***


"Mas ... agak geser duduknya!" bisik Asha yang malu karena Bimasena dekat-dekat duduk di sampingnya.


"Biarin. Aku lagi jengkel."


"Jengkel kenapa?"


"Itu! Matanya hampir melompat sejak tadi menatapmu!" cetus Bimasena cemburu.


Bima melirik pria yang sejak tadi memperlihatkan istrinya. Padahal di ruangan itu banyak sekali audience. Tapi selalu saja menatap istrinya, bertanya pendapat Asha dan banyak hal yang dibahas dengan Asha. Seperti pengalaman koma beberapa waktu lalu.


Dari sini sebagian pasien merasa heran, sebab mereka kira Asha adalah dokter di sana. Tidak tahunya malah sama, pasien seperti mereka.


"Dia kan cuma kasih motivasi, Mas!" bisik Asha karena takut ada yang dengar.


"Tuh! Kasih motivasi sama pasien yang sakit parah! Ngapain ke pasien yang sudah sehat, segar bugar begini. Ish ... lewat mata saja aku tahu. Apa yang ada dalam kepalanya!" ketus Bimasena.


"Astaghfirullahaladzim!"


Asha hanya bisa istrigfar, kok suaminya cemburu sama pak ustad.


"Mas itu laki-laki Asha! Dan juga polisi. Jadi tahu tatapan penjahat itu seperti apa."

__ADS_1


Haris yang ada di dekat sana malah terkekeh. Bimasena memang begitu. Sosok pria pencemburu. Haris ingat betul tragedy dia kirim lagu ke nomor Asha dulu. Alhasil, ia harus babak belur.


Alhamdulillah, mereka kini bisa hidup damai. Bahkan Bimasena yang galak sampai 5 tahun tidak bicara padanya itu, kini sangat dekat. Persis sebelum ada cinta segitiga diantara mereka dulu. Semua kembali rukun, sebagai mana bapak ibu mereka ajarkan sejak kecil. Sesama saudara harus saling mengasihi, tidak peduli ada masalah seberat apapun. Semua harus dibicarakan dengan kepala dingin.


"Benar apa kata Mas Bima, Syah. Sepertinya ustad itu naksir kamu!" Haris kemudian terkekeh kembali.


Asha melotot tajam pada Haris. Sudah tahu Bimasena tukang jealous, malah disiram bensin. Sudah pasti akan semakin terbakar. Makin masam saja wajah Bimasena.


Begitu acara selesai, ustad langsung mendekati Asha. Entah minta nomor atau minta apa. Dengan jantan, Bimasena maju paling depan.


Singkat cerita mereka pun berkenalan dan dengan lantang Bimasena menegaskan bawa Asha adalah istrinya.


"Nice to meet you. This is my wife!" ujar Bimasena dengan sorot mata tajam tentunya.


Asha melihat wajah ustad tersebut tidak nyaman. Akhirnya ia pamit pergi saja.


Ruang rawat inap.


"Kamu lihat wajahnya tadi, kan?" protes Bimasena.


"Apa sih, Mas."


Haris masuk kemudian ikut menimpali.


"Apa sih, Mas Haris!" protes Asha.


Melihat Asha yang bisa marah, Bimasena merasa senang. Perlahan Asha mulai kembali. Jika kemarin-kemarin bicara saja Asha mengalami kendala, setelah beberapa hari di Singapore, kemajuan Asha sangat pesat. Bahkan kata dokter lusa setelah hasil pemeriksaan terakhir keluar, Asha sudah bisa balik lagi ke Indonesia.


***


Hasil pemeriksaan sudah keluar, semua tes hasilnya sangat bagus. Asha pulih lebih cepat dari pada dugaan dokter. Mereka semua pun akhirnya pulang.


Kepulangan Asha disambut dengan bahagia oleh keluarga besarnya. Terutama dua malaikat kecil, Zidan dan Aila. Hari-hari penuh kabut akhirnya berganti, setelah badai menerpa keluarga mereka, kini pelangi itu muncul. Asha dan keluarga hidup bahagia. Dan selama 6 bulan ini Asha dilarang menyetir mobil sendiri.


Beberapa minggu kemudian


Bimasena pikir badai sudah pergi jauh dari hidupnya. Tapi ternyata ia salah. Ia keliru, karena mendung gelap masih mengincar keluarga mereka. Pria itu wajahnya memucat saat mendapat kiriman sebuah foto ketika sedang bertugas.


Mobil di rumah ringsek menabrak papan reklame. Mobil yang terparkir rapi di garasi rumah, tiba-tiba ada di tengah jalan dengan bagian depan ringsek parah. Siapa yang mengemudi? Slide foto dalam ponsel itu kemudian digeser. Jika jantung Bimasena tidak sekuat baja, sudah pasti pria itu stroke.


Ya, dokter Asha kembali kecelakaan ketika tanpa sepengetahuan suami pergi mengendarai mobil untuk mengambil prakarya Aila. Sudah dikatakan oleh dokter. Selama 6 bulan Asha tidak bisa mengemudi, tapi Asha nekat. Ia pikir ia sudah sembuh. Tapi saat melihat jalan yang ia lewati tepat saat ia tertabrak, bayangan kejadian masa lalu kembali muncul. Asha trauma, diserang rasa panik dan merasa sesak berlebihan.

__ADS_1


Tidak mungkin menabrak kanan kiri, wanita itu malah mengorbankan diri dengan menabrak papan reklame. Ya ... begitulah Asha.


***


Rumah sakit


Semua panik ketika Asha kehabisan darah, apalagi stok darah yang sama sedang habis. Sudah mirip sinetron.


Sebenarnya golongan darah yang sama adalah Pak Han, tapi kondisi Pak Han sedang drop. Tidak bisa diambil darahnya, begitu juga mbak Nia. Kakak perempuan Asha tersebut sedang hamil muda, kondisinya pun lemah.


Sungguh, semua orang di sana sangat putus asa. Tidak menyerah, mereka menghubungi banyak kerabat dan kenalan. Di sini, akhirnya muncul satu tokoh yang terlupakan. Tokoh yang selama ini mencuri perhatian Asha diam-diam. Duda tampan sebelah rumah.


Rista, duda pemilik showroom mobil tetangga Asha. Pria 30 tahun, duda premium. Alhamdulillah, pria itu langsung datang saat mendapat kabar mereka mencari golongan darah yang sama dengan Asha.


Meski sudah bertahun-tahun jengkel dengan duda sebelah rumah yang selalu senyum-senyum pada istrinya, hari itu Bimasena mengucap banyak terima kasih. Sebab berkat Rista, nyawa Asha jadi tertolong.


Beberapa jam kemudian


Asha sudah bangun, semua yang panik jika Asha kembali koma lagi, merasa sangat bersyukur.


"Jangan bunuh Mas pelan-pelan, Sya!"


Asha yang merasa melangar larangan, hanya diam dan memasang wajah penyesalan. Membuat Bimasena tidak tega marah.


"Dan untuk Rista ... kamu mengucapkan banyak terima kasih."


Risat hanya tersembunyi, pria itu kemudian mendekati ranjang.


"Sekarang dalam tubuhmu ada darahku, Syah!" ucapnya asal. Membuat Bimasena langsung melotot tajam.


Ketegangan pun berubah, mereka semua bisa tersenyum lega.


***


Masih di rumah sakit, Asha tahun-tahun ini lebih sering tinggal di rumah sakit. Sampai ia merasa bosan.


Karena jenuh, ia pun meraih ponsel. Tidak tahu ada sebuah WA masuk.


[Puas kamu sudah merebut bekas suami dan bekas anakku? Puas?]


Mana ada bekas anak? Asha yang pikirannya masih labil paska koma, tidak boleh memikirkan hal berat, ia pun terpukul. Terpancing karena membaca WA Clara. Asha langsung menelpon ibu kandung Aila tersebut.

__ADS_1


Entah apa yang dibicarakan keduanya, begitu Haris masuk ruangan Asha sudah pingsan di atas lantai. Bimasena sendiri sudah kembali bertugas. Karena ia tidak bisa cuti begitu saja. Negara tetap nomor satu. Begitulah aturannya.


BERSAMBUNG


__ADS_2