
Cinta Dalam Diam Bagian 23
Oleh Sept
Asha dan Bimasena memang mengikhlaskan bayi mereka, tapi dengan sebuah syarat. Asha akan memberikan ASI ekslusif pada bayi tersebut. Ya, ketika waktunya memberi ASI, Asha akan ke rumah itu. Jika akan pulang, ia sudah punya stok di kulkas. Sedangkan Rara, wanita yang dipresi itu rutin menjalani pengobatan. Ia harus therapy setiap hari tanpa jeda. Jika telat obat, maka ia akan mengamuk kadang bengong seperti orang gila.
Asha sangat berharap dalam hatinya yang paling dalam, Rara bisa segera sembuh agar ia bisa membawa putranya pulang. Tapi sayang, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun. Rara tidak kunjung sembuh juga.
Rasanya begitu berat Asha menjalani hati bagai disiksa setiap saat, Asha sampai konsultasi pada dokter yang menangani Rara. Kenapa adik iparnya itu tidak kunjung sembuh? Padahal selama ini ia sudah merelakan putra semata wayangnya.
Tidak tahu kapan Rara sembuh, Asha hanya bisa menjalani hari-harinya dengan luka yang semakin mengangga. Meski bisa memberikan ASI, Asha juga ingin menemani putranya itu tidur. Ia ingin menyuapi, memandikan, dan mengajari putranya itu. Menemani tiap tumbuh kembangnya. Karena toh selama ini yang memandikan Zidan malah Ardi. Yang menyuapi juga Ardi. Semuanya dilakukan oleh suami yang ditinggal depresi istrinya tersebut.
Kadang seminggu sekali mereka membawa Zidan untuk main, tapi kalau Rara mencari. Maka mereka kembali mengalah. Ya, hanya ilmu ikhlas yang mereka kuatkan. Sebab, rasanya air mata sudah habis tumpah ruah menangisi nasib yang menyesakkan jiwa keduanya.
Rara juga seperti mayat hidup, dia akan menjerit tidak jelas bila tidak melihat Zidan. Dia akan tenang bila sudah mengkonsumsi obat. Sepanjang hari kalau habis therapy atau minum obat, ia hanya tidur. Ya, hanya tidur berjam-jam.
***
4 Tahun kemudian
Zidan sudah tumbuh jadi anak cerdas dan tampan. Persis seperti ayahnya, ayah Bimasena yang sering berkunjung tapi tidak pernah tinggal dengannya.
Zidan tumbuh cerdas karena sejak dini Asha menyewa guru private khusus untuk buah hatinya yang hanya ia lihat tersebut. Tidak bisa ia bawa pulang. Karena mengandalkan Rara juga gak mungkin. Adik iparnya itu masih seperti dulu. Tidak berubah, mana mungkin bisa mengurus Zidan. Mengurus sendiri saja dia tidak bisa.
Hari itu Asha kangen sekali dengan buah hatinya. Sengaja waktu weekend, ia ingin mengajak Zidan menginap. Apalagi sudah beberapa minggu Bimasena tugas. Dan mereka belum berkunjung.
Kediaman Bimasena.
"Mas, Asha kangen Zidan. Nanti tolong pakai cara apapun ya. Biar Zidan bisa nginep di sini."
Bimasena dapat merasakan, Asha sepertinya sangat rindu dengan putra mereka. Empat tahu, empat tahu lamanya mereka harus tinggal terpisah.
"Ya, nanti Mas usahakan."
"Tolong ya, Mas. Asha kangen!" ucap Asha dengan mengusap pipi. Entah mengapa, tiba-tiba ia rindu berat dengan Zidan.
"Iya, Mas usahakan!" janji Bimasena sambil mengusap lembut kepala Asha.
Hari itu pun mereka berdua pergi ke rumah Ardi. Pagi-pagi sekali. Begitu tiba di sana, Zian yang sudah beberapa minggu tidak ketemu ayahnya, langsung berlari menuju teras saat tahu ayahnya datang.
"Ayahhhh!" panggil anak usia 4 tahun tersebut. Anak itu langsung menghambur dalam pelukan Bimasena saat Bima turun dari mobil.
"Ayah marah sama zian? Kok lama gak ke sini?"
"Zian ... Ayah kan kerja," sahut Asha dan langsung memeluk putranya.
Dari belakang muncul Rara dengan wajah jutek. Seperti tidak senang dengan Bimasena dan Asha.
"Lucu deh, masa ada yang bilang Zidan mirip Mas Bima!" celetuk Rara sambil melipat tangan. Rara memang begitu, sejak depresi, ia memang agak tidak sopan, bad attitude.
__ADS_1
Bimasena hanya diam dengan Asha, keduanya langsung mencari Ardi. Tidak mau lama-lama, mereka mau membawa Zidan main. Seperti kegiatan weekend biasanya.
Dari pada kepancing emosi menghadapi wanita strees, mereka memiliki bicara dengan orang yang lebih waras.
"Itu Ardi. Mas bicara sama Ardi dulu!" Bimasena pergi menemui Ardi.
Beberapa saat kemudian, Bimasena muncul. Kemudian menggandeng tangan Zian. Entah apa yang ia katakan pada Ardi. Yang jelas ia akan mengajak Zian jalan-jalan hari ini.
Saat akan pergi, kembali Rara nyeletuk. "Nanti belikan baju bagus. Jangan yang murah. Nanti Zidan alergi!"
'Astaghfirullahaladzim.'
Asha dan Bimasena hanya bisa istrigfar. Kalau musuh orang waras mereka akan tangepi. Karena otak Rara masih konslet, mereka hanya diam.
Di dalam mobil
Zia begitu senang duduk di pangkuan ayahnya, sedangkan yang menyetir adalah sang ibu, dokter Asha. Asha seketika dicuekin ketika Zidan bertemu dengan Bimasena. Keduanya berbicara seolah Asha tidak ada, saking asiknya.
Hingga mereka berhenti di sebuah mini market.
"Zidan mau apa?" tanya Bimasena melihat putranya melihat kinder.
"Mau ini?"
Anak itu mengangguk.
Tiga rak langsung dibawa pulang mereka. Hari ini Zidan pesta kinder bersama ayah dan ibunya.
"Boleh, Yah?"
"Boleh. Zian Mau apa aja boleh!" ucap Bimasena dengan sayang. Sorot matanya sendu, andai bisa ia bawa pulang selamanya anaknya itu. Tiba-tiba malah rasanya semakin sesak. Tidak mau Zidan melihat kesedihan di wajahnya. Ia pun langsung mengendong Zidan.
Menyusul Asha yang masih stand by di dalam mobil.
"Beli apa, Sayang?" tanya Asha pura-pura antusias.
Zidan menunjukkan kantong besar miliknya yang berisi banyak kinder.
"Wah ... banyak sekali."
Zidan hanya tersenyum manis. Terlihat ganteng seperti ayahnya. Mendadak, hati Asha terenyuh.
'Anakku!' batin Asha meringis. Menahan sakit karena tidak bisa memiliki Zidan sepenuhnya.
Di dalam mobil. Ketika mobil sudah memasuki jalan utama, Zidan yang cerdas tersebut mulai bertanya banyak hal.
"Bu ... Zidan dulu di perut Ibu, terus dipindah ke perut mama? Zian kok punya dua ibu?" celoteh Zidan tiba-tiba.
Asha terdiam, begitu juga dengan suaminya.
__ADS_1
"Zidan hanya diperut Ibu, Ibu yang lahirin kok. Sekarang ikut Mama dulu ya. Nanti kalau Ibu tidak repot, Zidan ikut Ibu lagi. Tinggal sama Ibu."
"Kapan Ibu nggak repot? Zidan nggak nakal ... Bu!" ucapnya polos dan sendu.
Zidan ini anak umur 4 tahun, tapi IQ di atas rata-rata. Mungkin nurun jejak dokter Asha. Sudah bisa baca Al-Qur'an. Sudah bisa baca tulis. Tidak heran karena Asha sendiri pun demikian. Ketika usia 15 tahun sudah tercatat sebagai mahasiswi kedokteran.
Asha hanya menelan ludah, tidak bisa menjawab pertanyaan sang putra. Kalau bisa, sudah dari dulu ia membawa pulang putranya itu. Hanya saja, ia kasihan pada Rara dan Ardi. Asha benar-benar dilema.
"Nanti ya, Sayang."
Zidan mengangguk dengan gaya nurut.
"Pinternya, anak soleh Ibu!" ucap Asha sambil mengusap rambut Zidan dengan sebelah tangan. Sedangkan tangan yang lain, masih memegang setir.
***
Kediaman Riyadi
Haris sedang siap-siap, pria itu sedang menggepang rambut panjang Aila. Ia akan keluar bersama Aila, putri kecilnya yang kini sudah masuk TK. Hari ini ia sudah janji mengajak main Aila dan jalan-jalan ke sebuah mall. Tanpa Clara, entah istrinya itu pergi ke mana. Memang Aila jarang sekali menghabiskan waktu bersama maminya.
"Papi! Kuncirnya miring sebelah!" celoteh Aila.
Haris hanya tersenyum kecut, ia memang tidak pandai menguncir rambut anak gadisnya itu. Selalu salah saja.
"Iya ... iya!"
"Nah ... baru pas, Papi!"
Haris pun langsung mencubit Aila. Anak satu-satunya dari pernikahannya bersama Clara tersebut.
"Sakit, Papi!"
Haris malah menggoda anak itu sampai menjerit. Karena sangat gemas.
***
Sebuah mall ternama di pusat kota. Haris sedang menemani Aila main di salah satu game zone. Sambil menatap Aila yang asik main, matanya menatap sekeliling. Dilihatnya banyak pasangan yang terlihat bahagia. Pergi bersama pasangan dengan buah hati tercinta.
Tidak sengaja, matanya menatap sosok yang tidak asing jauh di ujung sana.
"Clara?" gumamnya.
"Dengan siapa dia?" tanya Haris pada diri sendiri. Dan Haris semakin geram tatkala melihat keduanya saling bergandengan tangan.
Bersambung
Kenapa dokter Asha dan Bimasena akhirnya rela melepas Zidan. Ini jawabannya ya.. Jangan lupa, jempolnya dulu. Tekan like biar nanti aku up lagi kisah nyatanya seperti apa. Jangan lupa like ya. Terima kasih.
__ADS_1