
Cinta Dalam Diam Bagian 9
Oleh Sept
Tanpa banyak bicara, setelah mendengar penuturan tentang perselingkuhan Haris yang diketahui oleh tetangga Asha sendiri. Dan Asha tahu, tetangganya itu tidak mungkin mengada-ada. Gadis yang baru saja hatinya berbunga-bunga pasca lamaran, seketika langsung shock oleh kenyataan pahit yang datang begitu sangat cepat.
Mendadak sulit baginya untuk bisa bernapas, ada rasa sesak yang tidak bisa dituliskan. Hati Asha hancur, hancur lebur seperti tersapu ombak sunami.
Dengan perasaan kalut, sakit, kecewa dan pedih yang tidak terkira, Asha langsung lari masuk ke dalam rumah. Ia lari sambil menahan tangis.
'Mas Haris ... kamu jahat!'
Asha langsung masuk kamar, hari itu adalah hari terburuknya. Ia tidak bisa membendung lagi air matanya. Asha menangis lama sambil dipeluk bapak dan kakak perempuannya.
Sedangkan Andri, kakak laki-lakinya yang merupakan Perwira polisi. Ia terlihat sangat marah setelah mendengar apa yang terjadi. Rasanya, ia ingin mematahkan tulang Haris menjadi kepingan tak berbentuk. Rasanya, ia ingin menghajar Haris sampai tidak ada darah yang bisa mengalir.
Kemarahan Andri sudah sampai ubun-ubun. Bisa-bisanya Haris sudah menghianati adik perempuannya. Adik satu-satunya yang ia jaga bagai intan permata.
"Aaghhr Brengsekkk kau Haris!" teriak Andri marah.
Tiba-tiba terdengar suara keras, entah apa yang sudah ditendang atau dihancurkan Andri untuk melampiaskan kemarahannya itu.
Di dalam kamarnya, Asha malah semakin menangis. Dihianati Haris, cinta pertamanya ternyata begitu menyayat hati. Asha patah hati di saat ia sedang sayang-sayangnya.
Kesalahan Asha cuma satu, terlalu percaya pada yang namanya manusia. Dan ketika manusia itu membuat Asha kecewa berat, maka sakit yang Asha rasa pun berlipat-lipat.
***
Di tempat lain. Kediaman Clara. Clara habis turun dari sebuah taxi. Ia terlihat sumringah. Sesaat yang lalu, ia habis menguntit Haris sampai rumah Pak Han. Ia memastikan, Haris sudah melakukan lamaran.
Begitu sudah duduk di teras rumahnya, Clara merogoh ponsel dalam tas cantik yang ia bawa. Entah branded atau malah KW. Jika KW, maka kelihatan seperti sangat asli. Mungkin KW super.
Sebelumnya ia mengambil napas, kemudian berdehem.
__ADS_1
Tut ... Tut Tut
Clara menunggu telponnya diangkat.
'Masa belum sampai rumah?' batin Clara.
Yang ditelpon baru turun dari mobil. Haris pun masuk ke rumah. Dengan wajah cerah secerah matahari pagi yang baru muncul di sebelah timur.
"Haris!" panggil suara ditelpon saat Haris mengangkat telpon miliknya.
Haris ragu-ragu. Tapi memutuskan untuk mendengar apa yang ingin dikatakan oleh Clara. Karena setelah kejadian itu, ia sama sekali tidak pernah bertemu Clara lagi.
"Ada apa?" tanya Haris dengan suara berat.
"Aku hamil!"
JEDARRR ...
DUARRR ...
Langit Haris langsung runtuh. Dunianya yang ia idam-idamkan dengan Asha seketika buyar, hancur, hilang, musnah tanpa sisa.
Kaki Haris langsung lemas, tubuhnya gemetar. Jantungan tidak karuan. Kalau ia sudah tua, pasti kena stroke.
Kabar dari Clara, wanita yang bukan siapa-siapa Haris. Hanya kenalan saja, tiba-tiba menelpon. Mengabari bahwa sedang hamil.
Apa itu karena kesalahan satu malam itu? Sesuatu yang Haris lakukan tanpa sadar? Sesuatu yang terjadi karena sebuah jebakan. Entahlah, Haris sepertinya ingin hilang saat itu juga.
"Hallo ...? Haloooo ... Haris?" panggil Clara.
"Tunggu, nanti kita bicara. Kamu di mana?"
Keduanya pun sepakat bertemu. Dan setelah telpon itu, Haris terlihat sangat pucat.
__ADS_1
Sedangkan di ruangan yang lain, di rumah yang sama, ada hati yang sesengukan di atas sebuah sajadah. Ya, dia adalah Bimasena. Turun dari mobil setelah pulang dari acara lamaran Asha dan Haris, Bimasena memilih mengadu pada Rabb-nya.
Ia takut tidak bisa menjalani takdir yang menyesakkan ini. Bimasena mengadu tentang apa yang ia rasakan sekarang. Tentang hancurnya hati, tentang hancurnya harapan, tentang kenyataan yang bahkan sulit untuk ia terima.
Asha, gadis bertahun-tahun yang selalu ia sebut namanya dalam doa di sepertiga malam. Kini sudah akan menjadi istri adiknya sendiri. Sebuah kenyataan yang bahkan tidak bisa ia bayangkan. Jiwa yang kuat itu mendadak menajdi lembek kalau membahas tentang Asha.
Cukup lama Bima bersujud, ia tenggelam dalam doa yang disertai tangis yang menyayat. Polisi gagah dan perkasa itu selalu lemah dan menangis ketika mengadu tentang Asha pada sang pemilik Asha yang sesungguhnya.
Asha-nya hampir tidak mungkin ia dapatkan, mencoba ikhlas tapi hati Bima tidak sanggup melepaskan. Mengapa ujian cintanya begitu maha berat?
Bertahun-tahun menambatkan hati hanya pada satu gadis, akhirnya ia harus terluka berdarah-darah.
Terlalu larut, Bima sampai tidak peduli pada tamu yang datang. Padahal, salah satu tamu yang ke rumah Pak Riyadi adalah atasannya sendiri. Bima tidak mau keluar kamar. Berjam-jam dari siang sampai menjelang senja, ia hanya duduk di atas sajadah. (Ini scene asli. Nara sumbernya sendiri yang cerita. Aku nangis loh pas dia cerita bagian ini)
***
Di luar rumah, kediaman keluarga Riyadi
Sebuah mobil berhenti, setelah itu Pak Han, Andri dan Asha langsung turun dari mobil tersebut. Pagi lamaran, sore lamaran dibatalkan. Itulah kisah cinta pertama Asha yang cukup membuat mata Asha bengkak.
Haris yang masih shock setelah kabar kehamilan Clara, tambah shock ketika melihat Asha datang dengan rmata sembab sambil mengembalikan cincin pertunangan mereka.
Mulai dari sini, ia paham. Semuanya sudah selesai. Apalagi ketika tiba-tiba sebuah bogem mentah langsung menghantam wajahnya.
"Brengsekkk kau!"
BUGH
Kakak Asha yang merupakan polisi tersebut, tanpa segan langsung menghajar Haris. Tidak cukup sekali, ia benar-benar membuat Haris harus ke UGD.
Sedangkan di dalam kamarnya, Bimasena yang matanya juga sudah sembab, keluar karena mendengar banyak keributan. Apalagi mendengar ibu dan bapaknya teriak cukup kencang.
KLEK
__ADS_1
Bimasena menatap ruang tamu yang sudah berantakan. Ia juga melihat Haris yang dipeluk ibunya. Wajah Haris dipenuhi darah. Kemudian ia menatap pria yang berdiri tegap sambil mengepalkan tangan. Menatap marah pada Haris yang sudah tidak berdaya.
Sedangkan Asha, ia dipeluk oleh bapaknya dengan erat. Menangis terisak. Semua yang ada di sana, merasakan perasaan hancur yang sama. BERSAMBUNG.