
Cinta Dalam Diam Bagian 16
Oleh Sept
Pasca kejadian yang cukup mengejutkan itu, kini baik Asha maupun Bimasena sama-sama canggung. Keduanya kini nampak kaku. Ingin membuat Asha nyaman, Bima pun meninggalkan Asha kembali. Sedangkan ia kembali keluar, bergabung bersama rekan-rekannya.
Di luar ruangan.
"Bagaimana?" tanya Rio super kepo.
Bima tidak menjawab, tapi wajahnya yang seperti kepiting rebus membuat Rio kembali mencandai nasibnya. Pria Casanova itu terkekeh. Merasa ahli dari pada Bima dalam hal asmara, ia pun meledek Bimasena sepanjang malam.
Rio ini tingkat PD-nya kebangetan, ya mungkin karena salah satu pacar Rio adalah artis terkenal. Jadi dia bisa sombong sekarang. Meski jabatan di bawah Bimasena, tapi kalau masalah cewek, dia suhunya. Buktinya berkat saran Rio, sekarang Asha sudah berhasil ia tium-tium.
Sedangkan di dalam ruangan, semalaman Asha tidak bisa tidur. Gadis itu gelisah tentang apa yang akan terjadi padanya esok hari. Asha pun tidur dengan rasa cemas yang memenuhi hatinya.
***
Pagi Hari
Asha diminta mandi dan ganti pakaian di ruang kerja Bimasena. Dengan malu, tidak berani menatap mata Bima karena kejadian semalam, Asha pun menurut.
Sudah wangi, sudah cantik, dengan gugup ia duduk di ruangan lagi. Apalagi Bima mulai mendekat, belum apa-apa Asha sudah panik. Mungkin trauma, takut kejadian semalam terulang.
"Kita temui atasanku pagi ini!" ucap Bimasena tenang. Meski hatinya jedag-jedug.
Asha mendongak.
"Berkas perijinan untuk nikah sudah ditandatangani, sekarang giliran Kita menghadap komandan."
JLEB
Kaki Asha rasanya lemas, sepertinya untuk jalan pun akan susah.
'Siapa pria ini? Datang-datang memutuskan menikahinya. Tanpa melamar?'
Asha tambah gegana, gelisah galau merana. Keluarganya belum tahu, kok Bimasena sudah mengajak menghadap atasan untuk ijin menikah. Aduh, Asha tambah pusing.
Karena melihat wajah serius Bimasena, dan sorot mata tajam itu, Asha akhirnya melangkah bersama Bimasena. Dimulai dari dipaksa, akhirnya Asha bertemu dengan atasan Bimasena.
Asha pribadi yang cerdas, sangat mudah baginya membaca situasi. Atau mungkin ini juga jawaban dari setiap sujud Bimasena belasan tahun silam sampai sekarang, akhirnya Allah mudahkan mulai dari sekarang.
***
Jakarta
Akhirnya mereka berdua balik ke Jakarta, di mana Asha tidak akan kembali ke Semarang. Kembali meninggalkan rumah sakit. Bila kemarin karena patah hati, sekarang karena seorang Perwira polisi menculiknya dengan paksa. Asha bisa saja kabur saat mendapat celah, tapi entah mengapa, mungkin sedikit saja ia bisa merasakan ketulusan pria tersebut.
Hingga akhirnya mereka tiba di kediaman Pak Han.
Suasana kembali mencekam, ada ketegangan antara Andri dan Bimasena. Andri sangat marah ketika Bimasena menginjak rumah mereka. Bima dan Haris bagi Andri adalah musuh bebuyutan. Dan mereka tidak boleh berurusan lagi.
__ADS_1
"Saya akan menikahi Asha, Pak!" ucap Bimasena pada Pak Han.
Bima melirik Asha yang duduk di samping bapaknya, ia bersandar sembari memeluk bapaknya tersebut. Asha ini memang anak bapak, selalu menggelayut manja pada bapaknya sejak kecil. Meski dokter, kalau di rumah ia adalah anak kecil yang manja.
"Bicara apa kau brengsekkk!"
BUGH
"Mas Andri!" pekik Asha melihat Bimasena dipukul kakaknya.
Bapak, ibu, mbk Nia dan mas Firman seketika menjadi tegang. Apalagi, Andri kembali menghajar Bimasena. Pria itu tidak takut, meskipun pangkat Bimasena di atas dirinya.
Dalam hati Andri hanya ada benci, karena keluarga Riyadi sudah mempermainkan keluarganya. Menganggap Asha mereka sebagai mainan. Dilamar adik, dinikahi kakak. Tidak lucu!
Marah, Andri kembali mengeluarkan jurus-jurusnya. Bagh BUGH ... Entah sudah berapa kali ia meluncurkan banyak pukulan. Aneh, Bimasena tidak membalas. Ia diam saja, padahal kalau mau, Bimasena bisa menghindar atau bahkan memukul balik. Ya, cinta mengalahkan segalanya. Ia lemah ketika dihadapkan pada Asha. Cintanya yang terlanjur mengakar kuat dalam hatinya yang paling dalam.
"Cukup!" Pak Han mencoba melerai.
"Pulanglah!" titah Pak Han pada Bimasena. Tidak mau Bima mati di tangan putranya.
"Saya mohon. Ijinkan saya menikahi Asha, kami sudah melakukannya. Dan saya ingin tanggung jawab!" ucap Bimasena dengan wajah dipenuhi luka.
Semua mata tertuju pada Asha. Asha sampai shock tidak bisa berkata-kata. Sungguh ini adalah fitnah keji. Kapan mereka melakukan hal itu?
Mau menjelaskan, keburu Bimasena kembali berbicara.
"Saya tidak bisa menjamin, Asha tidak hamil nanti!"
BRUAKKK ....
PRANGGG ...
PYARRR ....
Satu kalimat itu, kembali mengantar Bimasena diamuk habis-habisan.
"Brengsekkk!!!"
BUGH BUGH BUGH ...
Mata Asha langsung berkaca-kaca, kakaknya hampir membunuh orang. Hatinya hancur, entah karena fitnah atau malah karena melihat Bimasena yang sudah hancur babak belur.
"Hentikan!" Pak Han dan yang lain melerai.
Asha pun mendekati Bimasena.
"Kenapa bohong!" ucap Asha lirih dengan suara serak. Hatinya ternyata sakit melihat Bimasena bersimbah darah.
"Jangan katakan apapun, serahkan semua padaku. Aku akan tanggung jawab. Semua memang salahku. Aku yang akan menganggugnya."
Asha mengusap pipinya, entahlah. Ia bingung dengan semuanya. Dan sepertinya semua orang percaya kalau Bimasena sudah melakukan sesuatu padanya. Padahal mereka hanya tium-tium.
__ADS_1
***
Beberapa saat kemudian
Asha duduk di taman samping rumahnya, ia duduk sambil mengobati luka Bimasena.
"Lebih baik minta maaf, katakan tidak terjadi apa-apa. Mas Andri dan Bapak pasti mau mengerti."
Bimasena hanya diam, kemudian menghela napas. Menahan semua nyeri yang ia rasakan karena pukulan maut dari Andri.
"Jangan sia-siakan perjuanganku sampai di titik ini, Asha ... Luka ini tidak seberapa."
Asha tidak bisa berkata-kata lagi. Pria di depannya benar-benar pemaksa. Dan setelah semua luka diobati, mereka semua kembali duduk bersama. Kali ini lebih tenang. Emosi sedikit mereda.
Akhirnya Pak Han pun mengambil keputusan. Ia memberikan restunya pada Bimasena. Melihat Bimasena yang berbulan-bulan ke rumah mencari Asha, mendengar cerita Nia dan Firman, bahwa selama ini yang lebih dulu menyukai Asha adalah Bimasena. Bapak pun memberikan ijin. Tapi tidak dengan Andri. Matanya masih menyalak marah, seolah belum puas menghajar Bimasena.
Bagi Bimasena, tidak apa-apa pulang babak belur malam itu. Yang paling penting restu bapak, komandan tempatnya bertugas, semuanya sudah ia dapat. Pria itu kini menyetir pulang ke rumahnya sendiri, di tengah jalan, ia tersenyum. Meski tubuhnya nyeri semua. Pokoknya malam ini ia sangat bahagia.
***
Kediamannya Pak Han
Kamar Asha, gadis itu tidur dalam pangkuan sang bapak. Mungkin juga rindu, setengah tahun tidak pulang.
"Pak ..."
"Hem!" ucap Pak Han sambil mengusap kepala Asha yang tertutup hijab.
"Bapak percaya Mas Bima?"
"Kenapa?"
"Jawab dulu, bapak percaya semua perkataan Mas Bima tadi?"
Asha gelisah, karena mereka semua pasti menganggap Asha tidak bisa menjaga diri.
"Bapak percaya anak Bapak!"
Seketika tangis Asha pecah, ia yakin bapaknya itu pasti tidak percaya pada semua ucapan Bimasena.
"Lalu kenapa Bapak kasih restu? Kenapa Bapak kasih ijin? Mas Bima bohong. Kami tidak melakukan itu."
Pak Han menghela napas panjang.
"Dia imam yang baik buat kamu, Asha. Bapak kenal Bimasena sejak dia masih remaja. Mungkin Bima memang jodoh Asha."
Asha langsung bangkit, ia mendongak menatap bapaknya dengan aneh. Kenapa Pak Han bisa begitu yakin kalau Bima jodoh Asha? BERSAMBUNG
Naluri bapak sebagai seorang ayah, sekaligus laki-laki, pasti bisa melihat lewat sorot mata yang tulus dan modus. Apalagi, Pak Han mengenal Bimasena teman dekat Nia dan Firman sejak SMA. Ayo... siapakan baju kebaya. Kita kondangan. Kalian bakal terkejut dengan mas kawin pak polisi yang sweet ini.
Yang minta IG bu dokter sama Pak dokter lewat inbox, dm, sama chat. Maaf ya ... hihihih. Mereka ada, nyata, tapi dirahasiakan. Demi privacy ya. Hehhe.. cuss jangan lupa jempolnya. Biar makin semangat ngetik kisah romantis mereka.
__ADS_1