Dokter ASHA And KOMPOL BIMASENA

Dokter ASHA And KOMPOL BIMASENA
Roller Coaster


__ADS_3

Dokter Asha and KOMPOL Bimasena Bagian 38


Oleh Sept


Sejak saat itu, saat ketika Asha ditemukan pingsan dan diketahui penyebabnya adalah telpon terakhir. Emosi Asha yang meluap-luap, padahal ia tidak boleh memikirkan sesuatu yang berat, tidak boleh tertekan sama sekali. Akhirnya tumbang, dan mulai dari sana, Asha dibatasi untuk memakai ponsel.


Selain menghindari radiasi, juga untuk menghindar dari toxic yang sewaktu-waktu membuat mental Asha down. Dan karena bosan di rumah sakit terus, akhirnya Asha merajuk minta pulang. Ia mengaku tidak apa-apa. Ia sudah sehat, dan karena Asha memang sudah baik-baik saja, beberapa hari dirawat, akhirnya ia boleh pulang.


Kediaman Bimasena


Sampai di rumah, Asha langsung merebahkan tubuhnya. Rasanya sudah sangat kangen tidur di rumah.


"Hpnya Mas simpan!" kata Bimasena sambil memasukkan ponsel ke dalam brankas.


Asha melirik dari posisinya, sambil tersenyum masam.


"Sebentar saja gak boleh?" Asha memasang muka melas.


Pria itu menggeleng tegas. Tanda bahwa ia sudah tidak mau lunak lagi dengan istrinya itu. Ia harus tegas, semua demi Asha. Demi kesehatan dan pemulihan istrinya itu.


Beberapa minggu kemudian


Asha sudah kelihatan lebih baik, sudah tidak banyak melamun, sudah ceria seperti sebelumnya. Hari itu, tiba-tiba ia kangen dengan Andri. Cukup lama mereka tidak bertemu. Padahal biasanya kakak laki-lakinya itu pasti menyempatkan diri untuk menelpon atau vidio call.


"Apa Mas Andri sibuk ya? Kok Asha kangen!" gumam Asha.


Hari itu, Asha pun menelpon kakaknya.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum?" sapa Asha di telpon.


Di dalam kantornya, Andri yang masih bertugas, menatap ragu pada ponselnya.


"Wa'alaikumsalam," jawab Andri dengan suara yang berat, sepertinya ia memiliki masalah.


"Sedang apa, Mas? Asha kangen!"


Mendengar Asha berkata seperti itu, tiba-tiba rasa sesak memenuhi da danya. Pria berseragam coklat itu mengusap wajahnya dengan berat.


"Ya, nanti Mas Andri ke sana," ucap Andri kemudian.


Asha langsung sumringah. Dari dulu mereka memang dekat. Hingga banyak orang yang mengatakan kalau mereka sepasang kekasih yang serasi. Padahal mereka kan adik kakak.


***


Beberapa jam kemudian


Tamu yang dinanti datang juga. Kedatangan Andri langsung disambut oleh kedua ponakan. Mereka langsung menodong Andri untuk menemani bermain.


"Titip HP Mas, Syah!" Andri menitipkan ponselnya saat ia menemani sang ponakan bermain.


Ketika melihat Andri bermain dengan Zidan dan Aila, tiba-tiba ponsel Andri menyala. Dilihat pesan dari kakak iparnya. Tanpa sengaja, pesan singkat itu meski belum dibuka sudah terbaca di depan layar. Makin penasaran, Asha pun membuka ponsel itu.


[Sana! Jangan pulang sekalian, urus itu adikmu yang manja!]


Mata Asha tiba-tiba perih, sejak kapan kakak iparnya itu menjadi begini? Sejauh yang ia tahu, kakak iparnya itu tutur katanya bagus. Kalem, tidak banyak gaya dan sopan.

__ADS_1


'Astaghfirullahaladzim, ada masalah apa ini? Kenapa mbak Norma marah-marah seperti ini?' batin Asha gelisah.


Ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, Asha pun melihat pesan yang sudah-sudah. Di mana di sana Norma sering marah-marah pada sang kakak. Penasaran apa yang terjadi sesungguhnya, mengapa Norma marah padanya. Asha terus membaca semua pesan dalam ponsel kakaknya itu.


Dari sana Asha paham, selama ini Norma marah karena cemburu. Padahal Andri bahkan bertemu dengannya hanya sebulan bisa dihitung jari, lalu apa yang membuat kakak iparnya itu cemburu? Padahal dia dan Andri adalah saudara kandung. Apa salahnya abang perhatian sama adik perempuan satu-satunya?


Kebanyakan memang begitu, selalu cross dengan ipar. Mungkin itu adalah salah satu ujian dalam rumah tangga.


Setelah membaca semua pesan dalam ponsel Andri. Setelah kakaknya itu pulang, Asha langsung memblokir nomor sang kakak. Ia tidak mau RT sang kakak memanas hanya karena Asha kangen dan ingin ketemu abangnya sendiri. Lebih baik ia mengalah dan menjaga jarak.


Sampai suatu hari, Andri menyadari kalau Asha menghindar. Pria itu pun pergi menemui Bimasena. Mengatakan apa yang terjadi. Hidupnya tersiska kalau tidak boleh berkomunikasi dengan adiknya sendiri. Apa karena Norma sedang hamil? Jadi wanita itu jadi possessive. Tapi kenapa cemburu pada adik kandungnya? Ini sangat aneh.


Bimasena pun tidak enak, ia kemudian membawa Andri pulang. Pria yang sempat menghajar dirinya berkali-kali itu, kini terlihat terkekan hanya karena istrinya yang kelewat possessive.


Sampai di rumah, Andri menangis. Ia tahu Asha sudah tidak mau mengangkat telpon darinya.


Eh tiba-tiba entah dari mana hari itu Normal muncul dan langsung melabrak Asha. Ia melempar benda keras dan mengenai dahi Asha.


Bimasena yang saat itu sedang santai di ruang tamu, seketika shock melihat wajah Asha dipenuhi darah.


Kejadian baru bulan lalu. Ya Allah bu dokter .... Rumah sakit lagi rumah sakit lagi, jahit lagi, jahit lagi. Makanya, aku tulis kisah mereka karena Mas Dika dan mbk Latifah request. "Coba bilang sama temennya Asha yang penulis itu. Coba kisah hidup Asha dijadikan novel!" kata mereka yang greget sama kisah satu wanita yang ujian hidupnya lumayan berat tersebut. Serasa naik roller coaster tapi gak turun-turun.


Akhirnya lahirlah kisah dokter Asha. Nama disamarkan. Tempat kejadian pun disamarkan.


***


"Kak ... kok hidup Asha banyak ujiannya!" celetuk dokter.

__ADS_1


"Kalau banyak cucian, namanya laundry!" kami terkekeh bersama.


__ADS_2