Dokter ASHA And KOMPOL BIMASENA

Dokter ASHA And KOMPOL BIMASENA
Khitbah


__ADS_3

Dokter Asha and KOMPOL Bimasena Bagian 50


Oleh Sept


Idul Fitri


Hari ini adalah idul fitri pertama bagi Asha dan Bimasena bisa hangat dan syahdu bersama keluar besar dari kedua belah pihak keluarga. Setelah 5 tahun merayakan idul fitri dengan penuh kesedihan, tanpa sapa dan penuh kediaman.


Kini semua terbayar lunas, keluarga dokter Asha dan keluarga komisaris polisi Bimasena berkumpul jadi satu di rumah Bimasena. Ya, mereka semua menginap di rumah tersebut. Merayakan hari kemenangan bersama-sama. Sholat ied bersama dan juga berbagi bersama-sama pula untuk mereka yang membutuhkan.


Jiwa dermawan keluarga mereka memang tidak usah dipertanyakan. Beberapa bulan lalu, ketika kasus Migor mencuat di masyarakat, dokter Asha yang masih dalam tahap penyembuhan, bersama orang terdekatnya, memesan ribuan Migor untuk dibagikan secara gratis di daerah pelabuhan.


Sama seperti sekarang, setelah sholat ied, mereka juga kembali berbagi dengan sesama. Sebab prinsip mereka, harta yang mereka miliki sebenarnya bukan milik mereka. Itu adalah titipan, dan sebaik-baiknya harta adalah yang bermanfaat bagi sesama.


***


Pulang sholat Ied, semua makan bersama. Sudah dari kemarin Bimasena tidak bisa dekat-dekat dengan Asha. Ini karena Asha sudah disabotase oleh kedua ibunya. Ya, ibu kandung dan ibu mertua.


Belum lagi saudara-sudara Asha yang lain, sudah pasti Bimasena hanya bisa menatap Asha dari kejauhan.


Sepertinya pagi ini, capek istrinya disabotase. Setelah semua beres, hari itu Bimasena membawa Asha ke taman belakang. Mengajak Asha untuk bersantai dan menjauhkan Asha dari yang lain.


"Udah, di sini aja. Mas kangen ... masa dari kemarin Mas dicuekin," protes Bimasena.

__ADS_1


"Ya Allah, Mas. Kan jarang-jarang ibu nginep."


"Ya ... hemm ... tapi ya jangan begitu. Mana waktu untuk Mas?"


Asha menatap aneh pada suaminya yang merajuk. Tubuh tehap, atletis dengan tinggi 180 cm lebih itu rasanya tidak cocok mengelayut manja padanya.


"Gak malu, Mas? Dilihat orang-orang nanti."


"Biarin ... Halal kok."


Asha hanya bisa memegangi dahinya, Bima kalau bucin memang begitu. Melebihi Zidan yang lagi merajuk.


"Udah ya, jangan protes. Mas mau rebahan di sini."


"Pokoknya temani Mas tidur!"


"Idih!"


Asha hanya bisa tersenyum melihat suami yang bucin parah.


"Ya sudah, Mas tidur aja."


Beberapa jam kemudian

__ADS_1


Dua orang itu malah sama-sama tertidur di gazebo belakang rumah. Semilir angin di sana membuat suasana terasa semakin sejuk dan melebihi sejuknya AC yang baru beli.


Adzan Ashar


"Astaghfirullahaladzim!"


Asha bangun dengan panik, ia ketiduran cukup lama.


"Nyenyak banget tidurnya!" sindir Bimasena dengan senyum. Sebuah senyum yang hanya milik Asha. Sebab menurut kabar burung, kompol Bimasena merupakan pria garang di kantornya. Pria dingin dan kelihatan sama sekali tidak ramah.


Padahal, pria berseragam polisi itu sebenarnya begitu lentur, tapi hanya pada istrinya. Ya, hanya pada Asha pria itu memperlihatkan seperti apa aslinya. Pria itu bisa menangis, bisa merajuk dan bisa tertawa lepas bahagia.


Asha bagai cahaya terang bagi Bimasena, makanya pas Asha koma dulu. Pria gagah itu malah tumbang dan langsung diinfus. Ternyata, cintanya terlalu besar. Melihat Asha terluka, Bimasena pun merasakan sakit yang sama.


Tapi sekarang badai sudah berlalu, setelah mendung gelap, kini pelangi perlahan muncul. Bersama dengan kebahagian yang mengisi hari-hari mereka. Setelah berkorban 4 tahun terpisah dengan buah hati, kini semuanya bersatu. Melukis bahagia, melakukan yang terbaik demi mengapai rindho-Nya.


***


6 May 2022


Pagi ini keluarga besar Bimasena pergi ke sebuah pesantren. Adik ipar Asha yang sudah duda tersebut, berencana akan kembali marajut rumah tangga. Ya, Ardi sedang berencana melamar gadis. Seorang gadis pesantren anak pak Kyai.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2