
Cinta Dalam Diam Bagian 24
Oleh Sept
Malam harinya, kediaman Riyadi. Haris sudah tiba di rumah saat sore tadi. Sedangkan Clara, wanita itu masih belum pulang. Ketika hari sudah gelap, barulah Clara pulang.
"Dari mana?" tanya Haris dingin.
"Dari rumah mamah!" jawab Clara santai. Wanita itu kemudian berlalu saja meninggalkan Haris yang masih ingin bicara dengannya.
Begitulah rumah tangga keduanya, sejak 9 bulan plus masa nifas tidak disentuh sama sekali. Hati Clara merasa terluka.
Wanita itu pun mencari kepuasan di luar sana. Sebuah kepuasan yang tidak ia dapatkan bila bersama Haris. Ya, Clara merasa Haris tidak sekalipun mencintai dirinya.
Hanya Aila. Jika bukan karena Aila, mungkin pernikahan mereka tidak akan bertahan sampai sekarang.
Beberapa saat kemudian setelah Clara sudah mandi dan ganti pakaian. Wanita itu sangat santai, tidur tanpa berbicara apapun padanya. Tidak bertanya bagaimana Aila hari ini ketika ia tidak di rumah padahal weekend.
"Clara!" panggil Haris ingin membahas Clara yang terciduk Affair.
"Aku capek, kita bicara besok aja!"
Haris menahan napas kesal, kalau tidak ingat Aila, sudah ia tinggal pergi wanita seperti Clara. Hidupnya sudah sangat jauh menyimpang di luar jalur. Dan Haris adalah suaminya, jika ia tidak menegur istrinya itu, sudah pasti berdosalah dirinya.
"Aku ingin bicara!"
"Aku capek, Mas!"
Clara malah menarik selimut.
"Baiklah! Tapi dengar kata-kataku! Dengan siapa kau pergi hari ini?"
"Sama Mamah!" jawab Clara bohong.
Haris memejamkan mata, menahan marah. Pria itu kemudian keluar kamar. Memilih tidur bersama Aila di kamar sebelah.
Tengah malam, Haris tidak bisa tidur. Apalagi kejadian tadi siang cukup membuatnya muak. Akhirnya ia menatap ponselnya.
__ADS_1
Ia tatap nomor Asha cukup lama. Mungkin karena rindu. Karena setelah 5 tahun ini, mereka tidak betegur sapa sama sekali. Baik Asha maupun Bimasena. Mereka keluarga, tapi seperti orang asing.
Tidak tahu harus bagaimana, tiba-tiba saja tangannya memencet sebuah lagu dan langsung mengirimkan ke nomer Asha. Sebuah lagu asmara, dengan judul kau masih kekasihku.
Ya, sampai saat ini. Hati Haris hanya dipenuhi oleh Asha. Entah kenapa, Clara tidak pernah bisa mengeser posisi tersebut. Meski sudah 5 tahun mereka hidup bersama.
***
Kediaman Bimasena
Asha yang tertidur seorang diri, karena Zidan sudah diantar pulang. Ia pun terbangun tengah malam. Di rumah hanya ada dirinya, karena Bimasena juga sudah bertugas kembali.
"Siapa malam-malam kirim pesan?" gumam Asha sambil mengosok mata.
Ia terbelalak ketika dapat kiriman lagi dari Haris.
"Astaghfirullahaladzim!" pekik Asha.
Asha langsung gelisah. Masalahnya, ponsel Asha tersambung pada ponsel suaminya. Apapun yang terkirim pada nomor Asha, otomatis akan ke kirim juga pada nomor Bimasena.
***
"Ya Allah Mas Haris."
Seharian ini mondar-mandir, apalagi suaminya belum pulang. Dan benar saja, apa yang ia khawatirkan akhirnya terjadi.
Besok harinya, setelah pesan itu terbaca oleh Bimasena. Haris langsung habis. Pria itu babak belur di tangan sang kakak. Karena sudah berani mengirim pesan yang bukan-bukan.
Haris tidak bisa membela diri, karena baginya Asha juga masih menetap di hati. Haris diam saja ketika pria itu menghajar tubuhnya. Biarlah, biar dia juga sadar. Bahwa mengharap istri orang itu jelas salah, meski dulu mereka pernah ada rasa.
Mulai dari situ, hubungan kakak adik kembali memanas. Hingga suatu hari, Haris datang bertamu ketika Bimasena tidak di rumah.
***
Kediaman Bimasena
Haris menunggu di teras rumah, meminta ingin bicara dengan Bimasena. Setelah kejadian tempo hari yang membuatnya babak belur.
__ADS_1
"Mas Bima masih di kantor!" ucap Asha yang tidak mengijinkan Haris masuk.
"Baiklah, akan aku tunggu."
Asha gelisah, apalagi suaminya juga tak kunjung pulang. Suaminya itu paling cemburu dengan Haris selama ini. Ya, mungkin karena riwayat mereka yang dulu sepasang kekasih.
Tidak mungkin menunggu bersama, Asha masuk ke dalam. Sedangkan Haris menunggu di luar.
Hampir petang, dan akhirnya Bimasena datang. Begitu datang, tangannya sudah mengepal, mungkin ingin menghajar orang karena melihat mantan dari istrinya datang.
"Ada perlu apa lagi kamu ke sini? Belum puas aku hajar?" ujar Bimasena galak.
"Dengarkan Haris dulu, Mas. Oke ... Selama ini Haris salah, karena masih berharap pada Asha. Tapi ... tolong dengarkan dulu. Ini tentang Zidan."
Mulanya Bimasena memasang muka sadis, karena ini mengenai Zidan, ia pun melunak. Dan mengijinkan Haris masuk rumahnya.
Ruang tamu.
"Tadi Haris pulang lebih awal, karena ada acara. Tidak sengaja mendengar pembicaraan Rara dan Clara."
Haris cerita, Rara datang ke rumah Pak Riyadi, yang juga kini ia tinggal di sana. Mungkin Zidan mau main ke rumah neneknya.
"Lalu apa hubungannya dengan Zidan? Kenapa Zidan?" tanya Asha tidak sabaran. Ia khawatir Zidan kenapa-kenapa. Kok Rara sudah bisa keluar rumah juga.
Haris menghela napas panjang.
"Mereka sepertinya gak sadar kalau aku di rumah, aku mendengar Clara bicara pada Rara."
"Bicara apa? Katakan dengan jelas!" ketus Bimasena yang tidak mau berbelit-belit.
"Rara pura-pura depresi!"
JLEB
Mata Asha langsung perih, seketika ia ingat putra semata wayangnya. Bersambung.
Selamat sore, aku juga sama shock-nya dengan dokter Asha. Saat mendengar Rara hanya pura-pura. Entah Rara itu kebanyakan nonton sinetron ikan terbang atau apa. Pikirannya sinetron banget. Yang jahat bin antagonist. Ini ceritanya memang begini loh. Jahat banget Rara. Jangan lupa jempolnya. Nanti aku up alasan gila Rara.
__ADS_1
Tekan like ya.