
Dokter Asha and KOMPOL Bimasena Bagian 28
Oleh Sept
Hal yang paling tidak bisa diajak kompromi oleh pria itu adalah masalah anak. Selama ini ia mencoba menjaga rumah tangannya tetap utuh hanya demi buah hatinya itu. Bidadari kecil yang seperti pelita di tegah suramnya masa lalu. Ya, Aila bagai cahaya dalam hidupnya. Kehadiran Aila seperti obat di tengah rasa sakit yang ia rasakan selama ini.
Aila yang malang, ia mendapat curahan cinta dari sang papa. Tapi tidak dengan mamanya. Clara seolah acuh, acuh pada buah hatinya sendiri. Mungkin karena ia merasa marah kepada suaminya. Menjadikan Aila sebagai pelampiasan.
Puncaknya ketika Aila harus dirawat di rumah sakit. Selama dirawat, Clara tidak menemani. Justru dokter Asha yang merasa iba dengan nasib keponakannya itu. Anak selucu itu kenapa harus disia-siakan oleh ibu kandungnya.
Mendengar cerita Aila yang menangis tidak mau bertemu mamanya lagi, maka setelah beberapa hari dirawat. Aila pulang bersama Asha. Bersama suaminya, Asha membawa pulang Aila ke rumah mereka. Tentunya dengan ijin Haris. Tidak menolak, Haris seolah tahu di mana tempat anaknya yang tepat untuk saat ini. Apalagi Aila habis dari rumah sakit, butuh perhatian ekstra. Rasanya sangat pas, jika Asha yang akan menjaga putrinya itu.
***
Kediaman Bimasena
Zidan tentunya sangat senang, sekarang ada kakak Aila yang juga tinggal bersama mereka. Apalagi Asha, 4 tahun lukanya seolah dibayar lunas. Kini ia dapat memeluk dua anak sekaligus.
Hari demi hari berlalu, Aila mulai nyaman tinggal bersama Asha. Apalagi selama ini memang Asha juga perhatian. Sudah seperti anak sendiri. Asha yang memang sudah lama merindukan kehadiran seorang anak, bagai ketiban durian runtuh sekaligus. Langsung dapat dua anak di waktu yang sama.
Apa Clara diam? Ketika anaknya dibawa? Tidak.
Suatu hari, Clara datang marah-marah. Ia ingin membawa pulang kembali anaknya. Padahal di rumah juga dicuekin. Begitu tinggal dengan Asha, Clara menolak keras.
Hari itu juga, Asha menelpon Haris. Mengabarkan bahwa Clara datang ke rumah.
"Hallo ... Mas. Clara datang. Mau bawa Aila."
__ADS_1
Haris yang kala itu masih sibuk, pagi itu juga meninggalkan pekerjaannya. Ia langsung meninggalkan kantor, tidak peduli bahwa itu adalah jam kerja. Ini masalah Aila, Haris tidak mau kehilangan permatanya itu.
Dengan ngebut, ia langsung tancap gas menuju kediaman Bimasena. Sambil menelpon Clara ia tetap fokus pada kemudinya.
"Jangan macan-macam, jangan bawa Aila!" ujar Haris marah di telpon.
Clara langsung menatap sinis pada Asha yang kala itu duduk tidak jauh darinya.
"Akhirnya diangkat juga telponnya?" sindir Clara marah.
Ya, Haris memang tidak mau bicara dengan istrinya itu akhir-akhir ini. Sudah cukup ia menderita karena ulah satu wanita tersebut. Tidak hanya suka main belakang, karena dia juga tidak sayang pada Aila. Itulah yang membuat Haris mulai gerah. Apalagi saat Aila jatuh sakit dan dilarikan ke rumah sakit. Dari sana, hilang lah respect pria itu selama ini.
"Awas kalau kau macan-macam!"
"Kenapa? Aila itu aku yang lahirin!" tantang Clara.
Haris mendesis kesal, pria itu rasanya ingin melempar ponsel seharga motor tersebut. Tapi sayang, baru beli jadi tidak jadi. Dari pada jengkel, Haris kemudian mematikan ponselnya.
Dengan sinis ia menatap Asha yang juga ada di ruangan yang sama.
"Puas kamu?" sentaknya marah.
Tidak mau meladeni orang tersebut, Asha hanya mendiamkan saja. Menunggu sampai Haris tiba. Dan sepertinya Haris tadi ngebut, karena pria itu tiba lebih cepat dari seharusnya.
Begitu Haris tiba, pria itu langsung meminta Asha membawa masuk anaknya.
"Bawa mereka masuk!" titah Haris. Yang tidak ingin anak-anak itu nantinya merekam keributan kedua orang tua tersebut.
__ADS_1
Asha mengangguk, ia kemudian membawa Aila dan Zidan masuk ke dalam kamar. Dan benar saja, baru juga masuk sudah terdengar suara teriakan.
Dari sana Asha mulai khawatir, sebab ia melihat wajah Aila penuh rasa ketakutan. Jelas ini bukan pertama anak itu merasakan hal seperti ini. Sebagai seorang dokter, Asha jelas tahu trauma apa yang keponakannya itu rasakan.
"Gak apa-apa, sini peluk ibu!"
Asha langsung mendekap Aila, putri kecil Haris. Ia memeluk anak itu dengan hati pilu. Merasa kasihan, karena selamanya yang menjadi korban pasti anak.
Begitu juga Zidan, Asha menatap dua malaikat kecil itu. Memeluk dengan rasa sesak yang tiba-tiba menyeruak. Matanya perih.
'Ya Allah, dua anak-anak hebat ibu!' batinnya lirih. Melihat kilas balik apa yang sudah anak-anak itu alami.
Zidan yang tidak mendapat kehangatan seorang ibu di rumah Rara selama empat tahun, dan Aila pun sama. Punya mama tapi sepertinya kurang perhatian.
"Aila gak mau ketemu mama," ucap Aila sambil menangis dalam pelukan Asha.
Asha tertegun.
"Aila mau ibu .. mau sama Ibu .. gak mau sama Mama."
Tagis anak itu pecah, ia memeluk Asha dengan tubuh bergetar karena terisak.
Aila yang malang. Sehat terus ya nak sayang. BERSAMBUNG
Jika ingat masa itu, rasanya seribu pelukan tidak akan mampu menghapus duka seorang anak seperti mereka. Mereka adalah korban dari jahatnya hati manusia. Nyesek nulisnya.
__ADS_1
Jangan lupa jempolnya. Nanti aku lanjutkan sesuai kisah aslinya. Jempolnya ya. Like!