
Cinta Dalam Diam Bagian 22
Oleh Sept
Asha pikir hidupnya sudah sangat sempurna, memiliki suami yang bertanggung jawab, setia, dan sayang keluarga. Ditambah kini ada Zidan di antara mereka.
Pernikahan yang dimulai dari sebuah paksaan itu, kini sudah dipenuhi banyak cinta di dalamnya. Mereka bertiga benar-benar bahagia. Tapi kebahagian itu hanya seumur jagung. Karena ketika Zidan berumur 1 bulan, Asha harus merelakan buah hatinya.
Adik kedua Bimasena yang bernama Ardi, tiba-tiba datang ke rumah. Pria itu mengiba, meminta bantuan pada Bimasena. Istri Ardi, Rara 24 tahun, mengalami depresi berat setelah mengalami keguguran.
Sudah beberapa hari Rara dirawat di rumah sakit. Wanita yang kehilangan janinnya itu, mengalami stress berat. Menolak pada kenyataan, bahwa anaknya sudah tidak tertolong selama-lamanya.
Mulanya keluarga Asha menentang keras, karena Ardi meminta anak Asha untuk dijadikan obat penyembuh bagi istrinya. Andri yang paling marah, dan juga Nia serta suaminya, Firman.
Bagaimana bisa, anak baru satu bulan lahir itu diminta?
Hari itu langit Bimasena mendadak suram, melihat Ardi bersujud di kakinya dan kaki Asha, membuatnya dilema. Adiknya itu menangis, meratap meminta tolong pada mereka. Demi istrinya yang sudah hampir seperti orang gila saat mencari anak yang dikandung berbulan-bulan tapi tidak selamat.
"Nggak bisa, Zidan anak Asha ... bagaimana bisa Asha kasih anak Asha, Mas!" Asha memeluk bayi laki-lakinya. Sebagai seorang ibu, mana mungkin dia merelakan buah hatinya untuk orang lain. Meskipun itu untuk ipar sendiri.
"Tolongin Ardi Mbak ... tolongin kami, hanya pada kalian. Hanya Zidan harapan agar Rara sembuh."
Ardi terus meminta, ia bahkan tidak bangun dari tempatnya bersimpuh.
"Hentikan Ardi! Pulang .... sekarang!" Meski tidak tega melihat Ardi yang masih belum mau pergi dari rumahnya. Bimasena mencoba menguatkan hati. Memberikan anakknya, sama dengan memisahkan bayi dari ibu kandungnya.
__ADS_1
"Ardi mohon, tolongin nasib istri Ardi, Mas ... Mbak Asha ... tolongin Ardi Mbak."
Pria pemilik beberapa apotek di kota Jakarta itu sesengukan, mengiba pada saudaranya untuk merelakan anak mereka.
"Nggak!" Bibir Asha bergetar, ia peluk erat Zidan. Bayi itu seperti matahari baginya, jika ia berikan, lalu bagaimana dengan dirinya? Seperti bumi yang kehilangan mataharinya, sudah pasti hidup Asha akan gelap gulita.
"Ardi! Pulang! Jangan Keterlaluan kamu Ardi!" sentak Bimasena.
Meskipun marah, tapi ia juga merasa kasihan. Benar-benar situasi yang membuatnya frustasi.
Cukup lama Ardi tidak mau pergi dari rumah mereka, hingga Pak Han datang. Pria paling bijak tersebut mencoba melerai ketegangan yang terjadi.
"Ini anak ASHA, Pak!" ucap Asha dengan suara gemetar. Matanya sudah berkaca-kaca. Tidak bisa membayangkan ia harus memberikan putra pertamanya yang bahkan baru berumur satu bulan itu.
"Asha yang melahirkan ... kenapa harus Asha kasihkan?" tanya Asha dengan da da yang terasa sesak.
Pak Han memeluk Asha, memberikan banyak pengertian pada putrinya itu.
"Bapak mungkin akan melakukan hal yang sama, bila di situasi seperti itu."
"Tapi bukan berarti harus memberikan anak Asha, Pak?" tangis Asha pecah.
Hanya karena alasan kemanusian ia harus memberikan putra semata wayangnya. Selama ini ia sudah berbagi suami dengan negaranya. Ia mencoba ikhlas karena memang sudah takdir dan waktu ia menerima pernikahan ini, itu adalah konsekuensi. Bahwa menikahi Perwira polisi artinya siap jadi nomer dua setelah negaranya.
Lalu apalagi sekarang? Apa anak juga harus ia bagi? Kecewa, Asha menangis sejadinya. Ia tidak bisa melepas Zidan begitu saja.
__ADS_1
Sedangkan Ardi, pria itu tidak mau beranjak. Dia masih bersimpuh mengharap belas kasih dari keduanya.
Setelah mengalami pergolakan jiwa yang alot, karena alasan kemanusian. Akhirnya Bimasena sendiri yang mengantar Zidan, bayi kecilnya itu ke rumah Ardi. Tentunya dengan banyak persyaratan yang harus Ardi setujui.
Hari itu adalah hari paling berat yang harus Asha lalui. Ia hanya menangis sepanjang saat. Sedangkan Bimasena, pria itu memilih menghancurkan tembok rumahnya dengan tangan kosong.
Rasanya hampir gila setelah memberikan anaknya sendiri dengan kedua tangannya. Pulang dari sana, Bimasena menghajar tembok rumahnya sampai berdarah-darah.
Asha yang baru sebulan melahirkan, menyaksikan akan hal itu hanya bisa menangis keras. Mengapa hidupnya sekarang seperti di neraka.
***
Kediaman Ardi dan Rara
Rara terlihat berbinar-binar ketika dapat memeluk seorang bayi.
"Ini anak Rara, Mas?" tanya Rara pada Ardi yang kala itu matanya sembab. Sebab untuk mendapat Zidan, ia harus menguras banyak air mata.
"Ya, ini anak kita."
Rara yang depresi berat, saat itu mulai menampakkan senyum di wajahnya. Rara sepertinya memang depresi, sebab tidak bisa membedakan bayi yang baru lahir dengan bayi yang sudah berusia 1 bulan. Dengan sayang, ia mengendong bayi yang kata Ardi adalah anak mereka.
Sementara itu, di tempat lain. Dokter Asha harus merana. Meratapi nasibnya yang harus berpisah dengan buah hatinya hanya karena alasan kemanusian. Suami sudah ia bagi, anak pun harus ia bagi. Asha merasa hidupnya memang bukan miliknya.
Tidak percaya pada manusia lagi, Asha hanya mengadu pada Rabb-nya. Setelah kejadian itu, malamnya dipenuhi hujan tangis. Sering sekali Bimasena tidak sengaja melihat dan mendengar Asha terbangun menangis di atas sajadah setiap malam. BERSAMBUNG
__ADS_1
Thor konfliknya jangan berar-berat, gini bestie. Ini kisah asli. Bahkan konflik pun asli sesuai yang narasumber katakan. Tidak dibuat-buat. Kita nikmati alurnya ya. Mungkin ini cobaan rumah tangga Asha dan Bimasena. Diuji dengan hal yang paling mereka cintai, yaitu anak. Jadi ingat kisah Nabi kan? Waktu menunggu lama, begitu dapat disuruh disembelihh. Semoga bisa dipetik dan diambil baiknya. Buang jeleknya.
Ayo, jempolnya. Nanti aku up lagi. TERIMA KASIH.