
Dokter Asha and KOMPOL Bimasena Bagian 42
Oleh Sept
Zidan baru anteng ketika sang ayah sudah berangkat tugas dan dia diantar ke rumah Rista. Sesuai janji Asha, jika tidak maka seharian ini Zidan akan merajuk.
"Jangan ngerepotin Om Rista, ya?" pesan Asha saat mereka sudah di rumah Rista.
"Jangan khawatir, Sha!" ucap Rista yang sudah sumringah saat ada tamu datang tidak diundang. Kapan lagi kedatangan tamu yang selama ini ia kagumi diam-diam.
Rasanya hati Rista sudah berbunga-bunga, banyak kembang yang mekar dalam hati duda tampan tersebut.
"Ibu pulang dulu, jangan nakal ya ... titip Zidan, Mas," ucap Asha kemudian sambil mengusap lembut kepala Zidan.
"Iya, kamu gak usah cemas. Dia aman sama aku," kata Rista dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya.
Asha hanya mengangguk, lalu pamit pergi. Ia balik ke rumahnya sendiri. Karena kalau terlalu lama berada di dalam kandang buaya tersebut. Ia takut hukuman suaminya semakin berat. Masalahnya, ada CCTV 24 jam non stop yang selalu memperhatikan Asha. Kalau sampai ia tidak balik ke rumah, bisa-bisa suaminya langsung pulang. Ya, selama ini Asha terpantau di ponsel komandan bucin tersebut.
***
Kediaman Rista, duda tampan tapi kesepian.
"Wahhh ... Kucing Om besar sekali!" celetuk Zidan. Matanya berbinar-binar menatap hewan-hewan peliharaan Rista.
__ADS_1
"Beda ya sama kucing kampung, lebih kecil ... ini anggora. Mau?"
Zidan langsung menggeleng. Anak itu kemudian melihat-lihat rumah Rista yang memang sangat rapi untuk seukuran tempat tinggal pria single. Rumah yang besar itu tampak rapi dan terasa sepi. Sesepi hati duda tersebut selama ini. Lama bercerai, sekali gagal menikah, membuatnya enggan merajut mahligai perkawinan kembali.
"Om! Kata ayah di sini ada buaya, mana?" celetuk Zidan sambil menatap ke sekeliling karena sejak tadi ia penasaran dengan yang namanya buaya.
"Buaya?" dahi Rista seketika mengkerut.
Anak kecil itu mengangguk dengan semangat, sudah tidak sabar melihat buaya.
"Kata siapa?" Rista mencoba memancing Zidan. Kenapa rumahnya ada buaya. Siapa yang bilang? Ia ingin mendengar sekali lagi keterangan anak kecil itu.
"Ayah Om ... Ayah bilang Zidan gak boleh main ke rumah Om. Katanya ada buaya ... Mana Om?"
Mana pernah ia mengira Bimasena akan menyamakan dirinya dengan buaya? Padahal mereka sering jamaah isya atau subuh bareng di masjid komplek rumah cluster tersebut. Bisa-bisanya saudara seiman dikatakan buaya.
Rista yang memang duda soleh, ia pun langsung berjongkok.
"Nggak ada buaya di rumah Om. Buayanya sudah ganti jadi Anggora!" ucap Rista setelah menarik napas panjang.
"Jadi buayanya sudah pergi?"
Rista mengangguk sambil tersenyum kecut.
__ADS_1
'Asha ... suamimu!' batin Rista yang masih heran karena disamakan dengan seekor buaya. Sebuah icon pria-pria yang suka jahatin atau godain wanita.
Mana pernah dia goda-goda wanita? Mungkin cuma satu wanita, yang sering ia tatap diam-diam di depan rumahnya. Tiba-tiba ia kembali tersenyum, sambil mengaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. Berarti selama ini dia ketahuan. Alhamdulillah, gak sampai didor sama komandan.
Puas main di rumah Rista sampai siang, akhirnya sore harinya Zidan pulang. Setelah pulang untuk mandi dan makan, Zidan minta ijin ke rumah Rista lagi.
"Zidan ... nanti ayah marah. Ayah juga mau pulang. Inget kata ayah. Ada buaya besar di sana."
Asha mencoba membujuk putranya agar tidak main lagi ke rumah duda sebelah rumah yang meresahkan itu. Meresahkan karena bisa memancing keributan antara dirinya dan sang suami. Sebenarnya bukan keributan yang negative sih, tapi tetap saja. Kalau begini, ceritanya nanti bisa dobel-dobel hukumannya.
"Tadi Zidan gak lihat buaya, Bu. Kata Om buayanya sudah pergi. Om Rista punya anggora. Zidan mau ke sana ... Mau lihat anggora."
Asha menghela napas dalam-dalam. Beruntung sesaat kemudian terdengar deru mobil yang berhenti di depan rumah.
"Ayah!" seru Zidan langsung bangkit.
Saat Zidan menyusul ayahnya ke depan, Asha merapikan meja di ruang tengah. Dan begitu suami dan putranya masuk, Asha langsung dapat tatapan penuh kode.
"Astaghfirullahaladzim!" batin Asha. Pasti Zidan sudah cerita pas tadi di luar. Entah cerita apa saja. Yang jelas, ketika masuk rumah. Bimasena terus saja menatapnya.
BERSAMBUNG
Wah! Beronde-ronde nih. Hahahah. Siapkan ring tinjuuu bestie!
__ADS_1