Dokter ASHA And KOMPOL BIMASENA

Dokter ASHA And KOMPOL BIMASENA
Telur Retak


__ADS_3

Dokter Asha and KOMPOL Bimasena Bagian 46


Oleh Sept


Hati Beno langsung menciut, apalagi dilihatnya pria yang katanya suami dokter Asha tersebut terlihat gagah perkasa, posture tubuhnya bahkan mirip seperti seorang perwira polisi. Meski Beno tampan, tapi sepertinya Bimasena jauh lebih darinya. Belum apa-apa, Beno sudah patah hati. Jika Beno tahu kalau suami dokter Asha memang polisi, sudah pasti pria itu langsung mundur. Tidak berani macan-macam lagi.


Dengan canggung, Beno lantas meninggalkan keduanya. Ia kemudian merapat pada kerumunan warga yang lain.


"Saya permisi dulu."


Bimasena hanya melempar senyum. Begitu juga dengan Asha.


"Jangan ramah-ramah dengan pria, Sha."


"Dia baik kok, Mas."


"Baik karena ada maunya!" celetuk Bimasena cemburu.


"Ih ... maunya apa. Mas Bima suka su'udzon!"


Bimasena memasang muka masam, ia kemudian mengusap kepala Asha.


"Mas hafal bagaimana para buaya menatap mangsanya."


Asha lantas mendongak.


'Idih! Semua pria mengapa selalu dikatakan buaya?' batin Asha yang menatap suaminya yang cemburu.


***


Esok harinya, karena keterbatasan waktu dan panggilan tugas, akhirnya mereka semua bersiap-siap untuk kembali. Para warga pagi itu memeluk Asha satu persatu.


Ada wajah-wajah kesedihan di mata mereka. Asha memang selalu begitu. Di mana ia hinggap, selalu bisa membuat orang menyukai dirinya. Terbukti tidak sedikit warga menatap sendu ke arahnya.


"Ya Allah ... kapan bisa ketemu dokter lagi."


Bibir Asha menggembang, kemudian membalas pelukan mereka satu persatu. Sungguh pengalaman yang indah, pegunungan hijau yang cantik dan menyejukkan mata.


Kalau bisa, Asha ingin membeli rumah di pegunungan. Karena udaranya yang sejuk, dan yang paling seru adalah parit di depan rumah airnya sangat jernih. Bahkan banyak ikan yang berenang dengan lincah di sana.


Kemarin Zidan dan Aila sempat turun ke parit. Diikuti oleh Haris dan Dika, karena ada pria-pria ganteng turun ke kali, para gadis-gadis langsung TP-TP lagi. Kaget, duda tampan dan perjaka ting-ting itu pun bergegas naik. Mereka langsung kabur, tidak tahan didekati para gadis pegunungan yang melihat mereka seperti artis ibu kota.


Seru, setidaknya kepergian mereka ke Pemalang, memberikan pengalaman yang tidak terlupakan. Sebuah kenangan yang indah di pegunungan dengan penduduknya yang sangat ramah dan berhati hangat.


***

__ADS_1


Beberapa minggu kemudian


Jakarta.


"Sayang, bajunya sudah siap?" tanya Bimasena yang habis mandi.


"Sudah, Mas."


Asha sedang menyiapkan baju, ia memasukkan ke dalam koper. Hari ini mereka akan ke perternakan. Ya, sebulan sekali agenda wajib mereka datang ke perternakan.


"Idih! Pakai baju dulu!" seru Asha ketika suaminya habis mandi masih pakai handuk malah langsung memeluknya dari belakang dan mengecupp tengkuknya.


"Bentar aja," ucap Bimasena jahil.


"Sha ... Bapak gak bawa baju. Bapak pinj ..." ucapan Pak Han terpotong tatkala melihat pemandangan yang tidak biasa.


Seketika Asha langsung mendorong tubuh suaminya. Malu, posisi keduanya terlihat terlalu dekat.


"Ya sudah ..."


Bapak langsung berbalik, sebuah senyum menggembang di wajahnya.


Sementara itu, Asha langsung memukul lengan suaminya.


"Gak apa-apa, bapak juga pernah muda. Pasti paham," tanggung, Bimasena malah langsung melanjutkan aksinya. Untung Asha setelah keluar kamar memakai hijab, bila tidak pasti semua orang akan meledeknya. Bimasena kelewat kreatif. Komandan tersebut, selain jago menembak dan menangkap penjahat, ia juga pintar melukis. Melukis Asha tentunya.


Satu jam kemudian


Semua sudah siap, mereka berangkat ke perternakan mengunakan 3 mobil. Mereka berangkat bersama-sama. Sekalian untuk healing Asha yang beberapa waktu bangun dari koma. Rasanya suasana perternakan yang bak villa tersebut, pasti sangat mendukung penyembuhan Asah. Sebab Asha belum sepenuhnya pulih. Ya, kadang ia masih merasakan pusing dan cemas berlebih. Pelan-pelan semua anggota keluarga menjaga Asha, menemani Asha dalam proses pemulihan tersebut. Berharap, seiring berjalannya waktu, Asha akan benar-benar pulih seperti sedia kala.


Perternakan


Begitu tiba di perternakan yang jaraknya 1,5 jam dari rumah, Asha langsung sumringah. Dan baru juga bersantai, tiba-tiba salah satu karyawan mereka mendekat.


"Alhamdulillah ... bu dokter sudah sehat?"


Asha tersenyum, ia kemudian menyapa salah satu karyawannya tersebut.


Usut punya usut, karyawan itu minta dipinangkan dengan gadis di daerah perternakan sana. Sebenarnya ia menunggu keluarga dokter datang. Tapi bertepatan dengan kecelakaan. Karyawan tersebut sudah tidak punya siapa-siapa, hanya punya abang rapi di NTT.


Dasar orang baik, meski baru tiba pagi itu, siang hari Asha meminta semuanya untuk membeli seserahan. Malam itu juga ia datang ke keluarga sang wanita dan sebagai perwalian karyawannya itu. Asha dan Bimasena datang untuk melamar.


Dalam hitungan bulan, Asha menikahkan dua karyawan sekaligus pasca ia bangun dari koma. Rupanya banyak doa yang terselip, dan banyak harapan dari orang-orang saat dokter itu sedang terbaring di rumah sakit. Ia seperti ibu bagi semuanya. Bagi mamak, bagi karyawan di perternakan. Padahal, jika dilihat dari usia, dokter Asha sangatlah masih muda, tapi hatinya, jiwanya yang keibuan, kehangatan hatinya, membuat semua orang merindukan sosoknya. Makanya, saat ia sakit semua pun merasakan sakit yang sama.


***

__ADS_1


Entah ini kunjungan ke berapa di perternakan yang dikelolah oleh Asha selama ini, meski tidak terjun langsung, Asha selalu memantau. Sebab Bimasena sendiri sudah direpotkan oleh tugas negara.


Hari itu seorang nenek datang bersama cucunya, seorang wanita tua rentah dengan banyak keriput di sekujur kulitnya.


"Dokter ..." panggil nenek tersebut.


Asha menatap dengan senyum seperti biasa. Saat itu ia sedang bersantai di peternakan. Asha duduk santai di teras pondok. Jadi peternakan Asha ini dilengkapi dengan fasilitas bak villa di puncak. Untuk para karyawan, mereka membangun rumah-rumah kecil seperti pondok dengan kamar mandi dalam. Total ada 6 pondok dan satu paling besar yang disertai beberapa kamar. Khusus keluarga Asha bila ingin berlibur dan menginap di sana. Dan saat ini, ia kedatangan tamu. Sepertinya penduduk sekitar.


"Ada apa, Nek? Ada yang bisa kami bantu?"


Nenek itu terlihat ragu, kemudian ia menatap cucunya. Tidak punya pilihan, nenek itu pun mengatakan apa yang ia mau.


"Apa ada telur retak?" tanya nenek dengan hati-hati. Sebab meminta ia lakukan karena terpaksa. Ada rasa malu, tapi karena keadaan, ia tepis rasa tersebut. Selama ini, peternakan di sana terkenal memang setiap hari selalu membagikan telur 25 kilo perhari.


Tidak lupa juga, setiap KK di sana, selain mendapat telor, penduduk di sekitar juga selalu mendapat jatah 2 ekor ayam untuk setiap KK. Hari itu entah mengapa, kebetulan telur retak sudah tidak ada.


'Aduh ... telurnya yang retak sudah habis,' batin Asha.


"Telur yang bagus aja, ya Nek?"


Nenek itu menggeleng.


"Terima kasih, bu dokter. Terima kasih!"


Nenek itu berbalik, ia mau telur yang sudah di reject. Bukan telur yang masih bagus. Mendengar hal itu, Bimasena yang tadi memperhatikan dari belakang, langsung masuk ke dalam. Ia mengambil beberapa keranjang telor hasil panen hari itu, dan dengan sengaja, Bima membuat permukaan telur-telur retak.


Sesaat kemudian, Asha masuk ke dalam. Ia tersenyum melihat aksi suaminya. Dengan hati lega, Asha langsung menghampiri si nenek.


"Nek ... tunggu. Ini telur retaknya."


Wajah nenek langsung terlihat haru, ia ambil sekantung kresek telur retak itu dengan rasa syukur.


"Terima kasih, Bu."


Asha tidak lupa melempar senyum tulusnya. Ia kemudian menatap punggung sang nenek yang bungkuk berjalan menjauh bersama sang cucu. Nenek itu tidak mau telur bagus, tidak mau uang, tidak mau apapun. Ia hanya mau telur yang gagal produksi. Telur reject yang tidak akan dijual ke penadah. Bersambung.


Ditulis berdasar kisah aslinya.


***


Dapat salam lagi dari mas duda dan mas sniper, perjaka ting-ting.



__ADS_1


__ADS_2