
Cinta Dalam Diam Bagian 25
Oleh Sept
Hati siapa yang tidak terpukul, jika diperlakukan dan dipermainkan seperti itu. Asha sangat marah, terluka dan kecewa. Dia tidak menyangka bahwa Rara sangat tega padanya. Setelah pengorbanan yang sudah bertahun-tahun ia lakukan, tapi semua itu tidak artinya.
Sedangkan Bimasena, pria itu menyalak marah. Matanya sudah memerah, tangannya pun sudah mengepal. Sungguh, Bima ingin menghajar orang saat itu juga.
Sesaat kemudian, masih dengan hati yang meletup-letup, masih dengan jantung yang berdegup kencang, mereka bertiga duduk dengan perasaan campur aduk.
"Mas Bima ... biarkan Haris cerita pada Asha. Mengapa Rara bisa seperti ini."
"Hentikan!" seolah tahu mengapa Rara pura-pura. Bimasena tidak mengijinkan Haris mengatakan apapun pada istrinya.
"Dari pada Asha tahu dari orang lain, lebih baik dia tahu sekarang, Mas!" pinta Haris mengatakan dengan tulus.
"Aku bilang tidak! Jika kau nekat, pergi dari sini."
"Tapi Mas, Asha harus tahu!" kekeh Haris.
Sedangkan Asha seperti orang tidak tahu apa-apa, ia menatap Haris dan suaminya secara bergantian.
"Kalian bicara apa? Katakan! Asha tidak mau seperti orang bodohhh lagi yang selalu kalian bodohi!" gertak Asha yang ingin tahu rahasia apalagi di keluarga mereka.
Wajah Bimasena sudah pucat pasi.
"Kalau kau macan-macam! Kalau sampai keluargaku hancur ... Awas kau!" ancam Bimasena dengan marah.
__ADS_1
Pria yang hanya mengusap roko k bila stres dan banyak pikiran itupun akhirnya masuk ke dalam. Ia masuk ke belakang, berdiri di samping gazebo belakang rumah. Bimasena benar-benar sedang gelisah, takut Asha akan meninggalkan dirinya.
Sementara itu, di ruang tamu, Asha menanti kejutan apalagi yang harus ia ketahui.
"Katan Mas Haris. Apalagi yang kalian sembunyikan dari Asha!"
Haris menghela napas panjang, kemudian menatap Asha dengan dalam.
"Sebelum Mas Bima bertemu denganmu ... Sha. Ada seorang wanita yang dijodohkan Rara dengan Mas Bima. Sepupunya sendiri. Pas lamaran Ardi, bahkan baju mereka pun sama. Bahkan juga di acara lamaran itu, Hani mengatakan pada semua orang kalau mas Bima calon suaminya. Dan akan segera menyusul Rara dan Ardi menikah."
DEG
Asha kembali terkejut, tapi bisa kontrol diri.
"Lalu?"
Mata Asha menyipit, apa-apaan ini.
"Aku bicara yang sejujurnya, aku selama ini diam karena tidak ada kesempatan untuk bicara dan bertemu. Tahu sendiri mas Bima, dia sangat membenciku."
Asha mencoba untuk tetap tenang.
"Apa tidak ada laki-laki lain? Kenapa suami Asha?"
Haris menundukkan wajah.
"Hani sudah jatuh cinta sama mas Bima sejak lama. Tapi Mas Bima tidak tertarik. Dan jangan marah pada mas Bima. Bahkan di acara lamaran itu, dia langsung melepas baju batik yang couple dengan Hani, saat tahu kalau dijebak. Ia hanya pakai baju yang disiapkan. Tidak tahu kalau itu adalah rencana Hani dan Rara. Semua keluarga besar pun kaget saat kalian menikah. Karena yang mereka tahu, Hani adalah calon istri mas Bima."
__ADS_1
Mendengar cerita panjang lebar Haris, Asha mulai mencerna. Apa karena cinta buta? Hingga Rara, Hani dan Clara tega berbuat seperti ini?
Asha mengusap wajahnya berat, kemudian meninggalkan Haris seorang diri. Asha pergi ke belakang, menghampiri suaminya.
Taman belakang rumah
Bimasena menyesap roko knya dengan perasaan campur aduk. Ia takut Asha akan pergi setelah tahu kenyataan bahwa ada wanita yang dijodohkan dengannya saat Asah menghilang.
Pria itu takut, cinta yang lama ia jaga harus hilang musnah hanya karena Haris mengatakan fakta yang lama ia pendam. Ia khawatir Asha akan hilang rasa pada dirinya.
Tap tap tap
Sebuah suara langkah kaki bisa ia dengar dengan jelas. Itu pasti Asha, entah apa yang akan istrinya itu katakan. Bima merasa cemas berlebihan. Takut, Asha marah. Karena semua ini dialah penyebabnya. Zidan yang tidak bisa mereka miliki sepenuhnya, adalah dia penyebabnya. Ya, semua karena dirinya.
Bukkk ....
Sebuah tangan tiba-tiba melingkar di pinggangnya.
Bimasena tidak bisa berkata-kata, apalagi punggungnya mendadak terasa hangat karena sebuah pelukan.
"Kamu tidak marah sama, Mas? Kamu tidak akan meninggalkan Mas, kan ... Asha?"
BERSAMBUNG
Btw, dokter Asha request. Jangan hujat Rara ya. Hehehe... dasar orang baik.
Mau kisah mereka lagi? Jempolnya dulu. Sudah aku ganti cover dan judul. Semoga makin rame yang baca. Soalnya, kisahnya bagus baget. Banyak pelajaran hidup, yang menurutku bermanfaat. Semoga terhibur.
__ADS_1
Ingat jangan hujat Rara, kata dokter gak boleh. hihihihi ... tekan like aja ya.