Dokter ASHA And KOMPOL BIMASENA

Dokter ASHA And KOMPOL BIMASENA
Aneh Tapi Nyata Miris


__ADS_3

Dokter Asha and KOMPOL Bimasena Bagian 34


Oleh Sept


Hari pertama kali Asha merespon orang di sekitarnya dengan menitihkan air mata, membuat semua keluarga Asha bersyukur luar biasa. Seakan masih banyak harapan, bahwa dokter itu akan segera kembali bersama mereka. Bahwa ibu dari Zidan itu akan segera bangun dan bisa berkumpul lagi, itulah harapan semua keluarga dokter Asha, keluarga yang merasa kehilangan saat Asha harus koma beberapa hari karena sebuah kecelakaan.


Hari itu juga keluarga sultana dari Kalimantan langsung menghubungi dokter yang ada di Jerman. Di sini keluarga Dika memiliki banyak andil untuk proses penyembuhan dokter Asha. Selain karena kuasa Tuhan, keluarga Dika lah yang tidak henti-hentinya mensupport segala sesuatu untuk yang terbaik. Hingga mereka mendatangkan tim dokter terbaik, padahal saat itu juga sedang terjadi wabah yang melanda dunia ini.


Demi kesembuhan dokter Asha, semua cara mereka lakukan. Tidak lupa, segala macam doa mereka curahkan agar bisa mengetuk pintu langit, agar Allah mendengar doa-doa dari mereka yang tulus mencintai dan menyayangi dokter Asha.


***


Hari ke empat.


Tidak hanya menangis, dokter yang sudah mirip putri tidur itu kembali merespon. Ia sudah mengerakkan ujung jarinya. Betapa bahagianya semua keluarga terutama Bimasena. Semakin hari Asha semakin menunjukkan tanda-tanda perkembangan yang sangat bagus. Mulai dari selalu menitihkan air mata ketika diajak bicara, hingga mampu mengerakkan tangan.


Hari ke lima.


"Dok, kapan istri saya bangun?"


Bimasena terlihat gelisah, sudah lima hari Asha koma. Tapi istrinya itu belum juga kembali tersadar. Asha hanya menangis ketika diminta bangun. Ya, satu persatu mereka bicara pada pasien koma tersebut. Namun, Asha hanya merespon dengan menitihkan air mata.


Semua malah khawatir, takut sesuatu yang benar-benar buruk akan terjadi. Takut Asha tidak bisa kembali.


Dokter terbaik itu pun menyarankan agar Asha dipertemukan dengan sesuatu yang memicunya terbaring koma. Mungkin ada rasa bersalah dalam diri Asha. Rasa bersalah karena tidak bisa meraih Aila, rasa bersalah karena tidak bisa melindungi anak itu ketika menjerit minta tolong padanya.


Hari itu juga, semua kenalan polisi Bimasena mengerahkan kekuatan. Mereka mencari jejak di mana Clara membawa putrinya. Karena dokter dan keluarga yakin, mungkin saat mendengar suara Aila, Asha nantinya bisa membuka mata.


"Cari di rumah pria yang selama ini menjalin hubungan dengan Clara!"


"Ke mana kamu Clara?"


"Di mana dia sembunyi?"


"Ya Allah di mana mereka berdua?"


Banyak pertanyaan dari pihak keluarga, sebenarnya ke mana Clara bersembunyi. Semua tempat sudah mereka datangi. Bimasena yang sama sekali tidak ingin meninggalkan Asha sedetik pun, hari itu langsung mendatangi sebuah tempat di luar kota.


Cukup jauh ia pergi mengendara bersama rombongan. Entah Clara begitu licin. Beberapa hari keberadaan wanita itu baru terendus. Padahal Bimasena ini jago mengejar penjahat, tapi butuh waktu lumayan untuk mengejar Clara yang notabennya terhitung jahatnya amatiran.


Kota A


Suasana sangat mencekam, di sebuah rumah kontrakan yang sepi, sebuah rumah sudah dikepung belasan polisi. Hari itu Clara tidak bisa lari, ia sudah terjebak karena polisi sudah mengepung wanita tersebut. Sedangkan dari luar, terdengar suara anak yang terus menangis. Anak yang biasanya lucu, cantik, dan pipinya yang cubby. Tiba-tiba menjadi lusuh saat dalam masa pelarian bersama ibunya. Ibu kandung yang seperti ibu tiri dalam film nenek sihir.

__ADS_1


"Breengsekkk!" Clara mengumpat kesal. Ia mengintip jendela rumah kontrakan. Dilihatnya banyak polisi yang ada di depan.


Dengan marah ia membentak putri semata wayangnya. Karena dari beberapa hari yang lalu, Aila dinilai berisik. Anak itu hanya menangis tanpa henti minta pulang.


"Bisa diam tidak?" sentaknya marah.


Bukannya diam, Aila malah semakin menangis. Hal itu membuat Clara frustasi. Selama ini ia tidak takut pada Haris. Ia hanya takut pada sosok Bimasena yang terkenal tegas tersebut. Kalau dengan Haris, masih bisa ia handle.


Ia adalah maminya Aila, Haris tidak akan pernah macan-macam padanya. Kalau dengan Bimasena, lain ceritanya. Ia tidak yakin akan selamat setelah apa yang sudah ia lakukan. Ia ingat betul bagaimana tatapan tajam Bimasena padanya saat marah karena Aila dirawat di RS tapi dia sama sekali tidak peduli.


Bimasena bagi Clara sangat berlebihan, padahal Aila itu anak dari Haris, mantan pacar istrinya. Tapi Bimasena dan Asha malah sangat sayang pada anak kecil itu. Clara mungkin kurang paham, kurang ikhlas, kurang baik, kurang menerima suratan takdir. Hingga hatinya hanya penuh iri dan dengki, hingga hatinya tidak bisa membedakan mana yang tulus mana yang modus. Bukannya bersyukur banyak yang sayang dengan putrinya, ia malah membuat semuanya menderita.


Ya, Clara menyiksa semua orang dengak sikap iri yang terlanjur mengakar kuat dalam hatinya. Jika tidak main belakang berkali-kali, Haris pasti ikhlas menerima dirinya. Jika tidak menjadikan Haris mesin ATM bertahun-tahun untuk membiayai kuliah adik Clara, membayarkan semua cicilan mobil untuk adik Clara, memberikan semuanya lebih dari cukup untuk Clara dan keluarga besar Clara, sudah pasti semua akan baik-baik saja.


Andai Clara bersabar sedikit saja, bahwa cinta akan hadir karena terbiasa, bahwa cinta akan ada karena ketulusan memperbaiki masa lalu yang terlanjur kelam, sayang sekali. Clara memilih salah jalan, berkali-kali ketahuan ganti pasangan.


Kalau bukan menyayangi Aila, rumah tangga mereka hancur di saat Aila berusia 3 bulan. Sejak itu Clara sudah berulah. Tidak mau merawat Clara. Ya, padahal sudah dijelaskan. Wanita hamil saat dinikahi, haram hukumnya disentuh.


Clara mungkin ngajinya kurang lama, ia mungkin juga lupa kalau suaminya itu pria soleh. Dua tahun menjalin cinta dengan Asha, ia sama sekali tidak menyentuh wanita tersebut. Atau mungkin nasib Haris memang harus seperti ini, terjebak bangsa ulat untuk beberapa tahun lamanya.


Dan lagi, mungkin Haris sudah mulai muak. Ternyata di kantornya sudah lama ia menyiapkan sebuah berkas untuk menggugat cerai Clara. Ini karena ia memiliki banyak bukti perselingkuhan wanita tersebut. Tidak hanya sekali, tapi berkali-kali.


Mencoba bertahan pada rumah tangga yang tidak sehat ini, akhirnya malah membuat Haris makin stress dan banyak tekanan hidup. Jika diteruskan maka ia sendiri yang akan merugi bersama Aila. Apalagi setelah kejadian ini, maka Haris sudah memutuskan benar-benar akan menceraikan istrinya yang sudah tidak bisa dibina tersebut. Dari pada menanggung dosa, karena melihat istrinya Zina. Dari pada dosa karena tidak mampu mendidik istrinya itu.


***


Entahlah, wanita ini sepertinya sejak masuk dalam hubungan Haris 7 tahun lalu, tidak ada ketulusan dalam hatinya. Entah hatinya dibuat dari apa? Yang jelas ia sangat tega pada anak sendiri. Jika diceritakan lebih dalam, semua orang pasti akan bertanya-tanya, apa benar ia ibu kandungnya? Masa ada ibu kandung ketemu anak di KCF saat di mall waktu acara sekolah, malah acuh saat berpapasan? Hallo, dia ibu yang melahirkan kenapa bagai musuh bebuyutan?


***


"Berhenti!" sentak Bimasena.


"Sialannn!" gumam Clara yang sudah tidak bisa lari ke mana-mana. Clara ini mungkin amnesia, sudah tahu rumah itu dikepung, masa mau lari lewat belakang. Jelas ia pasti tertangkap.


"Dia anakku!" teriak Clara sambil mencengkram lengan putrinya. Putri yang bahkan selalu dimandikan, disuapi ayahnya saat balita.


Aila yang tragis, nasibnya 11 12 dengan Zidan. Dari bayi yang mengurusi adalah ayah-ayah mereka. Yang satu ibunya setres betulan, yang satu berlagak stress.


Marah, Bimasena langsung menatap tajam. Membuat Clara yang tadinya menatap lantang dan penuh rasa percaya diri, langsung mengkerut. Ia paham kalau Bimasena marah. Kalau tetap melawan, ia bisa mati konyol.


Akhirnya mereka semua duduk satu meja, sebuah berkas ditandatangani oleh Clara.


"Oke! Puas kamu Mas?"

__ADS_1


Clara terlihat gusar. Ia masih ingat ketika bicara pada Haris beberapa waktu lalu, hingga ia memutuskan menculik Aila.


Haris menelpon untuk membicarakan perceraian, dan minta hak asuh anak. Karena Haris yakin, Clara tidak mampu mengurus Aila. Sebagaimana selama ini yang menyisir rambut saat berangkat sekolah saja adalah Haris.


Flashback


"Nggak bisa! Aila ikut denganku!"


Haris marah, ia melempar berkas di tangannya. Di sana banyak foto perselingkuhan Clara dengan banyak pria.


"Kau menguntitku selama ini?" tanya Clara sangat marah.


"Ini tidak akan sampai ke pengadilan, mari cerai baik-baik."


Haris sepertinya sudah sangat lelah, ia ingin pisah dengan baik-baik.


"Lalu apa yang aku dapat? Kau dapat Aila dari perceraian ini lalu bagaimana denganku?" Clara berakting seolah dia adalah korban.


"Berikan Aila padaku, terima kasih sudah melahirkan dia."


Set eset eset ....


Haris menulis sesuatu di sebuah cek. Ia memberikan ratusan juta untuk istri yang akan ia ceraikan.


Flashback End


Hal yang sama sekarang terjadi lagi. Agar Clara mau melepas anaknya dengan damai dan berbadan hukum, kali ini Bimasena yang memberikan uang beberapa ratus juta.


Dengan ragu Clara menandatangi surat persetujuan hak atas Aila. Jika ia tanda tangan sekarang, maka secara hukum Aila akan jatuh ke tangan Bimasena. Ya, Bimasena akan melegalkan Aila menjadi putrinya mulai sekarang. Karena Clara lebih sayang uang dari pada anak, ia pun akhirnya tanda tangan juga.


Seperti mendapat angin segar, Bimasena langsung pulang ke Jakarta membawa Aila bersamanya. Anak itu langsung memeluk Bimasena. Hampir seminggu dibawa dalam pelarian oleh ibu kandungnya, membuat Aila trauma. Dari matanya tergambar jelas, anak itu sangat ketakutan.


"Ayah ... Ai gak mau ikut mami. Ai mau sama Ibu," tangis anak itu pecah dalam pelukan Bimasena. Pria yang sudah resmi menjadi ayah Aila. Tinggal diurus ke pengadilan, untuk melengkapi semua berkas adopsi Aila.


Rumah sakit


Semua langsung memeluk tubuh Aila yang terlihat tidak terawat itu. Anak yang selalu cantik bersinar jika dalam asuhan Asha, kini nampak kucel saat bersama Clara.


Ai yang masih menyimpan trauma dalan dirinya, ia pun dimandikan. Dibersihkan, didandani yang seperti biasanya, wangi dan kembali cantik. Setelah itu, dipertemukan dengan Asha.


Apa Asha langsung bangun? Atau malah tetap tidur dalam komanya? BERSAMBUNG.


Dunia ini sudah dipenuhi orang-orang jahat, ibu yang tega pada anak sendiri. Yang tega menyiksa, mem bunuh, aku kira yang jahat hanya ada di TV. Tapi mendengar kisah nyata, hanya ada satu kata MIRIS.

__ADS_1


__ADS_2