
Dokter Asha and KOMPOL Bimasena Bagian 44
Oleh Sept
Hari itu jantung Bimasena seperti sudah mau lepas dari tempatnya, mendengar kabar Asha kecelakaan lagi, dan setelah mendapat kiriman gambar tentang kondisi mobil yang ringsek di bagian depan, hati Bimasena sudah tidak bisa menerka-nerka lagi. Kali ini akan ada ujian apa lagi?
Tidak bisa berkata-kata, saat pulang ke rumah. Dan setelah melihat Asha tidak terluka parah, seketika ia mengeluarkan sesuatu yang sangat berbahaya. Ia berikan itu pada Asha. Mungkin Bimasena ingin mengertak istrinya itu, sebab kalau tidak, Asha pasti akan mengulang lagi dan lagi.
Bima paham, ia juga tahu. Sejak dulu Asha memang sangat mandiri sekali malahan. Tidak pernah menyusahkan orang lain. Bahkan biaya sekolah sampai menjadi dokter, kebanyakan ia dapat karena beasiswa prestasi.
Tapi, istrinya itu habis cedera parah dan koma. Bima ingin, Asha menahan diri. Diam di rumah saja. Nanti, kalau sudah benar-benar pulih. Boleh lah ia melakukan apapun. Tidak seperti sekarang, main nyetir mobil seorang diri. Meski alasan penting sekalipun, karena bagi mereka semua, nyawa Asha adalah sangat berharga. Bangun dari koma, seperti sebuah kesempatan emas. Sebuah mukjizat yang tidak ingin mereka sia-siakan. Seperti menemukan nyawa yang hilang, mereka kini begitu protective menjaga Asha.
Biar Asha jerah, Bimasena pun mengeluarkan jurus yang tidak terkira. Ia memilih lebih baik mati di tangan Asha dari pada harus jantungan karena mengkhawatirkan istri tersayangnya itu. Rasanya, Bimasena sudah ada di level paling dasar. Rasa takutnya kehilangan membuatnya kehilangan logika.
***
Setelah kejadian itu, semua orang yang ada di dalam rumah mendiamkan Asha. Tidak ada yang mengajak dia bicara. Semua sedang menghukum dokter tersebut karena sudah membuat seluruh isi rumah gempar dan spot jantung.
__ADS_1
Merasa dijutekin dan mendapat banyak sikap dingin dari semuanya, Asha memilih keluar rumah saat semua sedang lengah. Malam itu, Asha juga capek karena semua orang tidak mendengar penjelasan darinya.
Apalagi Bimasena, suaminya yang paling penyayang dan hangat tiba-tiba menjadi balok es. Dia begitu dingin, membuat Asha marah.
"Lanjutin! Lanjutin kalian cuekin Asha! Ya udah ... Nggak apa-apa! Masih ada yang mau bicara sama Asha!" cetus Asha malam itu dengan jengkel.
Asha yang kesal karena semua orang begitu dingin padanya. Malam itu keluar rumah saat pintunya tidak terkunci.
"SHAAA!"
Bimasena panik, sudah malam istrinya mau ke mana.
"Dari pada di rumah gak ada yang mau bicara sama Asha! Mending Asha ke rumah Mas Rista!" cetusnya asal.
Seketika bola mata Bimasena mau melompat dari tempatnya.
"Ayo pulang!" titah Bimasena.
__ADS_1
Asha menggeleng, ia sudah ada di luar rumah. Selangkah lagi sudah sampai rumah duda. Kan rumah mereka emang tetangaan.
Ketika Asha nekat mau melangkah ke rumah duda, tiba-tiba lengan kekar itu langsung merengkuh pinggangnya. Bimasena mendekap istrinya dengan erat. Keduanya tampak terdiam di tempat itu cukup lama. Mereka malah berpelukan di depan rumah orang, rumah seorang duda. Sedangkan yang lain, hanya melirik dari depan rumah sambil geleng-geleng kepala.
Beberapa saat berlalu, entah kata rayuan apa yang Bimasena ucapkan. Yang jelas Asha kembali masuk rumah dan langsung masuk ke dalam kamar. Kamar utama, sebab anak-anak sudah punya kamar masing-masing sekarang.
***
Waktu Subuh.
Semua pria penghuni rumah itu satu persatu keluar dari kamar. Tinggal satu orang, ya Bimasena belum kelihatan. Biasanya kalau lagi free semuanya akan sholat subuh berjama'ah di masjid komplek.
Biasanya Bimasena keluar paling awal. Ini sejak tadi belum juga kelihatan. Dan begitu muncul dari balik pintu, semua orang langsung menatapnya dengan pandangan meledek.
"Keramas terus, Ndan."
Bukannya malu, Bimasena malah melempar senyum dengan kata candaan.
__ADS_1
"Makanya kalian NIKAH!" celetuk Bimasena dengan senyum penuh kemenangan. BERSAMBUNG.
Mode sombong dia hihihih.