
Dokter Asha and KOMPOL Bimasena Bagian 52
Oleh Sept
Nuansa liburan panjang pasca lebaran idul fitri sudah usai. Keluarga besar pun ganti kesibukan dengan menyiapkan acara pernikahan adik Bimasena, Ardi.
Sudah beberapa hari ini Asha menginap di rumah ibu mertuanya. Membantu beliau untuk mempersiapkan segala sesuatu pernak-pernik pernikahan beberapa hari lagi.
Sedangkan suaminya, sudah pergi bertugas. Negaranya sudah memanggil. Dan Asha harus siap menjadi nomor dua lagi.
"Bagaimana persiapan untuk karpet?"
"Sudah disiapkan sama Mbak Latifah, Bu. Kata mbak Latifah, sudah dicarikan. Yang langsung dari Turkey."
Ibu mertua Asha merasa tidak enak, tapi begitulah keluarga sultan batu bara dari Kalimantan tersebut. Begitu mendengar permintaan mahar Aini, mereka orang pertama yang maju. Orang baik sedang berlomba-lomba memetik rahmat Allah. Mungkin begitulah cara mbak Latifah dan keluar dalam memanfaatkan hartanya yang melimpah ruah.
Meskipun Ardi sangat mampu, tapi ternyata bukan satu masjid yang akan mereka belikan karpet. Ada tiga masjid yang akan dipilih, dan itu akan diisi karpet dari Turkey asli semuanya.
Sebuah mahar yang sampai sekarang masih membuat mereka semakin menyukai sosok Aini. Aini bagai bidadari kedua di keluarga mereka. Ya, dia seperti sosok Asha kedua. Tapi entahlah, karena mereka juga baru mengenal. Semoga harapan mereka sama dengan apa yang sudah Allah gariskan.
***
Beberapa hari kemudian
Asha masih menginap di rumah sang mertua, sudah beberapa hari juga suaminya tidak pulang. Memang kalau sedang panggilan tugas, bisa seminggu tidak ada kabar. Ponsel sengaja dimatikan.
__ADS_1
Hari terakhir di rumah sang mertua, Zidan mulai rewel.
"Ibu ... Ayah kok belum pulang?" tanya Zidan. Masih mode tenang.
"Ayah nangkap penjahat, nanti juga pulang. Sekarang main dulu ya."
Zidan masih menurut. Tapi begitu malam tiba, anak itu merajuk bukan main. Zidan yang biasanya mandiri dan pintar sama sekali tidak manja, malam itu merajuk sampai Asha harus tidur sambil memangkunya.
Belum sampai di situ, ketika besok harinya akan pulang, Zidan kembali rewel. Anak itu tidak seperti biasa. Mungkin karena selama ramadhan ini intense bersama ayahnya, membuat Zidan mulai rindu sosok Bimasena.
Apalagi mereka tidak bisa telpon atau vcall seperti layaknya keluarga biasa. Jadi Zidan pasti rewel banget karena sudah sangat kangen.
Sampai akhirnya Asha balik ke rumah, begitu tiba di rumah Zidan kembali melakukan aksi yang membuat ibunya ketar-ketir.
"Ayah belum pulang, Bu?"
"Ya sudah, malam ini Zidan mau tidur di rumah Om Rista saja, Bu."
Asha menelan ludah, bisa-bisanya Zidan minta tidur di rumah duda sebelah rumah.
Asah pun memeras otakk, kemudian ia menghubungi mas Firman. Karena mas Haris masih lembur sampai malam. Sedangkan Ardi, dia harus keluar kota. Alhasil Asha bingung mau minta tolong siapa.
"Assalamu'alaikum Abi!" sapa Zidan kemudian saat sudah disambungkan dengan pakdenya yang ia panggil abi.
Zidan sangat senang, sejenak ia lupa kalau mau tidur di rumah Om duda.
__ADS_1
"Zidan jangan nakal ya, nanti Abi jemput jalan-jalan, lihat-lihat di peternakan kuda. Mau?"
Zidan langsung sumringah. Tapi lama-lama ia bosan. Kemudian merajuk lagi.
"Abi ... suruh ayah pulang sekarang. Kalau nggak ... Zidan mau tidur di tempat om Rista."
Jantung Asha seperti mau copot. Lagi-lagi Zidan bersikap mau tidur di rumah sang duda. Nanti kalau kompol Bimasena tahu, bisa-bisa ada perang ketiga.
"Mas Firman, temeni Zidan telpon sampai tidur ya. Sudah malam, nanti dia merajuk mau ke rumah mas Rista!" ucap Asha pada kakak iparnya di telpon.
Semua orang menghela napas dalam-dalam, Zidan memang anak bapaknya. Punya kemauan yang sangat keras dan bikin spot jantung.
***
Akhirnya Asha selamat, Zidan tetap tidur di rumah. Haris bahkan baru pulang jam 12 malam. Katanya lembur. Gara-gara karyawan bikin masalah, alhasil sebagai atasan, Haris ikut tanggung jawab. Semua tim lembur sampai larut malam.
Menjelang magrib
Tidak henti-hentinya rasa syukur mengucur deras. Yang ditunggu pulang juga. Asha merasa lega, setelah dari hari sabtu sampai kamis suaminya tanpa kabar. Alhamdulillah, Bimasena pulang tanpa kurang satu apapun.
Begitu pulang, Bimasena langsung mandi dan karena bertepatan dengan adzan magrib, ia pun pergi berjama'ah ke masjid di komplek perumahan cluster tersebut.
Pulang dari masjid, Bimasena tertegun saat masuk kamar.
Dilihatnya Asha tergeletak di atas sajadah. Tenang, dokter tidak pingsan. Dokter Asha tertidur masih memakai mukenah. Dengan tangan yang masih memegang tasbih. BERSAMBUNG
__ADS_1
chat suami dokter Asha