Dokter ASHA And KOMPOL BIMASENA

Dokter ASHA And KOMPOL BIMASENA
Cinta Seorang Pria


__ADS_3

Dokter Asha and KOMPOL Bimasena Bagian 36


Oleh Sept


Ribuan rasa syukur menyeruak di ruangan VIP di mana Asha dirawat seminggu ini. Asha yang tertidur koma 7 hari itu akhirnya membuka mata. Sebuah keajaiban, bahwa dokter itu akhirnya bisa kembali bangun.


Tangis bahagia penuh haru pecah di ruangan itu, satu persatu mereka mendekati Asha. Men ciumi wajah Asha yang masih pucat. Semua orang merasakan campur aduk, meski Asha belum bisa lancar jika diajak berbicara atau komunikasi. Mereka cukup senang, Asha sudah siuman dan sadar dari koma.


"Terima kasih, Sayang ... terima kasih sudah kembali," bisik Bimasena dengan mata yang sudah basah.


Suami Asha tersebut tidak kuada menahan rasa. Ia memeluk Asha seakan tidak mengijinkan Asha untuk meninggalkan dirinya lagi.


Begitu juga dengan putra putri mereka, semua memeluk dokter Asha dengan rasa bahagia yang tidak terkira, karena ibu mereka sudah kembali. Sudah bisa menatap mereka lagi dengan tatapan penuh kasih.


"Jangan tidur lagi, Ibu ..." ucap Zidan. Ia dekap ibunya. Takut ibunya kenapa-kenapa.


Meski tangannya sangat kaku untuk digerakan, Asha mencoba mengusap kepala anaknya. Seperti baru lahir ke dunia, Asha juga sempat terlihat seperti orang bingung.


Beberapa hari kemudian


Untuk proses pemulihan dengan dokter terbaik dan fasilitas termutakhir, Asha pun rencananya akan dibawa ke sebuah rumah sakit di Singapore. Di mana adak artis Dena juga sempat dirawat berbulan-bulan di sana.


Sudah 10 hari Bimasena mengambil cuti, dan hari itu tugas negara kembali memanggil. Di sana pria yang istrinya baru bangun dari koma beberapa hari yang lalu merasa dilema.


Antara menemani sang istri berobat ke luar negeri atau memenuhi panggilan tugas. Karena bagaimana pun juga, Bimasena adalah abdi negara, di mana negara adalah priority. Ya, negaranya adalah prioritas utama. Keluarga baru nomer dua.


Bila bisa dibagi dua, rasanya ia ingin membelah diri layaknya amoeba. Sayang, karena sudah cuti lama, Bimasena tidak bisa memanjangkan cutinya.


"Tidak apa-apa, Asha gak apa-apa. Mas Bima berangkat saja."

__ADS_1


Ada gurat kesedihan saat menatap Asha, Bimasena merasa sangat bersalah. Apa ia harus lepas seragam saja? Agar bisa menemani istrinya itu setiap saat.


"Beneran, Mas Bima berangkat saja. Asha baik-baik saja!"


Tidak kuasa menahan rasa di da da yang tiba-tiba sesak karena melihat Asha bilang tidak apa-apa, padahal ia tahu. Asha masih sakit. Dan ia butuh orang yang ada di sampingnya.


"Maafin Mas Asha ... maafin Mas!" bisik Bimasena dengan suara serak. Komandan itu menangis bukan karena kalah dalam pertempuran. Air matanya hanya tumpah karena istri dan dosa. Pantang baginya menangis sebagai seorang komandan perang. Hanya saja, hatinya akan gamang jika semua itu menyangkut tentang diri Asha.


Sesaat kemudian, Bimasena sudah berhasil menguasai diri. Dia yang nangis-nangis sedangkan Asha terlihat santai. Sudah biasa, kan 5 tahun menjadi istri Bimasena ditinggal tugas pada waktu-waktu penting seperti biasanya. Asha sudah kebal, jantungnya sudah aman. Menjadi ibu bayangkari memang harus memiliki mental yang kuat.


Setelah memeluk istrinya untuk pergi ke Sidney dalam misi negara, Bimasena berbicara empat mata pada Haris.


"Mas nitip Asha, Ris. Jagain Asha saat Mas gak ada. Mas percaya sama kamu ...!"


Bimasena lagi-lagi menangis ketika memeluk adik laki-lakinya itu. Segala sesuatu yang menyangkut Asha, akan langsung kena ke hatinya. Pria itu benar-benar merasa bersalah. Kalau mau gantung seragam polisinya, pasti Asha tidak mengijinkan.


"Terima kasih, Ris. Jika urusan kami selesai. Aku akan menyusul ke sana."


Haris mengangguk.


***


Hari itu Haris mengajukan cuti, kebetulan hari jum'at. Haris hanya perlu cuti sebentar. Karena ketemu hari sabtu dan minggu. Akhirnya dua orang itu terbang ke Singapore, sedangkan Bimasena pergi ke benua yang lain. Negerinya para kangguru.


Sampai di sana, Asha langsung mendapat pengobatan. Sepanjang hari banyak sekali sesi therapy yang harus ia jalani. Untuk me rang sang motorik Asha karena lama koma berhari-hari.


Hari demi hari Asha lewati dengan dokter yang terus memantau perkembangan dirinya, sedangkan Haris pria itu terus menemani Asha. Jika sewaktu-waktu Asha butuh apa-apa, maka ia akan sigap melayani dan membantu Asha.


Sementara itu, di tempat lain. Di belahan dunia yang jauh di sana. Bimasena fokus pada tugasnya, yaitu menangkap penjahat yang terus lari bila dikejar. Dalam hati ia terus berdoa, semoga Allah mudahkan. Sebab, ia sudah ingin menysul istrinya yang masih ada di negara dengan icon singa tersebut.

__ADS_1


Beberapa hari kemudian


Rumah sakit ternama di Singapore


Sebuah ruangan sangat ramai akan pasien dengan diagnosis kronis. Seorang dokter mendekati Asha, ia dengan ramah menyapa Asha yang terlihat paling bugar di antara Banyak pasien di sana.


Bimasena yang baru tiba, langsung mencari istrinya. Baru pisah beberapa hari, rasanya sudah rindu. Ia mencari di kamar tapi tidak ada, begitu tahu Asha sedang berada di sebuah ruangan khusus, ia pun langsung mencari istrinya itu.


Begitu ketemu, tidak pandang bulu. Bimasena langsung memeluk Asha. Melepas semua rindu di da da.


"Sudah selesai?" tanya Asha terkejut karena suaminya datang lebih cepat dari apa yang ia kira.


Bima mengangguk, dan makin erat mendekap istrinya itu. Haris yang melihat dari jauh, hanya geleng kepala. Kakaknya itu memang sudah cimat alias cinta mati. Sudah bucin sampai ubun-ubun. Tanpa sadar, sudut bibirnya tertarik. Sebuah senyum tulus mengembang di wajahnya.


'Alhamdulillah!' batin Haris menatap Asha dalam dekapan pria yang tepat. Ia sudah ikhlas, benar-benar ikhlas.


Baginya, melihat Asha bahagia bersama sang kakak. Haris juga merasakan hal yang sama. Ia tulus mendoakan kebahagian keduanya, dua orang baik dalam hidup Haris. Orang-orang yang ia sayang dan sangat ia harapkan kebahagian keduanya. Bahkan ia rela dan melepas Aila kepada pasangan tersebut. Karena Haris tahu, kehangatan keluarga yang lengkap, dan kasih sayang Asha, pasti bisa menjadi tempat terbaik Aila tumbuh.


'Aila ... Papi tidak melepasmu. Tidak ... Hati papi hanya untuk Aila. Sejak kamu lahir, kamu bagai pelita di kehidupan Papi yang suram ini. Jika kamu besar nanti, jangan benci papi ... Papi hanya ingin kamu tumbuh dalam dekapan seorang Ibu. Papi yakin, sayang Ibu dan Ayah Aila, sama besarnya seperti papi sayang Aila selama ini!'


Haris memalingkan wajah, mengusap sudut matanya. Bila Bimasena memiliki Asha dalam hatinya, Haris pun sama. Ia memiliki bidadari kecil yang akan selalu dalam hatinya, meski status Aila dalam hukum sekarang bukan lagi putrinya. BERSAMBUNG.


Tapi langit pun tahu, betapa besar cintanya pada Aila. Bayi yang bahkan sejak 3 bulan, ia yang memandikan sendiri. (Kamu gak percaya? Kalau aku gak denger langsung cerita ini dari Mas duda. Aku juga gak bakalan percaya)


Sebuah cerita cinta dari laki-laki yang luar biasa. Mas Haris .... kamu ada di hati kami semua ... Lope lope!



Dapat salam sayang dari mas duda premium kualitas super. Hahaha ....

__ADS_1


__ADS_2