Dokter ASHA And KOMPOL BIMASENA

Dokter ASHA And KOMPOL BIMASENA
ASHA


__ADS_3

Dokter Asha and KOMPOL Bimasena Bagian 35


Oleh Sept


Suara tangisan kembali memenuhi ruang rawat inap VIP. Tidak peduli semua orang menangisi dirinya, Asha tetap tidak kunjung membuka mata. Lagi-lagi hanya ujung jarinya yang bergerak-gerak.


Rupanya kehadiran Aila, juga tidak mampu membuat dokter itu terbangun. Meskipun didekap dengan erat, dipanggil dengan suara penuh harap, Asha tidak kunjung bangun. Hingga Zidan yang selama ini trauma pasca kecelakaan yang terjadi pada ibunya, anak kecil 4 tahun yang masih ketakutan itu, menangis terisak, ia meminta ibunya bangun.


Zidan salah satu saksi mata, di mana ia menyaksikan ibunya ditabrak hingga terpental. Zidan juga melihat, bagaimana sang ibu penuh dengan noda merah di sekujur tubuhnya. Baru beberapa hari Zidan akhirnya dipertemukan dengan sang ibu. Meski anak itu terlihat gemetar karena rasa takut yang berlebihan.


"Ibu ...!" panggilnya lirih. Suara Zidan cukup menyayat hati mereka yang berdiri di ruangan itu. Anak itu selama ini terlihat lebih dewasa dari pada usianya. Calon laki-laki hebat, yang sejak kecil sudah berhati besar. Sering mengalah saat pertama kali Aila tinggal bersama mereka.


Tidak memiliki rasa marah, anak kecil itu mewarisi jiwa ayah ibunya. Ya, meski 4 tahun Zidan tidak terlihat seperti bocah pada usianya. Dia cenderung sangat dewasa.


Sambil mengusap pipinya dengan sebelah tangan, sedang tangan yang satunya mengusap mata Asha. Seperti biasa, Asha selalu menangis ketika mereka semua bicara padanya.


***


Hari ke tujuh.


Sudah seminggu Asha terbaring koma. Dokter muda yang cantik, baik hati dan penyayang itu masih terlelap dalam tidurnya yang panjang. Asha belum ada perkembangan, tetapi selalu merespon saat diajak bicara.


Sesekali salah satu anggota keluarganya membacakan doa-doa dari banyak sahabat online dokter tersebut. Tidak pernah bertemu, tidak pernah mengenal, tapi doa-doa itu sangat tulus hingga Asha menitihkan air mata dengan deras.

__ADS_1


"Kamu bisa, Sayang ... bangun Asha. Bagunlah ... demi anak-anak, Asha ... bangun, Sayang," bisik Bimasena yang merasa da danya terasa sesak melihat air mata Asha yang mengalir deras.


Beberapa jam kemudian


"Bagaimana ini? Dokter akan kembali ke Jerman. Sedangkan Asha belum bangun."


Mbak Nia mulai gelisah. Begitu juga dengan mbak Latifah.


"Kita tidak bisa menahan dokter tersebut, sebab di sana juga ia ditunggu pasien yang sama seperti Asha."


Bimasena menghela napas dengan dalam. Pria itu mengusap wajah, kesempatan mereka hanya sampai nanti malam. Besok dokter sudah kembali. Dan mereka tidak bisa menahan lebih lama.


Lepas magrib, semua berkumpul. Seperti biasa, Ardi akan membaca Qur'an tepat di bawah ranjang. Ia duduk di atas karpet, melatunkan ayat-ayat suci. Memohon pada yang maha kuasa, agar Asha mereka bisa kembali bersama.


Duda tanpa anak itu larut dalam doa, mengiba pada Rabb-nya. Ardi yang baru beberapa waktu bercerai, ia juga merasa bersalah pada Zidan. Ya, karena keegoisan mereka, Zidan harus terpisah dari ibunya selama 4 tahun.Saat Zidan baru beberapa waktu tinggal bersama sang ibu, tragedy besar membuat harapan semua hancur.


Malam itu, semua orang terlihat sangat gelisah. Jika Asha tidak bangun, sepertinya Bimasena akan membawa terbang istrinya itu ke Jerman. Ia akan menjual semua aset-asetnya. Baginya, harta bukan segalanya. Miskin, kembali dari nol pun ia rela. Asal Asha bisa kembali lagi hidup bersamanya. Tanpa Asha, Bimasena tidak bisa menjalani hidup. Separuh hatinya terlanjur ia titipkan pada sosok yang Terbaring lemah itu. Tanpa Asha, hidupnya mungkin tidak ada apa-apanya. Hidup tapi serasa mati.


***


Saat hidupnya mulai putus asa, Bimasena duduk di samping ranjang. Ia menggengam tangan istrinya itu dengan erat. Sembari berbisik, ia dekatnya wajah ke telinga Asha.


"Asha ... kamu marah sama Mas? Hingga kamu tidak mau bangun dan menemui Mas lagi? Asha, apa kamu menyesal telah menikah denganku?"

__ADS_1


Bima memalingkan wajah sejenak. Matanya terasa perih. Marah pada diri sendiri, kenapa ini harus terjadi. Kecewa, sedih campur jadi satu. Ia benar-benar gelisah tapi bingung, harus bagaimana caranya agar Asha-nya itu mau bangun.


"Asha ... tidurlah. Bila itu adalah pilihanmu. Jangan menyesal, Mas capek jadi orang baik. Mas akan menjadi manusia paling jahat, lebih jahat dari penjahat yang selama ini Mas tangkap."


"Kamu dengar Asha, Mas akan jadi orang jahat! Percuma jadi orang baik, tapi tidak pernah bisa melindungi istri sendiri. Lebih baik Mas jadi penjahat sekalin!" sambung Bimasena dengan hati yang terasa perih.


Di alam bawah sadar Asha.


Seperti ada batu besar yang menimpa tubuhnya, Asha berusaha bergerak. Tapi tubuhnya tidak bisa digerakkan. Wanita itu melihat suaminya membawa pis tol. Wajahnya berubah, Bimasena yang teduh bila menatapnya, kali ini pria itu terlihat sangat marah. Ia acungkan senjata itu, siap mem bunuh siapa saja.


'Mas Bima ... Mas Bima ... Jangan! Mas Bimaaa!' Asha menangis. Dan itu tembus sampai alam nyata. Air matanya kembali mengalir deras dan .....


BLAKKK ....


Mata Asha langsung terbuka. BERSAMBUNG.


Allahu Akbar. (Ditulis berdasar pengalaman saat dokter koma, narasumber menceritakan kembali, bagaimana ketika ia akhirnya bisa membuka mata. Oh ... diancam sama Pak komandan. Hehehe)


Dalam alam bawah sadar pun, dokter tidak ingin suaminya menjadi orang jahat. Masyallah, kalian suami istri panutan. Orang-orang pilihan. Dan Allah tidak akan menguji melebihi batas kemampuan mahluk-Nya. Semoga selalu dilindungi Allah dokter A dan seluruh keluarganya. Aamiin ya Allah.



Chat Pak kompol yang merasakan rasa campur aduk ketika istrinya baru bangun dari koma. Aku masih ingat betul. Aku yang habis sholat isya, masih duduk di atas sajadah, karena waktu Jatim lebih cepat. Posisi masih pakai mukenah, mendapat notife tersebut. Aku spontan peluk anakku sambil nangis. Anakku sampai heran.

__ADS_1


"Ma ... kok nangis?"


Kupeluk putriku dengan erat, tidak aku jawab pertanyaan dari bibir mungilnya, hatiku masih bergetar hebat. Tubuhku masih gemetar. Di sini aku merasakan bahwa kuasa Allah benar-benar amat terasa.


__ADS_2