
Dokter Asha and KOMPOL Bimasena Bagian 43
Oleh Sept
Kejadian di bab sebelumnya adalah kejadian dokter Asha sebelum mengalami kecelakaan dan koma. Sedikit cerita tentang duda sebelah rumah. Dan hal-hal yang terjadi ketika Zidan awal mula tinggal bersama mereka. Selesai flashback, kita lanjut kisah mereka berikutnya.
***
Langit ibu kota tampak cerah, secerah hati komisaris polisi Bimasena hari ini. Bagaimana tidak sumringah, Asha sudah banyak mengalami kemajuan. Sempat mengalami pasang surut emosi yang berlebihan, hingga tidak terkendali.
Ya, koma membuat emosi Asha tidak stabil. Dokter yang terkenal paling sabar dan pengertian itu, tiba-tiba menjadi pemarah. Mudah menangis, berjiwa mellow dan hal-hal negative lainnya. Dokter bilang itu efek obat. Dan tidak apa-apa. Memang untuk merang sang motorik otak.
Selama masa itu, adalah masa penuh kesabaran. Ya, semua keluarga harus bersabar menangani Asha yang kala itu 100% memiliki karakter yang jauh berbeda. Asha bahkan lupa cara untuk tersenyum.
Beruntung semua tidak berlarut-larut. Berkat dukungan keluarga yang selalu ada, berkat doa-doa yang selalu tercurah, Asha perlahan pulih. Dokter itu kembali tahu bagaimana caranya tersenyum. Sebuah senyum yang hampir 1 bulan tidak terlukis di parasnya yang menawan.
Hari-hari itu Asha sudah mirip penyihir, jika diajak bicara dia gampang emosi. Jika diajak bercanda bahkan sama sekali tidak merespon. Sampai Asha sendiri tidak berani ketemu anak-anak. Takut anak-anak akan terluka karena sikapnya yang masih labil.
Sepanjang pemulihan, ia hanya di rumah sakit. Rumah sakit yang sudah seperti hotel bagi keluarga mereka. Tempat mereka menginap untuk menjaga Asha secara bergantian.
Masa-masa suram itu sudah berlalu, langit Asha kembali cerah. Apalagi Bimasena, seolah matahari yang lama tenggelam kini kembali bersinar.
***
Hari-hari setelah Asha pulang dari rumah sakit.
"Alhamdulillah bu dokter sudah pulang," Mamak berkaca-kaca menyambut Asha pulang.
Mamak adalah ART yang sudah dianggap saudara oleh Asha. Keluarga mereka memang begitu, tidak pernah membedakan status sosial.
"Iya ... Mamak. Alhamdulillah. Asha juga sudah kangen rumah. Sudah rindu berat!" jawab Asha yang sudah kembali ceria.
__ADS_1
Semua sangat senang, apalagi mamak yang berstatus janda itu sedang menunggu kesembuhan Asha. Ya, karena satpam komplek di sana hendak menikahi mamak. Rencananya akan diadakan pernikahan tapi menunggu dokter Asha sembuh dari sakit.
Rencana pernikahan mamak sudah jauh-jauh hari direncanakan, dan belum sempat terlaksana, keduluan Asha mengalami kecelakaan. Setelah Asha sembuh, sepertinya rencana itu akan kembali dilanjutkan.
Pembicaraan sore itu, mereka semua membahas rencana pernikahan mamak. Mamak janda tanpa anak. Ia diusir oleh suami dan pelakorr yang sudah menghancurkan rumah tangga mamak.
Mama yang malang, hanya duduk diam di ujung komplek. Seperti bingung, setelah diusir, mamak bagai kehilangan arah. Sanak sudara sudah tidak ada yang peduli, mamak seolah terbuang tanpa ada yang pedulikan nasibnya.
Beruntung ia bertemu polisi baik hati 8 tahun silam. Bimasena, ya pria itu membawa mamak ke rumah. Mamak yang waktu itu masih muda, dan hanya duduk terdiam, membuat Bimasena terketuk untuk menolong.
Hari itu, Bimasena yang masih tinggal dengan ibu dan bapak, membawa mamak ke rumah. Di sana ia bisa mendapatkan tempat tinggal, dan bekerja sebagai ART.
Baru-baru ini mamak diajak kembali oleh Bimasena. Bila sebelumnya Asha tidak memiliki asisten pribadi karena 5 tahun hanya tinggal berdua saja dengan Bimasena. Sekarang Asha sejak ada Zidan dan Aila, Bimasena meminta Mamak ikut dengannya. Meninggalkan rumah ibu Bimasena.
Dan tidak tahunya, ada satpam duda di komplek itu yang ternyata naksir mamak. Tidak mau mengundang fitnah, duda itu malah langsung ingin menghalalkan mamak. Tapi keburu dokter Asha kecelakaan.
Alhamdulillah, sekarang semua kembali seperti semula. Dokter sudah sehat, dan acara pernikahan pun kembali dibicarakan.
"Hemm ... iya!"
Mereka itu asli orang-orang dermawan. Bahkan ART mereka yang sudah dikenal Bimasena 8 tahun itu, akan dibuatkan sebuah pesta pernikahan.
"Nanti setelah nikah tetep tinggal di sini ya, Mamak ..."
Mamak pun mengangguk setuju, soalnya ia juga sudah sayang dengan keluarga itu.
"Kamarnya akan direnovasi, kalau kalian punya anak nanti, juga tetap tinggal sama Asha, ya."
Lagi-lagi Mamak mengangguk, kali ini matanya terasa perih. Beruntung bagi mamak dipertemukan dengan manusia-manusia berhati Malaikat tersebut.
***
__ADS_1
Beberapa hari kemudian.
Semua sudah dihandle oleh EO yang sudah dipilih oleh keluarga Asha. Tinggal selangkah lagi, pernikahan akan segera terlaksana.
Catering beres, gaun pengantin beres, semua sudah beres, Asha ingin mempersembahkan sebuah pernikahan yang berkesan untuk asisten-nya itu. Hingga pada suatu sore, salah satu agent EO menghubungi. Sekedar untuk cek and ricek.
"Oke, nanti saya ke sana."
Di rumah tidak ada orang, suaminya sedang tugas. Anak-anak sedang main bersama mamak. Asha tapi harus ke kantor EO tersebut. Dengan Bismillah ia mengambil kunci mobil. Asha sepertinya lupa atau karena terbiasa mandiri, padahal dokter bilang ia tidak boleh mengemudi selama 6 bulan.
Hari itu, karena katanya sangat mendesak. Ia pun terpaksa berangkat sendiri. Ya seorang diri mengemudi. Seperti yang dapat diduga. Di tengah jalan tiba-tiba matanya berkunang-kunang. Kepalanya terasa pusing, pandangan matanya mendadak buran.
BRUAKKK ....
Wiu wiu wiu ....
Mobil patroli polisi datang, karena kebetulan ada di sekitar sana. Polisi tersebut langsung mengenal siapa yang mengemudi. Ya, Asha kali ini terlibat kecelakaan. Satu tahun 3 kali kecelakaan! Astaghfirullahaladzim.
Foto Asha yang gemetar menundukkan wajah sambil memeluk setir bundar langsung terkirim ke ponsel Bimasena. Begitu juga dengan bagian depan mobil yang ringsek.
***
Beberapa saat kemudian.
Asha tidak terluka, meski mobilnya rusak parah dibagian depan. Ia pun hanya luka kecil, dan langsung minta pulang. Baru sesaat tiba di rumah, tiba-tiba Bimasena datang dengan matanya yang merah.
Pria itu mendadak mengeluarkan pis tol dan langsung meraih tangan Asha. Ia suruh Asha memegang benda mengerikan itu. Sebuah benda yang mematikan.
"Bunuh Mas sekarang!" sentak Bimasena sambil mengarahkan tangan Asha tepat ke kepalanya.
BERSAMBUNG.
__ADS_1
Aku tahu perasaanmu waktu itu, Ndan. Sangat-sangat paham. Apa ya ... ya begitulah. Takut kehilangan.