
Dokter Asha and KOMPOL Bimasena Bagian 39
Oleh Sept
POV Asha
Bagiku rumah sakit sudah seperti rumah kedua. Aku bahkan hafal dan begitu akrab dengan aromanya, karena begitu seringnya aku bersentuhan dengan obat-obatan. Jika dulu aku selalu mengobati orang lain, beberapa bulan terakhir ini akulah yang diobati oleh orang. Ya, orang berjas putih dengan stethoscope yang menggantung di lehernya.
Entah sudah berapa jahitan yang aku dapat, mulai dari luka kecelakaan hingga perselisihan dalam keluarga. Ya, mungkin benar jika Allah menguji mahluk-Nya dengan apa yang mereka sukai. Seperti aku dan kakak laki-lakiku, Mas Andri.
Kami yang selalu rukun sejak kecil, bahkan kami seperti perangko dan amplop. Bahkan Mas Haris pernah salah paham, mengira Mas Andri adalah kekasihku. Bukan, dia bukan kekasihku. Dia adalah cinta keduaku setelah Bapak.
Sudah pasti cinta pertamaku adalah pria paling hebat di dunia ini. Bapak yang selalu ada saat aku jatuh, bapak yang selalu punya banyak cara untuk menguatkan aku. Aku mungkin terlihat kuat di luar, tapi Bapak tahu, betapa rapuhnya hatiku.
Saat hati mulai lelah, aku pasrahkan semua dalam doa-doa di setiap sujudku. Berharap Allah akan menguatkan hatiku yang mudah rapuh ini.
Meski sedih, karena sikap ipar-iparku. Aku tidak dendam kepada mereka. Sebelum mereka minta maaf, sudah pasti aku maafkan. Aku tahu, manusia tidak akan pernah luput dari salah dan khilaf. Dan untuk kakak laki-lakiku, serta sang istri tersayang. Ketika kalian membaca ini, Dan aku tahu kalian sedang membacanya.
Hanya satu yang ingin aku katakan, aku sayang kalian. Tidak peduli terlalu banyak kesalahpahaman yang terjadi, tidak peduli banyak hati yang terluka akhir-akhir ini, yakinlah, aku rindu hari-hari hangat saat kita bersama. Hari-hari saat kita semua bercanda bersama. Hari-hari bahagia saat pertama kali Mas Andri membawa pujaan hati ke rumah. Seorang wanita baik hati yang dulu sangat kami sayang.
Dan untuk pria yang sudah memenuhi hatiku, bukan cinta pertama, tapi cinta segala-galanya. Suamiku ...
Aku tidak pernah malu untuk mengatakan I love you padanya, karena aku benar-benar menyukainya. Pria yang dulu tidak pernah aku lirik saat main ke rumah ketika aku remaja, pria yang selalu belajar kelompok bersama mbak Nia sambil membawa banyak coklat dan banyak snack.
Aku ingat betul moment itu, karena begitu aku dapat coklat dari teman kakakku, yang sekarang menjadi suamiku. Aku bagikan makanan yang ia berikan padaku, aku berikan pada teman-teman.
Aku masih ingat betul, ya ... setiap dia memberikan sesuatu aku akan berikan pada teman-teman. Aku baru tahu tahun kemarin, bahwa dia sudah jatuh hati padaku sejak remaja. Sebuah kenyataan yang cukup membuatku tertegun. Dia tidak pernah cerita kapan jatuh cinta padaku, yang aku tahu dia tiba-tiba datang dengan borgolnya.
Bila ingat moment itu, aku masih suka tersenyum sendiri. Suamiku yang kelihatan tegas, bermuka galak di depan rekan kerjanya. Bila bersamaku, dia akan menjadi jinak. Kadang manjanya melebihi Zidan anak kami.
Pernah suatu hari, saat awal-awal kami membawa Zidan untuk tinggal bersama. Waktu itu suamiku akan tugas, seharian itu Zidan tidak mau lepas dari gendongan. Aku bujuk Zidan, karena tugas negara adalah tetap yang utama.
Tidak punya cara lain, aku pun ajak jalan-jalan putra pertamaku itu. Baru dia lupa dan tidak rewel. Nah, saat sudah capek di luar rumah. Kami berdua pun pulang, banyak tetangga yang menyapa. Mereka juga heran, anak siapa yang aku bawa.
__ADS_1
"Ini putraku, Zidan!"
Aku selalu bangga menyebut nama putraku pada orang-orang yang menyapa. Mereka pasti merasa aneh, tahun-tahun aku yang tinggal di komplek ini 5 tahun lamanya, tiba-tiba punya anak yang sudah besar. Ya, karena selama ini Zidan tinggal bersama Ardi, adik iparku. Sebuah pilihan sangat sulit dan cukup membuat hatiku ngilu jika ingat hari-hari itu. Hari di mana aku hanya berteman dengan sepi.
Setelah bertegur sapa dengan banyak tetangga, kami pun kembali ke rumah. Eh di depan rumah, tepatnya sebelah rumah kami. Rumah duda, masih muda, good looking, dan pengusaha showroom mobil.
"Dari mana, Sha?" tanya duda itu dengan genit. Bagaimana tidak genit, wajahnya sumringah, senyum-senyum tidak jelas pada kami.
"Habis jalan-jalan!" jawabku singkat kemudian mengajak Zidan masuk pagar rumah. Eh, putraku malah tidak mau masuk.
Dan duda itu malah mendekati kami.
"Siapa, Sha? Hai ganteng ... siapa namamu?"
Duda itu mulai PDKT sama Zidan, dan aku hanya melirik.
"Zidan!" jawab putraku lantang. Zidan memang begitu, percaya diri dan tidak pernah malu-malu. Benar-benar gambaran ayahnya.
"Umur berapa?"
"Sudah sekolah?"
Zidan menatapku, memang Zidan belum sekolah, tapi sudah kami datangkan guru les sejak dini. Bahkan Zidan juga sudah pandai mengaji. Meski selama ini tidak tinggal bersama, aku tetap usahakan putraku dapat yang terbaik. Aku urus semua kebutuhan Zidan dari pendidikan dini dan agamanya. Alhamdulillah, Zidan tumbuh dengan cerdas dan soleh. Meski baru 4 tahun, ia sudah seperti anak 6/7 tahun.
"Zidan mau main sama Om?"
Dalam hati aku menggeleng keras, aduh bisa gawat nanti kalau mas Bima tahu. Masalahnya, selama ini mas Bima paling gedek sama tetanggaku yang duda tersebut.
Rista sering ketahuan curi-curi pandang saat kami jogging ketika belum bersama Zidan. Bahkan rekaman CCTV sering memperlihatkan bahwa duda itu selalu mengawasi rumah kami. Entah apa tujuaannya. Sampai-sampai Mas Bimasena selalu cemburu.
Sekarang, aku tidak bisa apa-apa, ketika Zidan masuk dengan riang ke ruang mas Rista.
"Biar main di rumahku!" seru pria tersebut.
__ADS_1
"Mas Rista nggak kerja?"
Pria itu malah tersenyum lebar.
"Nggak apa-apa!"
Aku tersenyum masam, yaiyalah gak apa-apa. Kan dia bosnya.
***
Sore harinya.
Begitu terdengar deru mobil sang Ayah, Zidan langsung berlari keluar. Baru saja ayahnya membuka pintu, Zidan langsung minta gendong. Dengan sayang pula mas Bimasena mengendong Zidan masuk ke dalam rumah.
"Bagaimana, tadi Zidan rewel nggak?"
Aku mau menjawab, tapi Zidan malah menjawab duluan.
"Ayah! Seru sekali main sama Om Rista!" celetuk Zidan.
'Astaghfirullahaladzim!' batinku. Aku menelan ludah saat suamiku menatap dengan tatapan tak bersahabat. Sudah pasti nanti aku yang kena hukuman.
"Om Rista?" ulang suamiku.
Zidan mengangguk dengan bersemangat.
"Zidan ... dengerin Ayah. Jangan main ke samping rumah. Bahaya! Ada buayanya."
Aku lantas mendongak, buaya apaan? Sedangkan Zidan, bukannya takut ia sepertinya malah sangat penasaran. Dan betul apa aku takutkan.
Setelah semalam aku dapat hukuman dari komandan paling bucin, esok harinya saat suamiku bertugas, Zidan membuatku was-was.
"Ibu ... Ayo ke rumah Om Rista. Zidan mau lihat buaya!" renggek Zidan.
__ADS_1
BERSAMBUNG.