Dokter ASHA And KOMPOL BIMASENA

Dokter ASHA And KOMPOL BIMASENA
Hukuman Manis


__ADS_3

Dokter Asha and KOMPOL Bimasena Bagian 40


Oleh Sept


Anak komisaris polisi tersebut masih merajuk ingin melihat buaya. Karena dia penasaran, semalam sang ayah Bimasena mengatakan bahwa si sampai rumah meraka ada binatang buaya. Bukan Zidan namanya kalau penakut, anak itu memang cocok sekali dengan ayahnya. Sama-sama berjiwa tangguh. Bagi Zidan, panting mundur sebelum ia melihat buaya hari itu juga.


Asha memutar otak, bagaimana cara agar perhatian sang putra teralihkan. Lama tidak tidak tinggal bersama, membuat Asha harus putar otak untuk merayu Zidan agar tidak ke rumah duda sebelah rumah.


'Gara-gara Mas Bima! Pakai acara bilang buaya segala!' batin Asha yang merasa kelimpungan.


Tidak sengaja, waktu itu Asha melihat cicak di dinding, dengan gaya dramatis dokter cerdas itu menjerit dan berakting.


"Zidah! Sayang ... ada cicak! Ibu takut ... geli ... serem!" Asha memasang muka seolah ia sedang ketakutan.


Zidan yang tadi merajuk, langsung berjalan mendekati ibunya.


"Mana, Bu? Biar Zidan lawan!" serunya seperti seorang hero.


Dalam hati Asha tertawa, ia tersenyum. Sepertinya rayuannya berhasil.


"Itu .. itu! Gede banget! Ibu takut!" ucap Asha bersandiwara layaknya guru PAUD.


Dengan sok berani, Zidan maju ke depan. Ia berkacak pinggang seperti super man. Melihat itu, bibir Asha menahan senyum.


'Ya Allah ... bahagia itu sederhana. Hidup bersama Zian seperti ini mengapa sangat menyenangkan?'


Mata Asha perih, ia kemudian memeluk Zian. Masih dengan mode pura-pura takut.


"Ibu jangan takut! Ada Zian!" seru bocah kecil tersebut. Si Zidan, pahlawan kesiangan ibu Asha.

__ADS_1


***


Malam harinya.


Kediaman Bimasena terlihat ramai, semua sedang berkumpul. Sekalian makan malam bersama. Dan di sela-sela makan malam itu, Zidan kembali berceloteh.


"Eyang ... Tadi Zidan selametin ibu dari monster cicak!" ucapnya polos.


Semua menatap Zidan dengan aneh.


"Zidan gak takut! Zidan pemerani. Sama cicak tidak takut. Zidan juga tidak takut buaya!" celoteh Zidan lagi.


"Buaya?" tanya Pak Han.


Zidan mengangguk.


"Kata ayah ada buaya di sebelah rumah, Eyang. Buaya besar!"


Semua orang langsung terkekeh, sedangkan Bimasena hanya tersenyum kecut sambil mengaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.


'Aduh Zidan!' batin Bimasena menatap putranya yang kini pandai membuatnya tidak bisa berkata-kata.


"Aneh-aneh!" ledek Haris pada sang kakak.


Bima kembali tersenyum. Habis bagaimana lagi, ia kurang suka bila Zidan main ke tempat duda sebelah rumah. Soalnya ia tahu, Rista sudah mengincar istrinya sudah lama. Bukan hanya insting wanita yang tajam, insting pria juga sama. Apalagi Bimasena adalah seorang polisi. Jelas ia tahu penjahat wanita itu seperti apa. Ya, istri orang mungkin sangat menantang di mata pria-pria yang agak miring.


***


Esok harinya.

__ADS_1


"Ayah berangkat dulu, ya?"


Zidan malah memeluk erat tubuh ayahnya.


"Nanti Ayah belikan kinder?"


Anak itu masih menggeleng keras.


"Aduh ... sayang. Mas telat ini."


Bimasena menatap istrinya. Sejak tinggal bersama Zidan yang biasanya mandiri memang jadi sangat manja. Mungkin itu cara protes Zidan selama ini. Karena selama ini mereka tinggal terpisah.


"Zidan, ikut Ibu yuk ...!"


Zidan malah menangis.


"Aduh!"


Kedua orang itu nampak kebinggungan. Sedangkan satu jam lagi ada rapat penting dan tidak boleh telat.


"Zidan ... mau lihat buaya?"


Seketika gendongan Zidan terlepas.


Bimasena melotot tajam ke arah Asha. Bisa-bisanya malah diajak ke rumah duda!


'ASHA!!!'


Pria itu tidak bisa berkutik, sebab rapat sudah di depan mata.

__ADS_1


"Kita selesaikan kalau Mas pulang!" ucap Bimasena penuh arti. Membuat Asha langsung bergidik ngeri, bulu-bulunya merinding. Zidan yang aneh-aneh, dan Asha yang kena hukuman. Aduh!


Bersambung.


__ADS_2