Dokter ASHA And KOMPOL BIMASENA

Dokter ASHA And KOMPOL BIMASENA
KALAH


__ADS_3

Dokter Asha and KOMPOL Bimasena Bagian 45


Oleh Sept


Jika sebelumnya hampir 5 tahun rumah Bimasena dan Asha sepi, sunyi dan diliputi rasa kesepian bagi para penghuninya, kini rumah itu sudah sangat jauh berbeda. Rumah yang dulu hanya diisi 2 penghuni, sekarang sudah bertambah berlipat-lipat.


Rumah cluster itu mendadak berubah seperti taman bermain. Semakin seru dan ramai tatkala 10 orang semua sudah tinggal di sana sekarang. 2 Malaikat kecil Bimasena dan Asha, dan para penjaga Asha yang lain. Ya, sejak habis bangun dari koma, semua sangat protective pada sang dokter.


Terbiasa mandiri, membuat jiwa Asha kadang suka membuat orang lain spot jantung. Ia bisa saja tiba-tiba muncul di tengah jalan saat yang lain lengah, alasannya sih masuk akal. Karena tidak bisa merepotkan orang, dan hanya mengandalkan diri sendiri. Namun, Asha sampai sekarang masih proses penyembuhan. Ia masih dalam pengawasan dokter, meski dari luar ia nampak baik-baik saja, Asha sebenarnya belum pulih 100 persen.


Ya, Asha butuh waktu. Dokter tersebut butuh proses lumayan panjang untuk kembali seperti dulu lagi. Beruntung bagi dokter Asha yang berhati hangat tersebut, dikelilingi orang-orang baik, membuat proses penyembuhan ini semakin berjalan dengan baik.


***


Hari ini semua sudah bersiap-siap, mereka sudah berkemas. Bimasena dan yang lain sedang mengambil cuti. Mereka akan ke Pemalang, Bimasena serta keluarga kecilnya dan geng duda akut, akan ke rumah orang tua suami Mamak.


Ya, Bimasena dan Asha memang sudah menganggap Mamak seperti saudara sendiri. Lepas pulang dari rumah sakit setelah koma, dan sempat masuk rumah sakit lagi, setelah itu acara pernikahan mamak langsung disegerakan.


Dengan jasa WO tentunya, karena semua keluarga tidak mau Asha capek. Apalagi Asha kan selalu sok kuat, padahal tubuhnya masih rentan. Dan hari ini kebetulan, semua sudah berencana akan ke kota di mana suami mamak berasal.


***


Pemalang


"Masya Allah ... Indah banget!" seru Asha di dalam sebuah mobil. Ia menatap takjub pemandangan pegunungan di depan matanya.


"Indah banget, Mas!" ucapnya lagi sambil menyandarkan kepala pada bahu kekar Bimasena yang sejak tadi juga menikmati keindahan yang berbeda.


Jika Asha mengagumi perbukitan dan pegunungan hijau di luar sana. Bimasena justru menikmati keindahan yang lain. Sebuah keindahan yang membuatnya sangat bersyukur karena sudah dilimpahi karunia memiliki istri yang sungguh indahnya masyaallah tersebut.


Sedangkan di kursi belakang, Zidan dan Aila serta para duda, juga mengamati keindahan di luar sana. Terlihat kerbau di tepi jalan, beberapa pejalan kaki yang membawa rumput di atas kepala mereka. Sebuah pemandangan pegunungan yang cukup membuat tenang.


Beberapa saat kemudian, mobil rombongan yang membawa keluarga dari Jakarta itu akhirnya tiba di depan rumah keluarga suami mamak. Mereka semua langsung menyambut dengan hangat, sebab mamak dan suami sudah mengabari sebelumnya.


Karena jumlah mereka yang sangat banyak, kamar keluarga suami mamak pun tak cukup, akhirnya mereka sebagian menginap di kerabat lain dan di rumah kepala desa.


Tak disangka, kepala desa di sana sangat muda. Baru 30 tahun, muda, tampan dan terlihat cerdas. Dan dia masih lajang.

__ADS_1


Begitu tiba, Asha langsung disambut para emak-emak di sana. Mereka terus saja menatap Asha, dokter tersebut tidak boleh melakukan apa-apa. Cukup duduk di ruang tamu dan menjawab semua pertanyaan para warga.


Semua terlihat aneh saat menatap Asha. Mungkin seperti kedatangan bule ke kampung. Atau malah seperti melihat artis masuk desa. Tidak salah sih, karena paras Asha memang di atas rata-rata, tidak hanya good looking, dokter tersebut juga good attitude. Di pegang-pegang para emak-emak Asha terlihat ramah. Baru kenal, semua terlihat akrab.


Saat Asha dikelilingi emak-emak, lain halnya dengan tiga perjaka jomblo karatan kualitas premium, dan dua duda quality super. Para perwira polisi yang ikut datang bersama mereka, yaitu anak buah Bimasena, serta duda-duda tampan serta mapan. Mereka dikelilingi para gadis-gadis yang sedang TP-TP.


Tanpa malu-malu, para gadis di sana menggoda para pria-pria dari ibu kota tersebut. Maklum kalau semua gadis silau, sebab ketampanan para polisi dan para duda, cukup membuat mata tidak mau berkedip. Takut kalau gantengnya kelewatan.


Tinggi mereka yang rata-rata di atas 180an, didukung posture yang tegap, atletis dan gagah, so pasti para kaum Hawa di sana langsung meleleh. Apalagi pria-pria juga ramah. Tidak mungkin kan, mereka jutek saat mereka bertamu. Jadi sebisa mungkin mereka bersikap sangat sopan.


Apalagi Haris dan Dika, dua orang ini paling banyak pengemar dadakannya. Sampai ke kamar mandi yang ada di luar rumah, maklum pegunungan, masih banyak kamar mandi di luar rumah. Dan saat akan ke kamar mandi, bukannya pergi, para gadis-gadis malah sengaja duduk di sekitar kamar mandi tersebut. Jelas mereka gagal mandi. Alhasil pergi ke rumah kepala desa hanya untuk numpang mandi.


Malam harinya, semua berkumpul di aula. Aula sederhana seperti gapura desa. Di sana Asha baru duduk langsung didatangi ibu-ibu dan juga para gadis.


"Maaf bu dokter, mau tanya ... Bu dokter pakai skincare apa ya? Kok bisa kulitnya seperti ini?"


Asha tersenyum manis, ia kemudian mengatakan apa yang menjadi resep selama ini agar kulit terlihat glowing dan lembut.


"Pasti mahal ya, Bu Dokter?" sela gadis lain. Padahal Asha baru mau menjawab.


"Jangan ngomong dulu, dengerin bu dokter!" celetuk emak-emak.


"Bohong!" cetus gadis di sebelah Asha.


"Bagi resepnya, Bu. Merek apa? Kalau mahal biar saya nabung dulu."


Asha terkekeh.


"Demi Allah, ibu-ibu dan mbak-mbak serta adek-adek."


"Bu dokter cantik tapi pelitt!" celoteh mereka yang kecewa gagal tahu rahasia kecantikan dokter Asha.


"Oke ... oke. Asha cuma rajin minum su su campur pisang, diblender sampai halus. Tidak pernah telat. Dan itu sejak Asha kecil, sampai sekarang. Kalau gak percaya, tanya sama yang lain." Wajah Asha tampak serius, membuat semua langsung percaya.


"Oh, itu gampang. Di kebun banyak pisang!" seru ibu-ibu.


"Cuma itu? Nggak pakai suntik pemutih dan minum obat seperti di TV-TV?" tanya gadis-gadis yang penasaran.

__ADS_1


Asha menggeleng pelan.


"Nggak ada, cuma itu."


Mereka pun langsung manggut-manggut. Sesaat kemudian mereka membahas topik yang lain. Kali ini dokter Asha membagikan ilmu kedokteran yang ia dapat selama menjadi dokter. Sedikit banyak ia memberikan banyak pengetahuan yang ia miliki, ia bagi. Berharap akan bermanfaat meski sedikit saja.


Sampai beberapa saat kemudian, kalau membahas ilmu kesehatan pada menguap. Lain dengan bahasan skincare semua langsung antusias. Hingga kerumunan pun berkurang. Di sana, kepala desa yang mengira Asha ini masih gadis, langsung tancap gas.


Beno, pria 30 tahun. Kepala desa itu kebetulan sedang mencari istri. Siapa tahu, Asha adalah jawaban dari semua doanya selama ini. Dengan semangat 45. Beno pun melancarkan aksinya.


"Bahas apa, Dek? Warga sepertinya sangat antusias." Beno langsung duduk di sebelah Asha.


Asha pun melempar senyum ramah sambil mengatakan apa saja yang ia bicarakan dengan warga desa Beno tersebut. Sejak datang, mereka belum tahu kalau Asha ini istrinya Bimasena. Wajah Asha yang imut-imut, membuatnya dikira masih gadis. Jadi wajar jika kepala desa yang tampan itu mengincar Asha.


Dari jauh, Bimasena yang asik ngopi bersama Haris dan Dika serta warga lain, terlihat gusar.


"Tunggu sebentar!" ucapnya pada Haris yang duduk di sebelahnya.


"Komandan ke mana?" gumam Dika.


"Tuh ... Ada buaya pegunungan!" celetuk Haris terkekeh.


Mereka sama-sama tertawa ketika melihat Bimasena langsung duduk di tengah-tengah Asha dan Beno. Dari wajahnya, Haris dan Dika sudah merasakan aura-aura mistis dari Bimasena yang dilanda cemburu tersebut.


***


"Bahas apa, Sayang?"


Beno seketika menelan ludah. 'Apa dia pacarnya?' batin sang kepala desa.


"Bahas apa Mas, cuma bahas para warga yang antusias sama ilmu kedokteran," jawab Asha santai.


"Oh ya, Mas Beno. Kenalin ... ini suami saya." Asha kemudian memperkenalkan Bimasena pada Beno.


'SUAMI?'


Belum juga perang, masa sudah kalah. Ya Allah.

__ADS_1



__ADS_2