
Cinta Dalam Diam Bagian 12
Oleh Sept
Pasien yang Asha obati sedari tadi diam ketakutan. Ia seolah seperti sedang diawasi. Dan Asha merasakan akan hal itu, dokter muda cantik dengan senyumnya yang menawan itu pun menoleh. Tidak ada satu orang pun di sana. Tapi mengapa ia merasa pasiennya ketakutan? Meski merasa aneh, Asha pun melanjutkan tugasnya.
"Sudah selesai, semoga lekas sembuh."
Asha tersenyum ramah, seperti selayaknya dokter pada umumnya. Bedoa untuk pasien agar segera pulih seperti sedia kala. Karena tugasnya sudah selesai, pasien itu pun boleh keluar. Asha juga kembali fokus pada jurnalnya. Sambil sesekali menatap layar laptop yang sudah meyala sejak tadi. Ia pun mematikan benda kotak pipih tersebut. Ia mau keluar karena ada keperluan penting. Seminar di aula rumah sakit, ada dokter dari Singapore yang kebetulan akan memberikan seminar hari itu.
Tok tok tok
"Masuk!" seru Asha sambil mematikan laptopnya.
Seorang suster masuk sambil memasang muka bingung.
"Ada apa, Sus?"
"Ada pasien lagi, Dok."
Asha melirik jam tangan miliknya yang berhias swarovski. Sebentar lagi ia ada seminar. Waktunya mepet kalau harus menangani pasien lagi.
"Hemm ... Dokter Thapi ada, kan? Saya ada perlu sebentar lagi, Sus." Asha memasang muka tidak enak, tapi ia memang harus pergi saat itu.
"Tapi beliau tidak mau, Dok. Memaksa harus diperiksa dokter."
"Apa?" Dahi Asha langsung mengerut. Pasien model apa yang memilih mau diperiksa dokter siapa.
"Beliau sudah menunggu di depan, apa saya suruh masuk?"
Asha kembali melihat jam. Kali ini menatap jam yang ada di atas meja. Dokter muda itu pun menghela napas panjang.
"Ya sudah, masuk aja."
Suster mengangguk pelan, kemudian membuka pintu.
"Huuufff!" Asha membuang napas. Kemudian mengambil bolpen sembari menunggu pasien yang memaksa diperiksa olehnya.
KLEK
Mata Asha fokus pada berkas yang ada di atas meja, dan ketika mendengar derap langkah semakin mendekat. Wajahnya pun mendongak, hendak menyapa pasiennya yang ia rasa aneh itu.
Bibir Asha seolah terkunci rapat, lidahnya keluh tidak bisa mengeluarkan suara.
"Mas Bima," gumam Asha kaget. Matanya melirik kanan kiri, apa ia salah lihat. Ia menatap tanpa kedip, kemudian menelan ludah.
CEKLEK ...
Asha bengong, ia kaget. Seketika tubuhnya beringsut tapi terlambat. Bimasena sudah memborgol tangannya.
"Mas Bima!" panggil Asha panik. Dia bukan penjahat. Lalu kenapa ditangkap. (Kamu penjahat Asha, sudah mencuri hati komandan bertahun-tahun lalu).
Lucu memang, karena bukan hanya hati komandan yang Asha curi. Tapi hati Haris, hati Dika dan hati dokter Febrian.
"Mas! Asha salah apa? Asha gak melakukan kejahatan!"
__ADS_1
Asha bangkit dari tempat duduknya, meminta agar Bimasena melepaskan borgol yang menjerat tangannya.
Bukannya dilepaskan, Bimasena malah langsung memeluk tubuh Asha. Mungkin rindu yang terlanjur mengunung. Tanpa berkata-kata, Bima langsung saja memeluk tubuh dokter muda tersebut. Dokter yang sudah 6 bulan ini membuatnya hampir gila dan kehilangan arah.
KLEK
"Dokter?"
Seorang dokter laki-laki kaget melihat Asha berpelukan di ruang kerjanya. Asha pun sama, ia mendorong tubuh Bimasena.
Dokter pria itu kemudian melihat tangan Asha yang diborgol.
"Ada apa ini?" Baik Asha dan Bimasena hanya saling menatap.
"Anda siapa?" tanya dokter pria tersebut.
"Bukan urusan anda!" cetus Bimasena galak.
Bima kemudian menarik lengan Asha untuk berada di dekatnya. Tapi dokter pria itu juga menarik lengan Asha yang satunya.
"Lepasin!" seru Asha yang merasa sakit karena dibuat rebutan.
Dengan kasar, Bimasena menepis tangan dokter pria tersebut.
"Jangan sentuh Asha!" Bima menyalak marah.
"Anda siapa?" tanya dokter itu tak kalah marah. Sebab yang ia tahu, selama ini Asha jomblo. Asha sudah menjadi target dokter di rumah sakit Semarang itu setengah tahun terakhir. Idola di rumah sakit tersebut. Jomblo premium kualitas super. Cantik, cerdas, good looking, good attitude, ramah, humorist, murah senyum, dan solehah. Packet komplit!
"Anda tidak usah tahu saya siapa," ujar Bimasena dengan wajah tidak ramah.
Bima kemudian membawa Asha keluar, ia melepaskan jacket miliknya, untuk menutupi borgol di tangan Asha.
Seolah tidak peduli, begitu keluar ruangan, Bimasena melirik tiga anak buahnya yang rupanya sejak tadi menunggu.
Satu orang memegang pasien yang Asha obati. Ternyata pasien itu adakah penjahat kelas teri. Dan dua orang anak buah yang lain, bertugas menghadang dokter yang sepertinya tertarik pada Asha juga.
Dokter itu terlihat sangat kesal. Tapi tidak bisa berbuat apa-apa saat para anak buah Bimasena mengeluarkan identitas asli mereka.
***
"Mas Bima! Asha mau dibawa ke mana?" Asha panik saat masuk mobil. Ya, gadis itu dibawa masuk ke dalam mobil bersama tahanan yang tadi Asha obati. Asha dibawa bak seorang penjahat karena borgol masih melingkar di tangannya.
Hari mulai petang, bukannya langsung ke kantor polisi untuk meyerahkan tahanan yang tadi. Mobil malah berhenti di depan cafe.
"Tunggu di sini!" seru Bimasena.
Beberapa orang keluar dari mobil, dan berberapa masih ada di dalam.
Beberapa saat kemudian
Bima kembali dengan membawa makanan, kemudian meminta anak buahnya untuk makan dulu. Sedang ia, masuk lagi ke dalam bersama Asha.
"Sudah malam, kamu pasti belum makan."
"Bagaimana Asha mau makan? Mas Bima memasang ini ditangan Asha!" gerutu Asha. Ia protes minta dilepas. Tapi sayang, Bima tidak mungkin melakukan hal itu. Bima takut Asha lari. Enam bulan sudah mencari seperti orang gila. Masa sudah ketangkep mau dilepas.
__ADS_1
"Hakkk ... !" seru Bimasena ingin menyuapi Asha.
Asha bengong, tapi reflect mulutnya terbuka sedikit.
Hap ...
"Apa pengap?" tanya Bimasena. Pria itu kemudian membuka pintu mobil lebar-lebar. Dan kebetulan ada tukang parkir cafe yang lewat.
"Astaga Mbak! Cantik-cantik kok jadi penjahat, nyuri ya ... Mbak?" celetuk Pak parkir. Ia tersenyum tipis pada Asha yang
tangannya diborgol.
Asha langsung melotot tajam ke arah Bimasena. Bima hanya diam, kemudian kembali menyuapi Asha.
***
Selesai makan malam yang darurat dan pasti tak terlupakan itu, mobil kembali melaju ke kantor polisi. Anak buah Bimasena menyerahkan tersangka ke kantor pusat. Sedangkan kini Bimasena sibuk mengurus Asha.
"Kita mau ke mana?" tanya Asha gelisah. Mereka berjalan memasuki koridor kantor polisi.
Bimasena kemudian berhenti tepat di sebuah ruangan. Ia membuka pintunya dan menarik Asha masuk ke dalam bersamanya.
"Tunggu di sini. Aku akan urus sesuatu!" ucap Bimasena dengan wajah serius. Ia kemudian membuka laci, mengeluarkan beberapa lembar berkas dari sana.
Asha tidak tahu harus berkata apa, ia hanya diam dan kemudian duduk. Jantungan masih belum aman. Masih shock berat.
KLEK
Bimasena keluar, dia juga mengunci pintu dari luar. Kemudian merogoh ponselnya.
"Asha sedang dikantorku, kalian tidak usah khawatir," ucap Bima ditelpon.
Di seberang telpon, Nia menghela napas lega. Ia khawatir karena Asha tidak bisa dihubungi.
"Titip, Asha!" ucapnya dengan nada lega.
"Hemm!"
Tut Tut Tut
Telpon terputus, dan Bimasena bergegas ke kantor sang atasan.
Tok tok tok
"Masuk!"
Dengan muka serius, Bimasena meletakkan berkas di atas meja sang atasan.
"Tolong Bapak tandatangi berkas ini," pinta Bimasena yang lebih mirip seperti perintah.
Dahi atasan Bimasena jelas mengekerut.
"Apa ini? Kenapa tiba-tiba mengajukan surat permohonan ijin kawin?"
"Tolong tandatangi sekarang, Pak!"
__ADS_1
Polisi dengan banyak bintang di bajunya itu sampai heran. Kenapa anak buahnya mendadak minta ia menandatangani berkas ijin kawin malam itu juga? BERSAMBUNG
YES OTW KUA, not halu.