
Cinta Dalam Diam Bagian 7
Oleh Sept
Haris masih berjibaku dengan rasa frustasinya. Ia sangat terpukul dengan apa yang sudah ia lakukan. Sembari memejamkan mata lekat-lekat, Haris bisa mengingat bagaimana kejadian tadi malam.
Semakin diingat semakin gambaran kejadian semalam seperti terputar di depan mata. Ya, Haris sudah melakukan sesuatu yang salah. Sebuah kesalahan yang mungkin tidak akan termaafkan oleh Asha.
Bagaimana bisa, pria itu semalam malah tidur dengan Clara. Teman main, bukan teman akrab. Hanya sekedar kenal. Tapi malah sudah melakukan HB. Sungguh ironis, ditambah lagi tidak ada bercak di atas seprai. Ya, Clara sudah pasti gadis yang tidak gadis lagi.
Wanita itu pasti sudah menjebak dirinya. Marah tapi dia juga merasa bersalah, ia hanya bisa mengepalkan tangan. Kemudian mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tahan, ingin teriak yang kencang.
Beberapa saat kemudian
Haris sudah kembali memakai bajunya dengan lengkap, meski nampak kusut. Ia duduk di tepi ranjang sembari menatap Clara. Gadis itu masih terlelap. Pria itu benar-benar bingung, harus bagaimana.
"Clara! Bangun ... Clara!" panggil Haris.
Clara pun mengeliat, membuat selimut yang semula menutupi tubuhnya sedikit tersingkap. Sehingga membuat tubuhnya kembali terekspose.
Marah, benci, stress, Haris kemudian membetulkan selimut.
"Bangun! Aku tahu kamu pura-pura tidur!" gertak Haris yang sepertinya sangat putus asa. Ia memikirkan bagaimana nasib Asha.
Dengan gaya mempesona, seperti ulat bulu yang sedang gatal-gatalnya, Clara mengeliat kembali. Kemudian meraih lengan Haris.
"Aku ngantuk banget, semalam kamu hebat Ris. Kuat banget mainnya. Aku pikir kamu pria polos. Ternyata kamu sangat panas juga di atas ranjang," celoteh Clara dengan bibir yang dibuat memble. Biar nampak lebih menggoda.
Kepala Haris rasanya makin nyut-nyutan. Ingin rasanya ia berteriak marah pada Clara. Tapi bayangan semalam saat ia naik ulat bulu tersebut, membuatnya ingin lenyap dari muka bumi sekarang juga. Ia mengusap wajahnya berkali-kali, sungguh Haris pada mode frustasi.
"Kamu pasti menjebakku! Apa kau menaruh obat pada minumanku?" tuduh Haris yang sudah mulai bisa mengantur napas. Sejak tadi, ia menahan emosi.
"Apa maksudmu, Ris?" tanya Clara pura-pura polos.
"Aku gak mungkin ngelakuin itu saat sadar, pasti kamu melakukan sesuatu!" gertak Haris marah.
__ADS_1
"Ya ampun Haris ... kamu kok begitu? Setelah apa yang terjadi semalam sama Kita? Ya ampun ... aku gak nyangka. Kamu pria seperti itu!" ujar Clara pura-pura sad. Ia memasang muka seperti korban.
Haris tidak bisa berkata-kata, dan lagi ia juga tidak tahu harus bagaimana. Akan dibawa ke mana masalah ini?
Clara mulai mengamati wajah Haris yang frustasi tersebut. Kemudian ia kembali berakting.
"Oke, fine ... terserah kamu sekarang. Anggap saja ini gak pernah terjadi!" ketus Clara. Wanita itu kemudian turun dari ranjang, dan Harus langsung memalingkan wajah.
Clara tersenyum licik, kemudian memunggut semuanya, CD, OBH, dan semua pakaian yang tergeletak di atas lantai.
Beberapa saat kemudian
Keduanya sama-sama keluar dari kamar hotel.
"Anggap Kita tidak pernah ke mari, anggap juga nggak ada sesuatu antara Kita!" cetus Clara.
Wanita itu kemudian berbalik, berjalan mendahului Haris. Sambil berjalan angkuh, Clara tersenyum jahat.
"Kena kau!" gumamnya kemudian menghilang masuk dalam lift.
***
Beberapa hari kemudian
Asha khawatir, kok Haris sekarang jarang ngajak jalan dan jarang komunikasi. Alasannya pasti banyak lembur. Tapi bapak bilang kantor sepi, tidak ada kegiatan lembur. Dari sini Asha mulai mengendus sesuatu yang aneh.
Padahal biasanya Haris rajin WA hal receh. Mendadak pacarnya itu kok jadi aneh. Seperti menjauh. Pada kenyataannya, Haris sedang tengelam dalam rasa bersalahnya. Memang benar Clara tidak menghubungi dirinya, tapi Haris kok takut sendiri. Entah mengapa, fellingnya mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi.
Sudah seminggu ia tidak bertemu Asha, mungkin rindu, Haris pun memutuskan ke RSCW. Di mana di sana Asha sedang bertugas.
Asha yang tidak tahu ada kunjungan pacar tiba-tiba, ia pun malah santai bercanda dengan seorang dokter di salah satu bangku taman. Keduanya terlihat akrab, sesekali dokter pria itu menatap kagum pada Asha. Dari jauh Haris bisa tahu, kalau dokter itu naksir pacarnya. Cemburu, Haris mendekati keduanya.
"Sah ...!" panggil Haris.
Asha langsung menoleh. Wajahnya berbinar-binar ketika melihat siapa yang datang.
__ADS_1
"Mas Haris! Dok, kenalan ini Mas Haris!" ucap Asha mengenalkan dua pria tampan tersebut. Satu pejabat bank, satunya lagi dokter yang juga sedang mengambil spesialis.
Tanpa Asha tahu, dokter itu sebenarnya sudah naksir berat pada Asha. Dasar Asha tidak peka, perhatian dokter tersebut ia anggap seperti perhatian seorang rekan kerja dan teman seperjuangan.
"Febrian!" dokter tampan itu mengulurkan tangan.
"Haris!" Dan Haris pun menyambutnya dengan enggan.
Keduanya bejabat tangan, tapi dengan sorot mata yang sama-sama tajam setajam peniti buat phasmina.
***
Di dalam mobil.
"Jangan senyum pada pria lain, Asha!" celetuk Haris.
"Dia temen kuliah Asha, Mas. Dan sekarang jadi rekan kerja. Ya Asha seneng dong ketemu temen lama, masa ketemu temen harus cemberut?" elak Asha.
"Ish! Kamu ini."
"Aduh!" Asha mengaduh ketika Haris mencubit ujung hidungnya.
Lama-lama akhirnya suasana menjadi mencair. Mungkin juga karena rindu tidak ketemu beberapa hari. Sepanjang jalan, keduanya sesekali saling melirik.
Hingga sampai di depan rumah Asha. Haris sepertinya ingin mengatakan sesuatu.
"Asha ...!"
"Ya," jawab Asha sambil menoleh. Sedangkan tangannya sibuk melepas seatbelt.
Haris menarik napas panjang, kemudian wajahnya menjadi serius. Pria itu kemudian menatap Asha lekat-lekat.
"Maukah kamu menikah denganku?"
Asha mendongak. BERSAMBUNG
__ADS_1