
Dokter Asha and KOMPOL Bimasena Bagian 32
Oleh Sept
Dari Bandara, mereka kemudian langsung pulang ke rumah sultana. Di sana semua sudah berkumpul, acara liburan kini terhenti sejenak. Mereka fokus pada Asha yang ternyata sudah berbadan dua.
Sebenarnya Asha sudah merasa aneh pada tubuhnya akhir-akhir ini. Hanya saja 4 tahun kosong, ia tidak mau kecewa dan terlalu banyak berharap. Jadi ia pikir hanya telat biasa. Tidak tahunya Allah menitipkan malaikat kecil lagi dalam rahimnya.
Hari itu juga, keluarga sultan tersebut memanggil dokter ke rumah. Berbeda dengan orang biasa, harus antri di rumah sakit, itu pun harus menunggu nomor antri. Asha sangat beruntung, karena di kelilingi orang-orang baik dan sayang dengan tulus padanya.
Saat dokter menyatakan ia hamil, sudah pasti para pria-pria sangat gembira. Terutama Zidan dan ayahnya. Saking gembiranya, mereka pada lebay. Bayangkan saja, Asha harus minum su su buatan mereka semua. Buatan sang suami, Bimasena. Buatan Andri, buatan Haris, buatan Dika, buatan mbak Nia, dan buatan mbk latifah.
Apa mereka mau baby Asha kembung? Asha sampai protes. Hingga ia hanya mampu minum 3 gelas saja. Begitulah cinta yang tercurah untuk Dokter Asha. Karena tulusnya, sampai semua membuatkan minuman bergizi itu untuk ibu hamil muda tersebut.
"Mana bisa Asha minum semuanya?" protes ibu hamil muda tersebut.
Semua hanya saling menatap, sedangkan Bimasena lah yang terlihat paling sumringah. Akhirnya, usaha yang selalu ia lakukan sampai beronde-ronde membuahkan hasil juga.
***
Malam harinya suasana rumah yang megah itu sangat ramai. Rupanya pasangan sultana tersebut mengelar acara syukuran. Mereka mengundang ratusan anak yatim, sebagai rasa syukur mereka karena Asha yang sudah dianggap adik sendiri, akhirnya kembali hamil.
Sebagai rasa syukur mereka karena limpahan kebahagian yang sudah Allah berikan kepada mereka. Dan acara pun berjalan dengan khusu serta lancar jaya.
Nah, masalah kembali muncul ketika keluarga Mbak Latifah ingin Asha di sana sampai 3 bulan ke depan. Mengingat Asha sedang hamil, apalagi masih sangat muda. Takut kalau melakukan penerbangan, takut bila janin dalam rahimnya kenapa-kenapa.
"Bim ... Asha di sini saja ya. Biar nunggu sampai beberapa bulan."
Latifah yang memang sangat sayang pada Asha, mencoba merayu Bimasena. Jelas ditolak langsung. Mana bisa Bimasena jauh-jauh dari Asha. Kecuali kalau lagi tugas negara.
"Kamu gak takut janinnya kenapa-kenapa?"
Kakak kandung Dika tersebut terus saja mencoba merayu. Barangkali Asha boleh tinggal dengannya.
"Zidan bagaimana? Dan lagi nanti kita konsultasi sama dokter."
Latifah menghela napas panjang. Sudah jelas pasti Bimasena tidak mau melepaskan Asha.
Akhirnya, dokter kembali datang. Tentunya dengan membawa banyak obat. Karena lusa mereka akan balik ke ibu kota. Masa cuti sudah habis. Mereka harus kembali ke rutinitas sehari-hari.
__ADS_1
***
Malam terakhir di Kalimantan.
Mereka semua minta tidur dengan Asha, tidak mau pisah. Latifah yang sudah dewasa itu, mendadak merajuk seperti anak-anak yang minta mainana.
Mungkin kalau ada Asha di sope pasti sudah dibelilkan oleh suaminya. Latifah menangis karena Asha mau pulang bersama suami dan rombongan.
"Ya Allah, bulan depan Kita ke Jakarta."
Baru dibujuk suaminya seperti itu, latifah baru bisa menguasai diri. Rasanya berat melepaskan Asha. Harusnya dulu ia lamar lebih cepat. Tapi kedahuluan Bimasena.
"Jangan dikembalikan ... ini milikmu, Dika dan kami sudah menyiapkan ini semuanya."
Latifah menyerahkan sebuah seserahan, seperti paket hantaran lamaran.
Asha jelas menolak, apalagi ia sudah menikah. Ia menjaga betul perasaan suaminya.
"Maaf Mbak ... tapi Asha gak pantes menerima ini."
"Ini dibeli buat kamu. Dulu ... dulu sekali. Jika kita tidak bisa jadi saudara karena pernikahan ... mbak mohon. Meski kamu gagal jadi calon adik ipar Mbak. Anggap saja kita saudara."
"Tapi Mbak." Asha menatap suaminya. Mana berani ia menerima seserahan itu.
"Bukan untuk maksud apa-apa. Terimalah. Ini dibeli memang untukmu." Ada raut kesedihan di wajah jomblo premium tersebut.
Bimasena sekarang yang merasa tidak enak pada kebaikan Latifah dan keluarganya. Ia pun kemudian mengangguk dan menatap Asha. Akhirnya, seserahan untuk lamaran itu pun kini diterima. Sebuah satu set perhiasan yang mungkin harganya setara rumah. Haduh, sultana. (Semoga hidup kalian dilimpahi banyak berkah di dunia dan akherat. Aamiin).
***
Meski berat akhirnya mereka semua harus berpisah. Sempat dihujani air mata. Tapi akhirnya semua pisah dengan menyimpan banyak kenangan indah semasa liburan.
"Makasih banyak mbak Latifah, maaf banyak merepotkan."
Semua mengucap banyak rasa terima kasih pada sultan batu bara tersebut. Saling memeluk, melepas kerinduan yang pasti bakal kangen lagi.
"Hati-hati kalian, nanti main lagi ya."
Asha mengangguk, sempat sedih karena harus pergi dari sana. Tapi mereka semua memang harus balik. Maunya sih di sana lama. Apalagi kolam renang di sana ada air hangatnya. Rasanya pasti betah.
__ADS_1
"Kami pergi dulu Mbak ... Mas."
Perpisahan pun akhirnya harus terjadi. Mereka saling melambai, berharap ada kesempatan untuk bersua lagi.
***
Jakarta
Pulang dari Kalimantan mereka langsung istirahat di rumah. Rasa lelah habis liburan begitu terasa. Apalagi Asha yang sedang hamil. Ia yang biasanya full energy, jadi agak loyo. Bersyukur ada bibi yang selalu cekatan membantu Asha selama ini.
Hingga beberapa hari kemudian, setelah Bimasena pulang tugas mereka semua pergi ke mini market. Bima, Asha, Zidan dan Aila. Seperti biasanya, kalau ayah mereka pulang, pasti nodong kinder.
Hari itu semua normal-normal saja, tidak ada firasat apapun. Mereka pergi dengan perasaan gembira seperti biasanya. Zidan dan Aila mengambil apa saja yang mereka mau. Dua anak itu juga wajahnya nampak riang gembira.
"Ibu Zidan mau ini!"
Asha mengangguk.
"Aila juga!" ucap Aila.
"Iya, Sayang. Ambil aja." Asha mengusap rambut anak-anak lucu tersebut.
Setelah belanja banyak mainan, snack dan lain-lain. Asha dan Bimasena menunggu di kasir. Mereka tidak menyadari, sebuah taksi sudah menanti di luar sejak tadi.
Begitu Asha terlihat lengah, tiba-tiba Clara muncul dan menarik paksa tangan Aila.
"IBU ... IBU ...!" Aila menangis berteriak memanggil dokter Asha.
(Aku nangis bayangin Aila manggil-manggil dokter Asha ketika tangannya ditarik mama kandungan)
Spontan Asha lari keluar mengejar Aila yang dibawa lari oleh Clara.
"Clara! Hentikan!"
Clara langsung masuk taksi, dan langsung menutup pintunya.
"Jalan, Pak!"
Seperti orang gilaaa, Asha berlari mengejar mobil taksi tersebut. Cinta tulusnya pada Aila selama ini membuatnya tidak peduli pada apapun. Ia sedang hamil, tapi tidak peduli. Dalam kepalanya hanya ingin meraih Aila yang menangis memanggil namanya. Asha terus mengejar hingga sebuah kendaraan menghantam tubuhnya.
__ADS_1
BRUAKKK ...
Tubuh Asha terpental jauh, membentur aspal hitam. Mengeluarkan banyak darah di kepalanya. Menyaksikan itu dengan mata kepalanya, dunia Bimasena langsung sunyi, sepi, senyap. Kecelakaan yang menimpa istrinya, membuat tubuhnya terasa lemas. Asha yang terluka, tapi tubuh Bimasena yang terasa remuk redam. BERSAMBUNG.