
***
Setelah kepergian Rido, Nazra langsung menuju kamarnya dan kembali merebahkan tubuhnya diatas empuknya kasur yang bagaikan surga dihari libur.
Kedua orang tuanya tak mau ikut campur urusan pribadi antara putrinya dan sahabatnya itu, karena bagaimanapun segala sesuatu tidak dapat dipaksakan itulah sebabnya Pak Rizal dan Bu Tika tidak mau nimbrung.
"Maaf ya Do, aku tu anggep kamu udah kayak abang aku sendiri jadi aku sulit buat buka hati." Helaan nafas pelan mengiringi gumaman Nazra tentang perasaannya.
"Andaikan mas ojol manis itu peka pasti..."
Brakk !!!
Gumaman Nazra terhenti karena suara pintu yang dibuka dengan kekerasan bahkan lebih parah dari adegan KDRT, membuat Nazra mengumpat tak jelas karena dirinya terkejut bukan main dan bukan nonton.
"Astojim, meong, guguk, keong, onyet, buwung puyuh!!!!!“ pekik Nazra terlonjak, dan hampir saja siimut kebun binatang tersebut semuanya.
" Sebut semuanya aja kak, gakpapa." Ucap Fatih datar.
"sopan santun mu kemana sih dek? Kamu gadaiin apa sih?" Tanya Nazra yang masih dalam keadaan setengah sadar karena nyawanya lompat beberapa keluar dari raganya akibat kaget karena ulah adiknya.
"Sopan santunku luntur kak kenak ujan." Jawab Fatih tanpa dosa dan kemudian duduk disamping sang kakak.
"Beh, dikira koran kalik kenak hujan tulisannya luntur." Gerutu Nazra kembali merebahkan tubuhnya.
"Rebahan mulu kak kayak nggak ada yang lebih bagus aja dari rebahan." Ucap Fatih menggoyang kan kaki sang kakak.
"Mau ngapain sih dek, kakak lagi pengen rehat." Jawab Nazra dengan malas, gini nih kalo punya adek gampang gabut, rusuh bener.
Bukannya menjawab sang kakak, Fatih malah terbengong sendiri. Ntah apa yang dipikirkannya hingga bisa tiba-tiba menutup mulut tanpa niat bersuara sendikit pun.
Kalo udah gini Nazra bisa lebih tenang karena tidak lagi mendengar ocehan Fatih yang nggak jelas. Namun semua hanyalah harapan semu, karena beberapa detik lamanya Fatih terdiam kini sudah membuat kegaduhan yang luar biasa memuakkan bagi Nazra.
"Kakak kakak kakak kakak kakak." Panggil Fatih berulang kali sampai sampai Nazra tak memiliki kesempatan menjawab.
"Kak jawab dong." Ketus Fatih.
"Gimana mau jawab kamu aja manggil kakak nerocos gitu." Sewot Nazra seraya menatap adiknya dengan sinis penuh amarah.
"Maap." Jawab Fatih memelas, berharap sang kakak tak lanjut marah padanya karena telah terganggu waktu rebahannya, emang kalo singa betina lagi hibernasi diganggu bisa auto jadi iblis bertanduk rusa.
"Kamu mau apa?" Tanya Nazra datar.
"Mau minta tolong." Ucap Fatih ragu ragu.
"Apaan?"
"Fatih kehujanan kemarin, kayak mau demam coba kakak periksa." Ucap Fatih merebahkan dirinya disamping sang kakak.
"Lah kenapa bilang kekakak?" Tanya Nazra dengan santai nya, sepertinya dirinya lupa kalo seorang dokter.
"Ya tolong kakak periksa." Ucap Fatih menarik tangan Nazra.
"Kerokan sana lah dek, masuk angin kalik itu." Ucap Nazra menarik tangan nya kembali.
__ADS_1
"Kan kakak dokter, adik sendiri sakit bukannya diobatin malah disuruh kerokan." Ketus Fatih dengan wajah cemberut. Emang hal yang wajar jika seorang adik akan bersikap manja kepada sang kakak. Dan begitu lah Fatih yang kadangkala bisa sangat haus perhatian dari sang kakak dan kadangkala juga bersikap manja tak tau tempat.
"Ya udah sini." Ucap Nazra pada akhirnya, karena dirinya juga tak tega melihat sang adik bila harus jatuh sakit.
"Kamu cuma masuk angin adek gantengnya kakak, nih kamu minum paracetamol deh terus selimutan sini biar cepet keluar keringet." Ucap Nazra setelah memeriksa keadaan sang adik yang memang benar suhu badannya agak sedikit hangat.
"Makasih ya kak." Ucap Fatih setelah meminum obat yang Nazra ambil dari laci meja sebelah tempat tidur.
Hanya senyum yang Nazra berikan sebagai tanggapan dari ucapan terimakasih Fatih, dan setelah itu Fatih mulai tertidur disamping Nazra dengan berbalut selimut tebal milik Nazra.
30 menit berlalu, Nazra masih berguling ria diatas kasur empuknya dan Fatih masih terlelap di sampingnya dengan selimut tebal membalut badannya hingga sebatas leher.
Perlahan Fatih mulai membuka matanya karena badannya sudah merasa mulai ringan, dan terlihat sang kakak yang lagi menikmati sensasi kepala dibawah dan kaki diatas ranjang.
"Kakak ngapain?" Tanya Fatih terheran melihat kelakuan sang kakak yang absurd parah.
"Lagi menikmati sensasi indahnya terbalik." Jawab Nazra santai.
"Emang apa indahnya?" Tanya Fatih penasaran.
"Ya indah pokoknya."
"Gabunglah." Ucap Fatih yang sudah memposisikan diri disebelah sang kakak.
"Udah sehat?" Tanya Nazra perhatian.
"Mendingan kak. Oh ya kak, kalo kakak mau curhat kayak biasanya Fatih ada buat kakak." Ucap Fatih, memang sudah biasa jika ada sesuatu maka Nazra akan menceritakan kepada sang adik dan begitu pun sebaliknya.
"Emang salah ya kakak nolak Rido?" Tanya Nazra yang memulai sesi curhatnya.
"Kakak cuman gak mau kalo persahabatan yang kakak jalani saat ini sama dia bisa bubar gitu aja karena masalah perasaan." Ucap Nazra melanjutkan curhatan hatinya.
"Iya sih kak, dulu kalian juga udah pernah selisih lebih baik jangan lagi karena persahabatan lebih penting daripada ego." Ucap Fatih dengan sangat bijaknya, tumbenan adiknya mampang bisa sebijak itu.
"Jujur saat ini hati kakak udah ada yang mampir." Ucap Nazra yang sudah mulai senyam senyum.
"Huluh huluh kakak, Fath boleh tebak ga nih?" Tanya Fatih dan mendapat anggukan dari Nazra.
"Oke, pasti yang mampir ke hati kakak orangnya hitam manis kumis tipis?"
"Bisa jadi bisa jadi."
"Orang biasa bukan pria berkarir betul?"
"Iya iya betul."
"Mmmm mas......"
"Tunggu dek kakak encok, ganti posisi." Ucap Nazra menghentikan ucapan Fatih guna merubah posisi menjadi telungkup. Sontak hal itu pun diikuti oleh Fatih.
"Yodah lanjut, pasti mas ojol yang waktu itu ya kak." Ucap Fatih tepat sasaran dan membuat Nazra melongo takjub dengan bakat sang adik yang bagaikan dukun beranak.
"Kkk...kok kamu tau?" Tanya Nazra spontan.
__ADS_1
"Jawab dulu iya atau nggak?" Tanya balik Fatih.
"Hmm kamu diem diem dulu ya, soalnya mas ojolnya kayak gak peka sama kakak." Ucap Nazra sendu.
"Berarti bener nih?" Tanya Fatih memastikan.
"Yaaa bener, orang nya manis dek bikin kakak suka." Jawab Nazra dengan malu malu sontak membuat Fatih tertawa karena melihat sang kakak yang salah tingkah.
"Kalian kenapa?" Tanya Bu Tika dari depan pintu.
"Ehh bunda, lagi bercandaan aja kok bun." Jawab Nazra dengan posisi yang masih sama.
"Itu posisinya ngapa gitu? Kaki digantungin badan dibawah?" Tanya Bu Tika heran melihat posisi kedua anaknya yang gak nyaman sama sekali.
"Posisi enak buat curhat bun, kakak ternyata suka sama...." Belum selesai Fatih berucap mulutnya sudah di bekap oleh Nazra.
"Adek sayang jangan ngelantur ya." Peringatan dari Nazra agar Fatih tidak asal bicara kepada sang bunda.
"Iya iya kak, kakak lagi curhat masalah kejombloan nya bun." Ucap Fatih setelah tangan Nazra terlepas.
"Ya Allah kak, kan ada Rido kenapa masih bingung." Goda Bu Tika.
"Bun aku sama doremi sahabatan aja gak mau lebih, takut ada masalah terus musuhan kan gak enak." Adu Nazra kepada sang bunda.
"Terserah kamu, oh ya kalo kamu udah ada calon bawa kerumah ya." Lanjut Bu Tika kembali menggoda sang putri, karena obrolannya dengan Fatih sejak tadi sudah terdengar oleh Bu Tika.
"Apaan sih bun." Ketus Nazra cemberut.
"Ups kayaknya bunda udah tau nih." Ucap Fatih memandang sang kakak dengan tatapan "hayoloh".
Sedangkan Nazra malah menyembunyikan wajah nya dibalik bantal kodoknya karena malu dan salah tingkah. Melihat hal itu bu Tika hanya bisa tersenyum dan Fatih sudah dipastikan tertawa geli menyaksikan tingkah lucu sang kakak.
____
Ditempat lain, Rido sedang curhat kepada Caca dan Panji soal dirinya yang kembali ditolak oleh Nazra.
"Gimana ya bro, aku ditolak lagi." Ucap Rido memelas.
"Ya emang bukan jodohmu kalik do." Jawab Caca.
"Apa kata Nara pas tadi nolak kamu?" Tanya Panji yang malah penasaran alasan apalagi yanga Nazra ucapkan untuk menolak Rido.
"Dia bilang udah ada kandidat sesuai sama yang dia mau." Jawab Rido.
"Kemarin sih dia bilang gitu juga tapi aku belum dikasih tau siapa orangnya." Sambung Caca.
"Bantu aku cari tau siapa yang udah rebut hati Nara." Ucap Rido dengan serius membuat Caca dan Panji berkerut kening tak mengerti.
"Pokoknya aku minta tolong kalian bantu cari tau siapa laki-laki yang udah masuk kehati Nara." Tegas Rido sekali lagi.
"Mau apa kamu?" Tanya Caca bernegatig thinking.
"Jangan yang nggak nggak ya Do, aku gak mau ikutan." Ucap Panji lebih tegas.
__ADS_1
"Udahlah kali ini aja bantuin aku."