
-_-
Lain halnya dengan Nazra yang galaunya melebihi anak abg patah hati, berbeda pula dengan Faiz yang malah kayak bebek bengek, plonga plongo nggak jelas, dan lagi kalo diajak ngomong suka nggak nyambung.
"Gimana Iz? Udah ada kemajuan?" Tanya Ardi yang duduk di samping Faiz.
"Paiz yang ganteng nya kayak Rizky Bilar habis kesiram kuah bakso, gimana kelanjutannya?" Tanya Roy yang ternyata juga penasaran.
Bukannya menjawab, Faiz malah asik menyeruput kopinya dengan seksama dan sesingkat singkat nya. Tak peduli dengan dua orang disebelah nya yang bertanya berkali-kali dengan pertanyaan yang sama.
"Jawab ngapa loh Iz." Geram Roy yang sejak tadi menunggu jawaban namun tak juga mendapatkannya.
"Hadeh, kopinya enak mas. Pait kayak kisahku." Desah Faiz malas.
"Konslet nih bocah Roy, nggak nyambung." Ucap Ardi sambil menantap Faiz kesel. Gimana gak kesel ditanya apa jawabnya apa.
"Iya nih mas, coba deh tanya sekali lagi." Jawab Roy.
"Paiz kembarannya Aliando, kelanjutannya gimana?" Tanya Ardi untuk yang terakhir kalinya dengan penuh penekanan.
Krik krik krik
Tak ada jawaban dari Faiz, hingga membuat Ardi dan Roy mendesah kesal akibat perlakuan temannya yang satu ini. Sudah lah aura nya suram, diperhatiin malah sok gak peduli, mau digeprek untung temen begitulah pikir Ardi dan Roy saat menghadapi Faiz yang seperti ini.
"Kelanjutannya kopinya habis dan aku kenyang air mas." Ucap Faiz setelah beberapa saat hanya diam dengan tatapan kosong tapi mulut tetep aktif menyerupat kopi.
"Gak ada hubungannya sama pertanyaan kita Iz." Sengit Roy dengan aura kesalnya.
"Udahlah Iz bagusnya emang kopi mu tadi dikasih sianida biar kamu lewat, gak nyebelin begini." Gerutu Ardi yang kemudian menjaga jarak aman dari Faiz.
"Lah mas, emang kalian tu nanya apa loh " Tanya Faiz yang sebenar nya tak ada minat sedikit pun, hanya demi menghargai usaha teman.
"Udah hampir kesekian kalinya loh Iz kita nanya, pengen tak rebus kamu lama-lama jadiin kuah kaldu jamur." Sewot Roy yang ternyata lebih mudah tersulut emosi.
"Sabar mas calm down inget anak istri dirumah menanti uangmu." Ucap Faiz santai tanpa rasa salah dan dosa setitik pun dijiwanya. Padahalkan dia yang jadi sumber emosi dari dua orang temannya eh malah dia pulak yang sok jadi penengah.
"Paiz jawab ya nak, kelanjutan kisah mu gimana? Kok akhir-akhir ini keliatan nya suram gitu kayak ayam jago kalah adu." Ucap Ardi penuh penekanan supaya Faiz segera memberikan jawaban.
"Nyesek mas." Jawab Faiz pada akhirnya menyerah.
"Lah gimana Iz kok bisa?" Tanya Roy yang seketika melupakan emosi jiwanya.
"Bapak bilang bu dokter cantik udah punya doi." Ucap Faiz dengan segala kegalauan yang menyerangnya.
Dan seketika itupula Ardi dan Roy turut merasakan kegalauan yang dirasakan Faiz, namanya sahabat apapun yang dirasa akan menular kecuali enaknya ehem sama istri masing-masing karena sampai detik ini pun Faiz masih jomblo dan tak paham enaknya tiap waktu malam.
"Kok bapak mu tau sih Iz?" Tanya Ardi.
"Bu dokter cantik makan ke warung bapak, nah disitulah bapak tau." Jelas Faiz dengan tatapan kosongnya.
"Kalik aja temen doang Iz." Ucap Roy mencoba berpositif thiking dan meredakan kegalauan yang Faiz rasakan.
"Temen kok kata bapak mesraan gitu mas, temen apa temen." Ucap Faiz yang semakin terlihat murung.
"Sebelum janur kuning melengkung, berarti masih lurus Iz." Ucap Ardi memberikan sebuah pepatah
"Karena masih lurus itu kamu masih ada kesempatan nembus." Sambung Roy dengan istilah barunya.
"Nembus apanya mas?" Tanya Faiz dengan kepolosannya.
__ADS_1
"Hatinya bu dokter lah Iz, kamu kira apaan? Jangan ngadi ngadi ya." Ketus Roy, sedangkan Ardi malah ngakak nggak jelas.
"Kirain." Ucap Faiz datar.
"Apaan?" Tanya Ardi dan Roy kompak
"Nembus apa gitu yang dijamin manjur, biar bu dokter jadi milikku seorang." Ucap Faiz apa adanya yang sebenarnya ada apanya.
"Tembus aja sampek tek dung." Sewot Roy.
"Ya kalo buk dokter nya mau mending, kalok kagak kan sakit." Lanjut Ardi dengan tawa kecil penghinaan.
"Aku tak sebejat itu wahai penghuni neraka." Ucap Faiz yang kemudian beranjak dari duduk nya.
"Heh mau kemana kamu?" Tanya Ardi.
"Cinta tertolak dukun bertindak." Jawab Faiz sekenanya.
"Kamu kan belum nyatain cinta Iz kok udah tertolak?" Sanggah Roy.
"Tauk ah terang mas." Ucap Faiz dan kemudian berlalu pergi bersama sikupi.
_____
"Ya Gusti, endus serendul tekendu kendul oleng kapten aye aye!!!." Pekik Faiz yang mengendari motornya dengan kecepatan sedang disebuah tikungan yang tidak terlalu tajam setajam tikungan doinya bu dokter.
"Ehhh beneran oleng Ibuk to......."
Guuuubbraaaaakkkkkkm!!!!!
Disuatu jalan nan lurus dan aspal yang halus, bahkan jalur tersebut terlihat lengang tanpa lalu lalang tiba-tiba Faiz terjungkal, terguling tergelinding dari sikupi motor hitam kesayangannya.
"Aduh buk celana baru sobek." Keluh Faiz yang masih dalam posisi tersungkur diatas aspal.
"Nggak ada yang niat nolongin nih? Lewat doang dasar gak berperikesemutan emang ada manusia jatoh gak ditolongin." Lanjut nya lagi yang malah mengomeli sekawanan semut yang kebetulan melintas di hadapan nya.
Semenit kemudian Faiz menepikan motornya yang sudah berantakan karena terlampau kencang nya terhempas diaspal, dengan tertatih Faiz mencoba duduk di pinggiran jalan seraya menikmati rasanya pedih dan perih dihati serta luka di sebagian tubuhnya.
"Nelpon mas bro upin dan ipun dulu." Gumam Faiz berusaha menghubungi dua Soib seiya sekata beda nasib nya.
"Halo mas jemput di jalan lurus yang gak tulus." Ucap Faiz setelah panggilan terhubung.
"Udah lah pokok nya jemput, kalian boncengan aja, tak tungguin gak pakek lama terus jangan asin pakek telor ya dua." Sambung Faiz dan kemudian sambungan telepon pun terputus.
"Hehe kek pesen martabak." Gumam Faiz yang rebahan di pinggiran jalan, rasa sakit sudah mulai terasa bahkan membuatnya lemas tak berdaya. Apalagi sakit dihati nya yang semakin membuatnya lemah tanpa arah dan patah.
Beberapa menit kemudian tibalah si Upin dan si Ipun yang tak lain adalah Ardi dan Roy. Dengan rasa bingung ditambah keterkejutan nya melihat Faiz yang tergeletak di pinggiran jalan, keduanya malah berjongkok lemas sambil ngerokok asik.
"Kamu kenapa Iz bobok disini?" Tanya Roy tanpa sadar bahwa sahabatnya adalah korban kecelakaan tunggal.
"Habis guling guling kasur mas." Jawab Faiz.
"Pulang yok bobok dirumah peluk istri." Sambung Ardi.
"Jomblo mas adanya guling kalok aku." Jawab Faiz lagi tanpa membuka matanya.
"Ehhh Asti Ananta, eh salah Astagfirullah maksudnya, kamu jatuh Iz?" Pekik Ardi yang menyadari motor Faiz telah tergores pasrah.
"Kamu kecelakaan Iz makanya minta jemput?" Tanya Roy tersadar akibat teriakan Ardi didekat telinganya.
__ADS_1
"Seperti yang pemirsa liat." Pasrah Faiz menahan rasa perih diluka luka nya.
"Kok bisa Iz? Kamu ditabrak lari atau adu kambing atau gimana?" Tanya Ardi beruntun dengan kekhawatiran yang terlihat jelas di wajahnya nya yang biasa saja.
"Oleng kapten." Singkat Faiz.
"Otewe RSJ mas Ardi." Ucap Roy.
"RSUD ajalah ngapain RSJ, dia gilanya belum parah." Sanggah Ardi.
"Kejauhan mas, ke klinik permata bunda aja." Ucap Roy.
"Dia gak mau lahiran Roy, ngapain kesitu?" Tanya Ardi kesel, bagaimana bisa orang kecelakaan dibawa ke Klinik bersalin.
"Iya juga ya ngapain, kalo gitu didepan ada Dr. Okan mas." Ucap Roy yang kembali menyulut kekesalan Ardi.
"Aku bukan sapi mas, ngapain dibawa ke dokter hewan?" Ketus Faiz.
"Lah Dr. Okan dokter hewan ya?" Tanya Roy lugu.
"Bukan, tapi dokter mantan." Ketus Ardi yang kemudian membantu Faiz untuk berdiri.
"Kok mantan?" Tanya Roy masih tidak paham.
"Anji*g." Jawab Faiz sekenanya dan berhasil membuat Roy terdiam.
"Binatang dong." Gumam Roy yang turut membantu Ardi menolong Faiz.
___
Dalam perjalanan Faiz hanya terdiam dengan sesekali mendesah menahan sakit karena luka di sebagian tubuh nya terkena hembusan angin.
Setibanya diRSUD Faiz langsung di bawa ke UGD namun na'as Faiz tak cepat diberi pertolongan karena keadaan RS sedang dilanda kepanikan hebat karena ada korban kebakaran yang dilarikan kesana.
Dan apesnya lagi Faiz ditinggal sendiri karena Ardi harus segera pulang karena sang anak mengalami demam, sedang kan Roy sedang dibengkel membawa sikupi kekasih Faiz untuk berobat.
"Nasib, luka hati aja masih basah belum kering nambah luka nyata." Gumam Faiz meratapi nasibnya.
"Andaikan bu dokter cantik disini maka seketika luka ini pasti akan mengering Ya Allah." Gumamnya lagi seraya memejamkan mata, berharap apa yang diucapkan nya akan menjadi nyata.
Kreeeeekkk...
Beberapa detik setelah Faiz memejamkan mata, pintu UGD terbuka tanda ada seseorang yang masuk kedalam ruangan itu. Faiz tak peduli siapa yang datang menghampiri nya, yang jelas saat ini merem dan membayangkan bu dokter cantik adalah obat penawar rasa perih untuk luka-lukanya.
"Bisa di luruskan kakinya mas." Ucap seseorang yang baru masuk itu dengan lembut khas suara seorang perempuan, mungkin dokter yang akan menolongnya pikir Faiz.
Tanpa membuka matanya yang ia tutupi menggunakan tangan, Faiz meluruskan kakinya tanpa ingin tau siapa dokter perempuan yang mengobatinya.
"Mas Faiz......."
-_-
Mikom Warga🙏 maap yak aku baru nongol 🙂
Udah lewat 3 hari aku baru update ini, maap beut dah yak warga, kemaren aku lagi ada masalah hidup soalnya🙂 ada accident yang buat aku gak bisa update🙏
Aku harap warga gak ada yang kabur ninggalin aku kan yak🥴 aku sedih beut dicerita mas ojol ama mbak dokter banyak kendala dan gak selancar waktu mas pol dulu 😞
Sekali lagi maap yak warga🙏
__ADS_1