
••••••
Yang diikira mas mas kredit panci ternyata adalah mas mas ojol yang lagi nguatin mental, maklum apel pertama kali. Dengan senyuman khasnya, Fais menyalami Bu Tika yang sudah senyum sumringah depan pintu.
"Eh mas Faiz yang dateng rupanya, saya kira mas mas kredit panci loh." Ucap Bu Tika seraya menggiring Faiz memasuki rumah.
"Malem malem emang masih ada buk yang kreditin panci?" Tanya Faiz menanggapi ocehan bu Tika.
"Kan kalik aja mas tuh kreditur panci belum menyerah." Jawab Bu Tika.
"Ibuk bisa aja, oh ya buk maaf, Nara ada kan buk?" Tanya Faiz dengan sopan, jika ngobrol panci sama bu Tika terus terusan yang ada agenda nemuin Nazra tergagalkan.
"Ohh pasti ada, dianya lagi galau gelisah merana. Tali ibuk suka liatnya hehe." Jawab Buk Tika disertai senyuman yang aneh. Ada gitu anaknya lagi galau patah hati malah seneng nih si ibu, agak kurang beres kayaknya.
Dan Faiz pun hanya menanggapinya dengan senyum canggung.
Bingung mau respon gimana, takut dosa ikutan bahagia diatas penderitaan calon istri, begitulah pikir Faiz.
"Ya udah ibuk panggilin Nazra dulu, dia lagi curhat sama ayah dan adeknya diatas." Ucap Bu Tika yang kemudian berlalu meninggalkan Faiz diruang tamu.
~~
Masih dikamar Nazra yang suasananya semakin kacau dengan polah ayah dan anak bujangnya yang ndak beres sedikit pun itu, ya kalik pada pasang muka panik dan bahagia membayangkan Nazra diseret genduruwo setengah drakula untuk dinikahi.
"Ya Allah, mengapa hamba engkau ciptakan diantara mereka? Hamba malu dengan malaikat atid dan Rakib Ya Rabb." Gumam Nazra mengasihani dirinya sendiri yang nyasar ditengah tengah keluarga amburadul itu.
"Kak ada yang nungguin dibawah." Kedatangan Bu Tika dengan kalimatnya membuat Pak Rizal dan Fatih menghentikan aksinya dan bergegas keluar kamar Nazra tanpa sepatah kata pun.
"Astaghfirullah dasar jiwa nitijreng, langsung ngiprit aja ndak pamit sama kanjeng ratu." Gerutu Bu Tika yang melihat langkah seribu suami dan anak bungsunya itu. Pasti sambil mikir dulu ada salah apa dapet suami modelan itu dan pernah ngidam apa kok anaknya begitu. Yang sabar ya Bu Tik..
"Siapa sih bund yang dateng?" Tanya Nazra dengan malasnya, dirinya saat ini malas untuk bertemu dengan siapapun. Ketemu angin aja males pakek banget malah.
"Mas ojol, dia mau ketemu kamu. Kalik aja dia mau ngajakin malam mingguan." Jawab Bu Tika enteng tanpa beban.
"Suruh pulang aja bund, lagian dia udah mau lamaran juga. Kakak nggak mau dituduh pelakor." Nazra memutuskan untuk tidak berhubungan lagi dengan Faiz, karena posisi Faiz sekarang sudah calon wanita lain. Dirinya tidak ingin dianggap sebagai pelakor dan di hujat oleh para nitizen sok benar yang berkeliaran.
"Temuin aja dulu kak, kalik aja ada yang mau diomongin. Bisa jadi kan dia ada kelupaan sesuatu pas siang tadi." Bujuk rayu setan pun terucapkan oleh Bu Tika, bagaimana caranya harus dilakukan agar Nazra mau menemui Faiz.
Dengan berat hati namun ringan kaki, Nazra mengangguk menyetujui ucapan Bu Tika. Mungkin saja bisa sekalian bilang untuk Faiz bahwa dia akan menjaga jarak dengan Faiz dan mengakhiri hubungan yang telah ia ciptakan bersama mas ojol itu.
Kembali keruang tamu dengan Faiz yang sudah dihadang oleh Maha Raja dan pengawalnya, siapa lagi jika bukan Pak Rizal dengan sang bujang, Fatih.
__ADS_1
"Yooo mas Faiz pertama ngapel pucet gitu." Ledek Fatih yang menahan tawa karena melihat ekspresi Faiz yang lebih mirip dengan kalelawar kesengat listrik.
"Ngapel nya ndak diwaktu yang tepat bro." Jawab Faiz seraya nyengir canggung.
"Salah mu sendiri mau pakek acara kejutan segala, yang ada kamu yang udah dikejut kejut dari sekarang." Ucap Pak Rizal menghakimi Faiz, walaupun begitu juga masih di dukung.
"Oh yaa, rencana yang sudah saya WA ke kamu itu mau saya laksanain nya pas malem jumat aja biar seru. Ada kesan horor horor nya." Lanjut Pak Rizal menjelaskan rencananya dengan Faiz yang didukung oleh Fatih dan dipersembahkan oleh Bu Tika.
"Terserah bapak saja gimana baiknya, untuk itu saya manut aja sama bapak. Yang terpenting jangan di jodohin beneran nanti gantian sayanya yang planing bunuh diri bareng doraemon di konoha." Jawab Faiz ringan sedikit tenang dengan bumbu gemetar. Yang dijawab cuma senyum santai menyakinkan sedangkan yang jadi pendengar udah ngakak ndak karuan.
"Ndak sekalian mas, ngajakin sano manjiro buat mukulin mas nya?" Tanya Fatih disela tawanya, seneng bener ni kecebong ngeledekin calon kakak ipar. Kualat nyahok lu.
"Mas Faiz ada perlu apa?" Tiba-tiba ditengah kepasrahan Faiz terdengar suara dengan kalimat tanya menyapanya. Ya dialah dokter cantik yang sedang menahan ribuan luka.
"Ayok dek kita mabar, ayah udah punya hero baru." Ajak Pak Rizal kepada Fatih agar kedua umat itu bisa berbincang.
"Ayok yah, adek udah lama ndak bikin ayah meneteskan air mata kekalahan." Jawab Fatih yang sudah ngekor di belakang sang Ayah. Sedangkan Bu Tika udah mandangin TV dengan fokusnya menatap sang pujaan emak emak, mas Al.
"Maaf pak, boleh saya ajak Nara keluar sebentar?" Tanya Faiz ragu.
"Jangan pulang kemaleman, saya malas nego sama pak RT takut diajak tanding ular tangga lagi." Jawab Pak Rizal yang sudah ancang-ancang login ke akun game miliknya.
__ADS_1
Setelah mendapat izin dari sang raja, akhirnya Faiz membawa Nazra ketempat yang menurutnya cocok untuk seorang gadis yang sedang galau, yaa street food tentunya. Perempuan kalo galau pasti obat nya makan begitulah pola pikir Faiz.
"Kamu mau apa?" Tanya Faiz basa basi. Yang seharusnya romantis malah jadi canggung, tapi mau gimana lagi semua udah terlanjur terencana dan harus lanjutt.
"Beli minum aja mas." Jawab Nazra cuek, Pura-pura cuek lebih tepatnya.
Setelah membeli minuman dan beberapa cemilan, Faiz mengajak Nazra untuk mencari tempat yang dirasa tidak terlalu ramai. Bukan apa-apa, Faiz hanya ingin mengajak Nazra ngobrol ndak lebih kok, jangan pada mikir yang macem macem ndak baik.
Diatas sikupi Nazra duduk diam dengan sesekali mencicipi minumannya, dirinya masih takut kehilangan Faiz dan pikiran itupun membuatnya jadi tidak tenang.
"Ra, kalo ada yang mau kamu omongin silahkan bilang aja aku bakal dengerin." Ucap Faiz yang sekaan tau isi pikiran Nazra saat ini.
"Mungkin mas Faiz yang mau ngomongin sesuatu makanya ngajak aku kesini." Jawab Nazra seraya membuang muka, belum berani menatap Faiz takut nangis.
"Rencana emang ada tapi karena udah tadi siang jadi sekarang ndak ada, cuman pengen aja ajakin kamu main kan ini yang pertama kali." Dengan tenang Faiz menjawab setiap ucapan Nazra, namun dalam hati Nazra menangis sedih setelah mendengar ucapan Faiz yang mengatakan ini yang pertama dan bahkan mungkin akan menjadi yang terakhir pikir Nazra.
"Jangan mikir yang aneh aneh." Lanjut Faiz yang seolah bisa membaca isi hati Nazra.
"Mas, mas Faiz kan udah mau lamaran apa ndak jadi omongan orang mas Faiz malah pergi sama aku?" Tanya Nazra menatap Faiz dengan sendu, sedangkan Faiz hanya tersenyum hangat tanpa mengatakan apapun.
"Mas kok malah senyum, aku ndak mau dianggap sebagai pelakor mas. Kalo misalnya aku harus mundur ya ndak apa apa, kita jaga jarak aman aja yaa mas aku ndak masalah kok." Ungkap Nazra dengan suara bergetar, namun dengan sekuat tenaga dirinya harus tegar.
"Udah jangan mikirin yang ndak perlu kamu pikirin, kita jalanin aja kayak gini." Jawab Faiz seraya mengelus pucuk kepala Nazra dengan lembut nan manja membuat Nazra semakin merasakan dada nya terhunus tombak. Pedih woy!
"Mas kenapa baru sekarang kita bisa kayak gini? Kenapa pas mas Faiz udah mau lamaran aku bisa ngerasain ini semua, kenapa mas? Ini... Ini...". Akhirnya setelah ditahan tahan terlepas juga, luruhlah air mata yang disimpannya, Nazra sudah tak mampu dengan ini semua.
"Cukup, jangan nangis lagi yaa kamu ndak boleh ngeluarin air mata kamu hanya untuk hal kayak gini." Melihat Nazra beruari air mata membuat Faiz hanya mampu mengeluarkan kata-kata sederhana dengan harapan mampu membuat Nazra lebih tenang, namun dalam hatinya tek henti mengucapkan maaf untuk dokter cantik kesayangannya ini.
"Ini sungguh sakit buat aku mas, sungguh.." Disela sela tangisnya Nazra kembali meluapkan isi hatinya yang mulai sesak dengan sayatan luka akan kenyataan.
"Aku tau ini sakit, tapi disaat aku menepati janji ku dengan memberi kejutan untuk mu nanti pasti luka dalam hati mu akan sembuh saat itu juga." Jelas Faiz dengan lembut memeri Nazra ketenangan seraya mengelus lembut tangan putih mulus yang gemetar dan dingin itu.
"Percayalah pada ku Ra." Lanjut Faiz.
"Aku harap ini semua hanya mimpi buruk ku aja mas, berjanjilah kamu akan selalu ada untuk ku." Dengan lemahnya Nazra kembali mengutarakan isi hatinya.
"Tenanglah Nara, percayalah padaku dan jangan pikirkan hal yang tak perlu kamu pikirkan." Ucap Faiz membelai lembut kepala yang bersandar dibahunya, sedangkan Nazra memejamkan mata menahan pedih dan sesak yang menyerangnya. Semoga ini bukan yang terakhir dan semoga semua sakit ini hanya mimpi buruk, begitu pikir Nazra.
Disaat Nazra mencoba menenangkan diri, sambil membelai lembut rambut indah dokter cantik itu, Faiz tak hentinya meminta maaf pada Nazra atas semua rencananya, namun itu hanya dalam hati saja.
Tak tega rasanya melihat pujaan hati meneteskan air mata, namun semua sudah tersusun sedemikian rupa tidak mungkin digagalkan. Anggap saja ini sebagai ujian ya Faiz dan untuk Nazra tentunya.
__ADS_1