
()()
Hari-hari telah berlalu, semua telah terlewati begitu saja. Nazra yang notabene nya calon istri dari mas ojol, kini hampir setiap jam makan siang sudah nangkring ditongkrongan tempat Faiz biasanya meredakan nyeri lambung disiang bolong.
Berbekal baperware yang berisikan nasi dan lauk pauk buatannya sendiri, Nazra berusaha menjadi ahli gizi yang pengertian untuk calon suaminya yang harus terpenuhi gizi dan nutrisinya karena bekerja langsung dibawah sinar matahari yang menyengat kulit.
"Seperti biasa, tanya dulu baru gass." Gumam Nazra yang sudah siap meluncur mengantar makan siang sang calon suami. Semenjak Caca menikah dan dirinya sudah resmi menjadi calon istri mas ojol, keduanya tak lagi makan siang bersama melainkan makan siang dengan kekasih masing-masing. Hanua saat tertentu saja keduanya menghabiskan waktu makan siang berdua seperti sebelumnya.
Dengan lincah, jemari lentik Nazra mengetik beberapa kata dan mengirimnya ke Faiz.
(Me : Mas, udah ditongkrongan apa masih dijalan?)
Pesan terkirim, seperkian menit balasan tak kunjung Nazra dapatkan. Dengan sabarnya Nazra menunggu, lagipula jam makan siang masih lama.
"Mbak duluan ya Ra, Mas Panji udah didepan. Mbak agak telat nanti baliknya, mau beli sesuatu dulu." Ucap Caca yang sudah bersiap hendak makan siang bersama sang suami.
"Iya mbak hati-hati. Emang mau beli apa lagi? Kemaren ngidam pisang sale. Sekarang apaan?" Tanya Nazra seraya memandang Caca dengan tatapan "ngidam terus, terfitnah tu baby."
"Es pisang ijo Ra, hehe." Jawab Caca dengan kekehannya.
"Yodah lanjut." Balas Nazra dengan senyum tipis menghiasi wajah cantik nya.
Setelah kepergian Caca, Nazra kembali mengecek ponselnya, berharap ada balasan dari Mas Faiz. Tapi kenyataan memang tak seindah ekspetasi, diangan meyakinkan tapi fakta menyakitkan. Begitulah kira-kira.
"Ndak boleh nethink Nara, kalik aja calon suami mu masih dijalan. Bahaya kalo buka henpun bales chat." Gumam Nazra mendoktrin dirinya sendiri supaya tidak berpikiran yang tidak-tidak.
"Sekarang udah jam 12 kurang 10, aku jalan aja kesana dulu biar nanti Mas Faiz dateng bisa langsung makan." Akhirnya Nazra memutuskan untuk bergegas menuju tempat biasa tanpa menunggu balasan dari Faiz, karena bisa saja Faiz sedang mengantar penumpang jadi tidak sempat membuka henpunnya.
---
12 menit berlalu, setelah mengantar penumpang maha ribet akhirnya Faiz sampai ditongkrongan. Disana sudah berkumpul para geng helm ijo, dan Faiz lah yang menjadi anggota terakhir yang datang untuk makan siang.
"Bu dokter kemana bro kok belum dateng?" Tanya Roy yang sudah hapal kegiatan baru Faiz setelah lamaran. Kadang-kadang mereka juga iri dengan Faiz yang selalu mendapat perhatian lebih dari Nazra.
"Aku belum ngabarin dia mas, tadi ada penumpang yang ribet banget jadi belum sempet chat Nara, lagian aku juga telat dateng kesininya." Jawab Faiz seraya membuka helmnya. Kepalanya ngebul sejak pagi di kekepim helm terus, ketombe bak jamur dikulit kepala.
"Yodah kabarin cepet, nanti salah paham dianya. Perempuan suka gitu soalnya." Saran Eko yang mendapat anggukan dari yang lainnya, ya maklum saja mereka sudah berpengalaman dari istri masing-masing.
Dengan gerakan cepat, Faiz mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana. Namun belum sempat membuka layar ponselnya, tiba-tiba ada suara seseorang yang sangat ia hindari dari jaman bau kencur sampai bau parfum sekarang ini.
"Mas Faiz, aku mau ngomong." Ucap seseorang itu.
"Pliss ya udah, aku ndak mau ada urusan sama kamu lagi." Jawab Faiz seraya menghindar dari orang itu.
"Tapi mas aku cuma mau bilang sesuatu aja sama kamu." Ucapnya lagi dengan tatapan memelas. Karena Faiz orangnya nggak tegaan jadi ia akhirnya mengangguk sebagai persetujuan.
__ADS_1
"Mas maaf kalo aku sering bikin mas Faiz ndak nyaman, aku ngejar-ngejar mas Faiz padahal aku tau mas Faiz ndak suka sama aku." Ujarnya dengan tatapan rasa bersalah.
"Iya udah aku maafin, tapi jangan kayak gitu lagi ya aku udah resmi jadi calon suami orang." Jawab Faiz yang menjaga jarak aman dengan orang dihadapannya sekarang.
"Selamat ya mas, aku ndak nyangka ternyata yang kamu lamar beneran bu dokter itu." Sambungnya dengan senyum tulus.
"Iya makasih Nad." Jawab Faiz. Dan ternyata orang yang sedang ngajakin ngobrol Faiz adalah Nadia si ulet bulu. Pantesan Faiz jaga jarak aman.
"Aku juga mau kasih ini mas, aku minggu depan nikah." Ucao Nadia seraya menyodorkan undangan berwarna merah muda kepada Faiz. Bukannya menerima Faiz malah berkerut kening seolah bertanya "serius nih nikahan ?"
"Kita juga udah dapet Is. Kamu kalah cepet." Sahut Ardi yang seolah tau isi kepala Faiz.
"Oh sama siapa Nad?" Tanya Faiz basa basi.
"Sama temen kecil dulu pas di kampungnya ibuk mas." Jawab Nadia.
"Dateng ya mas ajakin bu dokter nya jugaa." Tambah Nadia dengan senyuman.
"Selamat ya Nad, malah duluan kamu ijab sahnya." Ucap Faiz yanh juga memberikan senyum terbaiknya. Seneng aja gitu denger ulet bulu nikah, bisa aman dari serangannya.
Dan tak disadari siapapun termasuk author nya, ternyata Nazra udah memantau dari seberang jalan. Tatapan matanya yang tajam menatap lurus kearah Faiz dan Nadia.
"Godaan calon suami memang berat." Gumam Nazra seraya mengelus dadanya sendiri. Sabar sabar.
Dengan anggun, Nazra berjalan menuju kearah Faiz. Namun belum sampai Nazra ditujuan, si Nadia sudah melenggang pergi meninggalkan tempat itu.
"Assalamu'alaikum". Sapa Nadia dengan nada bicara yang datar kayak papan talenan.
" Waalaikumsalam." Jawab semua orang yang ada disana termasuk Faiz yang masih berdiri.
"Pantesan ndak dibalea chatnya, lagi asik ngobrol ya?" Tanya Nazra yang bermaksud sebagai sindiran untuk Faiz.
"Maaf dek, tadi mas nganterin penumpang. Nyampek sini aja telat dan pas mau bales malah Nadia dateng." Jawab Faiz apa adanya. Tidak di lebih lebihkan dan tidak dikurangi sedikit pun..
"Udah makan dulu nih, keburu dingin kayak aku sekarang." Ucap Nazra seraya menyiapkan makan untuk Faiz. Walaupun lagi cemburu + ngambek tapi tetep jadi calon istri sayang calon suami. Tangan kerja buka bekal makan.
"Jangan dingin-dingin untuk aku yang gampang pilek dek." Jawab Faiz sambil menerima sendok dari Nazra.
"Aman kalo pilek, calon istrinya dokter. Obat flu ready stok gak usah PO" Jawab Nazra yang masih bersikap datar dan dingin ke Faiz. Sedangkan Faiz malah senyum gak jelas sambil makan, dirinya tau penyebab bidadarinya ini jadi frozen karena apa. So pasti karena adanya ulet bulu tadi.
"Kita minggu depan hari sabtu dapet undangan nikahan. Berangkat yaa nanti mas jemput." Ucap Faiz disela makannya.
"Tapi kan dihari itu juga nikahannya Rido sama Tria." Jawab Nazra yang masih fokus pada makanannya, males noleh ke Faiz sebelum Faiz cerita soal Nadia tadi.
"Kalo gitu setelah itu berangkat nya." Ucap Faiz memberi pengertian.
__ADS_1
"Jadi? Mas Fais ndak mau dampingi aku kekondangannya Rido?" Tanya Nazra dengan menatap tajam Faiz.
"Yaa mau dek, maksud mas kita habis dari tempat Rido langsung ke yang ini tadi." Jelas Faiz dengan lembut. Lagi sensi nih calon istri, salah paham terus.
"Oke." Singkat Nazra tanpa menoleh atau bahkan melirik Faiz.
"Ndak nanya ni siapa yang nikah?" Tanya Faiz dengan menatap Nazra.
"Emang perlu?" Tanya Nazra cuek.
"Yakin ndak mau tau? Ya kalo adek nanya sih pertanyaan yang berseliweran dikepala adek juga bakal kejawab. Tapi kalo ndak mau yaa ndak apa-apa." Jawab Faiz yang sudah memakan habis bekal buatan Nazra. Sambil melirik lirik asik kearah Nazra, Faiz malah cengar cengir ndak jelas.
3 menit 2 detik berlalu, Nazra belum bersuara. Mata bulatnya berputar tanda sedang berpikir untuk bertanya atau tidak. Sedangkan Faiz masih betah menatap Nazra sambil senyum manis.
"Emang siapa?" Akhirnya keluar juga pertanyaan yang Faiz tunggu dari mulut seksi Nazra.
"Nih baca." Faiz menyodorkan undangan yang tadi diterimanya dihadapan Nazra.
"Nadia dan Adam...." Gumam Nazra membaca undangan itu. Faiz menganggukkan kepala.
"Maksudnya Nadia yang tadi ngobrol sama mas Faiz?" Tanya Nazra penasaran.
"Iyaa."
"Jadi dia dateng kesini tadi dan ngobrol sama mas Faiz cuma karena dia mau kasih undangan pernikahan nya ini?" Tanya Nazra lagi.
"Iyaa adek bener." Jawab Faiz.
"Maaf, udah salah paham lagi." Ucap Nazra dengan puppy eyes. Duh imutnya dimata Faiz.
"Iya ndak apa-apa. Lagian wajar kok kamu cemburu, kan tanda sayang kan?" Hibur Faiz agar Nazra tak merasa bersalah.
"Ah apaan sih mas Faiz." Gerutu Nazra dengan rona merah menghias pipi mulusnya.
"Godaan pra nikah ada ada aja ya." Ucap Faiz seraya mengelus tangan Nazra dengan lembut
"Tapi godaan terberat ku udah mau nikah kok jadi aku lebih tenang dari sebelumnya." Jawab Nazra yang menyandarkan kepalanya dibahu Faiz. Halah bikin mas ojol yang lain pada baper. Tu kan mas Maulana sampek nelen puntung rokok gegara pengen juga, tapi istri dirumah ngurus bocil sambil nyapu.
"Maksud kamu Nadia si ulet bulu?" Tanya Faiz dengan kekehan ringan.
"Hehehehe." Bukannya menjawab Nazra malah ketawa. Dan ya sudah bisa dipastikan kalo jawaban Faiz benar adanya.
Dan akhirnya pun keduanya tertawa bersama serta yang lainnya gigit jari sambil ngopi karena mereka tak pernah merasakan indahnya pacaran setelah lamaran seperti yang dialami Faiz dan Nazra sekarang.
Dulu pacaran dibawain bekal bisa sekali sebulan bahkan sekali sewindu, dan sekarang jangan tanya bagaimana. Sejak adanya bocil dirumah sang istri sudah pada sibuk dan memprioritaskan junior mereka daripada mereka sendiri.
__ADS_1