Dokter Cinta Mas Ojol

Dokter Cinta Mas Ojol
Ojol Cinta 11


__ADS_3

****


Dihari kerja seperti ini, semua orang telah disibukkan dengan urusan masing-masing. Apalagi jika bukan urusan mengejar harta duniawi dan kesenengan sesaat.


Tapi itu semua tidak dilakukan oleh Faiz hari ini, ntah ada hal apa hingga dirinya tak berangkat bertugas. Jika dikata sudah memiliki uang segudang rasanya tidak memungkinkan untuk ukuran seorang Faiz, dan jika sedang sakit malah lebih tidak mungkin lagi karena dirinya saat ini sedang berkasih sayang dengan sikupi sihitam kesayangan.


"Nggak nyari modal kamu Iz?" Tanya Pak Aji yang hendak berangkat bekerja. Pak Aji saat ini memiliki sebuah usaha pecel lele yang beliau jalankan bersama sang menantu, si Edo.


"Libur pak, mumpung ada kesempatan saatnya manjain sikupi." Jawab Faiz yang masih sibuk berjongkok di teras rumah seraya mengelus body aduhai sikupi dengan lembutnya.


"Langganan gak order?" Lanjut Pak Aji menanyakan apakah bu dokter, sipenumpang langganan yang tiap pagi selalu minta jemput anak bujangnya itu tidak masuk kerja hari ini, sehingga Faiz masih standby dirumah dengan celana boxer yang melekat membalut bagian tubuh nya.


"Bawa mobil sendiri, ada urusan di rumah sakit pusat." Jawab Faiz tanpa menoleh pada sang ayah yang berdiri di belakang nya. Tidak sopan memang si bujang lapuk ini.


"Ouh gitu, ya udah bapak mau kewarung dulu kasian mas mu sendirian." Ucap Pak Aji yang kemudian mengarah ke motor bututnya terpakir.


"Rajin amat mas Edo dah nyampek warung pak?" Tanya Faiz kepada Pak Aji.


"Tadi kan habis nganterin mbak mu ngajar, jadi mas mu langsung sekalian ke warung. Ya udah bapak berangkat Assalamu'alaikum." Jawab Pak Aji dan kemudian berpamitan.


"Hati-hati pak, waalaikumsalam." Jawab Faiz setelah melihat sang ayah sudah bersiap untuk melajukan motornya.


20 menit berlalu, Faiz masih saja betah diteras rumah bersama sikupi. Ntah apa yang dilakukannya siapa yang peduli, yang jelas dirinya sedang memanjakan sikupi dengan memberikan perawatan plus plus bagaikan disalon ternama.


"Paiz." Panggil Bu Leni dari depan pintu.


"Iya Buk, ada apa?" Tanya Faiz menghampiri sang ibu.


"Liat tupperware ibuk yang kecil bulet nggak? Warna ijo." Ucap Bu Leni kebingungan.


"Di rak piring lah buk, nyelip kalik." Jawab Faiz.


"Udah ibuk cari tapi nggak ada, tadi mau dibawa bapak mu kewarung tapi malah nggak ketemu." Jelas Bu Leni dengan sedikit raut kepanikan jelas tergambar diwajah keriputnya.


"Ibu lupa naroknya paling, atau malah dibawa mbak Mela buat tempat buah." Jawab Faiz dengan kalimat kalimat positif agar sang ibu lebih tenang, masak iya kehilangan tupperware satu aja kayak mau lahiran anak kembar 7. Aneh.


"Mbak mu bawa yang kotak tadi, beneran kamu ga tau?" Tanya Bu Leni yang sejak awal memang sudah menaruh rasa curiga terhadap anak bujangnya itu.


"Gatau buk, Faiz aja sejak tadi nyalon sikupi." Jawab Faiz kembali berkutat dengan obeng dan segala jenis peralatan bengkel nya untuk memberikan perawatan sikupi tersayangnya.


"Gitu ya?" Tanya Bu Leni masih kurang yakin dengan jawaban sang anak yang mengatakan tidak tau soal tupperware ijo itu. Saat sedang berpikir kemana perginya si tupperware, Bu Leni tak sengaja melihat benda hijau dibawah motor Faiz sontak itu membuat gunung berapi dalam jiwanya seketika erupsi.

__ADS_1


"Paiz! Kamu tadi bilang gatau dimana tupperware ibuk?" Geram Bu Leni menahan amarahnya meminta penjelasan dari Faiz, putra bungsunya.


"Iya buk gatau." Jawab Faiz santai, sepertinya si Faiz belom tau himbauan waspada pada situasi di sekitarnya.


"Kamu bilang gatau Paiz anak ibuk yang ganteng? Itu ijo ijo dibawah motor mu apa?" Tanya Bu Leni masih mencoba bersabar seraya menunjuk kearah benda yang menjadi pusat perhatiannya sejak tadi.


"Oalah ini? Toples kecil buat ngumpulin baut buk biar gak kececer." Faiz menunjukkan tempat berbentuk bulat berwarna ijo kearah sang ibu dengan tanpa rasa bersalah dan dosa sedikitpun.


Tanpa Faiz sadari, tindakannya barusan telah memicu terjadinya ledakan bom atom rakitan Rusia. Tinggal menunggu hitungan detik maka akan terjadilah BOOOOM!!!!! sebuah kemurkaan dari semakhluk Tuhan yang paling seksi dimuka bumi ini, siapalagi jika bukan wanita yang dipanggil ibu itu.


"PAIZZZZ!!!! KAMU BILANG GAK TAU TUPPERWARE IBUK KEMANA, TAPI ITU APA PAIZ? KAMU TAU ANAK IBUK YANG GANTENG NYA NGALAHIN KUCINGNYA JI CHANG WOOK, ITU TUPPERWARE IBUK NAK BELINYA MAHAL WALAUPUN CUMA SEBESAR BIJI CABE GITU, YA ALLAH GUSTI !!!! ANAK DURHAKA KAMU DASAR !!!!!" Murka Bu Leni dengan nafas ngos ngosan akibat meneriaki Faiz yang otaknya gak berfungsi sedikit pun. Bagaimana bisa dia seenak tumitnya makai tupperware untuk wadah baut yang udah bercampur oli. Itu baut enak bener diwadahin pakek tupperware, emang terbuat dari emas perak permata apa? hello situ sultan apa ya ampyun dah.


"Ini tupperware buk? Kecil gini mahal?" Tanya Faiz yang tidak merasa telah berbuat salah dengan pede dan santainya. Padahal udah disembur petir tapi tetep aja bisa slow gitu, settingan tahan banting yang luar biasa.


"KAMU MAU IBU KUTUK JADI BATU KAYAK MALIN KUNDANG APA IBUK GETOK KEPALAMU PAKEK CENTONG NASI BIAR KAYAK SANGKURIANG???" Sambung Bu Leni dengan power kemarahan Catwoman, dimana urat rasa bersalah Faiz terletak bisa-bisanya dia masih santai padahal telah berbuat kesalahan dan apa ini udah disembur pakek api neraka masih bisa jawab dengan wajah tanpa dosa?


"Ibuk maap, jangan dikutuk lah kan Paiz belom nikah, belom ngerasain gunung salak ama gunung rinjani gandengan, belum ngerasain kawah bromo jugak." Jawab Faiz memelas, ya inilah kelemahan Faiz yang takut jika sudah diancam ajan dikutuk oleh kanjeng ibu.


"Nikah? Kalo kamu kayak gini emang istri mu betah? Tupperware buat tempat baut kurang ngajar sekali." Sinis Bu Leni yang merebut tupperware ijo itu dari genggaman Faiz.


"Apa hubungannya loh buk." Tanya Faiz masih dalam mode memelas dan juga kesel sebel sedih karena baut sikupi berceceran.


"Hubungannya istri mu bakal lebih murka kalo tau tupperware nya buat tempat baut yang berlumur oli kayak gini." Ketus Bu Leni yang kemudian berlalu meninggalkan Faiz sendirian.


"Huft superware emang luar biasa mengerikan." Lanjutnya lagi dengan keadaan lemah lesu lunglai.


____


Siangnya Faiz memilih meninggalkan rumah karena sejak kejadian superware tadi pagi, dirinya tak hentinya dimaki sang ibu dengan berbagai umpatan. Bahkan bu dokter cantik juga menjadi objek ocehan Kanjeng ibu yang berubah menjadi mak Lampir dari gunung hantu. Ntah apa kesalahan bu dokter cantik sampai dalam umpatan bu Leni tersebut pula, kasian sekali emang bu dokter.


"Mau kemana kamu?" Teriak Bu Leni garang.


"Nyusul bapak buk." Jawab Faiz singkat.


"Anak gatau sopan santun, mana mau bu dokter Nara sama modelan kamu yang begitu." Oceh Bu Leni untuk kesekian kalinya dengan pembahasan yang sama.


"Apa hubungannya ibuk? Masih perkara superware tadi pagi? Kalo iya Paiz minta maap untuk yang ke 22 kalinya." Ucap Faiz bersujud didepan sang ibu.


"Ya ada pokoknya, bu dokter pasti gak bakal mau sama kamu." Sinis Bu Leni yang masih sensitif jika melihat Faiz. Hanya gegata Superware yang sebesar biji mawar aja bisa sampai membuat ibu dan anak bersitegang hampir seharian. Kurang gurih itu penemu superware begitulah pikir Faiz.


"Iya iya semerdeka bu dokter mau sama aku atau nggak buk." Jawab Faiz yang kemudian berdiri dan hendak meninggalkan rumah.

__ADS_1


"Faiz berangkat nyusul bapak. Assalamu'alaikum." Pamit Faiz sambil berlalu menghidupkan sikupinya.


"Bikin repot aja lah superware tuh, mana buk dokter cantik dibawa bawa apa maksudnya cobak." Gerutu Faiz sepanjang perjalanan.


Setelah hampir 1 jam Faiz sampai diwarung pecel lele milik sang ayah, sebenarnya jalan normal dari rumah Kewarung hanya membutuhkan waktu 20 menit. Tapi karena Faiz sambil ngedumel merutuki kelakuan sang ibu membuat dirinya mengendarai sikupi dengan sangat lambat bahkan hampir mirip dengan siput.


"Ngapa mukanya lecek gitu kayak lap mejanya bapak." Tanya Edo yang melihat adik iparnya kusut kayak keset.


"Disembur mak Lampir dari bapak berangkat sampek aku mau kesini." Jawab Faiz mendaratkan badannya disalah satu kursi.


"Lah kenapa? Tumbenan ibuk berubah jadi mak lampir?" Tanya Edo penasaran, hal apa yang membuat sosok penyabar seperti mertuanya itu ngamuk sampek rela merubah wujud menjadi mak lampir. Pasti perkara sulit ini begitulah pikiran Edi berkecamuk.


"Tupperwarenya yang sebiji cabe aku pakek buat tempat baut mas, aku gatau kalo itu superware nya ibuk." Jawab Faiz lesu.


"Hahahahau ya kapok kamu Iz, makanya jangan ngambil barang ibuk yang di rak lemari kaca." Dengan tertawa geli Edo mengingatkan hal keramat yang tidak boleh dilakukan kaum adam dirumah.


"Mana ibuk bawak bawak buk dokter cantik disetiap ocehan nya, kan kalo yang keluar jelek takut jadi doa." Faiz mengadu kepada sang kakak dan sang ayah yang sejak tadi hanya diam dengan sesekali tersenyum geli.


"Terus yang keluar dari mulut ibuk baik apa jelek?" Tanya Pak Aji.


"Kalo baik nggak bakalan sesebel ini Pak." Ketus Faiz.


"Ibuk cuma terbawa emosi itu, selagi gak kamu aminin kan aman ya pak hahah." Saut Edo dengan sisa tawanya yang masih menggelegar.


"Bener kata mas mu itu. Oh ya tadi Bu dokter makan kesini sama temennya berempat, dan kayaknya sih yang satunya itu doinya bu dokter soalnya deket banget." Ucap Pak Aji mengabari Faiz, tapi ternyata yang Pak Aji sampaikan malah membuat Faiz menangis tapi malu, ingin marah tapi dia sadar bukan siapa-siapa. Dan beginilah Faiz sekarang hanya mampu mengipasi wajahnya sendiri yang mulai terbakar api neraka dunia.


"Pak doi, aduh bapak doi pak. Aduh kebakaran hutan pak." Ucap Edo tak jelas setelah menyadari ucapan sang ayah mertua membuat adik iparnya konslet dan hampir meledak.


"Doi?" Tanya Pak Aji setelah menyadari sesuatu.


"Mmm Paiz minum es ya bapak buatin, anak bapak yang ganteng kayak tukang siomay, hidungnya mancung kayak prosotan TK, kumis tipisnya udah kayak lele kesetrum jangan ngambek ya nak utuk utuk." Pak Aji berusaha membujuk Faiz yang sudah memasang wajah garang garang frustasi. Sebenernya bukannya serem atau kasian tapi jatuh nya malah lucu, dengan sekuat tenaga Edo dan Pak Aji menahan senyumnya.


"Gantengan mana pak Faiz sama doinya Bu dokter cantik?" Tanya Faiz dengan suara menahan tangis.


"Ganteng kamu sih, kan kamu produknya bapak. Kalo bapak muji orang lain sama aja bapak hina diri sendiri." Jawab Pak Aji santai.


"Jadi sebenernya kalo dikaji secara ilmiah dan harfiah, Faiz buriq kan pak?" Ketus Faiz dengan raut wajah yang cemberut lucu bagai anak musang kejepit atap kandang ayam Atok Dalang.


Bukannya menjawab pertanyaan Faiz, Pak Aji malah pura pura menggoreng timun dan selada. Sedangkan Edo malah pura pura mengelap tenda biru peneduh warung pecel lele itu dengan serbet.


Melihat kedua orang itu sibuk sendiri, Faiz menjadi semakin tersulut sumbu kompor dan terjadilah kebakaran jenggot mbah dukun. Hawa panas menjalar dalam otak dan hati Faiz, bahkan sudah menjalar ke empedu dan ginjal.

__ADS_1


Seperti kesetanan Fais meminum hampir setengah galon, dan memakan kerupuk hampir satu toples besar. Bukan apa apa tapi kalo Fais nggak bayar kan kasian si bapak yang bangkrut akibat kegalauan sang anak bujang.


__ADS_2