Dokter Cinta Mas Ojol

Dokter Cinta Mas Ojol
Ahhh Mantap


__ADS_3

Gubraakkkk!!!!


"Mas Faizz!!" Pekik Nazra saat melihat Faiz menabrak pintu kamarnya sendiri yang setengah tertutup.


Sedangkan Bu Leni dan Mela hanya nyengir tanpa dosa melihat kejadian itu. Dan jangan ditanya lagi bagaimana dengan si Faiz, bukan sakitnya yang jadi masalah tapi malunya yang sampai dibawa hingga liang lahat kelak.


"Mas Faiz gakpapa kan?" Cemas Nazra seraya mendekat kearah dimana Faiz masih terduduk lemas menahan rasa malu teramat sangat.


"Ng...nggak papa kok." Jawab Faiz terbata, lagi-lagi bukan sakit yang bikin gerogi tapi malu karena nubruk si pintu.


"Sakitnya nggak seberapa, tapi malunya bisa sampek neraka." Ucap Mela dengan masih terkikik geli.


"Pas reka ulang masa hidup, pasti tu para malaikat ngakak liat bujang ibuk nubruk pintu." Sambung Bu Leni dengan tawa yang tak kalah ngakak. Ibu sama kakak, sama-sama ga ada akhlak emang.


"Ibuk, Mbak Mela kasian Mas Faiz nya loh. Apalagi pintunya." Polos Nazra tanpa ada rasa bersalah dalam setiap ucapannya. Sontak itu malah membuat 2 makhluk sama jenis beda usia datu darah itu semakin ngakak bukan main.


"Bu dokter lebih pilih pintu Is, ibuk ga bisa bantu." Ucap Bu Leni disela tawanya.


"Nasib nasib, nyungsep di aspal nubruk pintu, gak dipeduliin. Ahhh mantappp." Ucap Faiz tiba-tiba.


"Wkwkwk kasian adek mbak." Sambung Mela.


"Sini aku bantu." Tanpa menunggu jawaban atau sekedar pertanyaan, Nazra langsung meraih tangan Faiz guna membantu untuk berdiri. Namun bukannya segera berdiri Faiz malah menatap raut nan cantik dihadapannya tanpa mengedipkan mata.


Hal itu pun membuat Nazra terpaku, ntah apa yang dipikirkannya saat ini yang jelas dirinya menikmati tatapan lembut pangeran manis yang sedang menatapnya.


"Dari mata mu mata mu mata mu ku melihat..." Senandung Mela seraya melangkah kan kaki menuju dapur.


"Dari mata turun kehati eakkkk, update status dulu ah ibuk." Ucap Bu Leni, yang kemudian menyadarkan dua manusia ciptaan Tuhan yang sedang beradu tatap itu.


"Ehhh ma...makasih ya." Ucap Faiz salah tingkah.


"Iya sama-sama. Mas gak papakan? Ada yang sakit?" Tanta Nazra penuh perhatian.


"Sakitnya ga seberapa, tapi malunya dihadapan kamu luar biasa." Jawab Faiz sambil menunduk.


"Halah biasanya juga malu-maluin aja kok ya kan?" Ucap Nazra berusaha merubah suasana yang diliputi dengan kesalah tingkahan.

__ADS_1


"Hadeuh iya aku lupa kalo biasanya malu-maluin." Jawab Faiz dengan sedikit tertawa.


Dengan sangat hati-hati, Nazra membantu Faiz untuk berdiri dan berjalan menuju salah satu sofa yang berada dirumah itu. Dan tanpa sengaja Nazra melihat bahwa luka dilutut Faiz kembali mengeluarkan sedikit darah yang kemungkinan hasil dari tergores saat menubruk pintu yang tak tau apa apa tadi.


"Mas lutut kamu kok luka lagi?" Tanya Nazra panik.


"Eh iya? Perasaan kemaren udah kering kok." Jawab Faiz bingung.


"Ini ada keluar darah dikit, aku obatin bentar." Dengan sigap Nazra langsung menyambar tasnya dan mengeluarkan beberapa benda yang dibutuhkannya. Dengan telaten Nazra mengobati luka Faiz yang kembali mengelupas dan menjadi luka baru, sedangkan Faiz hanya diam dengan sesekali memperhatikan Nazra.


"Kamu kok baik banget sama aku?" Tanya Faiz.


"Emang gak boleh ya?" Tanya balik Nazra seraya mendongakkan kepala agar dapat melihat Faiz.


"Ya bukannya gak boleh, cuma kamu itu dokter dan lagi kamu cantik, terus kenapa seperhatian ini sama aku yang jauh dari kata layak buat bersanding sama kamu ? Ya gitulah istilahnya." Ucap Faiz panjang lebar kali tinggi, tapi gak tinggi amat takut jatuh.


"Emang aku harus perhatian sama yang gimana? Kan ga boleh pilih kasih. Lagi pula masnya jangan insecure dong." Jawab Nazra dengan iringan senyum manis, dan itu mampu membuat sebiji Faiz melayang terbang terpesona tiada tara.


"Yaa bukannya aku ga bersyukur,cuma aku juga sadar diri aja aku ini siapa. Rasanya ga pantes dapet perhatian lebih dari kamu." Lirih Faiz.


"Mas, kalo aku jujur boleh nggak?" Tanya Nazra serius.


"Mas mau gak deket sama aku?"Tanya Nazra seraya menatap kedua mata Faiz yang juga sedang menatapnya.


" Ma...maksudnya gimana?"Tanya Faiz terbata.


"Maksudnya kita saling mengenal satu sama lain, yaa minimal dari berteman dulu." Jawab Nazra dengan tersenyum.


"Haah temenan? Deket? Ahh mantap, mantap betul" Bukannya menjawab, Faiz malah asik bergumam sendiri.


"Mas mau nggak?" Tanya Nazra untuk yang kedua kalinya.


"Mau, mau banget kalo itu." Jawab Faiz antusias.


"Yodah kita temenan mulai sekarang oke." Ucap Nazra yang juga merasa bahagia luar biasa karena berhasil mendapatkan jalan untuk mendekati mas ojol pujaan hati.


"Makasih ya." Ucap Faiz dengan senyum indah mengembang dibibirnya.

__ADS_1


"Mau jalan jalan nggak?" Tanya Nazra.


"Mau kemana? Kaki aku aja belom sembuh Ra." Jawab Faiz.


"Ke alun-alun gitu, emang ga bosen masnya ngerem telor mulu dikamar." Ketus Nazra.


"Idih bahasanya anak gadis ayah bunda." Ucap Faiz ngegas, karena otaknya yang minim gampang sekali bertraveling.


"Otaknya jalan jalan mulu nih." Gerutu Nazra.


"Hehhe maap maap, mau kemana adek manis?" Tanya Faiz berusaha membujuk agar dokter cintanya ini nggak sampek ngambek. Bahaya kalo ngambek kan bisa bisa kenak suntik bius minimal.


"Ke alun-alun aja lah liat pemandangan sore." Jawab Nazra.


"Yodah ayok, tapi gimana perginya? Kan aku masih sakit?" Tanya Faiz yang bingung bagaimana caranya dia dan dokter cantik ketaman, masak iya bawa sikupi dan dokter cantik yang nyetir kan gak iya, begitu lah pikriran Faiz.


"Aku bawa mobil, aman aja itu." Jawab Nazra yang sudah memasang wajah girang, membuat Faiz gemas melihatnya dan hampir menggigit makhluk imut di hadapan nya saat ini.


"Mas ganti baju dulu ya?". Ucap Faiz, ya kan gak mungkin keluar ama cewe cakep tampilan buriq. Bisa bisa jadi bahan gunjingan nitijreng ntar.


"Gak usah gini aja udah cakep, ayok." Ajak Nazra yang tak mau berlama-lama.


"Tapi masak iya kamu cakep masnya buriq?" Tanya Faiz dengan ke insecure an nya.


"Gak papa udah cakep ini. Aku ga mau kamu jalan sama aku tapi dilirik banyak umat." Sungut Nazra persis seorang gadis yang sedang cemburu dengan kekasihnya. Eh sadar neng baru mulai temenan.


"Iya udah, penting kamu seneng aja aku juga seneng." Jawab Faiz di iringi senyum nan menyejukkan hati seorang dokter cantik.


Akhirnya, kedua makhluk yang ga ada akhlak itu sampai disebuah alun-alun yang nampak tenang dan indah bersama pantulan cahaya senja.


Kini keduanya sedang duduk disalah satu kursi yang ada di alun-alun itu. Tak ada yang membuka suara diantara keduanya, hanya saling lirik dan tersenyum begitulah cara mereka mengisi kebersamaan yang mungkin hanya akan terjadi disaat saat tertentu. Atau malah mungkin saja mereka tiba-tiba sariawan atau sakit gigi makanya ga ada yang mau ngomong, atau malah dalam mode mute.


------


------


Assalamu'alaikum warga amuba, maap yak ceritanya ngegantung dan akunya juga baru nongol sekarang🙏

__ADS_1


Sekali lagi maap banget, kemaren-kemaren aku lagi banyak problema hidup, terus sering begadang kuliah malam jadi aku sempet drop😔 dn krna itu bnyk kerjaan yg terbengkalai jd aku hrs finishin itu dulu😓 dan Alhamdulillah nya hari ini aku bisa update satu episode setelah sekian lama ngegantung😟


Buat yang sempat nanyain kemana aku, makasih banget mpok², kalian perhatian banget sama aku😢 dan untuk warga amuba yang setia dikarya aku, terimakasih banyak yaa, lopiyu🙂


__ADS_2