Dokter Cinta Mas Ojol

Dokter Cinta Mas Ojol
Kesamber Geledek


__ADS_3


Sepanjang perjalanan pulang Faiz tak melunturkan senyum nya sedikit pun, bahkan rintik hujan belum sepenuhnya mereda dan menghilang. Diiringi suara petir dan kilatan cahaya yang menyambar sana sini, tak pula menghentikan senyum indah yang terlukis diwajah driver ojol itu.


Hingga tiba di rumahnya dengan kondisi setengah basah pun senyum itu tak juga memudar. Kedua orangtuanya pun dibuat terheran dengan kelakuan bujang lapuk itu, takut takut jika senyumnya adalah efek samping dari samberan gledek atau malah kenak cium wewe pas dijalan.


"Kamu aman Is?" Tanya Pak Aji penasaran.


"Alhamdulillah pak aman pakek banget." Jawab Faiz yang masih betah tersenyum.


"Ga habis kesenggol petir kan Is?" Tanya Bu Leni yang baru muncul dari dapur.


"Ya Allah, si ibuk mah ngawur gitu kalo ngemeng." Ucap Faiz dengan memelas.


"Kan kali aja Is, soalnya ibuk liat dari kamu dateng senyum senyum gitu kan ibuk was was." Jawab Bu Leni.


"Iya bener banget buk, kayak wong edan anyaran." Sambung Pak Aji seraya menyeruput kopinya.


"Hoalah bapak sama ibuk, ga tau aja kalo anak bujangnya udah dapet lampu ijo." Ucap Faiz seraya masuk kedalam kamar untuk bersiap mandi.

__ADS_1


"Lampu ijo apa ya pak?" Tanya Bu Leni kepada sang suami. Taunya lampu ijo itu ya kalo ada cabe ijo nyangkut di gigi.


"Lah gak tau buk, paling ya kalo di perempatan jalan." Jawab Pak Aji tak peduli, sedangkan Bu Leni malah asik ngangguk seakan paham dengan apa yang Pak Aji sampaikan.


---


Malam sudah menjelang, jam dinding menunjukkan pukul delapan. Diluar hujan kembali lebat diiringi angin kencang serta kilatan cahaya petir yang menyambar. Suara gemuruh juga menjadi pelengkap malam itu.


Diatas ranjang sederhana dengan balutan kain sprei warna biru tua, tergeletak lah seonggok daging dengan tulangnya berwujud manusia dan bergelarkan bujang lapuk sedang rebahan. Dengan sarung kumal membalut tubuhnya, Faiz mulai menghayal akan masa depan berumah tangga bersama sang pujaan hati. Siapa lagi jika bukan Dr. Nazra Ayumna.


"Cicak oh cicak, mengapa engkau skidipapap disitu?" Gumam Faiz memandang langit kamarnya yang sedang dihiasi dua pasang cicak saling mencinta.


Ck ck ck.


Ck ck ck.


"Lah malah ngatain aku, hey! Aku juga udah dapet lampu ijo loh jangan salah kalian." Marah Faiz kemudian. Dengan suara yang sudah mulai ngegas mantap Faiz mengomeli duo sejoli itu.


"Jelek jelek gini kalo mati besok bakalan ditangisin tauk." Lanjutnya lagi dengan emosi yang masih melekat.

__ADS_1


Teeeekkkk Duaaarrrrrrrr!!!


"ALLAHU AKBAR, PAK IBUK KESAMBER HOOO YA GUSTI GIMANA MAKSOD MASIH BUJANG!!" Kaget Faiz akibat teguran dari langit berupa kilatan cahaya indah dan suara menggelegar penyadar umat.


Sebuah teriakan maut yang seakan bisa membangunkan mumi Fir'aun ternyata tak dapat membuat kedua orangtuanya peduli. Buktinya Pak Aji dan Bu Leni tak ada yang melihat putra bungsunya itu, padahal sudah teriak sekuat tenaga dengan segala kekagetan dan ketakutannya. Hmm anak yang malang.


"Ehh ibuk bapak gak peduli, ah sudahlah." Gumam Faiz kembali membalut diri dengan sarung lusuhnya.


Disela sela kegiatannya rebahan sana sini, Faiz mulai kembali berhalusinasi dan bergumam sendiri tak jelas apa maksud nya. Tapi yang jelas dirinya sedang bahagia tiada tara.


"Dek, hanya satu yang ku mau. Semoga suatu saat nanti daleman ku dan daleman mu muter jadi satu didalam mesin cuci." Gumam Faiz sebelum pada akhirnya menutup mata dan berkelanan didunia sana. Mimpi maksudnya.


Hal kecil saja sudah menjadi suatu kebahagiaan yang luar biasa. Takdir Tuhan memang tidak ada yang bisa menerka, namun kita hanya bisa untuk menjalaninya sesuai dengan kemampuan yang kita punya.


Tak ada yang tak mungkin jika Tuhan sudah menuliskan garisnya, dibalik pahitnya pasti akan ada manis yang kan menyambut dikemudian hari.


Berusahalah menjadi yang terbaik dengan cara baik untuk mendapat apa yang kita ingin. Karena tanpa kita tahu ada banyak dukungan yang akan membersamai langkah kit menuju itu semua.


@efnyfebriana_

__ADS_1


__ADS_2