
Bohong jika tak kecewa, kini hanya kesedihan yang Nazra rasakan. Sosok yang dia harapkan sudah memutuskan untuk berhenti mengejarnya hanya karena perbedaan dalam segi materi.
Sakit hati, begitu lah yang Nazra alamai. Kenapa harus dirinya yang mendapat ujian takdir seperti ini disaat dirinya mulai ingin membagi kisah kepada orang lain selain keluarga nya.
Panggilan Faiz tak ia hiraukan, yang dia pikirkan hanyalah pergi dari taman itu dan menenangkan diri seraya menyadarkannya bahwa yang terjadi tidaklah nyata. Sepanjang perjalanan air mata tak pula mau berhenti mengalir, ini baru sebatas teman tidak lebih tapi kenapa bisa sesakit ini. Batin Nazra penuh kecewa.
"Kak, kenapa kok mewek? Dikejar angsa lagi?" Tanya Fatih yang melihat kepulangan Nazra. Dan bukannya menjawab, Nazra memilih melanjutkan perjalanan nya menuju kamar.
"Kenapa dek?" Tanya Pak Rizal menegur Fatih.
"Kakak pulang-pulang mewek Yah, mana ditanyain malah mode hening" Jawab Faiz menjelaskan keadaan sang kakak berdasarkan apa yang dia lihat secara aktual.
"Ada masalah kalik Yah, nanti juga bakalan cerita si kakak" Ucap Bu Tika.
Belum sempat Pak Rizal merespon ucapan Bu Tika, dari kamar Nazra terdengar suara teriakan yang sangat memilukan bagi kaum kaum bucin.
"AAAAAARRRRRGGGHHHHHH SEMUANYA CUMA HARAPAN PALSUUUUU!!!!?!" Dengan nafas yang ngos ngos an akibat berteriak sambil menangis Nazra bersandar didinding kaca pembatas kamar dan balkon. Keadaan nya tak lebih seorang gembel yang habis kecelup kuah pempek campur kuah bakso dan air sabun, mengenaskan.
"Astaghfirullah kakak kamu kenapa?" Tanya Bu Tika panik setelah membuka pintu kamar Nazra.
"Kakak jangan gila dong belum nikah loh." Sambung Pak Rizal tanpa rasa bersalah. Lagi galau malah disindir nikah, ndak ada akhlak bapak satu ini.
"Kenapa Nara harus terima ini semua bun kenapa? Kenapa Yah?" Tanya Nazra dengan suara melemah.
__ADS_1
"Emang kenapa kak? ada apa? Kakak bilang sama kita." Bujuk Bu Tika seraya membelai lembut kepala sang anak.
"Kalo kakak ndak cerita ayah sama bunda ndak akan tau permasalahan nya kakak." Tambah Pak Rizal yang ikut duduk di sebelah Nazra.
"Kenapa disaat Nara mengharapkan seseorang untuk hidup Nara, orang itu memilih untuk menjauh karena merasa tidak pantas bersanding dengan Nara? Merasa tidak pantas dihadapan keluarga kita." Lirih Nara dengan tatapan kosong mengingat apa yang Faiz sampaikan padanya tadi.
"Maksud kamu gimana kak? Apa ada hubungan nya sama mas ojol ganteng?" Tanya Pak Rizal memastikan dan dengan lemah Nazra mengangguk mengiyakan ucapan sang ayah.
"Sayang, kamu ndak boleh lemah seperti ini. Jika dia mengatakan tidak pantas untuk kita dan tidak ingin mengecewakan mu itu tandanya dia orang baik. Dia adalah seorang yang pandai bersadar diri." Ucap Bu Tika.
"Seandainya dia bukan orang baik pasti dia akan memanfaatkan kesempatan ini untuk sebuah keuntungan pribadinya. Kamu bersabar aja ya kak, ini ujian buat kalian. Dan untuk kakak, kalo kakak sayang kakak doa terus supaya Allah kabulkan apa yang kakak inginkan." Tambah Pak Rizal menasehati.
"Jadi ayah sama bunda nggak masalah kalo kakak sama mas ojol?" Tanya Nazra meminta penjelasan.
"Jadi?" Tanya Nazra yang masih tak mengerti.
"Jadi Ayah sama Bunda juga akan menerima mas ojol dengan apa adanya di keluarga kita sebagai menantu pilihan kamu sendiri." Sambung Pak Rizal.
"Ayah sama bunda serius?" Ucap Nazra yang lagi-lagi bertanya. Udah kayak reporter lambe turah aja.
"Iya kak, kita semua dukung kakak asalkan kakak bahagia." Ucap Bu Tika.
___
__ADS_1
Sedikit nasehat dari kedua orangtuanya membuat Nazra lebih tenang dari yang sebelumnya. Dirinya tak lagi menangis, hanya saja melamun masih melekat pada dirinya saat ini.
Efek samping dari FaiZ amat lah besar terhadap dokter cantik ini rupanya, hanya pengakuan sederhana saja mampu memporak porandakan hati nya. Masih teman saja sudah hampir gila apalagi kalau ada hubungan yang lebih dan diputuskan, dapat dipastikan bisa saja Nazra gantung diri atau meminum racun rumput atau bahkan membentur kan kepala kedinding pagar.
"Mas Faiz kangen, sini yok balik ayah bunda restu kok." Gumam Nara seiring rintikan air.
"Mas Faiz sayang nikah ayok ." Lanjutnya lagi mulai sedikit tidak waras.
Sreeeyttttttty Duaaaaaaarrrr (suara petir)
"Astaghfirullah! Jantung jangan resign dulu, aku belom jadi bikin baby ama mas Faiz." Ucap Nazra seraya memegangi dadanya. Lagi enak ngehalu malah disadarin, niat banget tuh petir.
"Huaaaaaaaaaa pengen video call tapi ndak ada kuotaaaaaa." Teriak Nazra frustasi.
"Naseb naseb gini amat Ya Allah, mas Faiz kembali lah padaku janganlah dikau menyerah." Ucap Nazra dengan mimik wajah penuh penghayatan.
"Ya Allah jika dia jodohku maka permudahlah jalannya kemari, google map tolong bantu juga dia menemukan rumah ini. Pak polisi tolong kawal dia supaya tidak disambar wanita lain. Ya Allah jika dia bukan jodohku, ambil saja jodohnya dan jadikan dia jodohku. Google map jika dia nyasar bantulah dia kembali kearah yang benar, yaitu kerumah ini. Pak polisi jika dia memilih jodoh yang lain dan bukan aku antarkan dia kemari, jika dia tidak mau pidanakan dia dan penjarakan dia dirumah ini. Aamiin." Dengan khidmat bersamaan tetes air yang turun Nazra berdoa demi masa depannya dan mas ojol ganteng. Tidak apa sedikit memaksa yang penting niat hati tulus, demi cinta apapun akan dilakukan. Setidaknya tidak dengan prinsip cinta ditolak dukun bertindak, karena pada hakikat nya lebih baik jika berprinsip cinta ditolak Berdoalah dan biarkan Allah yang berkehendak.
______
Tetaplah dalam sabarmu.
Jangan lelah mengadu, sebab Allah tak akan pernah mungkin mengabaikan doa hamba-Nya.
__ADS_1
@ef.febriana