
********
Baru setengah perjalanan, tetes air sudah lebih cepat membasahi bumi namun belum bisa dikatakan sebagai hujan. Faiz dan Nazra masih memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dan akan berhenti jika tetes air sudah membasahi mereka.
Keadaan masih sama, tak ada yang membuka suara sekedar mengobrol atau bertegur sapa. Keduanya hanya memilih diam dan menikmati kebersamaan disore hari. Hingga pada akhirnya Faiz mencoba untuk menepis keterdiaman antara dirinya dan dokter cantik yang dibonceng nya.
"Ra, kita neduh dulu apa gimana? Kayaknya gerimisnya mulai berubah jadi hujan." Ucap Faiz.
"Kan baru berubah jadi hujan mas belum jadi power rangers." Jawab Nazra yang malah ngasal. Apa hubungan nya hujan sama power rangers.
"Hmm iyalah hujan masih air belom batu." Sambung Faiz yang ikutan ngasal. Kemana mana hujan ya air kalo hujan uang siapa juga yang nyebar.
......
Setelah percakapan singkat tentang hujan masih air belom power rangers, keduanya kembali terdiam dengan sesekali mengehela nafas canggung yang kembali mendera.
Hingga tak terasa keduanya sudah sampai dihalaman rumah mewah milik orangtua dokter cantik itu dan artinya tugas mas ojol sudah berakhir sampai detik itu juga.
Namun, semesta seperti mengetahui keinginan keduanya yang masih ingin bersama sekedar berbagi lirikan mata tanpa ada kata, tanpa diduga hujan turun dengan begitu lebatnya membuat Nazra dan Faiz lari menyelamatkan diri dari basahnya air yang turun dari langit.
"Yah hujan mas, neduh dulu ya." Ucap Nazra yang masih menggenggam tangan Faiz saat mengajaknya berlari menuju teras tadi.
"Mmm tapi Ra, aku gak enak sama orang tua kamu." Jawab Faiz canggung.
"Mereka bisa maklumin kok mas, lagian kita kan temen. Hujan deres banget loh." Ucap Nazra.
__ADS_1
"Mm ya udah makasih ya Ra." Faiz tersenyum manis dan membuat Nazra semakin terpesona akan sosok bernama Faiz. Hingga akhirnga dikejutkan okeh teguran dari seseorang yang sangat amat Faiz takuti disaat seperti sekarang ini.
"Kakak, masuk." Ucap Pak Rizal dari balik pintu. Sontak membuat Faiz seperti sedang tersambar petir, padahal tidak ada kilatan tanda datangnya petir walaupun keadaan sedang turun hujan.
"Ehh ayah, iya yah kakak masuk." Ucap Nazra seraya melangkah kan kaki hendak masuk kedalam rumah. Namun langkahnya terhenti saat sang ayah kembali bersuara.
"Itu mas nya ditinggal aja ga usah dibawa, kucing juga ga bakal doyan." Klontang gubrak dorrr itu tadi teguran apa penghinaan untuk Faiz sebenernya. Dan secara spontan Nazra langsung menghempaskan tangan Faiz yang sejak tadi digenggamnya tanpa dia sendiri sadari.
Jangan ditanya bagaimana Faiz, dirinya membeku bagai ikan tuna masuk dalam freezer. Dikagetkan dengan tangannya yang dihempas Nazra dan kalimat dari kandidat ayah mertua yang sedikit membuat hati nya ngilu dan jiwanya menjadi insecure. Kucing aja doyan ikan asin loh, masak modelan ikan salmon nggak doyan kan payah dah lah payah. Begitulah pikir Faiz.
"Hehe maap ayah, kesangkut tangannya tadi." Ucap Nazra dengan tawa canggungnya. Ya Allah Nazra, kalo cari alesan yang elit dikit ya, masak kesangkut jelas jelas situ yang genggam tangannya mas ojol.
"Kesangkut apaan, ayah liat dengan kata batin ayah kalo kamu sengaja pegang tangannya mas ojol. Emang kamu mau nyebrangin mas ojol apa?" Gerutu pak Rizal yang hanya ditanggapi cengiran oleh anak sulungnya itu.
Dengan rasa malu, canggung dan ntah apa lagi, Nazra melarikan diri dengan segera kedalam rumah. Sedangkan Faiz hanya menunduk dan terdiam diteras rumah bersama pak Rizal yang masih menatapnya intens bagaikan detektif yang akan melakukan introgasi.
"Ehhh?" Beo Faiz menatap Pak Rizal dengan heran.
"Hahaha malahan, yaudah ayok masuk dulu ngopi kita." Ajak Pak Rizal.
"Masuk Pak?" Tanya Faiz yang malah semakin linglung, dikasih kode baik malah kek nenek nenek habis kecopetan. Dasar Faiz.
"Iya lah, kok malah nanya sih masnya." Jawab Pak Rizal santai bak dipantai.
Dengan ragu ragu akhirnya Faiz mengikuti Pak Rizal memasuki rumah, dan ternyata diruang tamu sudah tersedia 2 gelas kopi hitam yang baru saja diletakkan oleh Bu Tika beserta dengan cemilannya, rengginang.
__ADS_1
"Wah bunda, belom dikode udah auto aja." Ucap Pak Rizal.
"Lohh bunda siaga Yah, silahkan duduk masnya." Ucap Bu Tika dengan ramah mempersilahkan Faiz.
"Makasih pak buk, jadi ngerepotin." Jawab Faiz merasa segan.
"Halah biasa aja mas, lagian buat temen saya ngobrol. Anak bujang saya hobinya ngelulurin bekicot mulu ga bisa diajak tukar pikiran." Curhat Pak Rizal panjang lebar setelah duduk disebuah sofa empuk diruangan itu sambil menyeruput kopi hitam hangatnya dengan nikmat.
"Namanya anak muda pak, pasti punya hobi sendiri." Faiz mencoba menanggapi ucapan Pak Rizal dengan harapan bisa nyambung terus direstui buat deket sama anak gadisnya. Hah sesungguhnya tidak semudah itu fergudel.
"Iya kamu bener hobi anak muda zaman sekarang suka aneh, tapi ya saya kasih kebebasan lah asal tidak melampaui batas normal." Ucap Pak Rizal.
"Yang penting masih positif ya pak." Sambung Faiz yang sudah mulai nyaman dan berani menyeruput kopinya dengan nikmat sedap mantap.
"Haha iya. Eh kamu keliatan deket banget sama anak saya temen sekolah nya dulu ya?" Tanya Pak Rizal yang membuat Faiz tersedak cangkir kopi.
"Uhuk. Eh gimana pak?" Tanya Faiz disela batuknya akibat tersedak.
"Kamu keliatan deket sama Nara, kalian temen sekolah dulu kah?" Tanya Pak Rizal pura-pura tidak tempe dan tidak tahu. Padahal mah paham bener gimana awal mula kenal.
"Mmm nggak pak, kebetulan sempet ketemu aja dan karena saya ojol jadi ada kesempatan ketemu lagi kalo Nara eh Mbak Nara nya order saya." Jawab Faiz gugup.
"Oh saya kira temen sekolah. Kamu ada niat mau deketin anak saya nggak?" Tanya Pak Rizal seraya menaik turunkan alisnya menggoda Faiz. Sedangkan Faiz sendiri seketika tercengang dengan pertanyaan yang to the point dari Pak Rizal selaku ayah kandung dari dokter pujaan hati.
"Hah saya? Gimana pak?"
__ADS_1
__________
Wohoo!!! how are you warga amuba???😹