
***
Ntah terkena angin apa, Faiz merasakan bahwa jiwanya yang telah lama terasa hampir hampa bagai gurun pasir tanpa kaktus kini sudah mulai menyubur dengan tetesan embun. Bahagia itu yang Faiz rasa.
Beberapa hari sejak pergi berdua ke alun-alun, hubungan mas ojol dan dokter cantik ini semakin dekat dengan saling bertukar kabar melalui whatsapp atau pun bertukar pesan suara.
Tak ada yang lebih spesial dari ini sebenarnya, namun Faiz mensyukurinya karena bagaimanapun ini adalah suatu hal yang dia harapkan walau masih sebatas teman.
"Heh kamu seneng banget kayaknya, habis menang togel ya?" Tanya Roy tiba-tiba yang membuat lamunan Faiz akan masa depan menjadi buyar bagai nasi bungkus kehilangan karet gelangnya.
"Togel itu haram mas, bagus sabung ayam." Jawab Faiz seadanya tanpa berpikir lebih jauh.
"Oalah makin ngawur aja, sabung ayam juga haram kalik Iz, kamu emang nya mau apa disabung pas dineraka nanti?" Tanya Ardi.
"Diadu ama Fir'aun plus Namrud kamu Iz." Sambung Maulana dengan gelak tawanya.
"Wedeh amit-amit kalik mas gitu bener." Ucap Faiz bergidik ngeri.
"Sudah sudah, eh kamu lagi seneng gitu kenapa Iz? Sakitmu bawa berkah ya?" Tanya Eko.
"Behhh keberkahan bener mas Eko wkwkwk, ibarat gurun pasir kesiram hujan sirup cocopandan." Jawab Faiz riang gembira serta ceria.
"Cerita dong, kalo seneng tu dibagi ya gak bro." Ucap Ardi dan disetujui yang lainnya.
__ADS_1
"Gini lo mas mas yang terhormat, selama aku sakit itu cuma rebahan doang makan tidur nabung, siklus kehidupan yang selalu menjadi idaman. Gimana gak seneng, ya toh?" Jelas Faiz, akan tetapi malah membuat teman seprofesi nya terlihat jengah.
"Ga yakin kalo cuma gitu doang Iz, pasti ada yang lain." Ketus Roy.
"Lah iya bener, kayak misalnya ketemu jodoh gitu." Ucap Maulana yang setengah nya adalah sebuah ejekan.
"Kalo aku malah dia habis ketemu bu dokter cantik. Kayaknya nih kalo nasib dia baik aja." Ucap Eko.
"Hohoho aku senang sekali mas ojol ganteng, wkwkwkkw". Seru Faiz tanpa malu.
" Kayak kayaknya yang dibilang Eko ada benarnya pemirsa." Gumam Maulana yang diangguki semuanya.
"Kamu mau cerita apa aku siram kopi dua gelas pakek es gak pakek gula?" Ancam Ardi, yang malah membuat Faiz melongo gak jelas. Bagainana bisa mengancam dengan hal yang kurang menyeramkan seperti itu.
"Yodah cerita deh, daripada kopinya mubazir kan yak. Jadi gini yang dibilang Mas Eko itu ada bener nya kalo aku ketemu bu dokter cantik. Bukan hanya itu, bu dokter juga jengukin aku kerumah beberapa hari yang lalu." Jelas Faiz yang didengarkan dengan begitu khusuk dan khidmat oleh ke empat temannya.
"Masih temen, pelan pelan aja asal kesampaian wkwkw." Jawab Faiz percaya diri.
"Kamu telat ngegas dikit aja pasti ketikung dijalan lurus, ati-ati." Peringatan Ardi yang seolah sudah berpengalaman.
"Doa mu kencengin, usahamu kuatin. Terutama attitude jangan brutal, kalem kalem tajem biar ahh mantap." Saran Maulana.
"Widih bisa nih buat pegangan hehe, ajian Ajinomoto." Ucap Faiz.
__ADS_1
"Inget, deketin anaknya jangan lupakan keluarganya terutama orangtua. Raih lampu hijau emak bapaknya baru curi hati anaknya dengan Bismillah, InsyaAllah berkah." Sambung Eko yang juga memberi wejangan untuk sibujanh lapuk, siapa lagi jika bukan Faiz.
"Mas mas ku yang kadang julid namun baik hati, terimakasih atas saran dan nasehatnya, InsyaAllah ajian Ajinomoto ini akan Faiz jalankan dengan amanah." Ucap Faiz dengan senyum yang merekah indah diwajah manisnya yang kadang tidak ada aturan pakai sehingga malah menjadi pahit.
_______
Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, yang tandanya dia sudah harus menjemput dokter cantik ditempat praktek. Dengan gagah berani bak pendekar berkuda poni, Faiz melajukan sikupi kesayangan menulusuri jalanan kota.
Setelah beberapa menit berlalu akhirnya Faiz tiba dimana dirinya akan bertemu dengan bidadari surga, dimana lagi jika bukan tempat praktek Dr. Nazra.
"Sore, Mas Faiz." Sapa Nazra.
"Sore, Ra. Langsung pulang?' Balas Faiz sekalian bertanya tanpa basa basi.
"Iya mas, soalnya udah mendung. Takut nanti hujan kan kasian masnya juga." Jawab Nazra seraya meraih helm yang telah Faiz sodorkan untuknya.
"Yaudah ayok, keburu hujan seperti kata kamu." Ucap Faiz.
Sepanjang perjalanan mengantar Nazra pulang, Faiz dan Nazra hanya saling diam tidak ada obrolan sedikit pun diantara keduanya. Langit mulai tertutup awan hitam, tetes air mulai turun dengan perlahan tanda hujan akan segera datang.
Burung burung pulang kesangkar, indahnya senja berganti dengan abunya langit, para cebong mulai keluar dari peraduan menyambut guyuran hujan dan jangan lupakan Faiz yang panik jika dirinya dan Nazra akan terjebak hujan dengan segala kecanggungan yang mereka ciptakan.
Ajian Ajinomoto kalem kalem tajem berubah menjadi canggung canggung sedep, dimana keduanya akan saling diam dibawah rintikan gerimis yang mengundang kewarung pinggiran jalan dengan semangkuk mie rebus dengan telur setengah matang menemani acara meneduh ria bersama pujaan hati nan tercinta. Dan sayangnya semua baru halu semata, karena kenyataan gerimis belum membasahi dan Faiz masih melajukan sikupi nya mengantar Nazra pulang.
__ADS_1
_____
Maap ya warga baru nongol wkwkwk😄