
"Siapa ya kalian bilang ulet bulu?" Suara feminim sok manja toba-tiba nimbrung menggertak.
"Nadia noh, kenal ndak?" Tanya Ardi kepada pemilik suara itu.
"Nadia siapa?" Tanya perempuan itu semakin sinis mengintimidasi.
"Nadia anaknya Pakde Bahrun juragan kebon pisang." Jawab Roy malas.
"Kenapa kalian bilang ulet bulu?" Tanya nya lagi semakin geram.
"Gatel anaknya, banyak tingkah kayak cacing kremi." Sambung Maulana tanpa dosa.
"Kalian kok gitu sih sama aku??" Ucap Nadia manja.
"Loh kamu Nadia ya? Iz dicariin ulet bulu garukin gih." Ucap Eko dengan nada mengejek.
"Mas Faiz aku diejekin temen-temen kamu. Masak calon istri kamu dibilang ulet bulu." Adu Nadia kepada Faiz sambil geser-geser manja mendekati Faiz.
"Move is move, nanti kamu gatel-gatel dideketin ulet bulu." Ucap Roy semakin membuat suasana menjadi seru.
"Mas Faiz itu ndak kayak kalian ya, dia bakal belain aku. Yakan mas Faiz?" Ucap Nadia dengan penuh percaya diri, sedangkan Faiz malah masih diam sambil bersila dan tangannya sibuk berbalas kata dengan Nazra.
"Kok mas Faiz diem aja sih." Sungut Nadia karena Faiz sama sekali tak meresponnya.
"Dicuekin trek, trek jing trek jing trek." Heboh Ardi seraya bergoyang kanan kiri asik.
"Kacang kuaci permen, cang kacang kacang." Teriak Roy senang.
"Ehh kacang mahal woy, kemaren orang rumah beli nyampek rumah ngedumel." Sambung Maulana yang malah curhat. Sedangkan Eko masih asik menahan tawa.
"Kalian bakalan berhenti ngejekin aku kalo suatu saat nanti mas Faiz bakalan bertekuk lutut di hadapan aku." Seru Nadia menggebu-gebu.
"Bertekuk lutut is jangan dompet terus yang kamu tekuk" Ucap Eko yang sudah tak menahan tawa.
"Lah udah ditekuk nih lo, kan aku duduk bersila." Jawab Faiz yang masih fokus pada ponselnya.
"Hahah bener juga" Ucap Ardi semakin ingin mengejek Nadia.
"Mas Faiz tega ya aku diejekin ulet bulu terus diketawain juga." Keluh Nadia seraya meraih tangan Faiz. Namun belum sempat Faiz sudah berdiri dari duduknya.
"Kamu itu bukan ulet bulu...." Ucap Faiz membuat Nadia serasa terbang karena berfikir Faiz akan membelanya. Namun siapa sangka kalimat yang Faiz ucapkan masih ada sambungannya.
"Tapi kamu itu ulet cabe. Dah ya bro aku duluan". Ucap Faiz seraya melangkah pergi dari basecamp untuk menjemput Nazra.
Jika Faiz bisa pergi tanpa dosa maka genk helm ijo hanya bisa tertawa melihat Nadia yang melongo bagaikan ayam yang habis nelen tang. Bagaimana tidak melongo, yang awalnya berpikir akan dibela eh malah ternyata dihina juga ujungnya, serasa diterbangkan lalu dijatuhkan tanpa pemberitahuan. Begitulah nasib Nadia.
____
__ADS_1
Lain tempat maka lain pula kisah ceritanya. Diklinik Nazra kini tak hanya dua makhluk ciptaan Tuhan paling seksi namun bertambah lagi 3 insan yakni Rido dengan doinya si Tria dan Panji tentunya.
"Gaess nongkrong kita kuy." Ajak Rido dengan semangat 45, mungkin karena ajak doi kalik.
"You berempat ajalah, aku ndak ikutan malas jadi racun nyamuk." Jawab Nazra tanpa niat.
"Kamu kan dijemput sih Ra, ya ajakin dong mas ojolnya biar kita semua tau." Sambung Caca. Walaupun setiap hari Nazra diantar oleh Faiz ke klinik namun sekali pun Caca belum pernah melihat Faiz secara nyata. Karena saat pertama ketemu pun muka Faiz lebih mirip mayat hidup karena saking pucatnya.
"Nah bener kata calon istriku. Kamu ndak mau kenalin ke kita semua Ra?" Ucap Panji menimpali Caca.
"Takut ditikung ya Ra?" Tanya Tria yang sejak awal hanya diam tapi sekalinya ngomong minta ditabok.
"Ehh busyet mak, berani tikung aku suntik mati beneran." Sewot Nazra dengan raut wajah cemberut.
"Sadis bener, untung pautan hati ku Tria ndak jadi kamu." Ucap Rido bergidik. Sok-sokan sih kemaren aja ngejar-ngejar sekarang gitu heyeh dasar buaya.
"Udahlah hayok makan, laper nih. Tempat biasa gaes." Ajak Panji yang dianggukin keempat orang itu kecuali Nazra tentunya.
"Kapan lagi cobak, sekalian reuni ayoklah." Bujuk Caca, namun Nazra tetap tak memiliki niat sama sekali.
Tin tin tin!!
"MASNYA JAANGAN BUKA HELM JANGAN BUKA MASKER!!!" Teriak Nazra menggema saat mendengar suara klakson yang hampir dia hapal setiap saat.
"Astaghfirullah mulut apa toa sih." Gerutu Caca yang merasakan panas ditelinganya.
"Anak gadis kok mulutnya ngeri bener." Sambung Panji.
"He yang berisik itu kamu lho Ra, Ya Allah." Ucap Tria.
"Tunggu. Kamu nyuruh mas ojol yang didepan untuk ndak buka helm sama masker emang kenapa?" Tanya Rido penasaran.
"Biar kalian ndak nikung." Ketus Nazra.
"Ra kalo kamu beneran pulang ndak ikut ngumpul sama kami, jangan harap kami merestui hubungan mu sama mas ojol." Ancam Panji dengan serius penuh penekanan.
"Yang penting resty ayah bunda udah dapet." Sombong Nazra seraya melanjutkan langkah kakinya.
"Mbak bilang ke bulek yang ndak-ndak soal mas ojol biar kapok kamu." Lanjut Caca.
"Ehh kok ngancem nya gitu? Ya jangan dong mbak, sampek sini aja aku perjuangan dengan sekuat tenaga masak mau mbak berantakin gitu aja." Keluh Nazra dengan wajah memelas.
"Ya makanya ayok makan dulu." Ajak Tria.
"Halah yodah." Balas Nazra pasrah
Setelah melewati sesi berdebat, membujuk yang disertai ancaman kini Nazra dan yang lainnya sudah berada diluar pagar untuk menemui mas ojol pujaan hati dokter cantik.
Setelah sampai dihadapan driver ojol idaman sejuta sadgirl rasa penasaran keempat makhluk itu semakin meningkat. Bagaimana tidak penasaran dengan sosok tinggi tegap yang terbalut jaket ijo dan helm serta masker digilai dokter cantik seperti Nazra. Yang bahkan makhluk ganteng 9,9 seperti Rido saja pernah ditolak berkali-kali.
__ADS_1
"Mas bisa buka helmnya ndak? Saya kepo." Ucap Rido tanpa basa basi.
"Maaf mas, tuan putri ndak ngizinin." Jawab Faiz ramah.
"Ouwah tuan putri wkwkwk." Ledek Panji yang ternyata menyadari perubahan raut wajah Nazra setelah dipanggil Tuan putri.
"Udah buka aja mas, saya juga penasaran. Waktu itu mukanya masnya pucet kayak tapai kebanyakan ragi." Sambung Caca yang ternyata juga penasaran. Tapi itu tadi pernyataan atau penghinaan sih sebenernya.
"Hadeh, yodah masnya boleh dibuka terus kenalan sama ini umbi-umbian temen aku." Ucap Nazra setengah nggak rela.
Setalah mendapat izin dari ibu negara, Faiz membuka helm dan maskernya lalu kemudian menjabat tangan teman-teman Nazra sambil berkenalan.
"Faiz mas mbak." Ucap Faiz setelah semua menyebutkan nama.
"Lah pantes Do kamu ditolak, gantengan dia." Ucap Panji terus terang dan apa adanya.
"Lah aslinya malah kayak gulali, manis." Ucap Caca mengagumi.
"Ya wajar aku dihempas, lah yang jadi target modelan gini." Ucap Rido sambil geleng kepala.
"Saya ganteng kan? Makasih loh." Ucap Faiz percaya diri.
"Kan ganjen gitu." Gerutu Nazra tepat di hadapan Faiz.
"Ndak boleh cemburu gitu lah, jelek." Jawab Faiz seraya tersenyum.
"Hei Dayat ya?" Tanya Tria yang sejak tadi diam mengamati Faiz dari atas sampai bawah.
"Kok dayat beb?" Tanya Rido penasaran.
"Temen esempe aku beb, dulu jadi cowo idaman dia." Jawab Tria.
"Heh Trio kah kamu?" Tanya Faiz balik.
"Lah Gusti, laki bini sama aja kalo nyebut nama suka ngawur." Gumam Caca melihat kelakuan Faiz yang sama persis dengan Nazra saat menyebut nama Tria.
"Masnya, mulutnya typo ngerubah gender." Ucap Nazra.
"Kamu juga Ra gak usah nyalahin laki kamu." Geram Panji.
"Tria masnya tolong, masak calon istriku diganti nama. Bantai kambing zebra loh." Balas Rido.
"Eitsss masnya mantan Trio, eh salah Tria?" Tanya Nazra yang sudah dalam mode kepo dan cemburu terhadap Faiz.
"Menurut kamu gimana?" Bukannya menjawab Faiz malah memberi pertanyaan untuk Nazra, dah hal itupun semakin membuat Nasra terbakar api akibat ulahnya sendiri.
"Sebenarnya kita dulu itu.............".
_______
__ADS_1
Maap warga zheyeng aku gantung dulu😆 sambungan besok aja yo hihi🤭 soalnya ga bisa begadang besok mau rapid abtigent😄 warga yang ndak pernah kemana-mana tapi udah dirapid lebih 3x dalam masa pandemi ini kita satu server😄 dari aku buat kalian semua tetep semangat yaa jangan pernah bosan disogokin terus lubang idung nya😁