
____
Diakhir pekan seperti ini, Nazra tidak membuka praktek karena baginya dalam seminggu harus ada waktu untuk berlibur walaupun hanya diatas ranjang atau didepan TV.
Seperti sekarang, Nazra hanya berguling ria diatas ranjang king sizenya dengan sesekali tersenyum tidak jelas membayangkan Faiz yang akhir akhir ini membuatnya seperti sedang berada ditaman bunga pinggiran kali. Yang kadang indah dan kadang pula malah membuat tidak berselera.
Tok tok tok
"Kak!" Teriak Bu Tika dari depan pintu kamar Nazra.
"Kak" Teriak bu Tika sekali lagi.
"Ehh iya bunda ada apa? Masuk aja." Saut Nazra yang masih setia rebahan.
"Kamu masih betah bener rebahan kak?" Tanya Bu Tika saat sudah berada didalam kamar Nazra.
"Habis mau ngapain lagi bun, enakan juga gini." Jawab Nazra yang masih dalam posisi malas malasan.
"Bagus kamu kemana gitu loh kak, oh iya dibawah ada Rido nyariin kamu." Ucap Bu Tika menyampaikan apa yang menjadi tujuannya kekamar sang putri.
"Huh, ngapain sih hari libur gini malah kerumah. Bagusan dia tu ketaman sana loh main prosotan." Jawab Nazra malas.
"Kamu kira Rido masih bocah main prosotan kak?" Sewot Bu Tika.
"Kalik aja, kan dia sibuk ngejar duniawi tuh bun manatau mau ngulang masa bocah." Jawab Nazra masih sama seperti tadi.
"Udahlah kamu temuin sana, kalian temenan udah dari jaman pakek cangcut juga." Ucap Bu Tika yang kemudian berlalu keluar kamar.
Dengan malasnya Nazra berdiri dari rebahan nya dan berlalu meninggalkan tempat ternyamannya untuk menemui sosok manusia yang bernama Rido, seekor manusia yang sudah menjadi teman Nazra sejak masih bentuk embrio.
"Tumben main, kesambet apa?" Ketus Nazra saat sudah berada didekat Rido.
"Makin ketus aja buk." Jawab Rido.
"Main prosotan sana lah Do, daripada ngeribetin aku yang lagi enak rebahan." Ucap Nazra dengan rasa tidak suka, bukannya musuhan sama Rido cuman Nazra lagi malas saja dengan teman satunya ini yang selalu sibuk mengejar dunia.
"Marahmu udahan lah Ra, aku gini juga demi kamu." Ucap Rido menatap Nazra dengan tajam.
"Rido Yadiasta, kamu lakuin ini semua demi aku? Untuk apa?" Sinis Nazra kepada Rido yang berada tepat dihadapannya.
"Supaya aku bisa menjadi imam yang terbaik buat kamu Ra, kamu kan tau aku suka sama kamu sejak SMA." Jelas Rido.
__ADS_1
"Aku kalo cinta sama orang gak mandang hartanya Do, sekarang pun kamu tau kan kalo aku tetep gak bisa bales cinta kamu walaupun kamu udah sukses?" Tanya Nazra.
"Cinta karena terbiasa Ra." Ucap Rido dengan pelan, karena dirinya sendiri tidak begitu yakin dengan kalimat yang telah dia ucapkan.
"Kurang terbiasa gimana sih Do Re Mi Fa Sol? Kita udah temenan dari kita masih bentuk cebong nyari rumah dirahim emak masing-masing." Tutur Nazra dengan santai.
"Apa kamu gak ada niatan buat buka hati buat aku lebih dari temen Ra Zai Sin Syin?" Tanya Rido penuh dengan harapan semu.
"Dulu udah pernah nyoba dan minta kamu buat stay disini, eh malah kamunya nekad go away. Ya udah nggak jadi aku buka lagian pas itu aku juga baru ngintip." Jawab Nazra tanpa dosa, padahal Rido sudah memasang wajah serius mendengarkan penjelasan Nazra.
"Terus sekarang gak bisa?" Tanya Rido memastikan.
"Maap ya Do Re Mi, dengan kamu yang sekarang kamu bisa dapet yang lebih dari aku. Tapi kalo lebih gesrek dari aku sih kayaknya nggak ada." Ucap Nazra.
"Padahal aku kerja sambil kuliah biar bisa jadi setara sama kamu." Lirih Rido dengan perasaan sedikit kecewa.
"Gini ya Do, perasaan itu gak bisa dipaksain. Dan kamu sukses kayak sekarang ini tu udah takdir kamu." Nazra menenangkan sang sahabat yang mungkin sedang merasakan kecewa karena ucapannya yang sudah kesekian kalinya menolak pernyataan dari Rido.
"Tapi Ra? Jawab jujur aku, kamu tolak aku sekarang apa karena kamu udah punya seseorang yang spesial dihatimu?" Tanya Rido perlahan karena tak mau membuat Nazra tersinggung atas ucapannya dan akan mengakibatkan perselisihan yang pernah terjadi dulu.
"Belom ada sih, tapi kandidat ada yang sesuai sama apa yang aku mau." Jawab Nazra pelan. Bukan hanya Rido yang tak ingin membuat Nazra tersinggung tetapi Nazra juga tak ingin membuat Rido merasa tersakiti karena pengakuan nya.
"Yang biasa aja, bisa ngajak kamu hidup susah makan nasi lauk ikan asin doang?" Tanya Rido menyelidik, karena sebelumnya Nazra menolaknya dengan beralasan beberapa hal itu.
"Terus aku Ra?" Tanya Rido lagi soal dirinya dimata Nazra.
"Hoalah Dorayaki, kamu tu sekarang pengusaha lek. Pasti sibuk banget, kamu punya karir sekarang orang sibuk. Tapi ya walaupun kamu tetep dagang cilok tiap sore kayak dulu aku gatau aja sih suka sama kamu atau nggak." Tutur Nazra dengan cengiran rasa bersalahnya karena dirinya sadar ada sedikit kalimat yang mungkin membuat Rido kecewa.
Bukan tak menggargai Rido, Nazra hanya tidak bisa jika harus memaksakan perasaannya. Sedangkan dulu disaat dirinya ingin mencoba tapi malah Rido tinggalkan, jadi bukannya Nazra sepenuh nya salah tapi wanita mana yang baru mau mencoba sudah terpatahkan untuk mau mencoba lagi dikemudian hari.
"Jujur banget sih mbak, tajem." Jawab Rido.
"Ya maap Do, kan kamu tau aku kalo diajak ngomong suka nyablak aja nggak pakek basa basi." Ucap Nazra merasa bersalah.
"Iya paham, aku juga minta maap. Dengan kita masih sahabatan aja aku masih seneng, setidaknya aku dah 3 kali ngungkapin perasaan aku kekamu kayak minum obat." Ucap Rido santai, ya walapun masih terbesit sedikit rasa kecewa tapi baginya persahabatan masih lebih utama.
Setelah perbincangan cukup panjang itu, suasana menjadi hening. Seperti nya tidak ada yang ingin bertanya atau sekedar basa basi. Rido yang malah menatap Langit-langit rumah Nazra sambil menghitung cicak, dan Nazra yang sudah merem melek karena menahan rasa ngantuk akibat suara siulan Rido.
"Heh Ra!!!" Bentak Rido tiba-tiba yang membuat Nazra kaget dan terjatuh dari sofa akibat duduknya yang memang sudah hampir merosot.
"Jangkrekkkk!!!! Bisa ga sih do gak ngangetin aku? Ganggu aja." Gerutu Nazra yang malah merebahkan diri dilantai.
__ADS_1
"Ya maap loh reflek. Habisnya cicak diatas ngasih ide nya dadakan." Jawab Rido dengan santai nya tanpa dosa sehelai bulu ketiak pun.
"Kumat, minta disuntik mati kayaknya." Gumam Nazra menatap tajam kearah Rido yang hanya cengar cengir bagai kuda lagi sikat gigi.
"Maap loh, mau nanya nih kandidat kamu bisa nggak kasih tau ke aku Ra?" Tanya Rido seraya menaik turunkan alisnya menggoda Nazra.
"Belom bisa." Ketus Nazra, tapi dirinya malah sudah salah tingkah.
"Kenapa? Jelek ya? Atau item lebih dekil dari aku ya kan?" Goda Rido semakin menjadi.
"Apa hubungan nya harus kasih tau kekamu, yang jelas hitam manis kumis tipis." Jawab Nazra sewot, seakan tidak terima jika Faiz dikatain item dan dekil.
"Heyeh marah ni yee, nolak aku ternyata udah ada kandidat, Om Rizal udah tau belum ya." Lagi lagi Rido menggoda Nazra, padahal tadi sempet bucin memohon tempat dihati Nazra tapi sekarang malah seolah mendukung Nazra memiliki pacar.
"Sssttttt tutup dulu mulutmu, bocor tak tambal pakek no drop." Ancam Nazra kepada Rido yang malah terkikik geli melihat reaksi Nazra yang diluar dugaan.
"Sangar, makanya kasih tau aku Ra. Biar aku bisa menilai dia sebelum Om Rizal. Kan aku udah kayak abang mu." Ucap Rido meyakinkan Nazra.
"Udah jadi pengusaha makin nyebelin aja ya, untung sahabat kalo nggak tak sambel kamu." Gerutu Nazra menahan emosi jiwa.
"Kan bari kandidat nih, besok lah kalo dah naik level jadi temen deket baru tak kasih tau." Sambungnya lagi.
"Beneran lo ya, awas kalo nggak. Aku dukung selalu keputusan mu walaupun kamu habis nolak aku." Ucap Rido.
"Kan diungkit lagi, pengen tak rujak lo gundul mu itu Do. Serius aku gak bohong." Ketus Nazra.
"Janganlah, nggak enak ini wong gak ada isinya kok."
"Seterah mu Do, semerdeka mu aja. Penting kamu seneng tak iyain kan ya udah." Jawab Nazra dengan sangat malas menanggapi ocehan Rido itu.
"Berarti kalo diiyain kamu nerima aku Ra?" Tanya Rido yang sengaja ingin membuat Nazra sedikit emosi. Karena jika sedang dalam keadaan bad mood Nazra akan terlihat menggemaskan.
"Semerdekamu aja aku udah males nanggepin kamu, bagusan kamu main prosotan di taman sana sampek ekormu datar atau main lompatan ditranpolin sana biar kepental sampek matahari terus gosong." Ketus Nazra yang sudah pasti dalam mode kesal karena nada bicara nya sudah sedikit meninggi dari nada normal.
"Wkwk marah, main jungkat-jungkit aja yok ntar tak beliin es potong, tapi tusuk nya aja." Bujuk Rido dengan jailnya.
"Pulang lah sana Do, ngitung ngitung kerikil di halaman rumah mu sana lebih faedah daripada disini negbacot aja kayak sales hakasima." Judes Nazra yang sudah muak dengan kelakuan Rido yang sengaja menggodanya agar marah.
Disaat Nazra sudah pasang mode cemberut, si Rido malah ngakak nggak jelas. Emang kebiasaan Rido adalah menjahili Nazra, walaupun dirinya sudah 3x ditolak bukan berarti dia harus berhenti untuk menggoda Nazra dan menjauhinya.
Karena sebelum perasaan lebih dari teman itu hadir, Nazra dan Rido sudah berteman bahkan selayaknya sodara. Jadi hubungan persahabatan itulah yang harus dipertahankan bukan ego untuk memiliki hubungan yang lebih.
__ADS_1
Sekarang yang ada dalam otak Rido hanyalah siapa yang menjadi kandidat tambatan hati Nazra, dan bagaimana caranya agar Nazra bisa bersama dengan orang itu, tapi kalo orang itu baik kalo nggak ya skip.