
Langit telah berganti, dari cahya mentari menjadi cahya bulan, waktupun sudah berganti detik demi detik nya hingga hari pun juga bertukar. Keadaan masih sama, belum ada yang berubah, Faiz masih belum ada keberanian menemui Nazra, dan Nazra yang masih enggan bertemu dengan Faiz walau sesungguhnya ada rasa rindu yang teramat berat dalam hatinya.
"Ndak ngojek Is?" Tanya Bu Leni memecah keheningan pagi. Walaupun sedang bersama menikmati sarapan namun tak satupun yang mau saling menyapa. Ntah ada apa di keluarga itu, yang biasanya Mela akan cerewet tapi kali ini sedikit lebih kalem.
"Ndak buk, Faiz ada perlu nanti siang." Jawab Faiz singkat. Mungkin keheningan yang tercipta pagi ini sumbernya adalah si jomblo yang lagi galau ini.
"Ya udah kalo gitu, semoga lancar ya Is. Bapak sama mas mu pergi duluan." Ucap Pak Aji seraya beranjak dari tempat duduk nya.
"Kami berangkat. Assalamu'alaikum." Ucap Edo yang kemudian menyusul Pak Aji.
Setelah kepergian Pak Aji dan Edo, keadaan kembali hening. Mela sibuk mencuci piring dan Bu Leni sudah bersiap hendak kepasar. Sedangkan Faiz masih termenung di tempatnya tanpa bergeser 1 inci pun dari sana.
"Kamu itu kenapa kok murung kayak ayam kejangkit demam berdarah?" Tanya Mela yang penasaran dengan sikap adiknya.
"Ngadi ngadi kamu, mana ada ayam kenak demam berdarah. Jangan diganggu adekmu nanti kamu kenak terkam kasian Edo jadi duda." Sambung Bu Leni menanggapi pertanyaan Mela yang tak mendapat jawaban.
"Yee ibuk kalo ngomong suka horor gitu." Jawab Mela sambil mencebik kesal terhadap sang ibu.
"Haisss yodah ibuk go to pasar dulu. Kamu awasin adek mu, ibuk takut dia minum oli sisa motor bapak mu nanti." Ucap Bu Leni yang kemudian berlalu pergi menuju pintu depan.
__ADS_1
"Oh ya satu lagi, Faiz jangan kebanyakan melamun. Nanti genderuwo yang dipohon nangka simpang depan kerasukan." Lanjut Bu Leni dengan setengah berteriak karena beliau sudah berada diluar rumah.
"Yaa kalik yang ngelamun titisan jenglot yang kerasukan genderuwo hahah." Ucap Mela seraya tertawa. Ada ada saja emang keluarga nya ini.
"Pada seneng banget kayaknya kalo aku si titisan mak lampir ngerasukin genderuwo?" Gumam Faiz yang masih terlihat murung ndak jelas.
"Yah makin ngawur. Ehh is kamu kenapa sih?" Tanya Mela sekali lagi, harap harap ada jawaban kali ini.
"Mbak, kalo aku......" Ucapan Faiz terhenti, ada keraguan yang tiba-tiba timbul dan membuat Faiz makin murung.
"Apa?" Tanya Mela makin penasaran. Si bocah kalo ngomong pakek lampu merah.
"Hey tayo ada apa?" Tanya Mela lagi.
"Heh biji ketumbar, mbak nya lagi penasaran juga malah nanya hari. Bikin sebel aja kamu. Tapi ini hari sabtu emang kenapa?" Sewot Mela yang mendapat jawaban tak sesuai keinginan namun pertanyaan Faiz tetap dijawabnya.
"Semoga aja bapak nya bu dokter ndak ada jadwal ngajar di kampus." Ucap Faiz.
"Emang apa hubungannya?" Tanya Mela.
"Ntar aja kalo dah jadi aku ceritain ke mbak." Jawab Faiz yang kemudian berlalu meninggalkan Mela sendiri denga berjuta pertanyaan "apa hubungannya?".
__ADS_1
Detik demi detik putaran jarum jam silih berganti, hingga tiba pada angka 2 yang menandakan sudah pukul 2 sore. Dengan keyakinan hati yang sepao mantep separo ragu, Faiz melangkah kan kaki mengayunkan tangan menuju sikupi hitam kesayangan.
Beberapa menit berlalu hingga kini dirinya tiba disebuah rumah yang sangat tak asing lagi. Berjalan dengan penuh keraguan dan ketakutan menuju pintu utama rumah itu, menjadi seorang tamu dengan harapan disambut selayaknya seseorang yang di inginkan dimasa depan.
Hembusan nafas kasar terdengar jelas seiring hentakan kaki yang menapak, grasak grusuk ulah tangannya yang mulai mendingi menjadj irama tersendiri yang mengiringi nya. Pintu sudah didepan mata, namun tangan enggan mengayun tuk mengetuk nya, bibir membisu dan lidah terasa kelu untuk sekedar mengucap salam.
"Huhhhhh, semoga dia ndak ada. Ya Allah lancarkanlah, hanya ini satu-satunya cara yang hamba bisa usahakan." Gumam Faiz dalam hati, tangan nya meremas ujung kemeja yang ia kenakan. Pikiran nya berkecamuk, hatinya gundah, banyak kemungkinan buruk yang menghantui nya saat ini namun dirinya tak boleh menyerah sebelum mencoba.
"Bismillah."
Tok tok tok
"Assalamu'alaikum" Ucap Faiz dengan diiringi detakan jantungnya yang luar biasa cepat tanpa aturan.
Pintu tak kujung terbuka, sautan salam juga tak kunjung terdengar. Kaki Faiz mundur satu langkah, nafas nya terengah. Apakah mungkin dirinya memang tidak diterima dirumah ini?
Tidak, tidak. Masa uji coba adalah 3 kali. Masih ada kesempatan 2 lagi, dan harus terus mencoba hingga kesempatan itu habis.
Tok tok tok
"Assalamu'alaikum". Ucap Faiz sekali lagi dengan harapan udah ini terakhir jangan ada yang ketiga.
__ADS_1
" Waalaikumsalam " Sahutan dari dalam rumah terdengar lembut dan ramah. Semoga ini awal yang baik untuk Faiz.