Dokter Cinta Mas Ojol

Dokter Cinta Mas Ojol
Nadia vs Nazra


__ADS_3

))))))


Ocehan masih berlanjut, Nadia bak murai batu yang baru dikasih jangkrik, berkicau ria tanpa lelah. Dan Nazra masih saja setia menikmati nasi goreng spesial telur kadalnya tanpa perduli telinganya rusak akibat ocehan tanpa henti makhluk di sebelahnya.


"Alhamdulillah, perut kenyang hati senang pikiran tenang tenaga siap baku hantam." Gumam Nazra setelah meneguk segelas air teh yang bercampur dengan bongkahan es batu hasil baku hantam bude warung dengan senjata batu bulat penggiling cabe.


"Duh duh asal kamu tau ya dokter sombong, mas Faiz itu mau lamaran tauk." Melirik tajam, ucapan Nadia barusan membuat Nazra seakan ingin menyayat tubuh mungil yang sedang mengoceh itu dengan celurit tumpul detik itu juga. Niat hati mau jadi pendengar yang baik malah dapet kata kata menyebalkan jiwa yang sedang ingin berjuang.


"Kaget kan? Kaget kan? Ya kaget lah masak nggak pulak." Lanjut Nadia mengejek Nazra.


"Bisa dilanjut?" Tanya Nazra datar tanpa menatap Nadia sedikit pun.


"Idih kepo, bu dokter jangan mencoba mencari tau apa yang gak seharusnya bu dokter tau, itu bisa bikin sakit." Ucap Nadia sok menasehati, sedangkan yang menjadi tujuan malah acuh seakan perkataan Nadia barusan tidak terdengar olehnya.


"Hmmm oh ya asal bu dokter tau lagi, aku itu spesial dimata mas Faiz, buktinya aku bisa tau kalo mas Faiz mau lamaran." Sambung Nadia karena tak mendapatkan respon dari Nazra.


"Nggak usah ngerasa spesial, kamu itu manusia bukan martabak apalagi nasi goreng." Jawab Nazra santai namun kata-katanya mampu membuat Nadia merengut kesal.


"Maksud aku itu, aku istimewa tau." Ucap Nadia yang sangat kesal karena sejak pertama bertemu tadi selalu saja dicuekin Nazra.

__ADS_1


"Terserah." Singkat padat dan jelas, 1 kata mengakhiri segalanya. Tapi bukan Nadia kalo udah nyerah gitu aja, sebelum laut mati hidup lagi harus berusaha sekuat tenaga menjauhkan dokter ini dengan mas Faiz.


"Bu dokter sombong, mas Faiz itu mau lamaran sama aku loh." Ucap Nadia dengan bangganya, dan tanpa dia sadari dirinya telah membangkitkan titisan macam belang tiga yang sedang terbakar bulu ekornya.


Tanpa babibu, Nazra langsung menyiram Nadia dengan kecap yang berada di hadapan nya, mendengarkan ucapan Nadia membuat Nazra bagai disambar petir ala boboi boy kuasa 3, bergetar dan penuh amarah.


"Kamu apa apaan sih, aku bukan bakso yang harus kamu kecapin." Gerutu Nadia yang sudah berlumur kecap.


"Haha, jangan ngehalu yaa sayang. Kalo gak kesampaian bisa sakit sampai kerelung paru." Dingin dan datar, dengan pandangan tajam Nazra mengucapkan kalimat yang sungguh bertolak belakang dengan isi hatinya, pedih woyyy yang mau diperjuangkan malah lamaran ama musuh, kenyataan perih macam apa ini.


"Kalo nggak percaya ya udah, bagusan kamu jauh jauh dari mas Faiz mulai sekarang." Ketus Nadia merasa menang karena sudah menyampaikan kebohongan yang membuat Nazra salah paham dan menjauhi Faiz.


"Itu bukan urusan ku, karena aku tidak akan pernah melakukan itu. Aku tidak ingin menjadi seperti mu yang spesial bagai martabak dan istimewa bagai nasi kotak." Ucap Nazra masih datar dan tenang walaupun hati dan jiwa nya tengah terguncang.


"Apa kamu yakin dokter sombong? Kenyataan sangatlah pedih bukan?" Tanya Nadia yang mulai termakan emosi.


"Apa kamu takut? Aku harap kamu tidak akan menyerah dengan mudah. Karena permainan mu baru saja mulai bukan?" Jawab Nazra seraya menyeringai sadis. Dokter yang ramah kalo diganggu bisa jadi dokter judes juga ternyata yaaaa..


"Kita lihat saja siapa yang menang nantinya, dengan kejadian ini bisa saja aku menarik simpati mas Faiz dan membuatmu menelan kembali ucapanmu yang menyeramkan barusan." Ucap Nadia seraya duduk manis menanti kedatangan Faiz, sedangkan bude warung cuma diem bae kagak mau bantu takut kena cakar katanya.

__ADS_1


"Wanita baik tidak akan bermain kotor." Ucap Nazra yang kembali tenang dengan segelas es teh yang sudah tambah 2 kali. Menahan pedih dan emosi bikin haus bagai di padang pasir, hareudang.


Beberapa menit berlalu, keadaan kembali tenang namun masih sedikit tegang karena saling melirik tajam. Bude warung hanya mampu mengintip dari balik serbet takut kejadian tembak laser.


Yang ditunggu tak kunjung tiba membuat suasana hati masing-masing gundah gulana, kenyataan apa yang akan terjadi nantinya tiada yang tau. Jika memang Nadia dan Faiz akan lamaran maka tertusuklah sembilu Nazra dengan jutaan duri kaktus. Namun jika memang Nadia hanya halu maka pukulan naga berekor kucing akan mendarat dikepala Nadia, begitu lah pikir Nazra.


Sedangkan Nadia sudah bersusah payah menelah ludahnya sendiri, takut-takut jika rencana nya membuat Faiz bersimpati gagal bisa malu sendiri, tapi jika berhasil akan berkurang lah saingan yang amat berat hari ini.


"Assalamu'alaikum..." Teriak kelima alien membuat Nazra dan Nadia membuyarkan lamunannya.


"Weih ulet bulu luluran kecap? Mau jadi bakso bakar buk?" Tanyaa Maulana yang baru menyadari keberadaan Nadia, sedangakn Nazra belum terlihat oleh kelima alien.


"Mas Faiz..... Liat aku terdzolimi..." Dengan raut sangat memelas Nadia mengadu pada Faiz, namun yang didekati malah menjauh seolah jijik dengan penampakan Nadia.


 


Minal Aidzin Walfaidzin warga amuba...


Mohon maap lahir dan batin yaa warga kalo aku ada salah dan khilap dalam penulisan cerita, waktu per update an, pembalasan komen dsb🙏

__ADS_1


Dari yang aku sengaja mau pun yang tidak aku sengaja🙏


Sekali lagi mohon maap lahir dan batin 🙏🙏


__ADS_2