Dokter Cinta Mas Ojol

Dokter Cinta Mas Ojol
Ojol Cinta 7


__ADS_3

__________


Dalam perjalanan Nazra hanya diam saja, dan Faiz pun juga merasa canggung dan segan jika harus menyapa atau mengajak Nazra berbincang selama dalam perjalanan. Bagaimana pun Nazra adalah penumpangnya, jadi sebisa mungkin Faiz harus menghormati keputusan penumpang nya itu yang hanya berdiam saja.


"Ngiri mas." Ucap Nazra tiba-tiba.


"Jangan ngiri mbak dokter, jadi seorang insan tu kudu jadi diri sendiri." Jawab Faiz nyeleneh .


"Oalah mas mas, saya ngajakin mas nya ke kiri bukan merasa iri." Ketus Nazra.


"Walah jangan mbak dosa, nganan aja ya yang baik." Jawab Faiz yang kembali melontarkan kalimat asalnya.


"Mas mau saya suntik mati ya?" Sinis Nazra yang mulai kesal dengan jawaban Faiz.


"Ya nggak lah mbak, saya belum nikah masak udah mau disuntik mati sama calon sendiri sih." Ucap Faiz yang membuat Nazra terbengong.


"Ehhh?? Mm itu... Belok kiri dulu." Ucap Nazra terbata karena merasa ada desiran aneh dalam dirinya saat mendengar ucapan Faiz barusan.


"Ohh belok kiri, ya hayuk lah mbak." Jawab Faiz tanpa merasa ada perubahan penumpang nya, dengan masih dalam kecepatan sedang Faiz membelok kam Scoopy hitamnya ke arah kiri sesuai arahan Nazra.


___


Saat sudah berbelok kekiri, Faiz tidak tau lagi hendak kemana karena Nazra tak kunjung mengatakan tujuannya. Yang Faiz tau, ini adalah jalan menuju pasar tradisional yang biasanya buka dari pukul 2 pagi hingga 11 siang.


"Stoooopppppp!!!" Pekik Nazra mendadak hingga membuat Faiz mengerem dengan secara tiba-tiba.


Ciiiiiiiiittttttttttt!!!


"Ya Allah mbak dokter kalo ngode dari jauh ngapa mbak bahaya ini." Ucap Faiz yang merasakan jantungnya hampir lepas seirama dengan berhentinya motor secara paksa.


"Saya juga baru sadar mas kalo dah nyampek, aduh sampek nempel nih kan keenakan mas nya." Jawab Nazra seraya menjauhkan tubuhnya yang sempat nempel hangat dipunggung Faiz.


"Lah saya mana sempet mikir kesana mbak, yang ada nih ban motor saya kekikis aspal, Ya Allah nih jantung juga hampir ngerem mendadak." Ucap Faiz menghirup nafas lega karena selamat.


"Yaa maap mas, yodah yok temenin saya." Ajak Nazra yang sudah turun dari motor.


"Ngapain toh mbak ke pasar? Bukannya mbak mau ketempat praktek?" Oceh Faiz dari belakang.


"Mau beli sparepart." Jawab Nazra seadanya.


"Emang di pasar ada bengkel ya mbak dokter?". Tanya Faiz dengan polosnya.


Bukannya menjawab, Nazra tetap melanjutkan langkah kakinya menyusuri setiap gang pasar, dan sepanjang itu pula Faiz masih bertanya mengenai apakah ada bengkel yang buka lapak ditengah pasar.


" Mbak dokter jawab toh jangan diem aja, penasaran nih saya. Emang beneran ada bengkel dipasar yang jual sparepart?" Faiz mengedarkan pandangan nya namun bukan sparepart motor atau mobil yang diliatnya melainkan kalelawar dan kacamata tergantung bebas disana.


"Astaghfirullah mbak dokter ngapain ngajakin saya kalo kesini, haduh kenapa begini." Gumam Faiz yang menutupi sebagian matanya dengan kedua tangan.


"Saya juga kepaksa ngajakin masnya, soalnya disini yang jual rata-rata laki-laki mas, saya nya kalo sendirian malu." Jawab Nazra dengan cengiran canggung.


"Gusti, jadi yang dimaksud sparepart itu modelan bungkusan harta karun." Ucap Faiz masih merasakan keterkejutan luar biasa.


"Kalo masnya merasa ternodai tutup mata aja nggak papa." Tanpa menoleh kearah Faiz, Nazra sudah disibukkan memilih sparepart yang cocok untuknya.


"Ya ampun ganteng gini masih polos banget pikirannya. Jadi makin uwuww kesannya." Batin Nazra kegirangan.

__ADS_1


"Mbak dokter kenapa belinya dipasar?" Tanya Faiz yang sudah menetralkan dirinya sendiri.


"Lah emang kenapa? Kan pasar diadain buat orang berbelanja kan?" Nazra balik bertanya.


"Ya maap mbak dok, maksudnya saya tu kan mbak dokter nih duit nya banyak, modelan mbak juga stylish banget kenapa beli ini maaf ni mbak sparepart nya dipasar nggak dimall atau toko gitu?" Tanya Faiz panjang lebar bagai rel kereta dari Padang ke Pariaman.


"Kan sama aja mau di mall atau pasar makeknya juga didalem mana ada yang tau." Jawab Nazra.


"Iya juga sih gak nampak, kecuali superman atau batman yang hoby pamer daleman." Gumam Faiz menanggapi Nazra.


"Wah masnya sayang banget sama istri beli daleman aja ditemenin." Ucap abang penjual.


"Namanya sayang istri." Jawab seorang perempuan yang seperti nya adalah bininya abang penjual sparepart.


"Ehhh apaan?" Tanya Faiz tidak mengerti.


"Bungkus yang ini semua ya." Ucap Nazra mengalihkan pembicaraan.


"Semuanya 280 mbak." Jawab abang penjual.


"Astojim mbak dokter borong dipakek sendiri apa mau dijual lagi? Apa kayak tisu sekali pakek buang?" Tanya Juan yang masih kaget dengan harga dan banyaknya belanjaan Nazra.


"Yang dirumah udah banyak yang gak nyaman." Bisik Nazra sebelum meninggal kan Fais.


"Hahhhhhhhh Paiz terbang melayang diatas awan awas kesamber pesawat duarrr fantasi mu mulai liar." Gumam Faiz yang kemudian langsung menyusul Nazra.


Dalam perjalanan meninggalkan lapak sparepart, Faiz dan Nazra tidak ada yang bertegur sapa. Nazra yang baru merasa malu karena telah mengajak Faiz membeli barang privasinya dan Faiz yang masih canggung akibat fantasi liarnya yang hampir menguasai akal sehatnya.


"Aduhhh, kebiasaan nih mbak dokter berenti dadakan kayak tahu bulat." Gerutu Faiz yang hampir menabrak Nazra.


"Belok kanan yok ada pakde pakde ikan asin." Jawab Nazra.


"Mau beli dong, disupermarket kan gak ada jadi mumpung disini sekali beli." Ucap Nazra.


"Mbak suka ikan asin?"


"Lah emangnya kenapa?"


"Ya nggak apa apa sih cuma kagum aja mbak." Jawab Faiz seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Emang dokter gak boleh makan ikan asin? Enak tau. Saya tebak masnya juga suka kan?"


"Hehhe favorit malahan mbak dokter."


"Yodah nih satu buat masnya." Nazra menyerahkan satu kantong ukuran menengah kepada Faiz.


"Ehh nggak usah mbak." Tolak Faiz karena merasa ini berlebihan.


"Ambil atau saya nggak mau order masnya lagi?" Ancam Nazra dan diangguki pasrah oleh Faiz.


____


Setelah dari pasar, Faiz kemudian mengantarkan Nazra ketempat praktek karena hari sudah menunjukkan pukul setengah 9 jadi Faiz sedikit lebih cepat mengendarai scoopy hitamnya.


"Makasih masnya, sayang kasih bintang 5. Dan untuk kedepannya saya boking setiap pagi dijam yang sama kecuali weekend oke." Ucap Nazra setelah sampai ditempat prakteknya.

__ADS_1


"Seriusan mbak?" Tanya Faiz dengan mata yang berbinar.


"Yap." Jawab Nasra sesingkat singkatnya.


"siap komandan." Jawab Faiz dengan antusias.


_____


Dijam makan siang, Nazra dan Caca sedang melahap bakso uratnya dengan sangat khidmat. Bahkan ada nyamuk produksi anak didekat mereka, keduanya pun tak peduli dan tak mau tau soal itu.


Hingga akhirnya acara makan selesai, dan sambil merehatkan diri yang lelah itu untuk sementara waktu sebelum kembali bertugas.


"Kamu tadi jadi kepasar?" Tanya Caca.


"Jadi mbak, soalnya mumpung ada kesempatan." Jawab Nazra.


" Kepasar beli apa? Jangan bilang kalo cuman beli ikan asin?" Ucap Caca seraya menunjuk sekantong asoy berisi ikan asin.


"Beli sparepart mbak, dirumah udah pada melar nggak nyaman." Jelas Nazra.


"Lah sama siapa? Bukannya kamu kalo beli harta karun gak mau sendirian." Caca mengerutkan dahinya tanda keheranan. Bagaimana mungkin seekor Nazra mau belii daleman sendirian tanpa teman, biasanya juga dia akan merengek minta ditemenin.


"Sama mas ojol." Jawab Nazra tanpa dosa.


"Apa? Kamu ngajakin mas ojol beli barang privasi mu Ra? Kamu waras." Cerocos Caca tak habis pikir dengan kecerdasan sahabatnya itu.


"Karena mas ojol nya yang waktu itu berobat kesini gegara keracunan spagetti, jadi aku ajakin dah."


"Yang manis waktu itu? Yang diantara keempat temannya dia yang masih jomblo?."


"Iya anda betul sodara Caca."


"Ya walaupun gitu kamu tetep geser sih Ra, otak mu gak guna lagi apa ya? Gusti, harusnya malu dong Nara." Frustasi Caca.


"Pas udah beli baru ngerasa malu mbak hehe." Ucap Nazra degan santainya tanpa dosa.


"Hah mentang ganteng aja langsung mbok ajakin beli sparepart, itu namanya sama aja kamu tu ngasih klu kedia buat berfantasi ukuran gunung merbabu mu." Dumel Caca merutuki kebodohan Nazra yang hampir mendekati presentasi 100% itu. Ada ya dokter yang nggak punya akhlak kayak ni orang.


"Dah terlanjur mbak mau gimana, lagian dia juga tutup mata sejak dateng ke lapak sparepart." Jawab Nazra.


"Maksud mu?"


"Dia kaget pas tau kalo aku jalan kearah lapak sparepart langganan kita, dia merasa bahwa matanya ternodai." Sambil terkekeh Nazra menceritakan ekspresi Faiz saat dipasar tadi.


"Ada gitu? Ya ampun ternyata polos banget gitu haduh gak kebayang." Ucap Caca yang kemudian ikut tertawa geli.


"Makanya itu, aku jadi lupa urat malu karena dia malah kayak bocak SD yang ngeliat daleman emaknya, shock berat kayaknya." Ucap Nazra.


"Kasian dia kamu nodai pandangan sucinya Ra." Ucap Caca.


Siang itu diwarnai dengan gelak tawa Caca dan Nazra saat bercerita mengenai Faiz saat dipasat tadi. Hingga tak terasa bahwa waktu isoma sudah berakhir dan saatnya untuk kembali bertugas.


Dilain tempat, ada sebuah makhluk yang sedang bersin bersin bahagia diatas motornya. Ntah karena apa sejak mengantar penumpang ke gedung DPRD tadi hidung dan mulut nya tak berhenti berulah. Hingga tiba di warung makan tongkrongan komunitas helm ijo pun Faiz masih saja bersin menyebar cairan dari hidungnya.


Hactchhiiiih!!!

__ADS_1


Haaatttcciiiihhhh


Huaaacchhiiiiiiiihhhh


__ADS_2