Dokter Cinta Mas Ojol

Dokter Cinta Mas Ojol
Kunjungan


__ADS_3

 


Hari ini Nazra kembali beraktivitas seperti biasa, yakni menjalani profesinya sebagai seorang dokter. Dan seharian ini pula Nazra terlihat gelisah tak menentu, dengan sesekali memandangi jam tangannya. Bahkan saat jam pulang tiba, Nazra tampak bagaikan mendapat jodoh dari Tuhan lengkap dengan bonus-bonusnya, senang bukan main begitulah gambarannya.


"Ra, kamu kok seharian ini aneh gitu?" Tanya Caca yang ternyata penasaran dengan sikap sang sahabat yang agak aneh menurutnya.


"Aneh gimana mbak? Aku biasa aja gini loh jangan nakutin lah." Jawab Nazra yang masih sibuk mengemas barang-barang nya kedalam tas.


"Lah yang harus nya takut itu mbak Ra, kok malah kamu. Gimana sih." Gerutu Caca mulai kesel.


"Tahan emosi tahan. Tarik nafas buang jangan ditahan ntar kembung." Ucap Nazra santai tanpa dosa, dan dengan patuhnya Caca malah mengikuti instruksi dari Nazra.


"Loh apaan sih kok malah mbak ngikutin kamu." Kesal Caca yang sudah naik level.


"Lah apa to mbak? Sensian gitu kebelet nikah apa?" Tanya Nazra bingung dengan kelakuan Caca. Ini sebenernya yang aneh itu siapa sih gak jelas emang.


"Bodo amat lah Ra, mbak darting ngomong sama kamu. Makin hari makin bikin orang emosi jiwa aja. Buruan cari jodoh sana biar gak nyebelin." Gerutu Caca panjang lebar seraya keluar dari tempat praktek.


"Lah apa hubungan nya mbak? Mbak nih yang buruan minta mas Panji halalin, makin hari makin sensi aja kayak banci kenak cubit kangguru aja lah." Balas Nazra tak kalah kesel.


"Mulutmu kalo ngomong suka minta dijepit portal komplek deh." Ketus Caca yang menatap Nazra dengan kesal sebal dan auk ah gelap.


"Hati-hati kalo pulang, itu mas ojol nya udah dateng." Tunjuk Nazra kearah mas mas helm ijo yang parkir dipinggir jalan tak jauh dari mereka.


"Loh bukan kamu yang nganterin mbak, Ra?" Tanya Caca bingung.


"Aku ada urusan mbak, jadi sebagai teman yang baik aku udah orderin ojol untuk mbak." Jawab Nazra tanpa rasa bersalah dalam benaknya.


"Kok kamu gitu Ra? Urusan apa sih emangnya sampek kamu ninggalin mbak?" Ketus Caca yang mencari sebab dan mencari alasan.


"Kalo aku ninggalin mbak gak bakal tak cariin ojol mbak." Sinis Nazra.


Tanpa menunggu jawaban dari Caca, Nazra langsung masuk kedalam mobilnya dan setelah itu dirinya membelokkan mobilnya ke arah yang berlawanan dengan arah pulang ke rumahnya. Melihat itu Caca reflek berteriak memanggil Nazra, kalik aja kan si Nazra lupa jalan pulang dan karena Caca orang baik, berniatlah untuk memperingati Nazra tentang jalan pulang yang benar.


"Woyy Raaaaa !!!!!" Teriak Caca menggelegar bagaikan petir yang menyambar malin kundang. Mendengar teriakan Caca, Nazra memberhentikan laju mobilnya dan membuka kaca jendela nya guna melihat Caca.


"Apaan sih mbak? Teriak teriak kayak emak emak kehilangan suami?" Tanya Nazra malas.


"Jalan pulang kamu salah sayang, pulanglah kerumah mu yang sebenarnya." Jawab Caca mendramatisir.


"Huh kirain apaan, udahlah mbak buruan pulang si mona minta susu tuh." Ucap Nazra yang tak ada niat untuk menanggapi sahabatnya itu, mungkin dengan menyebut mona si kucing tasikmalaya kesayangan Caca mampu membuat perempuan itu bergegas pulang, begitulah isi otak Nazra saat ini.


Dan yah berhasil, tanpa menyahuti ucapan Nazra, Caca langsung naik keatas motor mas ojol dan kemudian berlalu pergi. Sedangkan Nazra juga langsung buru-buru menjalankan mobilnya agar cepat sampai ketujuan masa depannya.


"Mmm bawa apa ya kesana." Gumam Nazra saat menunggu lampu merah berubah hijau, seperti harapan nya yang ingin mendapatkan lampu hijau dari keluarga mas ojol ganteng.


"Buah aja kalik ya biar sehat." Lanjutnya lagi saat sudah kembali menjalankan mobilnya.

__ADS_1


Sesuai dengan rencana Nazra mampir di sebuah kios buah langganannya, dengan gesit dirinya memilih berbagai jenis buah seperti pisang, mangga , jeruk, anggur, dan apel.


Setelah membeli berbagai buah-buahan, Nazra kembali melajukan mobilnya mengarungi jalanan raya yang berakhir disebuah jalanan khas perkampungan asri dengan pemandangan sawah dikanan jalan dan perumahan sederhana milik warga disepanjang kiri jalan.


"Alhamdulillah sampai, Nara yang cantik manis baik ramah hayo jangan gugup, jangan salting." Ucap Nazra menyemangati diri sendiri saat sudah berhasil memarkirkan mobilnya.


"Huhhhh haaaahhh, tarik nafas hembuskan baca bismillah. Bismillahirrahmanirrahim." Ucap nya lagi mencoba memantapkan hati. Sebenarnya ini mau bertamu kerumah orang apa kerumah setan sih, segitu nya bener persiapan mentalnya.


Dengan keadaan jantung nya yang jedag jedug jeder dan perasaan gugup gagap ntah apalah itu, Nazra mulai melangkahkan kaki dengan menenteng buah-buahan yang dibelinya tadi menuju sebuah rumah sederhana dengan tanaman hias terususun rapi di sepanjang teras.


Tak henti-hentinya si hati merapalkan kalimat Basmalah, Nazra mencoba memberanikan diri mengetuk pintu rumah itu beberapa kali dan tak lupa mengucapkan salam. Namun tak kunjung ada yang membukakan pintu membuat Nazra semakin dilanda kegelisahan luar biasa.


"Gak ada orang apa ya?" Gumam Nazra seraya menghela nafas kecewa. Dengan lemas dirinya termenung didepan pintu rumah itu hingga ada suara seorang wanita muda menegurnya.


"Mbak cari siapa?" Tanya perempuan itu namun tak mendapat jawaban.


"Mbak?" Tegurnya lagi yang membuat Nazra langsung Tersadar dari lamunannya.


"Ehh iya mbak saya?" Jawab Nazra seperti orang linglung karena masih terlalu shock akibat terkejut.


"Iya, mbak nya cari siapa?" Tanya perempuan yang sedang hamil itu ramah.


"Mm sa...saya anu mbak eemm mau...." Jawab Nazra yang malah gugup dan tak menyelesaikan ucapannya.


"Eehh ada Bu Dokter Nara." Teriak seorang wanita paruh baya dari arah samping rumah.


"Aaa ehhh, Assalamu'alaikum ibuk." Jawab Nazra semakin gugup saat mendapati seorang ibu-ibu tengah berdiri didekatnya.


"Mela juga baru dateng buk." Jawab Mela.


"Bu dokter ini anak ibu yang pertama, nama nya Mela. Dia ini mbak nya Faiz." Ucap Bu Leni memperkenalkan.


"Nara mbak." Ucap Nazra mengulurkan tangan dan disambut ramah oleh Mela.


"Saya Mela bu dokter." Jawab Mela dengan senyum ramah.


"Ayo ayo silahkan masuk bu dokter, maaf rumah ibu berantakan. Si Faiz kalo udah kumat jadi salon getok magic satu rumah awutan awutan." Ucap Bu Leni mempersilahkan Nazra masuk.


"Nggak papa buk, santai aja sama saya." Jawab Nazra sopan.


"Duduk dulu Bu Dokter." Ucap Mela.


"Panggil Nara aja mbak, ibuk juga. Saya kan gak lagi dinas." Ucap Nazra dengan senyum manis.


"Tapi..." Ucap Mela terputus oleh perkataan Nazra.


"Saya mohon ya mbak, ibuk." Pinta Nazra dan akhirnya diangguki dua wanita beda usia itu.

__ADS_1


"Mmmm btw nak Nazra ada perlu apa kerumah ibu?" Tanya Bu Leni basa basi, padahal mah dalam hatinya girang ada dokter cantik kerumah.


"Ehhh ibuk bahasanya btw btw." Ucap Nazra dengan kekehan kecilnya.


"Iya Ra, ibu itu gaya ngomongnya udah kayak abg kekinian." Sambung Mela.


"Yee walaupun ibu-ibu tetep harus ikuti perkembangan zaman dong." Jawab Bu Leni percaya diri dan hanya ditanggapi senyuman oleh Nazra.


"Oh ya Ra, kamu ada perlu apa kesini?" Tanya Mela penasaran.


"Aku... Anu mbak mau... Mmm mau." Jawab Nazra terbata karena gugup menyerang nya. Baru aja ditanya tujuan nya kesana ngapain udah gugup aja nih dokter, ngadepin orang luka parah sanggup ngadepin ginian ciut.


"Mau apa Ra?" Tanya Mela semakin dibuat penasaran, sedangkan Bu Leni malah senyam senyum nggak jelas.


"Mau jenguk mas Faiz mbak." Jawab Nazra salah tingkah dan menundukkan kepalanya.


"Oalah mau jengukin bujang lapuk, dokter mau mau aja sama Faiz." Ucap Mela saat mengetahui tujuan Nazra bertamu ke rumahnya.


"Husst harusnya kamu bersyukur adek mu ada kenalan dokter cantik gini." Tegur Bu Leni.


"Heheh iya maap buk." Ucap Mela.


Disaat Mela tengah tertawa dan Bu Leni mengomel, tiba-tiba seekor bujang lapuk bernama Faiz keluar dari kamarnya dengan terpincang karena merasa tengganggu. Dengan hanya mengenakan celana pendek diatas lutut dan kaos putih Faiz berpose didepan pintu dengan gaya cool bagaikan model.


Pemandangan itu pun seketika membuat Nazra berubah menjadi lobster rebus yang menampakkan rona merah merona pada wajah cantiknya.


"Lagi hajatan apa gimana sih buk, berisik banget." Ucap Faiz yang belum menyadari keberadaan Nazra.


"Ngunduh mantu." Jawab Bu Leni asal.


"Gak didownload bu?" Tanya Faiz melanggati keasalan sang emak.


"Nggak, ibuk nggak punya kuota." Ketus Bu Leni.


"Faiz tidak menyadari sesuatu." Ucap Mela.


"Jangan disadarin mbak, ganteng." Gumam Nazra tanpa sadar dan terus memandang kearah Faiz berdiri.


"Utuk utuk apa sih yang dokter cantik ini suka dari adek mbak?" Goda Mela kepada Nazra. Karena Mela tau Nazra dalam keadaan tak sadar sehingga jika diberi pertanyaan maka akan dijawab dengan jujur sejujurnya.


"Kumisnya, tipis tipis manja mbak aduhhh." Jawab Nazra yang masih belum tersadar dari imajinasinya. Sedangkan Mela sudah tertawa ngakak akibat jawaban Nazra yang polosan tanpa filter.


"Huaaaaaaaaa!!!!! Mbak Mela !!!??" Teriak Nazra saat sadar akan kebodohannya yang begitu nyablaknya mengatakan uneg unegnya kepada Mela.


Disaat Nazra sedang shock akibat ketidaksadarannya, Mela malah semakin ngakak melihat tingkah dokter cantik dihadapannya ini salah tingkah. Sedangkan Faiz malah melongo menatap dua perempuan dengan berbeda ekspresi itu dengan tatapan bingung dan heran seolah mengatakan 'ngapain sih? Ga jelas'.


Hingga akhirnya Faiz tersadar bahwa salah satu perempuan yang dia maksud tak jelas itu adalah dokter cantik pujaan hati, istri idaman dan kandidat calon ibu dari anak-anaknya kelak.

__ADS_1


"Astaghfirullah ibuk, ada bu dokter kenapa nggak bilang!!!!!!“ pekik Faiz panik bukan main karena malu dengan penampilannya.


" Aaaaahhhhh tidakkk!!!!!!"


__ADS_2