Dokter Cinta Mas Ojol

Dokter Cinta Mas Ojol
Keraguan Berujung Salah Paham


__ADS_3

______


Semakin diingat dan direnungkan maka semakin pula tumbuh kerguan dalam diri Faiz. Disetiap doanya, ia mengadu akan apa yang membuatnya bimbang dan semua selalu terjawab bahwa dirinya harus maju. Namun lagi dan lagi, apa yang telah ayahnya katakan kembali menggoyahkan hati nya.


"Ya Allah Gusti, sampek kapan kayak gini terus". Gumam Faiz seraya mengusap wajahnya dengan kasar karena frustasi.


" Ngapa to Is? Mulai edan kamu ya?" Tanya Roy keheranan.


"Ndak apa-apa kok mas, ya udah aku jemput Nara dulu." Jawab Faiz yang kemudian berlalu pergi.


Sepeninggalnya Faiz, helm ijo and the geng hanya dapat berpikir ada apa dengan Faiz yang kian hari kian aneh. Bukannya makin sumringah dan semangat malah semakin lesu bagaikan tanaman rambat yang tak tersiram air.


Dijalanan Faiz kembali bergumam menceritakan keluh kesah dan resah dalam hatinya kepada hembusan angin serta debu jalanan yang berterbangan.


"Apa aku pantes untuk buk dokter?" Lagi-lagi pertanyaan yang sama terlontar dari bibir Faiz.


"Apa orangtua Nara mau punya mantu tukang ojek kayak aku?" Semakin dipikir malah semakin membuat Faiz insecure, tapi apa daya jika inilah kenyataan nya.


"Berilah jawaban agar diri ini tak insecure dan.....".


" Halah buset ni lalet ngapa sih pakek mampir kehidung mancung mas ganteng." Gerutu Faiz saat ada lalat yang hinggap dihidungnya sehingga mengganggu doanya.


"Gini deh lalet yang lucu utug utug, bantu mas ganteng mikir ya sebaiknya mas ganteng kudu gimana?" Ucap Faiz yang seolah bertanya kepada sang lalat yang sudah pindah tangkringan kebahu Faiz.


Zsee zsee zsee (anggep aja bunyi kepakan sayap lalet)


"Apa? Masak iya harus mundur?" Tanya Faiz kembali.


Zsee zsee zsee


"Ya Allah, kan Aku tu manis ganteng. Tapi iya bener sih aku kere." Ucap Faiz seraya mengangguk lesu. Lalet aja tau mana masa depan baik mana nggak, apalagi Pak Rizal sama Bu Tika.


"Hah aku ragu dia jodohku atau bukan, jika aku yang akan terluka tak masalah tapi jika dia juga terluka........". Ucap Faiz terjeda karena mengambil jafaz terlebih dahulu, hampir lupa nafas sangking galaunya.


" Maka aku akan sangat merasa bersalah." Sambung Faiz kemudian.


Ntah sudah mulai tidak waras atau memang galaunya sudah tak ada obat, begini lah Faiz di sepanjang jalan menuju tempat praktek Nazra. Desiran angin dan hembusan debu dibersamai nya dengan curhatan isi hati.


Hingga tak butuh waktu lama, akhirnya dirinya sampai tepat didepan sebuah bangunan sederhana dimana Nazra mengabdikan dirinya sebagai seorang dokter.


"Mas Faiz?" Sapa Nazra dengan senyum manisnya, namun yang disapa tak juga menjawab ataupun menoleh kearahnya.


"Mas Faiz aman ?" Ucap Nazra sekali lagi seraya menyentuh tangan Faiz. Dan barulah Faiz tersadar dari lamunannya.


"Astaghfirullah, ehhh Saropah ngagetin aja." Kaget Faiz.


"Ihh si Udin, ngelamun aja sih salahnya." Jawab Nazra seraya tertawa karena wajah Faiz yang terlihat lucu baginya.

__ADS_1


"Ketawa lagi kayak ndak punya dosa aja." Gerutu Faiz saat melihat Nazra yang tertawa girang.


"Hehe ya maap masnya, ada apa sih kok ngelamun tumbenan?" Tanya Nazra.


"Ndak apa-apa kok Ra." Jawab Faiz.


"Kan ndak mau cerita masnya, maleslah." Ucap Nazra seraya cemberut bagai anak TK tak dapat permen.


"Ndak apa-apa kalo masnya cerita?" Tanya Faiz ragu-ragu.


"Iya ndak, kalik aja Nara bisa bantu masnya." Jawab Nazra dengan di iringi senyum manis membuat Faiz semakin tak ingin mundur dan terus maju, hujan panas badai banjir trabas pokoknya.


"Yodah kita ke taman yok sambil liat sunset." Ajak Faiz yang langsung diangguki oleh Nazra.


______


Tak perlu diceritakan bagaiman mereka diatas motor selama perjalanan menuju taman, karena sudah bisa dipastikan bahwa mereka hanya diam tanpa mengobrol atau saling tegur sapa. Biarlah angin yang mewakili serta repetan knalpot yang menghiasi perjalanan itu.


Sesampainya ditaman keduanya duduk diatas rumput nan hijau dibawah pohon nan rindang berhiaskan jingganya langit sore yang menenangkan. Belum ada satu patah kata yang keluar dari salah satunya, masih hening dan senyap.


"Masnya." Ucap Nazra seraya menatap Faiz yang masih menghadap lurus kedepan.


"Iya." Jawab Faiz dengan lembut.


"Katanya masnya mau cerita? Ayo aku siap dengerin semuanya." Ucap Nazra penuh keyakinan.


"Ra..." Panggil Faiz pelan.


"Iya mas?" Jawab Nazra tenang.


"Kamu jangan salah paham sama apa yang akan mas ceritain kekamu ya." Ucap Faiz seraya menatap Nazra meminta persetujuan. Namun sepersekian detik Nazra masih diam dan tidak mengangguk juga. Dan dapat dipastikan jika Nazra berpikit bahwa Faiz ingin mengatakan bahwa ada hati lain yang sedang diperjuangkan dan itu bukan dirinya.


"Ra?" Panggil Faiz yang menyadarkan lamunan Nazra.


"Mmm ii...iiya mas." Jawab Nazra terbata karena bingung harus jawab apa.


"Kamu ndak apa-apa kan?" Tanya Faiz memastikan.


"Ndak kok mas, yaudah buruan cerita." Jawab Nazra berusaha sesantai mungkin, padahal dalam hatinya sudah berperang akan beberapa pemikiran negatif.


"Ra, mas boleh tanya sesuatu?" Ucap Faiz tanpa menatap Nazra.


"Kok malah nanya mas katanya mau cerita?" Bukannya menjawab Nazra malah melontarkan pertanyaan.


"Jawab aja, boleh apa ndak?" Ucap Faiz seraya menoleh kearah Nazra.


"Ya boleh mas. Apa aja deh bebas." Jawab Nazra yakin.

__ADS_1


"Mmm nomer BH berapa Ra?" Tanya Faiz sok polos yang kemudian mendapat tampolan dari Nazra.


"Ihh apaan sih masnya malah nanyain nomer BH, kalo ndak salah sih 36 kalik ya." Gerutu Nazra namun juga menjawab.


"Loh malah dijawab." Kaget Faiz yang tidak menyangka bahwa Nazra akan menyebut kan nomer sakral itu.


"Kan nanya ya jawab dong." Ucap Nazra santai.


"Eeehhh tapi kan itu heyyy yah ketauan deh." Teriak Nazra saat menyadari kebodohannya sendiri dan Faiz hanya bisa menertawakan kekonyolan dokter cantik di sampingnya saat ini.


Niat hati menguji fokus ehh fokus beneran, bisa lah referensi buat mahar.


"Cerita deh jangan bercanda kan malu". Gumam Nazra seraya menunduk, masih malu kayaknya.


" Iya iya cerita, jadi gini mas mau nanya sebener nya hubungan kita gimana?" Tanya Faiz yang sudah kembali dalam mode serius.


"Ya kalo Nara sih pengennya lebih mas, bukan apa-apa mas tapi Nara udah nyaman sama masnya dan Nara mau ini ndak cuman kayak gini terus. Kalo pentingin gengsi Nara ndak bakal bisa dapetin kebahagiaan Nara." Jawab Nazra. Ntah siapa yang ingin curhat dan siapa yang mendengar ehh ini terbalik sepertinya.


"Jika berharap tidak menimbulkan penyesalan, masnya juga inginkan hal yang sama Ra. Tapi lagi-lagi sadar diri membuat harapan itu perlahan akan menoreh luka." Ucap Faiz.


"Maksud masnya apa?" Tanya Nazra yang tidak paham dengan apa yang Faiz sampai kan.


"Ra, apakah mas pantes bersanding sama kamu? Ibarat kamu bulan masnya cuma seonggok tanah." Jawab Faiz menunduk.


"Terus mas nya insecure gitu? Emang selama ini aku ada malu jalan sama masnya? Ndak kan?" Ucap Nazra yang sudah termakan emosi.


"Ndak gitu Ra, mas cuma sadar diri mas ini siapa. Mas takut jika mas nantinya tidak bisa membahagiakanmu, tidak bisa memberi apa yang kamu mau. Kamu terbiasa mendapat apa yang kamu mau Ra, sedangkan masnya apa sanggup untuk hal itu?" Ucap Faiz lagi.


"Jadi mas nilai aku selama ini kayak gitu? Aku nerima mas ada dalam hidup aku apa ada nya mas. Tapi kenapa mas malah kayak gitu sama aku?" Tanya Nazra dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Mas tidak menilai buruk kamu Ra, mas cuma ingin menyampaikan apa yang mas ragukan dalam diri mas. Mas ndak pengen kamu nyesel nanti pas udah sama mas yang ndak punya apa-apa ini Ra. Jadi sebelum terlalu jauh masnya bilang kayak gini kekamu. Mas takut orangtua kamu ndak terima mas." Ucap Faiz pelan dan hampir tak terdengar.


"Mas udah berberapa kali ketemu sama ayah sama bunda. Tapi mas masih bisa bilang mereka ndak terima mas?." Tanya Nazra dengan suara bergetar menahan tangis. Kecewa sungguh, seroang yang diharapkan menjadi pangeran hidupnya sudah menyerah sebelum berjuang. Itulah yang ia benci dalam hidupnya yang terahir dari kelurga berada, bukannya tidak bersyukur tapi dirinya harus menahan kesedihan disaat orang-orang menjauhi nya karena kasta. Padahal keluarga nya tak pernah membeda-bedakan.


"Ra awalnya mas ngira kebaikan orangtuamu adalah lampu hijau untuk mas mendekatimu, tapi setelah bapak menasehati mas akan siapa mas ini mas berpikir jika kebaikan orangtuamu terhadap mas hanya karena kamu memperkenalkan mas sebagai teman, dan belum tentu mereka menerima mas sebagai menantu kan? Semua orangtua ingin anaknya bersanding dengan orang yang tepat dan yang sanggup membahagiakan nya." Jelas Faiz panjang lebar seluas samudera Pasifik.


"Apakah mas ndak mau berjuang untuk Nara?" Tanya Nazra.


"Sebelum mas berjuang, mas lebih bersadar diri Ra. Mas ndak pengen kamu kecewa nanti setelah sama mas. Mas cuma tukang ojek yang tidak akan mampu menjanjikan kebahagian untuk kamu Ra." Jawab Faiz yang akan menggenggam tangan Nazra, namun dengan cepat Nazra menarik tangannya.


"Mas tau ndak? Aku sebagai perempuan rela menurunkan harga diri ngajak masnya kenalan sampai temenan supaya bisa kayak sekarang, dan aku juga berharap lebih sama masnya tapi apa ? Masnya malah ndak mau perjuangin aku." Ucap Nazra dengan sangat histeris. Ntahlah jika cinta sudah dalam hati seperti apapun kondisi nya ya hajar. Kayak Nazra contoh nya.


"Bukan mas ndak mau perjuangin kamu Ra, tapi....." Belum selesai Faiz berucap, Nazra sudah berdiri dan berlalu meninggalkan Faiz dengan mebawa tangisnya.


"Raa tunggu, kamu mau kemana?" Teriak Faiz seraya mengejar Nazra yang sudah berlari sekuat tenaga.


"Ya Allah kenapa malah kayak gini, aduh Mas Al salah konsep. Andin tunggu eh salah. Nara tunggu!." Gumam Faiz yang masih berlari mengejar Nazra, ngos-ngosan membuatnya berpikir ngawur.

__ADS_1


Sama kayak ngejar Rossi, mustahil. Perempuan kalo marah sambil nangis tenaga nya ngalahin gatot kaca. Keceng bener kayak roket, baru juga bentar udah ngilang.


__ADS_2