Dokter Cinta Mas Ojol

Dokter Cinta Mas Ojol
Ouuhh


__ADS_3

°°°°°


Sejak kepulangannya dari tongkrongan geng helm ijo siang tadi, Nazra memilih mengurung dirinya didalam kamar. Sapaan dari orang rumahnya pun tak ia hiraukan, godaan yang dilontarkan adiknya pun tak digubrisnya sama sekali.


Dengan polah Nazra yang tak seperti biasanya membuat anggota keluarga merasa bingung dan khawatir, mau nanya juga percuma panggilan saja tak mendapat jawaban darinya.


"Bun, oo bund..." Panggil Fatih dengan sedikit berbisik.


"Apasih dek bisik bisik tetangga gitu?" Tanya sang bunda seraya memicingkan matanya menatap anak bujangnya yang ikutan bertingkah aneh.


"Mau nanya bund, tapi takut kakak denger jadi bisik-bisik." Jawab Fatih yang masih saja dalam mode bisik tetangga.


"Ya ampun dek, ngomong biasa juga kakak mu ndak bakalan denger." Ucap Pak Rizal yang heran melihat kelakuan anaknya.


"Hehe si ayah, ehh bund kakak emang dari mana tadi? Kok pulang pulang kayak habis kenak bom israel gitu?" Tanya Fatih sambil menatap kamar sang kakak yang sudah tertutup rapat tanpa celah sedikit pun, jangankan nyamuk suara aja udah gak mampu menyelinap.


"Makin hari ayah lihat makin aneh aja bund, takutnya stres tu anak bunuh diri dibatang aglonema nanti." Ucap pak Rizal bergidik ngeri membayangkan putrinya mengakhiri hidup.


"Huss, ayah ni kalo ngomong ngasal ndak boleh begitu. Oh iya kalo ndak salah hari ini dia mau nemuin mas ojol buat nyelesaiin masalah salah paham kemaren." Jawab Bu Tika mengingat perkataan anaknya semalam.


"Hooo pasti hasilnya tidak sesuai dengan ekspetasi kan ya bund makanya begitu." Dengan tersenyum miris Fatih menarik kesimpulan versi dirinya mengenai sikap murung sang kakak.


"Ayah setuju dengan kesimpulan mu dek." Tak kalah dari Fatih, Pak Rizal juga menampilkan wajah yang teramat mengasihani.


--

__ADS_1


Waktu ashar telah berlalu, magrib juga telah terlaksana bahkan waktu isya telah tiba namun Nazra sama sekali belum keluar dari kamarnya, makan malam ia lewatkan begitu saja dengan hanya termenung ria.


"Dek ngapain?" Tanya Pak Rizal yang melihat anak bujangnya mondar mandir didepan pintu kamar Nazra. Udah kayak satpam bank aja.


"Nyetrika Yah." Jawab Fatih yang masih terfokus dengan pintu kamar Nazra dan langkah bolak baliknya.


"Kalo mau masuk ya ketok aja dek minta izin sama kakak, kalo kamu berhasil bunda sama ayah ikutan." Ucap Bu Tika yang baru nongol dari kamar nya sendiri.


"Ya Allah bunda, anak ganteng jadiin umpan masaknya?" Gerutu Fatih dengan muka cemberut, udah mirip banget kayak kucing persia pas sembelit.


Tok tok tok....!


"Bismillah, kakak boleh masuk kah?" Tanya Fatih ragu setelah mengetuk pintu, takut-takut kenak semburan lava panas.


"Masuk aja dek." Jawab Nazra dari dalam kamar dengan suara lemah tak berdaya, udah kayak berbie mainan yang habis baterai.


"Lemes bukan pasal lambung kosong dek, tapi ini lemes karena hati yang tersakiti oleh kenyataan." Jawab Nazra mengiba, membuat pak Rizal dan Bu Tika meneteskan air kran.


"Emang kenyataan apa sih kak? Sampek segitunya membuat putri ayah tak berdaya?" Tanya Pak Rizal yang ikutan nimbrung, kalo udah tua ni memang bawaannya pengen tau aja urusan yang muda.


"Oh iya kak, gimana ? Jadi nemuin mas Faiz? Terus udah selesai kan masalahnya?" Tanya Bu Tika bertubi-tubi tanpa peduli isi hati sang putri yang tersakiti kenyataan.


"Masalah nya udah clear bund, tapi hati ini tersayat duri kaktus gurun sahara, salah pahamnya udah selesai tapi dikasih bonus dengan kenyataan pahit sepahit kopi ayah kalo bunda lagi ngambek minta daster." Jawab Nazra dengan diakhiri helaan nafas panjang.


"Ya Allah ayah lagi kenak apesnya." Gumam Pak Rizal yang merasa tersindir, sedangkan bu Tika malah mesem mesem sendiri ndak jelas kayak kenak sawan.

__ADS_1


"Emang bonusnya apaan kak?" Tanya Fatih yang jiwa keponya sudah level 100 lebih dikit kurang banyak.


"Mas Faiz mau lamaran." Lemah, pedih, sakit setiap Nazra mengingat kalimat itu.


"Ooouuuuhhhhhhhh" Kompak, anggota keluarga itu menjawab hanya dengan membulatkan bibir saja dan tentunya membuat Nazra semakin tersakiti oleh kenyataan.


"Tidak berperikemanusiaan." Nazra mendengus kesal, bisa bisanya ada orang patah hati respon nya cuman oh doang, untung panjang kalo cuma pendek udah habis kenak cakar tu bapak ibu dan adeknya.


Sabar Mbak Nazra, ini ujian..


"Bingung mau respon apa kak, maap yaa ini udah terlalu menyayat relung jantung tembus ginjal." Ucap Fatih dengan cengiran khas tanpa dosanya.


"Sabar ya kak kalo jodoh ndak bakal kemana cuman lagi kemana-mana aja." Lanjut pak Rizal dengan senyum khas orangtua tak pernah merasa bersalah.


"Ssst, bunda denger ada yang ketok pintu ucap salam." Bu Tika berdiri dari duduknya dan menajamkan indera pendengaran nya.


"Waduh bund jangan jangan genduruwo mau bawa kakak yang lagi patah hati." Teriak Fatih berusaha panik.


"Elit dikit napa dek, itu manusia vampir yang mau menjadikan kakak permaisuri nya." Lanjut Pak Rizal yang ikutan berhalu.


"Itu malaikat maut yang mau interview kakak udah siap mati apa belum." Jawab Nazra dengan malasnya, malu aja gitu sama malaikat atid dan rakib ngeliat dia punya ayah sama adek yang ndak ada wibawa nya sama sekali.


Disaat si ayah dan anak anaknya sedang beradu akting, bunda sudah jalan keluar kamar guna melihat siapa yang bertamu malam ini. Kalik aja kan mas kredit panci bisalah bunda beli satu buat ngukus ubi buat cemilan pagi.


------

__ADS_1


Maap ye warga semalem lupa update, otor ngantuk berat😆 otor ganti siang ini yeee😍


__ADS_2