
°°°°°
Sejak malam minggu yang mengharukan itu Nazra sudah bisa menguasai dirinya sendiri, dirinya sudah lebih tenang dan mencoba untuk mengikhlaskan apa yang harus ia relakan pergi.
Hari-hari nya ia lewati seperti biasa, bekerja lalu pulang dan terkadang mampir ke taman atau mall hanya untuk sekedar melepas penat nya badan maupun penat nya hati.
"Sampek hari ini pun aku belum bisa nerima kenyataan ini." Gumam Nazra yang tengah termenung ditaman belakang.
Helaan nafas terdengar sangat lelah, mungkin sangat menyakitkan. Tapi mau bagaimanapun semua sudah terjadi dan ini adalah kehendak Allahu Rabbi.
"Kak, masuk yuk ayah mau ngemeng katanya." Ajak Fatih yang membuyarkan semua rangkaian lamunan Nazra.
"Mau bahas genderuwo sama drakula lagi? Kakak bosen ah dek kayak ndak ada yang lebih kece dari itu." Tolak Nazra, ya kalik diajak ngemeng cuma mo bahas begituan. Bukannya bikin tenang malah makin bikin esmosi yang ada.
"Penting katanya kak, menyangkut masa depan." Ucap Fatih seserius mungkin agar sang kakak percaya. Gini nih kalo biasanya ngebanyol susah dipercaya orang, lagi serius anggepannya ya ngelawak.
"Yodah on the way." Akhirnya Nazra pun melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga, walaupun malas menemui sang ayah tapi harus gerak juga, takut kualat.
Sesampainya diruang keluarga, ternyata disana sudah duduk dengan anggun Bu Tika dan sangat berwibawa nya Pak Rizal dengan secangkir kopi ditangannya. Tak tertinggal juga Fatih yang sudah duduk manis dikursi yang terpisah dengan kedua orangtuanya.
"Ada apa yah? Ndak biasanya pada serius begini?." Tanya Nazra yang ikut duduk di sebelah sang adik.
"Ayah mau ngomong sesuatu sama kamu." Jawab Pak Rizal tegas, kalo udah gini mesti hal serius ndak becanda kayak biasanya.
"Kakak dengerin ayah dulu ndak boleh nyela apalagi ngegas." Peringatan dari kanjeng ibu sudah siaga satu yang berarti ini bukan lagi adu kehaluan, dan artinya yang dengerin pun kudu serius.
"Silahkan yah." Jawab Nazra pasrah, udah dengerin aja dan turutin kalo ngelawan nanti malah beneran dikawinin sama drakula lagi, kan ndak elit.
"Malam ini tepat malam jum'at, ayah mau ngomong sesuatu yang sangat penting sama kamu. Intinya ini menyangkut masa depan kamu." Pak Rizal sudah memulai perkataannya dengan pembukaan yang terkesan menakutkan namun juga konyol, apa hubungannya malam jumat sama bahas masa depan? Bikin mikir yang iya-iya aja, apa bener nih mau dijodohin sama mas genderuwo?
Pikiran Nazra sudah berlarian ntah kemana, mau nyela takut disembur naga bonar, diem aja malah makin ndak karuan isi otaknya, dan akhirnya pun Nazra memilih untuk tersenyum samar sembari mengelus tengkuknya yang meremang.
"Ayah udah memutuskan untuk menjodohkan kamu dengan kenalan ayah, dia orang nya baik dan pantes buat kamu." Sambung Pak Rizal setelah menyeruput kopinya, kering juga kerongkongan akibat bahas malam jum'at, ada serem serem nya gitu bikin haus.
"Lagian yang kamu tunggu juga udah mau lamaran, jadi biar sama sama bahagia kamu juga akan lamaran." Tambah Bu Tika seolah keduanya sudah paling benar mengambil keputusan.
Bahagia apaan begini, yang ada makin nyesek nih ati, batin Nazra menjerit ngilu.
"Orang itu dan keluarga nya akan datang malam minggu setelah shalat isya', jadi kalo kamu ada janji atau acara dan sebagainya, ayah mohon sama kamu untuk membatalkan." Jelas Pak Rizal tanpa ada celah untuk Nazra membantah, hanya helaan nafas pasrah yang terdengar dari makhluk bernama Nazra itu.
"Sebelum bertanya ayah akan beritahu kamu kenapa ayah mengambil keputusan ini, dulu kamu sudah pernah menolak niat baik Rido, dan ayah tidak ingin lagi ada penolakan untuk yang kedua kalinya. Dan ini terjadi karena ayah takut kamu akan mendapat ganjaran karena sudah menolak 2 niat baik nantinya." Lanjut Pak Rizal dengan pembawaan yang datar dan tegas.
"Ayah udah selesai kamu boleh mengajukan pertanyaan, ingat pertanyaan bukan bantahan." Perintah Bu Tika yang disertai dengan peringatan.
__ADS_1
"Jujur Yah, ini berat buat kakak. Disaat kakak sedang merapikan hati yang lagi berantakan hancur berkeping, dengan setenang ini ayah akan menjodohkan kakak dengan kenalan ayah yang belum kakak tahu." Ucap Nazra yang terhenti karena dirinya kembali menghela nafas. Teramat sesak didada Nazra. Butuh oksigen dari RS rasanya, tau gini tabung oksigen klinik dibawa pulang aja.
"Seandainya Nazra menolak apakah Ayah akan marah?" Lanjut Nazra dengan menundukkan kepalanya takut menatap sang Ayah.
"Jangan terlalu cepat mengambil keputusan kak, hal apa yang kakak tidak suka sekarang bisa jadi adalah hal yang paling kakak nantikan nanti." Jawab Fatih mewakili jawaban sang ayah, sedangkan Pak Rizal hanya mengangguk tanpa berekspresi apapun.
"Turuti saja keinginan ayah kak, karena bunda yakin apa yang ayah pilih akan menjadi yang terbaik untukmu." Kini Bu Tika yang bersuara, diringa tau betul bahwa sang putri sedang merasakan sesak dalam dadanya namun bagaimana pun ini adalah bagian rencana yang tak mungkin ia gagalkan.
Diam, Nazra tak lagi bersuara. Dalam pikirannya mungkin saat ini pun dirinya menyampaikan isi hatinya tidak akan merubah keputusan sang ayah. Dan dirinya saat ini juga dalam keadaan lemah lahir dan batin, hatinya tersayat kenyataan, jiwanya terbebani perjodohan sedangkan egonya masih menantikan kehadiran Faiz.
"Jika memang itu keputusan ayah dan memang terbaik menurut ayah, bunda beserta Fatih. Kakak tidak ada pilihan lain selain mencoba menerima ini." Putus Nazra pada akhirnya, dirinya sudah tak mampu memikirkan cara apalagi untuk menyudahi ini semua. Dirinya lelah.
"Baguslah kalo kakak menerima. Ingat kak malam minggu mereka akan datang." Ucap Rizal diiringi dengan senyum bahagia.
"Kakak pamit kekama yah, bund." Pamit Nazra yang kemudian menghilang dibalik pintu kamarnya.
~~
Pagi menjelang, semalam Nazra langsung terlelap dalam dunia mimpi, mungkin karena terlalu kelelahan jiwa dan raganya membuat dirinya tak sanggup lagi bertahan.
Setelah sarapan dirinya langsung menuju ke tempat praktek, disana dirinya berlaku seprofesional mungkin. Walaupun dalam hatinya sakit jiwa nya lelah namun dirinya tidak boleh mengabaikan profesinya sebagai seorang dokter.
"Mbak, ntar sore ngumpul di cafe biasa." Ucap Nazra kepada Caca.
Setelah melewati hari yang melelahkan, Nazra dan yang lainnya sudah berkumpul dicafe tempat biasa berkumpul dari zaman kuliah dulu sampai sekarang ini.
"Alhamdulillah sudah ada yang ngajak ngumpul duluan, nebeng ngumumin kabar ya geng." Ucap Rido yang belum tau apa-apa.
"Kabar apa? Buruan to the point." Pinta Panji.
"Ini undangan pernikahan kami." Ucap Tria seraya menyodorkan dua kertas berwarna coklat diatas meja.
"Jadi nikah juga kamu, do." Ucap Nazra datar namun serasa mengejek dan hanya ditanggapi senyuman oleh Rido dan Tria.
" Ohh iya Adekku yang ayu ada masalah apa sini cerita." Ucap Panji kemudian, dirinya sadar jika Nazra dalam keadaan tidak baik baik saja.
"Iya dari tadi mbak liat kamu murung banget, kayak lagi dikejar penagih hutang aja." Sambung Caca yang memang sejak pagi sudah mencurigai polah Nazra.
"Mas Faiz mau lamaran mbak." Jawab Nazra datar, ini bukan yang menarik lagi untuk Nazra tapi masalah perjodohan yang saat ini mengusik hatinya.
"Yang bener aja kamu Ra?" Tanya Ridho terkaget, disaat dirinya mengumumkan kebahagiaan tapi ternyata salah satu temannya sedang menanggung kenyataan pahit.
"Jadi story WA kamu kemaren karena hal ini?" Tanya Caca penuh penasaran.
__ADS_1
"Yang mana?" Tanya Panji tidak tahu menahu.
"Yang ada photo cewe nyandar di bahu cowo terus Nazra bikin caption nya itu gini "semoga semua hanya mimpi buruk, dan ini bukan yang terakhir". Jelas Caca berusaha memulihkan ingatan suami dan kedua temannya. Gini nih kalo penonton story tanpa baca main skip seenak jidad.
" Lah itu photonyanya beneran? Bukan goggle? Aku malah fokus photonya." Jawab Ridho sambil garuk kepalahya yang ada kutu, gatel mulu kalo bingung. Tapi bener juga kalo bingung, itu Nazra kan lagi sedih kok sempet-sempetnya photo gitu?
"Emang beneran Ra? Mas ojol mau lamaran?" Tanya Panji mencari kebenaran.
"Iya gitu kenyataannya, tapi yang jadi masalah aku juga dijodohkan sama kenalan ayah." Lanjut Nazra dengan tatapan kosong.
"Itu tandanya emang kamu ndak jodoh Ra." Putus Tria yang tak tau lagi harus jawab apa, dan itupun mendapat anggukan dari yang lain.
"Padahal malam minggu besok mas Faiz ada janji buat kasih kejutan." Ucap Nazra lagi, tapi kali ini diiringi dengan senyum samar yang menandakan dia merasakan pedih dalam hatinya.
"Terus hubungannya apa?" Tanya Rido agak gublug dikit.
"Kenalan ayah juga dateng kerumah pas malam minggu." Jawab Nazra lemah, persis sama anak ayam yang kejepit pintu kandang dua hari dua malem.
"Kamu udah bilang soal ini ke dayat Ra?" Tanya Tria yang dibalas gelengan kepala oleh Nazra, gimana mau bilang punya keberanian aja ndak.
Disatu sisi dirinya mengharapkan Faiz datang dan kejutan yang dibawanya adalah kenyataan yang akan menyembuhkan hatinya sesuai apa yang Faiz sampaikan.
Tapi disisi lain Nazra juga takut melawan sang ayah, dirinya juga tidak mau mempermalukan keluarganya di hadapan kenalan ayahnya.
"Gini aja, kamu bilang terus terang sama mas ojol kalo kamu mau dijodohin, dan kamu bilang ke mas ojol untuk kejutan dari dia dipending dulu. Mbak yakin mas ojol bisa ngertiin posisi kamu yang sekarang." Dengan tenang dan lembut Caca memberi saran untuk Nazra. Gak tega rasanya melihat sahabatnya ini menahan sesak dalam hatinya.
"Aku setuju sama Caca, jauh lebih baik kalo kamu terus terang ke mas ojol." Sambung Ridho membenarkan ucapan Caca.
"Aku coba nanti." Jawab Nazra.
Setelah berbincang cukup lama, akhirnya semua bergegas kerumah masing-masing. Sore ini ada dua kabar didalam persahabatan mereka, yang pertama kabar baik dari Rido dan Tria yang akan menikah, dan kabar buruk dari Nazra yang ditinggal lamaran dan mau tidak mau dirinya sendiri harus terlibat Perjodohan.
Selamat malam wahai warga amuba yang terhormat?
Terimakasih telah bersukarela memberi semangat dan dukungan untuk otor, dan terimakasih banyak sudah bersedia membaca karya otor yang jauh dari kata bagus ini.
Otor ucapkan mohon maap yang sebesar-besarnya jika ada kesalahan, dan otor mau bilang kalo dokter cinta mas ojol akan tamat dalam beberapa episode lagi, jadi otor harap warga amuba tidak menyerang otor dengan tuntutan yang membebani otor lahir dan batin.
__ADS_1
Lopiyu warga😍🥰😘