
••°°••
"Bismillah, gugup Gusti Allah." Keluh Faiz didepan cermin. Dirinya telah rapi dengan setelan batik bewarna cokelat terang dan celana hitam serta peci yang bertengger dikepalanya. Penampilan nya sudah nyaris sempurna namun kegugupan masih saja hinggap dijiwanya. Yaa nggak ada hubungannya sih rapi sama gugup.
"Udah udah, yang tenang jangan lupa istighfar." Saut Bu Leni dari depan pintu kamar Faiz.
"Astaghfirullah ibuk, aku ganteng." Jawab Faiz yang malah memuji dirinya sendiri, emang gitu ya manusia kalo udah hadap cermin pasti jiwa narsis nya auto on.
"Halah malah narsis, ayok berangkat semuanya udah nunggu didepan. Cuman kamu aja yang lambat kayak keong sawah, mentang-mentang pemeran utama maunya ditungguin." Gerutu Bu Leni mengiringi langkahnya, sedangkan Faiz malah senyum senyum ndak karuan.
"Senyum nya disimpan nanti dek, kering itu gigi mbak ndak mau ikutan ngurusin keluhan mu." Sindir Mela yang muak dengan senyum yang ditampilkan Faiz.
"Maklum aja, ini malam spesial nya dia." Sambung Edo membela Faiz. Weh tumbenan nih satu link, biasanya aja apa-apa bela istri. Susis.
"Lagi bahagia mbak Mel." Saut keempat alien kompakan, dan hal itu pun tak luput dari tatapan tajam Faiz.
"Udah udah jangan pada ngeledekin bujangnya bapak, mari baca bismillah sebelum berangkat. Pak RT sama pak Ustadz juga udah siap ini." Ucap Pak Ali mengakhiri perdebatan itu, kalo dibiarkan bisa sampek lebaran keong.
Dirumah Nazra.
Dikamarnya Nazra masih saja mondar mandir kayak setrikaan, bikin nambah licin tu lantai marmer. Bu Tika yang melihatnya tiba-tiba langsung nelen panadol guna mengurangi pusing dikepalanya.
"Udah kak stop, bunda kok puyeng liat kamu." Ucap Bu Tika mengintruksi sang putri agar diam dan duduk manis.
"Bund apa aku kabur aja ya? Terus ngajakin mas Faiz gitu." Ucap Nazra yang seketika membuat Bu Tika beserta Caca dan Tria melongo tak habis pikir. Dapet pemikiran bodoh dari mana dokter satu ini?
"Kabur ngemeng ngemeng yang bener bae?" Tanya Tria sambil menatap Nazra dengan heran. Mentang mentang galau tapi ya ndak usah jadi gublug juga kali Ra, seperti itulah arti dari tatapn heran Tria.
"Mau bikin malu satu organisasi kamu?" Tanya Caca yang ingin sekali rasanya menjitak kepala Nazra.
"Ya maap, sejujurnya aku ndak siap untuk ini mbak." Jawab Nazra lemah.
"Lah kamu tadi maskeran timun bengkoang kentang dimata buat apa?" Tanya Bu Tika pura-pura tidak tahu menahu dengan rencana sang anak.
"Kan mas Faiz mau dateng, setidaknya aku tidak terlihat buruk rupa nanti bund." Jawab Nazra enteng, seolah bukan perkara besar untuknya.
__ADS_1
"Kamu ini mau dijodohkan dengan orang lain dan mas ojol juga sudah memiliki pasangannya jadi kamu harus bisa menerima kenyataan itu kak." Jelas Bu Tika mengingatkan sang putri tentang keadaan saat ini.
"Bund, ayah nyuruh turun. Sebentar lagi tamunya dateng." Ucap Fatih didepan pintu memberi tahu bunda dan kakaknya.
Diruang tamu keluarga Nazra sudah ramai kerabat dekat Nazra, pak RT dan pak ustadz setempat. Nazra celingukan kanan kiri guna memperhatikan suasana dirumah nya yang udah ada dekorasi dengan tulisan engagement membuat Nazra berkerut kening.
"Bund, langsung lamaran apa gimana? Kok itu ada engagement nya terus rame orang?" Tanya Nazra menyelidik.
"Kamu ikuti aja mau ayah kamu jangan bantah." Jawab Bu Tika tenang seakan ini bukan masalah.
"Tamu nya udah dateng bund." Intruksi dari pak Rizal dan membuat Nazra sekita langsung mengangkat kepalanya yang sejak tadi ia tundukkan.
"Assalamu'alaikum." Salam dari rombongan tamu itu.
"Waalaikumsalam silahkan masuk, silahkan duduk semuanyaa." Jawab Pak Rizal dengan sopan.
"Kayak pernah liat orang-orang ini." Gumam Nazra memperhatikan setiap tamu yang masuk. Karena matanya berkaca-kaca jadi dirinya tak begitu jelas melihat siapa saja yang disana. Seketika blurrr.
"Perhatikan." Perintah Caca yang diangguki oleh Nazra.
Satu persatu Nazra perhatikan dengan seksama hingga akhirnya dirinya menangkap sesosok yang ia harapkan. Tanpa berpikir jernih dirinya langsung berdiri tegak menatap lurus kepada makhluk yang sedang tersenyum manis padanya itu.
"Oke ayah." Ucap Nazra tegas, tak ada kelemahan lagi, semua sirna sudah
"Apa kak?" Tanya Pak Rizal setengah kaget.
"Hadeh sableng punya kakak, belum sadar juga." Fatih menepuk jidatnya sendiri, malu punya kakak macam ini. Sedangkan yang lainnya hanya tersenyum hangat.
"Udah duduk dulu kak malu-maluin. Oh ya Mas ojol eh salah mas Faiz maksudnya, silahkan duduk." Ucap Pak Rizal yang salah sebut calon mantu.
"Ayo dicicipin dulu makanannya." Bu Tika mempersilahkan semua tamunya menikmati hidangan yang ada.
Disaat yang lain udah ngobrol sana sini Nazra malah bengong ndak karuan, udah persis kayak ayam kesamber aer seember. Kaget makk.
"Assalamu'alaikum Wr. wb. Baiklah saya selaku orang yang dituakan dalam rombongan, maka saya mewakili Pak RT dan terutama Pak Ali dan Mas Faiz. Maksud dan tujuan kami pak buk sekalian adalah mengantarkan mas Faiz untuk menyampaikan niat baiknya kepada putri Pak Rizal yaitu Mbak Nazra." Ucap Pak Ustadz dengan penuh kewibawaan.
"Jadi kami mohon izinnya dari bapak Rizal dan keluarga." Lanjutnya lagi.
"Saya juga selaku yang dituakan disini pak, dengan sangat hormat menerima kedatangan bapak ibu semua terutama mas Faiz dan keluarga. Tidak perlu berlama lama, jika niat baik harus disegerakan, jadi silahkan untuk Pak Ali atau Maz Faiz menyampaikan maksud dan tujuan nya." Jawab Pak Ustadz dari pihak Nazra.
"Salam kenal sebelumnya pak Rizal, saya ayah dari Faiz. Maksud dan tujuan kedatangan saya kesini adalah mengantarkan putra saya untuk menyampaikan niat baik kami kepada keluarga bapak terutama putri bapak, buk dokter Nazra. Saya ingin meminang putri bapak untuk anak saya Faiz pak." Ucap Pak Ali sopan.
"Terimakasih pak atas niat baik bapak, saya sangat senang sekali mendapat kejutan seperti ini dari mas Faiz dan keluarga. Untuk jawabannya mari kita serahkan saja kepada anak-anak pak, saya pribadi sebagi orangtua tentunya merestui. Bagaimana mas Faiz?" Ucap Pak Rizal yang kemudian melempar tanya kepada Faiz. Dengan persiapan yang mantap ditanya tiba-tiba seperti itu tak membuat Faiz gugup sedikit pun. Udah sedia payung sebelum hujan.
"Mohon izin menyampaikan langsung pada Nazra pak." Ucap Faiz memohon izin kepada pak Rizal dan semuanya. Setelah mendapat anggukan, Faiz menarik nafas dalam dan tak lupa membaca bismillah.
"Bismillahirrahmanirrahim. Dek Nara maaf jika ini dadakan dan bahkan sengaja dirahasiakan hingga membuat Dek Nara sempat merasa sedih, dan juga ada sedikit unsur kebohongan didalamnya. Terimakasih untuk kesabaran dan ketangguhan dek Nara dengan semua ini. Malam ini, saya Hidayat Alfarizi ingin meminang Dek Nazra Ayumna sebagai pendamping hidup saya dunia akherat. Bersediakan dek Nazra menerima saya?" Dengan tutur kata lembut Faiz menyampaikan niat hati nya, tanpa disangka manusia super banyol itu mampu merangkai kata seindah ini hingga membuat audiens nya meleleh bagai eskrim kenak panas.
__ADS_1
"Ehh dilamar nih? Ya nih dek kakak dilamar mas Faiz ya?" Tanya Nazra yang belum percaya dengan kenyataan dihadapannya. Bahkan sangkin tidak percaya nya dia mengguncang sang adik yanh duduk tepat disebelahnya.
"Iya bener bikin malu kakak ih, jawab gih kasian mas Faiz." Jawab Fatih seraya mengusap muka sang kakak yang bengong kayak ikan asin kekeringan.
"Ekhem." Nazra berdehem guna menetralkan dirinya. Malu juga ternyata setelah sadar, tahu gini gak usah sadar aja sekalian.
"Bagaimana kak?" Tanya Pak Rizal.
"Bismillahirrahmanirrahim, ayah bunda. Dengan menyebut nama Allah kakak menerima lamaran mas Faiz." Jawab Nazra pelan namun masih terdengar jelas oleh orang disekitar nya.
"Sampaikan langsung pada mas Faiz kak." Perintah sang bunda seraya membelai lembut tangan sang putri.
"Mas Faiz, dengan nama Allah. Saya Nazra Ayumna bersedia menjadi pendamping Maz Faiz dunia Akhirat." Jawab Nazra diiringi dengan senyum menawan yang mampu membuat hati Faiz meronta ingin segera ijab sah.
Sabar is jangan ngasal.
"Terimakasih Dek Nara." Ucap Faiz bahagia.
"Alhamdulillah, terimakasih buk dokter telah menerima niat baik anak bapak." Ucap Pak Ali penuh syukur.
"Alhamdulillah sahabat aku nyusul." Ucap syukur Rido ditengah kebahagian dua insan itu.
"Sembuh sudah galaunya." Gumam Panji dengan senyum hangat seraya memeluk sang istri.
"Jadi nikah is, alien lengkap sudah ndak ada yang jones lagi." Ucap Ardi mewakili alien geng.
"Alhamdulillah jadi nikah sama pujaan hati." Ucap Faiz.
"Sudah sudah pasang cincin dulu." Tegur Pak Rizal.
Akhirnya acara pasang cincin pun dilaksanakan, tak lupa dengan sesi berphoto antara keduanya dan keluarga serta sahabat tentunya.
Disaat yang lain berbincang satu sama lain menentukan tanggal dan persiapan pernikahan lainnya, Nazra sedang duduk berdua dengan Faiz.
"Mas kok jahat sih." Gerutu Nazra Berpura-pura ngambek, padahal mah girang.
"Maap ya dek, sengaja. Tapi keren kan? Sadis." Jawab Faiz dengan tersenyum geli melihat Nazra cemberut.
"Terus kejutannya apa?"
"Ya ini terus apalagi?"
"Ihh jahat loh." Kesel sumpah, masak iya dikerjain sampek segininya. Nazra murka.
"Ciye ngambek, padahal seneng kan yak?" Goda Faiz yang akhirnya mendapat tabokan maut dari dokter cantik.
"Mau bahagia ya bersakit-sakit dahulu lah dek." Lanjut Faiz tanpa dosa membuat Nazra semakin ingin mencubit perut Faiz dengan kekuatan naga bonar kehilangan kutang.
"Jahat banget." Gerutu Nazra dengan tatapan tajam.
"Ih dokter cinta mas ojol ngambek, jadi makin cantik." Semakin Nazra ngambek maka semakin senang pula Faiz menggodanya.
__ADS_1
Udah dikerjain, dibohongin dibikin nangis bombay tiap malem. Sekarang udah lagi terbang melayang malah digodain bukannya dibujuk gitu.
Ahhh baper aahhh🥱